NovelToon NovelToon
Milik Sang Penguasa

Milik Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:34k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Arabelle, seorang barista, tak menyangka hidupnya akan berubah ketika Lorenzo Devereaux, pemimpin dunia bawah yang dikenal sebagai Damon, datang menagih utang ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Suara percakapan yang masuk ke dalam tidurnya perlahan membuka mata Arabelle.

Lorenzo berbaring di sisinya, ponsel di telinga, berbicara dengan nada rendah yang tidak bermaksud membangunkannya. Tapi sudah terlambat untuk itu.

"Pagi," gumam Arabelle, menyipitkan mata ke cahaya yang masuk dari jendela sempit kamar rumah sakit.

Lorenzo menoleh. Senyum kecil muncul. "Maaf, membangunkanmu?"

"Tidak apa-apa." Arabelle mengangkat tangannya dan menyentuh rambutnya yang berantakan. "Sudah lama bangun?"

"Sekitar dua jam."

Arabelle bangkit dari kasur yang sempit itu dan masuk ke kamar mandi kecil di ujung ruangan. Sikat gigi tersegel masih ada di raknya, rupanya rumah sakit ini cukup mempersiapkan diri. Ia menyikat gigi, menyiram wajah dengan air dingin, dan merapikan rambut sebisa mungkin.

Ketika ia berbalik, Lorenzo sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi, tidak ada infus lagi di tangannya, tapi perban masih membalut beberapa bagian di lengan dan sisi perutnya.

"Kamu harusnya berbaring."

"Aku sudah berbaring dari tadi malam." Tangannya bergerak ke pinggang Arabelle. "Kapan aku bisa pulang, kira-kira?"

"Setelah dokter bilang boleh."

Ia mendengus pelan.

**

Dokter datang tidak lama kemudian, membawa klem berkas dan ekspresi yang sudah terbiasa berhadapan dengan pasien yang tidak sabaran.

"Selamat pagi. Siapa ini?" tanyanya, melirik Arabelle.

"Arabelle. Aku yang menemaninya tadi malam. Tidak ada siapapun di sini jadi aku tidak bisa meninggalkannya."

Dokter itu mengangguk. "Benar juga." Ia beralih ke Lorenzo. "Kita perlu beberapa pemeriksaan terakhir. Kalau hasilnya baik, kamu boleh pulang hari ini."

Lorenzo menoleh ke Arabelle dengan ekspresi yang mengatakan sudah kubilang.

Arabelle duduk di kursi di sudut ruangan sementara pemeriksaan berlangsung. Beberapa menit kemudian dokter menutup berkasnya.

"Luka-lukanya akan sembuh sendiri. Luka kecil di atas alis juga tidak perlu jahitan tambahan. Aku akan siapkan resep obat pereda nyeri. Minum teratur, jangan terlambat." Ia berdiri. "Kamu boleh pulang siang ini."

Pintu tertutup.

"Akhirnya," kata Lorenzo.

Arabelle tertawa kecil. "Baju sudah ada?"

"Dikirim tadi pagi."

"Kalau begitu ganti. Aku tunggu di luar."

**

Ia membuat kopi dari dapur kecil di ujung lorong, susu, tanpa gula dan membawanya ke balkon kecil yang menghadap halaman belakang Ospedale Hospital. Pohon-pohon besar berjejer di sana, daunnya masih hijau meski angin Roma membawa dingin yang cukup terasa.

Arabelle berdiri memandanginya sambil memegang cangkir dengan kedua tangan.

Lalu tangan hangat melingkar dari belakang, dan bibir menyentuh sisi lehernya.

"Sudah," kata Lorenzo di antara ciuman-ciuman kecil itu.

"Cepat sekali."

"Aku tidak suka berlama-lama di tempat ini."

Arabelle menoleh ke arahnya. Bajunya sudah berganti, kaos hitam dan jaket, rambut sedikit berantakan karena belum disisir, tapi penampilannya sudah jauh lebih baik dari semalam. Luka kecil di atas alisnya masih terlihat, tapi tidak separah yang Arabelle bayangkan ketika pertama kali masuk ke kamar itu semalam.

"Kita pergi?" tanyanya.

"Kita pergi."

**

Mereka keluar dari pintu utama Ospedale Hospital dan langsung disambut kerlip lampu kamera. Beberapa wartawan sudah menunggu di area parkir, entah dari mana mereka tahu, tapi mereka selalu tahu.

"Maaf," kata Arabelle refleks ke arah mereka.

Lorenzo tidak berkata apa-apa. Tangannya di punggung bawah Arabelle, mengarahkan, dan penjaga yang sudah menunggu membuka pintu mobil sebelum mereka tiba di sana.

Pintu tertutup. Lampu-lampu kamera masih berkedip di luar kaca.

Lorenzo menjalankan mobil tanpa terburu-buru.

**

Di perjalanan, radio menyala dan lagu-lagu yang mengalun kebetulan adalah jenis yang Arabelle suka.

"Antar aku pulang dulu," kata Arabelle. "Aku perlu mandi dan istirahat."

"Mandi di tempatku."

"Tapi pakaiannya--"

"Kita ke rumahmu dulu. Ambil apa yang perlu. Lalu ke tempatku."

Arabelle memandanginya. "Berapa lama?"

Lorenzo meliriknya sekilas. "Besok malam kita terbang ke Venezia."

Arabelle membekukan diri.

"Apa?"

"Venezia." Ia berbicara seperti itu adalah sesuatu yang sangat wajar untuk diucapkan di tengah perjalanan pulang dari rumah sakit. "Besok malam."

