NovelToon NovelToon
TERJEBAK OBSESI

TERJEBAK OBSESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Duda
Popularitas:506
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

update setiap tanggal genap

Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.

Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.

Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sahabat Yang Berubah

Setelah meninggalkan kantin, Lin Yinjia berjalan cukup cepat melewati koridor kampus. Ia tidak benar-benar tahu ingin pergi ke mana. Yang ia tahu hanya satu: ia tidak ingin berada di tempat yang penuh orang untuk sementara waktu.

Suasana di kantin tadi masih terasa menempel di kepalanya. Tatapan mahasiswa. Bisikan. Dan ekspresi Gu Zhenrui yang begitu santai saat mempermalukannya.

Yinjia menuruni tangga menuju taman kecil di belakang gedung fakultas. Tempat itu biasanya tidak terlalu ramai karena sebagian besar mahasiswa lebih memilih duduk di area depan kampus.

Ia duduk di bangku kayu di bawah pohon besar. Tangannya masih memegang tas dengan erat. Ia tidak menangis. Anehnya, ia justru merasa sangat tenang. Tenang dengan cara yang aneh.

Seolah setelah penghinaan tadi, sesuatu di dalam dirinya perlahan berhenti berharap pada apa pun dari Gu Zhenrui. Beberapa menit kemudian langkah seseorang terdengar mendekat. “Yinjia.”

Yinjia menoleh. Xu Yara berdiri beberapa langkah dari bangku itu. Yara terlihat seperti biasa—rapi, cantik, dan percaya diri. Rambut panjangnya diikat setengah, dan ia membawa tas kecil yang terlihat cukup mahal untuk ukuran mahasiswa.

Yara berjalan mendekat dan duduk di sebelah Yinjia. “Aku dengar apa yang terjadi di kantin.”

Yinjia tidak terkejut. Berita di kampus selalu menyebar cepat. “Semua orang juga dengar,” jawabnya pelan.

Yara menghela napas panjang. “Zhenrui benar-benar keterlaluan.”

Nada suaranya terdengar seperti sedang membela Yinjia. Namun Yinjia tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap tanah beberapa detik. Yara melanjutkan, “Kalau aku jadi kamu, aku pasti sudah memutuskan perjodohan itu sejak lama.”

Yinjia tersenyum tipis. “Kalau semua hal semudah itu, hidup mungkin lebih sederhana.”

Yara menoleh padanya. “Kamu masih bertahan karena keluargamu?”

Yinjia tidak menjawab. Namun ekspresi wajahnya sudah cukup menjelaskan. Yara menatapnya cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan, “Kadang aku merasa kamu terlalu baik.”

Yinjia mengernyit. “Maksudmu?”

“Kamu selalu memikirkan orang lain lebih dulu.” Yara menyilangkan kaki. “Padahal orang lain belum tentu memikirkanmu.”

Kalimat itu terasa aneh. Bukan karena salah. Tapi karena nada suaranya terasa… sedikit berbeda. Yinjia akhirnya menoleh menatap sahabatnya. “Apa maksudmu?”

Yara tersenyum kecil. “Tidak ada.” Ia mengangkat bahu. “Aku hanya tidak suka melihatmu diperlakukan seperti itu.”

Beberapa detik mereka terdiam. Angin sore bergerak pelan melewati taman kecil itu. Yara tiba-tiba berkata lagi, “Chen Luo terlihat sangat membelamu tadi.”

Yinjia sedikit terkejut dengan perubahan topik itu. “Dia hanya membantu.”

“Dia menyukaimu.”

Yinjia langsung menggeleng. “Tidak.”

Yara tertawa kecil. “Kamu benar-benar tidak peka.”

Yinjia tidak tahu harus menjawab apa. Chen Luo memang sering membantunya akhir-akhir ini. Mulai dari hal kecil seperti membawakan buku di perpustakaan sampai hal sederhana seperti menanyakan apakah ia sudah makan.

