Kevin Argantara, pewaris tunggal Argantara group. Namanya terkenal di dunia bisnis sebagai pengusaha muda ternama
Pertemuannya dengan seorang gadis cantik bernama Alanna Kalila, seorang pelayan disebuah Night Club membuatnya jatuh dalam pesona gadis tangguh itu
Keluarga besar jelas menolak seorang gadis dengan latar belakang yang jauh dibawah keluarga Argantara
Pernikahan Kevin dan seorang penulis cantik bernama Raina Soesatyo, putri keluarga Soesatyo akhirnya ditetapkan dan Kevin tak bisa lari dari perjodohan dua keluarga besar itu
Lalu akan seperti apa kisah cinta Kevin dan Alanna? Akankah pernikahan bersama gadis berhijab itu membawanya pada kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran
"Mama kamu benar Kevin" Kevin membawa pandangannya pada sosok yang begitu ia hormati
"Pah, aku harap papa mengerti"
"Apa yang akan kita katakan pada keluarga besar jika wanita ini menjadi bagian dari Argantara" Ujar Renaldi
"Apa dia bisa mengerti aturan keluarga kita? Apa dia mengerti adat istiadat keluarga kita? Apa dia mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seseorang yang menyandang nama Argantara?" Sambungnya
Alanna terluka, jemarinya saling meremas. Rasanya harga dirinya benar-benar dijatuhkan
"Aku akan mengajarkan semua itu, bukankan semua orang bisa belajar? Ini hanya tentang aturan keluarga"
"Semua tidak sesederhana itu, Kevin. Pernikahan kamu harus menjadi bersatunya dua keluarga, tapi dia.." Cynthia menatap sinis "Dia bahkan tidak memiliki orang tua!"
"Cukup Mah" Kevin berdiri, lalu menarik tangan sang kekasih "Jika bukan Alanna, maka aku tidak akan pernah menikah dengan siapapun"
Kevin melangkah meninggalkan rumah, mengabaikan sang ibu yang terus meneriaki namanya
Mobil melaju meninggalkan kediaman Argantara, sunyi kini membelenggu keduanya
Alanna harusnya sadar bahwa hal ini akan terjadi. Kenapa ia harus jatuh cinta? Harusnya memang hubungan ini hanya tentang atasan dan pekerja nya saja
"Maafkan aku" Alanna mengusap pipinya, menghapus jejak air mata yang sejak tadi tidak henti-hentinya keluar
"Kenapa kamu minta maaf? Aku rasa orang tua kamu ada benarnya!" Ujar Alanna
"Kamu tenang yaa! Aku akan meyakinkan mereka bawa aku benar-benar mencintai kamu" Kevin meraih tangan kekasihnya namun Alanna menepisnya
"Pikirkan lagi Kevin! Sampai kapanpun aku nggak akan bisa setara dengan kamu"
"Tapi aku mencintai kamu, Alanna!"
"Cinta saja tidak cukup, restu orang tua adalah yang utama dalam sebuah rumah tangga"
Alanna telah mengubur angan untuk menjadi istri seorang Kevin Argantara. Biarlah ia membawa rasa cinta ini bersamanya
"Aku akan meyakinkan mereka sayang! Kita hanya butuh sedikit waktu" Kevin meyakinkan kekasihnya itu. Alanna mengangguk, lalu membawa pandangannya kembali keluar jendela
Sesampainya di penthouse milik Kevin, Alanna masih diam saja. Ia ingin sendiri, tapi melarang Kevin juga tidak mungkin, mengingat tempat ini adalah milik pria itu
"Aku pulang dulu! Kamu istirahat aja! Omongan papa dan mama jangan kamu pikirin! Oke" Kevin tersenyum, mengusap pipi wanita cantik itu dengan lembut
"Terima kasih" Alanna masuk, sementara Kevin memilih untuk kembali kerumah
Dalam perjalanan, Gerry menelepon dan meminta untuk bertemu. Tanpa mengulur waktu Kevin segera membawa mobil mewah itu ke alamat yang sahabatnya itu berikan
Sebuah klub dipilih, Kevin memang butuh sedikit menenangkan diri. Pria tampan itu masuk dan melihat dimana Gerry sudah melambaikan tangannya
"Hay Vin" Gerry tak percaya, saat melihat bagaimana Kevin menenggak minuman keras itu langsung dari botolnya "Ada apa bro?"
"Gue cuma punya satu permintaan, kenapa susah banget buat mereka kabulin" Gerry dapat melihat jika sahabatnya itu dalam masalah
"Ada apa? Lo bisa cerita"
"Gue jatuh cinta, gue bawa perempuan itu kedepan Papa sama Mama, tapi hasilnya malah membuat semuanya hancur!" Kevin bercerita sambil menenggak minumannya lagi
"Om Renal sama Tante Cynthia nggak merestui?"