"Lorenzo, aku takut terbang."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa--"

"Karena aku yang menemanimu." Tangannya berpindah ke tangannya, menggenggam. "Kalau ada sesuatu yang mencoba mendekatimu, mereka yang harus khawatir soal keselamatannya. Bukan kamu."

Arabelle menatapnya lama.

Ada sesuatu dalam cara ia berkata hal-hal seperti itu, bukan berlebihan, bukan dramatis, hanya datar dan langsung, yang membuat Arabelle percaya.

"Jadi kamu tidak mau mendengar kalau aku bilang tidak?"

"Kamu bisa bilang tidak." Ia menoleh sebentar. "Tapi aku harap kamu tidak."

Arabelle menghela napas panjang dan memalingkan wajah ke jendela. Jalanan Roma bergerak di luar. Pikirannya bergerak ke tempat lain.

Brian.

Sudah beberapa hari nama itu muncul tanpa diundang. Brian, hubungan yang sudah lama selesai, yang tidak pernah terasa benar bahkan ketika masih berjalan. Pengkhianatan yang berulang. Perpisahan yang datang dari arahnya, bukan dari Arabelle. Dan rasa yang tertinggal setelahnya, bukan cinta, lebih ke kehilangan kepercayaan pada diri sendiri.

Tapi ini bukan Brian.

Ini Lorenzo.

Dan Arabelle tidak tahu kapan persisnya ia mulai merasakan perbedaannya, bukan hanya di permukaan, tapi di tempat yang lebih dalam yang dulu ia putuskan untuk tidak biarkan siapapun masuk.

"Arabelle?"

Ia berkedip. "Ya?"

"Kamu baik-baik saja?"

"Ya." Ia menoleh ke arahnya. "Aku ikut."

Lorenzo menatapnya sebentar sebelum kembali ke jalan. Tidak ada komentar. Tidak ada senyum kemenangan. Hanya tangannya yang bergerak ke pahanya, membelai pelan.

**

Rumah terasa lebih sepi dari biasanya ketika Arabelle masuk. Lorenzo mengikutinya ke kamar tanpa diminta.

"Aku ambil baju untuk beberapa hari ya?"

"Untuk lima hari sudah cukup." Ia duduk di tepi kasur, mengawasi Arabelle membuka lemari. "Bawa juga yang untuk malam."

"Untuk malam?"

"Kita mungkin akan makan di luar beberapa kali."

Arabelle mengambil beberapa pilihan dari lemari, melipat, memasukkan ke koper kecil. Lorenzo diam, tidak membantu tapi juga tidak pergi, ia hanya duduk di sana dengan cara yang membuat ruangan terasa lebih penuh dari seharusnya.

"Kamu selalu ikut ke kamarku setiap kali aku mau ganti baju atau ambil barang," kata Arabelle tanpa menoleh dari lemari.

"Ya."

"Kenapa?"

"Karena aku ingin melihatmu."

Arabelle menutup lemari. Menatapnya. Ia duduk dengan satu tangan di lutut, mata yang tidak pernah benar-benar bisa ia baca, dan luka kecil di atas alisnya yang mengingatkan Arabelle pada semalam, pada betapa mudahnya semuanya bisa berbeda.

Ia melangkah ke arahnya dan memeluknya dari depan, wajahnya di dadanya.

Lorenzo melingkarkan tangannya di punggungnya, hati-hati, lebih hati-hati dari biasanya.

"Aku senang kamu baik-baik saja," bisik Arabelle.

Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Tapi tangannya menggenggam lebih erat.

**

Arabelle mengecek semua jendela dan kunci kebiasaan yang tumbuh sejak malam itu dengan Dylan, dan belum bisa ia hilangkan. Lorenzo menunggu di pintu depan dengan dua tas di tangannya.

Mereka keluar. Pintu dikunci. Tas dimasukkan ke bagasi.

Di dalam mobil, Arabelle melirik jam di ponsel. Pukul tujuh kurang lima menit.

"Kamu bilang ada teman yang datang malam ini?"

"Sekitar pukul sepuluh."

"Dan kamu mengajakku?" Arabelle menoleh. "Kenapa tidak bilang lebih awal?"

"Karena aku baru memutuskannya barusan."

"Lorenzo--"

"Aku ingin mereka mengenalmu." Matanya ke jalan. "Kamu milikku. Sudah seharusnya mereka tahu siapa kamu."

Arabelle menyandarkan kepala ke sandaran kursi.

Milikku.

Kata itu seharusnya terasa berat. Seharusnya membuat ia ingin mendebat. Tapi malam ini, setelah semalam duduk di sisi kasur rumah sakit sambil menggenggam tangannya yang dingin, kata itu justru terasa seperti sesuatu yang ia ingin pegang.

Gerbang hitam terbuka. Halaman yang selalu terlalu besar untuk satu orang itu menyambut mereka dengan lampu taman yang sudah menyala di bawah langit malam Roma yang gelap.

"Pergi mandi," kata Lorenzo ketika mereka masuk. "Aku siapkan pakaian."

Arabelle tidak protes.

Ia naik ke kamar, mengambil baju ganti dari koper yang Lorenzo sudah letakkan di sudut ruangan, dan masuk ke kamar mandi yang besar itu.

Air panas mengalir. Uap memenuhi ruangan.

Dan untuk pertama kalinya sejak semalam, Arabelle berdiri di bawah air hangat dan membiarkan semuanya, ketakutan, kelegaan, semua yang belum sempat ia proses, mengalir pergi bersama airnya.

1
Amoyy
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!