Namun Yinjia tidak pernah memikirkan semua itu lebih jauh. Ia sudah memiliki terlalu banyak masalah. Yara memperhatikan wajahnya beberapa detik. “Kamu tidak pernah menyadarinya?”

“Apa?”

“Dia selalu memperhatikanmu.” Yara tersenyum tipis. “Bahkan cemilan yang sering muncul di mejamu itu juga pasti darinya.”

Yinjia sedikit terdiam. Ia memang pernah memikirkan kemungkinan itu. Namun ia tidak pernah benar-benar memastikan. “Kamu tahu dari mana?” tanya Yinjia.

Yara mengangkat bahu. “Aku hanya menebak.” Beberapa detik kemudian Yara berdiri dari bangku. “Aku harus pergi ke kelas tambahan.”

Ia menepuk bahu Yinjia pelan. “Kamu juga jangan terlalu memikirkan kejadian tadi.”

Yinjia mengangguk. “Iya.”

Yara berjalan beberapa langkah sebelum tiba-tiba berhenti. Ia menoleh kembali. “Yinjia.”

“Apa?”

Yara menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Kalau suatu hari kamu benar-benar memutuskan perjodohan itu…”

Ia berhenti sejenak. “…kamu tidak akan menyesal?”

Yinjia sedikit mengernyit. “Kenapa aku harus menyesal?”

Yara tersenyum kecil. “Tidak apa-apa.”

Lalu ia pergi. Yinjia tetap duduk di bangku itu beberapa menit setelah Yara menghilang dari pandangan. Pertanyaan Yara tadi terasa aneh. Namun ia tidak terlalu memikirkannya. Yang lebih mengganggu pikirannya justru kejadian di kantin.

Zhenrui tidak pernah benar-benar peduli dengan perasaan orang lain. Namun mempermalukannya di depan banyak orang seperti itu tetap terasa berbeda. Yinjia menghela napas panjang. Ia berdiri dan berjalan kembali menuju gedung fakultas. Hari itu masih panjang. Dan ia tidak ingin terlihat lemah di depan siapa pun.

Sementara itu, di sisi lain kampus. Xu Yara tidak benar-benar pergi ke kelas tambahan. Ia berjalan keluar dari gerbang belakang kampus menuju area parkir yang lebih sepi.

Sebuah mobil sport hitam sudah terparkir di sana. Begitu Yara mendekat, pintu mobil itu terbuka dari dalam. Gu Zhenrui duduk di kursi pengemudi. Ia menatap Yara dengan ekspresi santai.

“Kamu lama.”

Yara membuka pintu penumpang dan masuk ke dalam mobil. “Kampus ramai.”

Zhenrui tertawa kecil. “Karena pertunjukan di kantin tadi?”

Yara menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kamu benar-benar keterlaluan.”

Namun nada suaranya tidak terdengar marah. Justru terdengar… geli.

Zhenrui menoleh padanya. “Dia terlihat cukup kuat.”

Yara menatap lurus ke depan. “Dia memang selalu seperti itu.”

Beberapa detik mereka terdiam. Lalu Zhenrui berkata pelan, “Kamu tidak mengatakan bahwa dia mulai berubah.”

Yara mengangkat alis. “Apa maksudmu?”

“Dia tidak terlihat selemah dulu.”

Yara tersenyum tipis. “Mungkin karena terlalu banyak orang yang mulai memperhatikannya.”

Zhenrui menatapnya sekilas. “Kamu cemburu?”

Yara tertawa kecil. “Aku?” Ia menoleh ke arah Zhenrui.“Kenapa aku harus cemburu pada Lin Yinjia?” Namun tatapan matanya tidak sepenuhnya jujur. Dan Zhenrui menyadarinya.

Mobil sport hitam itu masih terparkir di area belakang kampus. Tempat itu cukup sepi. Hanya beberapa kendaraan mahasiswa yang diparkir jauh dari keramaian.

