Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Langkah Tama menghilang di ujung lorong.
Sementara itu Dita masih berdiri membeku di tengah kamar.
Tangannya memegangi baju yang tadi ia tarik buru-buru untuk menutup tubuhnya. Jantungnya masih berdetak cepat. Napasnya belum juga stabil.
Beberapa detik ia hanya berdiri seperti patung.
Lalu perlahan lututnya terasa lemas.
“Ya ampun…” gumamnya pelan.
Wajahnya memanas sampai ke telinga.
Ia menutup wajah dengan kedua tangan.
“Dia… lihat?”
Pikirannya langsung berlari ke detik ketika pintu terbuka tadi.
Tatapan kaget Tama.
Cara lelaki itu langsung menoleh.
Dan cara matanya sempat—
Dita menepuk dahinya sendiri pelan.
“Kenapa dia buka pintu begitu saja sih!”
Ada rasa malu.
Tapi juga ada rasa kesal yang mulai muncul.
Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Sudahlah… jangan dipikirkan.”
Namun jantungnya masih saja berdebar.
Ia menatap piyama tipis yang tadi hendak ia pakai. Lalu menoleh ke lemari.
Beberapa detik ia berpikir.
Kemudian ia mengambil seragam susternya lagi.
“Tidak jadi pakai piyama.”
Tangannya bergerak cepat mengenakan kembali seragam putih itu. Gerakannya sedikit tergesa, seolah ingin segera menyelesaikan semuanya.
Setelah rapi, ia menatap dirinya di cermin.
Rambutnya masih agak berantakan.
Ia menyisirnya cepat dengan jari.
Wajahnya masih sedikit merah.
“Tenang, Dit,” gumamnya. “Kamu cuma mau bicara.”
Namun jauh di dalam dada, rasa malu itu masih tersisa.
Ia menarik napas panjang lagi.
Lalu berjalan keluar kamar menuju ruang kerja Tama.
*****
Sementara itu di ruang kerja
Tama berdiri di dekat meja.
Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
“Bodoh sekali…”
Ia menghela napas panjang.
Bayangan beberapa menit lalu masih berputar di kepalanya.
Saat pintu terbuka. Saat Dita menoleh dengan wajah kaget. Saat tubuh mulus itu terlihat jelas.
Tama langsung menggeleng keras.
“Jangan dipikirkan!”
Namun otaknya seperti bandel. Bayangan kulit putih yang halus. Rambut panjang yang tergerai. Dan dada Dita yang kencang...
Tama menutup wajahnya lagi.
“Kenapa aku malah buka pintu!”
Ia berjalan mondar-mandir di ruangan.
“Harusnya aku pergi saja!”
Tangannya meremas rambut sendiri dengan kesal.
“Sekarang dia pasti berpikir aku mesum.”
Ia menghela napas panjang lagi.
“Bagus sekali, Tama. Sangat pintar.”
Ia bahkan sempat menirukan suara Dita dalam pikirannya.
“Tuan Tama sengaja ya?”
Tama langsung mengerang pelan.
“Ah… tamatlah.”
Ia duduk di kursi kerjanya, lalu kembali mengusap wajah.
“Tenang. Tenang saja.”
Namun jantungnya masih terasa aneh.
Justru semakin jelas teringat ekspresi Dita yang terkejut.
Dan tubuh Dita yang hanya memakai bra dan celana dalam...
"Aaarrhh! Pikiran kotor! Pikiran kotor!"
Tok tok.
Suara ketukan pintu membuatnya tersentak.
Tama langsung meluruskan punggung.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Dita berdiri di sana.
Sudah rapi dengan seragam suster putihnya.
Tama sempat berkedip pelan.
"Dia tidak jadi pakai piyama?" Pikirannya langsung menegur dirinya sendiri. "Apa sih yang aku pikirin?"
Dita masuk perlahan.
“Ada apa, Tuan?”
Tama berusaha terlihat biasa.
“Iya.” Namun suaranya sedikit kaku.
Dita berdiri di depan meja. Jarak mereka tidak terlalu jauh.
Beberapa detik mereka hanya saling diam.
Akhirnya Tama membuka suara.
“Bagaimana kondisi Mama?”
Nada suaranya sekarang terdengar lebih profesional.
Dita menjawab dengan tenang.
“Baik.”
“Baik bagaimana?”
“Tensi normal.”
“Tadi malam juga tidak ada keluhan?”
“Tidak ada.”
“Makannya?”
“Sehat. Ibu Diana makan dengan lahap.”
Tama mengangguk pelan.
“Bagus.”
Dita melanjutkan.
“Saya juga sudah membantu latihan kaki sebentar tadi sore.”
“Reaksinya?”