"Mereka nggak mau punya menantu seorang office girl dan nggak punya keluarga" Ujar Kevin, pandangannya mulai kabur
"Bentar! Lo pacaran sama office girl ? Serius?"
"Lo juga ngerasa kalau dia gak pantes jadi istri gue?"
"Bukan gitu? Tapi siapa office girl yang udah bikin Lo jatuh cinta?" Gerry tak percaya ini? Bagaimana bisa Kevin jatuh cinta pada seorang office girl
"Kita nggak bisa milih untuk jatuh cinta sama siapa?" Ujar Kevin ditengah-tengah rasa mabuk yang mulai menderanya
"Bentar! Apa dia Alanna?" Ya, Gerry ingat wajah kesal Kevin saat dirinya merayu seorang office girl bernama Alanna "Dari semua perempuan, lo memilih Alanna?"
"Dia istimewa, dia perempuan yang kuat. Gue nggak pernah liat perempuan seperti dia" Gerry melihat bagaimana sahabatnya itu menitihkan air matanya
Sepertinya memang Kevin benar-benar mencintai wanita itu, pupus sudah harapan Gerry untuk bisa bersama wanita cantik berambut panjang itu
Keadaannya yang mabuk berat, Gerry memilih untuk membawa pria yang tengah galau ini untuk ke apartemen miliknya saja
Jika membawa Kevin kerumah Argantara, maka akan terjadi badai besar di keluarga konglomerat itu
Dengan susah payah Gerry membawa tubuh berat Kevin hingga terbaring diatas tempat tidur
Pria ini tidak sadar, sejak tadi dia meracau dan hanya memanggil satu nama Alanna
"Aku mencintai kamu Alanna, sangat mencintai kamu"
"Cinta memang bisa bikin orang jadi gila" Gerry menggeleng, membantu melepas sepatu serta jas yang pria itu kenakan
Malam ini Kevin akan menginap ditempat Gerry. Pria itu keluar, membiarkan Kevin larut dalam patah hatinya
Gerry duduk diruang tengah, mengambil ponsel lalu membukanya. Pria tampan itu tersenyum begitu melihat potret Alanna yang ia ambil secara diam-diam
"Kenapa kamu harus menjadi milik Kevin? Cintaku harus layu sebelum bisa berkembang!"
Gerry menghapus foto itu, biarlah cinta pada Alanna ia kubur. Didunia ini ada banyak wanita, dirinya bahkan bisa bermain-main dulu sebelum menemukan yang tepat
***
Alanna heran, kenapa hari ini Kevin tidak datang kekantor. Dimana pria itu sekarang?
"Alanna!"
"Iya mbak?"
"Kamu dipanggil keruangan direktur!"
Alanna mengerutkan keningnya, ada apa ia sampai dipanggil keruangan petinggi perusahaan
Kesalahan apa yang ia perbuat hingga orang terpenting di perusahaan ini memanggilnya
"Iya mbak"
Tanpa mengulur waktu, wanita cantik itu melangkah kelantai teratas gedung perusahaan ini
Alan a lebih dulu mengetuk lalu seseorang dari dalam mempersilahkan nya untuk masuk
Alanna masuk, tubuhnya membeku saat dua orang yang berada didalam sana menatapnya dengan tatapan permusuhan
Alanna menunduk hormat "Selamat siang tuan, nyonya"
Seorang wanita dengan penampilan sosialita mendekatinya lengkap dengan tatapan tajamnya "Dimana Kevin?"
"Maksud anda?" Alanna masih menunduk
Sebenarnya ia pun bertanya dimana kekasihnya itu, Kevin pergi sejak semalam dan hari ini pria itu tidak datang kekantor
"Saya tahu kamu merayu Kevin untuk tetap mempertahankan kamu"
"Maaf nyonya, tapi saya tidak tahu tentang keberadaan tuan Kevin"
"Baiklah, lupakan itu!" Cynthia mengibaskan tangannya "Kamu butuh berapa untuk menjauhi anak saya?"
Alanna memberanikan diri mengangkat wajahnya, menatap wanita yang kini menatapnya dengan angkuh
"Maksud anda apa?"
"Saya tahu wanita seperti apa kamu ini" Cynthia benar-benar geram "Dengar Alanna! Saya bisa berikan kamu berapapun asalkan kamu menjauhi anak saya!"
Alanna mengepal, rasanya ingin marah namun tak bisa. Mereka salah, ia tidak pernah merayu Kevin, pria itu yang datang lalu mendekat
Memberikan perhatian, menghujaninya dengan cinta. Menjanjikan masa depan, lalu dimana kesalahannya? Ia hanyut dalam untaian kata sayang yang selalu pria itu ucapkan
"Saya tidak membutuhkan uang anda!"