Xu Yara duduk di kursi penumpang sambil memeriksa kukunya dengan santai, seolah pertemuan seperti ini bukan sesuatu yang aneh.

Gu Zhenrui menyalakan mesin mobil, tapi tidak langsung menjalankannya. Ia menoleh sedikit ke arah Yara. “Jadi?”

Yara mengangkat alis. “Jadi apa?”

“Kamu menemuinya.” Zhenrui menyandarkan tangannya di kemudi.

“Bagaimana reaksinya setelah kejadian di kantin?”

Yara tersenyum tipis. “Dia terlihat tenang.”

“Tenang?”

“Iya.” Yara memutar sedikit tubuhnya agar menghadap Zhenrui. “Dia tidak menangis.”

Zhenrui menghela napas pendek. “Dia memang keras kepala.”

Yara tertawa kecil. “Kamu baru menyadarinya sekarang?”

Zhenrui tidak menjawab. Ia hanya menatap jalan di depan mobil. Beberapa detik kemudian ia berkata lagi, “Chen Luo terlalu sering berada di dekatnya.” Nada suaranya terdengar tidak terlalu peduli. Namun Yara tahu Zhenrui tidak benar-benar setenang itu.

“Kamu cemburu?” Zhenrui langsung tertawa.

“Aku?” Ia memiringkan kepalanya sedikit. “Kamu benar-benar berpikir aku akan cemburu pada mahasiswa seperti dia?”

Yara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap wajah Zhenrui dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Kalau begitu kenapa kamu terus membicarakannya?” Zhenrui sedikit mengerutkan kening.

Yara melanjutkan dengan santai, “Bukankah kamu sendiri yang bilang perjodohan itu hanya permainan?” Zhenrui terdiam beberapa detik. Lalu ia berkata pelan, “Permainan tetap membutuhkan aturan.”

Yara tertawa pelan. “Dan aturanmu adalah tidak ada pria lain boleh mendekatinya?”

Zhenrui tidak menjawab. Namun ekspresinya cukup menjelaskan. Yara menyandarkan punggungnya ke kursi mobil. “Kamu benar-benar aneh.”

“Kenapa?”

“Kamu tidak menyukainya.”

“Benar.”

“Tapi kamu juga tidak ingin orang lain memilikinya.” Zhenrui menatapnya dengan mata menyipit.

“Kamu terlalu banyak berpikir.”

Yara mengangkat bahu. “Mungkin.”

Namun di dalam kepalanya, Yara tahu satu hal. Gu Zhenrui mungkin belum menyukai Lin Yinjia. Tapi ia juga jelas tidak suka kehilangan kendali. Dan bagi pria seperti Zhenrui, kehilangan kendali adalah sesuatu yang tidak bisa diterima.

Beberapa detik kemudian Zhenrui berkata lagi, “Bagaimana denganmu?”

Yara menoleh. “Apa maksudmu?”

“Kamu sahabatnya.” Zhenrui tersenyum tipis.

“Apakah kamu merasa bersalah?” Pertanyaan itu membuat Yara tertawa kecil.

“Kenapa aku harus merasa bersalah?”

“Karena kamu sedang duduk di mobil tunangannya.”

Yara menatap lurus ke depan. “Dia tidak pernah benar-benar menjadi tunanganmu.”

Zhenrui tidak menyangkal. Yara melanjutkan dengan nada santai, “Lagipula… aku tidak pernah memaksamu mendekatiku.”

Zhenrui menatapnya beberapa detik. Lalu ia tersenyum kecil. “Kamu memang berbeda.”

Yara memiringkan kepala. “Berbeda dari siapa?”

“Dari dia.” Kalimat itu membuat Yara sedikit puas. Ia tidak menyembunyikan senyum kecilnya. Namun di balik senyum itu, ada sesuatu yang lebih dalam. Sejak pertama kali melihat Gu Zhenrui dua tahun lalu, Yara sudah tertarik padanya. Kaya. Tampan. Berkuasa.