“Masih agak kaku, tapi ada perkembangan.”
Tama menghela napas lega. “Syukurlah.”
Beberapa detik suasana kembali hening. Hawa tak nyaman Tama rasakan, mungkin karena kejadian tadi.
“Tapi saya ingin bicara hal lain.” Suara Dita kini berubah sedikit tegas.
Tama langsung tahu arah pembicaraan itu. Ia berdehem pelan.
“Ya?”
Dita menatapnya. “Tadi di kamar.”
Tama langsung menunduk sedikit. “Ah… Itu...”
“Tuan asal membuka pintu kamar saya.” Nada Dita tidak keras. Namun jelas ada kekesalan di dalamnya.
Tama cepat menjawab. “Aku sudah mengetuk tadi.”
“Benarkah?”
“Ya. Tapi tidak ada jawaban.”
Dita menghela napas. “Kalau tidak ada jawaban seharusnya tidak langsung membuka pintu seperti tadi.”
Tama terdiam.
Dita melanjutkan. “Tuan bisa pergi saja.” jeda sebentar, seperti sedang meredam rasa kesalnya sendiri. “Atau... Tuan bisa kirim pesan seperti biasanya.”
Tama menggaruk tengkuknya dengan canggung. "Ya... Tadi kupikir lebih cepat kalau ngomong langsung. Aku baru dari dapur. Jadi, skalian."
“Harusnya Tuan tau batasan.”
"Ini rumahku, Dita. Kau mengajari batasan di rumahku sendiri?"
"Saya tau ini rumah tuan Tama, tapi itu kamar pribadi saya. Saya juga punya privasi yang harus dijaga."
Beberapa detik mereka saling diam lagi. Tama melirik wanita yang terlihat sedang meluapkan amarahnya, terlihat dari dadanya yang turun naik. Ah... Itu malah membuat pikiran Tama ke mana-mana.
“Maaf.” Tama berkata pelan.
Dita masih menatapnya.
Tama mengulang dengan lebih serius.
“Aku benar-benar tidak bermaksud.”
“Saya tahu Tuan mungkin tidak sengaja.”
Ia berhenti sebentar. Wajahnya sedikit memerah lagi. “Oh, ya Tuhan,” keluhnya menutup wajah.
Tama menghela napas panjang.
“Aku benar-benar minta maaf.”
Raut wajah Dita masih kesal. Tatapannya bahkan terasa sekali, menusuk.
Tama memandangnya dengan hati-hati.
“Lalu… apa yang harus aku lakukan supaya kamu memaafkan?”
Dita mengangkat alis, lalu menghela napas pelan.
“Saya tidak tau.”
Tama langsung menunduk sedikit lagi.
“Maaf.”
Dita memperhatikannya beberapa detik. Ekspresi Tama benar-benar terlihat menyesal. Bahkan agak gugup.
Hal itu membuat amarah Dita sedikit mereda… meski belum sepenuhnya hilang.
“Lain kali jangan lakukan itu lagi.”
“Iya.”
“Kalau saya tidak menjawab, jangan asal buka pintu.”
“Baik.”
Dita masih menatapnya beberapa detik lagi.
Kemudian ia berkata pelan.“Dan satu hal lagi.”
Tama mengangkat kepala.
“Apa?”
Dita memalingkan wajah sedikit, tampak agak malu. “Tadi… Tuan tidak melihat apa-apa kan?”
Pertanyaan itu membuat Tama langsung kaku. Jantungnya berdebar lagi. Beberapa detik ia tidak menjawab.
Dita langsung menyipitkan mata. “Tuan?”
Tama buru-buru menjawab, "Aku hanya lihat sekilas..."
Dita langsung merasa lemas, "Aakkhhh..." menutup wajahnya. Malu sekali. "Kenapa tuan asal buka pintu, sih?"
"Aku tidak sengaja, Dit. Andai bisa mengulang, aku enggak akan lakukan itu," kilah Tama.
Wajah Dita makin kesal.
“Aku juga langsung menoleh tadi. Lagi pula, tidak ada yang bisa dilihat. Kamu masih pakai bra merah muda...”
Mulut Dita seketika terbuka. Dita menatap tak percaya. "Tidak ada yang bisa dilihat?" rasanya semakin marah dan bercampur malu saja. "Tuan mesum sekali!"
Dita yang sebal akhirnya berjalan keluar dengan kaki dihentak.
Brak!
Ia bahkan menutup pintu dengan kasar.
"Ahh... Astaga... Apa aku salah bicara?" gumamnya mengusap wajah.
"Tuan mesum sekali!?"
"Kenapa dia asal mengatai orang? Padahal aku juga tidak sengaja!"