𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 5 - LANGKAH YANG DISAMAKAN
Hujan telah berhenti. Sisa air masih menetes dari ujung atap dan daun pohon di sepanjang trotoar. Jalanan memantulkan cahaya lampu sore yang mulai menyala, menciptakan kilau tipis di antara genangan.
Rizuki dan Vhiena berjalan berdampingan. Tidak terlalu dekat juga Tidak terlalu jauh. Langkah mereka perlahan menemukan ritme yang sama. Beberapa meter pertama diisi oleh keheningan. Namun keheningan kali ini tidak canggung. Ia terasa seperti ruang yang sedang menunggu diisi.
Vhiena memecahnya lebih dulu.
"Kamu kelas tiga, kan?" tanyanya ringan.
"Ya." Rizuki menjawabnya dengan tatapan tetal lurus kedepan
"IPA atau IPS?" Vhiena melanjutkan pertanyaan nya.
"IPA." Jawaban rizuki tetap singkat.
Vhiena menoleh sedikit, tersenyum samar. "Kamu memang tipe yang hemat kata ya?"
Rizuki meliriknya sekilas. "Tidak semua hal perlu dijelaskan panjang."
"Kalau semua orang kayak kamu, dunia bakal sepi," balas Vhiena.
Rizuki tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu. "Tidak juga," katanya akhirnya. "Kadang yang sedikit lebih jujur."
Vhiena terdiam. Ia tidak menyangka jawaban itu.
Angin sore bertiup pelan. Rambut panjang Vhiena sedikit terangkat. Rizuki memperhatikan sepersekian detik, lalu mengalihkan pandangan. Ia terbiasa membaca situasi. Teliti, Menganalisis orang. Menilai risiko. Bahkan hal sekecil apapun.
Namun berjalan di samping gadis ini tidak terasa seperti analisis. Tidak terasa seperti strategi. Terasa… sangat sederhana. Hal yang jarang ia rasakan.
"Kamu selalu pulang lewat sini?" tanya Vhiena lagi.
"Kadang." Jawab rizuki berbohong. Rute ini bukan rute ke arah rizuki pulang. Namun hari itu ia memilih memutar. Tanpa alasan logis.
Vhiena mengangguk kecil. "Aku biasanya rame sama Ayu dan Lala."
"Temanmu?" Tatapan rizuki sedikit melirik ke arah vhiena.
"Iya. Dua-duanya cerewet." Ia tertawa kecil.
Lalu Rizuki menatap lurus ke depan. Namun sudut bibirnya hampir bergerak.
"Kamu tidak punya teman dekat?" tanya Vhiena spontan.
Langkah Rizuki melambat sepersekian detik. "Punya," jawabnya.
Itu bukan kebohongan. Namun bukan juga jawaban yang ia jelaskan.
Teman dekatnya bukan sekadar siswa. Mereka adalah orang-orang yang membangun fondasi kerajaan bisnisnya. Namun dunia itu tidak untuk dibawa ke trotoar basah ini.
"Tapi kamu sering sendirian," lanjut Vhiena pelan.
Rizuki menoleh. "Sendirian bukan berarti kesepian."
Kalimat itu membuat Vhiena terdiam cukup lama. Ia menatap ke depan. Memikirkan sesuatu. "Aku takut sendirian," katanya jujur.
Angin kembali berhembus. Rizuki tidak langsung menanggapi. Namun di dalam dirinya, sesuatu bergerak. Ia mengenal sunyi. Ia tumbuh bersama sunyi. Ia berdamai dengan sunyi. Namun mendengar pengakuan sederhana itu terasa berbeda. "Kamu tidak terlihat seperti orang yang takut," katanya rizuki akhirnya.
Vhiena tersenyum kecil. "Takut itu nggak selalu kelihatan."
Persimpangan jalan mulai terlihat, Vhiena menunjuk ke arah kiri. "Rumahku lewat sana." Itu bukan arah rumah Rizuki. Ia berhenti sejenak. Secara logika, ia harus berbelok ke kanan. Namun tanpa banyak pikir, rizuki berkata, "Aku antar sedikit."
Vhiena mengangkat alis tipis. "Benarkah ? Nggak keberatan?"
"Tidak." Jawab rizuki singkat dengan tatapan datar tanpa menoleh ke vhiena. Dan mereka berjalan lagi.
Beberapa anak kecil berlari melewati genangan air. Suara tawa memenuhi udara. Vhiena menatap mereka. "Kamu pernah main hujan waktu kecil?"
Pertanyaan itu sederhana. Namun bagi Rizuki, ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam. Ia pernah berada di bawah hujan. Namun bukan untuk bermain. "Pernah," jawabnya pelan. Tidak sepenuhnya bohong. Namun tidak sepenuhnya benar.
Vhiena tersenyum puas. "Aku suka hujan sejak kecil. Rasanya dunia lebih jujur waktu hujan."
"Kenapa?" Tanya Rizuki dengan sedikit heran
"Karena semua orang berhenti pura-pura. Semua orang sibuk cari tempat berteduh." Jawab vhiena dengan senyum dan menoleh pada rizuki.
Rizuki menatapnya dengan sedikit heran. Ia berbicara dengan cara yang tidak biasa. Tidak dangkal. Tidak dibuat-buat. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Rizuki tidak ingin percakapan ini berakhir cepat.
Mereka tiba di depan jalan komplek menuju rumah vhiena. dengan lampu kuning redup.
"Sampai sini aja," kata Vhiena.
Rizuki mengangguk.
Hening lagi. Namun kali ini terasa berbeda dari halte tua. "Besok lewat sini lagi?" tanya Vhiena, berusaha terdengar santai.
Rizuki menatapnya beberapa detik. "Mungkin."
Jawaban itu membuat Vhiena tersenyum.
" aku lewat ke arah sini." Ucap rizuki sambil menunjuk arah berlawanan dari arah menuju rumah vhiena. Ia mundur satu langkah.
"Terima kasih sudah jalan bareng." Vhiena tersenyum sambil sedikit membungkukan badan.
"Sama-sama," jawab Rizuki.
Vhiena berbalik dan melangkah masuk ke komplek rumahnya. Beberapa meter kemudian, ia menoleh. Rizuki masih berdiri di tempat. Tatapan mereka bertemu sekali lagi. Bukan hujan yang menyatukan kali ini. Melainkan pilihan.
Rizuki akhirnya berbalik dan berjalan ke arah berlawanan. Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, langkahnya tidak sepenuhnya dikendalikan oleh rencana. Ada sesuatu yang mulai tumbuh. Perlahan. Tenang.
Dan tanpa ia sadari, itu lebih berbahaya dari hujan mana pun.
Bahkan dari dirinya di dunia nya yang lain.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/