Pria seperti itu tidak sering muncul dalam hidup seseorang. Namun saat itu Yinjia-lah yang dijodohkan dengannya. Bukan dirinya. Awalnya Yara menganggap itu hanya keberuntungan Yinjia.

Namun semakin lama ia melihat kehidupan sahabatnya, semakin ia merasa ada sesuatu yang tidak adil. Yinjia memiliki keluarga yang hangat. Orang tua yang menyayanginya. Teman-teman yang memperhatikannya. Dan bahkan pria populer seperti Chen Luo pun selalu berada di dekatnya. Sementara Yara harus bekerja keras untuk mendapatkan semua yang ia inginkan.

Mobil itu akhirnya mulai bergerak keluar dari area parkir. Sementara itu di dalam kampus, Lin Yinjia kembali ke kelas untuk mengikuti kuliah sore. Ia duduk di kursinya seperti biasa. Namun suasana kelas terasa sedikit berbeda. Beberapa mahasiswa masih meliriknya diam-diam.

Jelas kejadian di kantin tadi belum selesai menjadi bahan pembicaraan. Yinjia mencoba fokus pada penjelasan dosen. Ia membuka buku catatannya dan mulai menulis. Namun pikirannya terus kembali pada satu hal. Gu Zhenrui.

Ia tidak mengerti kenapa pria itu terus mempermainkannya seperti itu. Jika Zhenrui benar-benar tidak menginginkan perjodohan itu, bukankah lebih mudah untuk mengakhirinya? Kenapa harus mempertahankannya hanya untuk mempermalukannya?

Setelah kuliah selesai, mahasiswa mulai keluar dari kelas. Yinjia mengemasi buku-bukunya dengan cepat. Ia berniat langsung pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Yichen. Namun sebelum ia sempat berdiri, seseorang menghampiri mejanya.

Chen Luo.

Ia membawa dua botol minuman dingin. Salah satunya ia letakkan di meja Yinjia. “Untukmu.”

Yinjia sedikit terkejut. “Kamu tidak perlu melakukan ini.”

Chen Luo duduk di kursi di depannya. “Anggap saja sebagai permintaan maaf.”

“Permintaan maaf?”

“Karena ikut campur tadi.”

Yinjia menggeleng. “Kamu hanya mencoba membantu.”

Chen Luo tersenyum kecil. “Kalau begitu bagus.”

Beberapa detik mereka terdiam. Chen Luo akhirnya berkata lagi, “Dia sering memperlakukanmu seperti itu?”

Yinjia tidak menjawab langsung. Ia membuka tutup botol minuman itu “Kadang.”

Chen Luo terlihat tidak senang mendengar jawaban itu. “Kamu seharusnya tidak membiarkan orang lain memperlakukanmu seperti itu.”

Yinjia menatapnya sebentar. “Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan mudah.”

Chen Luo menghela napas. “Aku tahu.”

Ia berdiri dari kursinya. “Kalau suatu hari kamu butuh bantuan…” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “…kamu bisa mencariku.”

Yinjia tidak mengatakan apa-apa. Namun ia mengangguk kecil. Chen Luo berjalan keluar kelas. Sementara Yinjia masih duduk di tempatnya beberapa detik. Ia menatap botol minuman di meja. Lalu tanpa sadar ia menghela napas pelan.

Hari-harinya mulai berubah. Hubungan dengan Zhenrui semakin buruk. Sikap Yara mulai terasa aneh. Dan Chen Luo mulai terlalu sering muncul di dekatnya. Namun Yinjia belum tahu bahwa perubahan terbesar dalam hidupnya bahkan belum benar-benar dimulai.

Karena di sebuah gedung tinggi di pusat kota Shanghai, seseorang baru saja membaca laporan tentang para mahasiswa magang baru yang akan segera masuk ke perusahaannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!