Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Kemudi Sang Penguasa
Keringat dingin masih membasahi tengkuk Laras Maheswari saat ia melepas kancing kemben beludrunya dengan tangan yang sedikit gemetar. Di ruang ganti yang kedap suara itu, sisa-sisa adrenalin dari panggung masih berdesir di pembuluh darahnya. Menari di The Eagle bukan sekadar tampil; itu seperti menyerahkan sepotong jiwanya untuk dikuliti oleh tatapan-tatapan orang asing. Namun, Laras tetaplah Laras—setelah semua selesai, ia segera membungkus kembali identitas "sang penari" itu ke dalam tas kanvasnya.
Ia kembali mengenakan kemeja flanel kebesarannya dan celana jins pudar yang nyaman. Wajahnya yang tadi tampak agung di bawah lampu sorot, kini kembali menjadi wajah seorang gadis muda yang tampak letih dan merindukan bantal keras di kamar kosnya. Laras baru saja hendak menyampirkan tasnya ke bahu ketika sebuah ketukan tegas bergema di pintu.
Tok. Tok. Tok.
Laras tersentak. Detak jantungnya yang baru saja mulai stabil kembali memacu. "I-iya? Masuk," sahutnya dengan nada ragu.
Pintu terbuka, menampakkan pria berjas hitam yang tadi mengantarnya. Pria itu masih sama: kaku, tanpa ekspresi, dan auranya seolah-olah ia baru saja keluar dari film tentang agen rahasia. Tanpa sepatah kata pun, pria itu melangkah masuk dan menyodorkan sebuah amplop cokelat yang tampak sangat tebal—jauh lebih tebal dari yang dibayangkan Laras.
Laras menerimanya dengan tangan ragu. "Maaf, Mas... tapi ini sepertinya terlalu banyak. Maya bilang bayarannya tidak sebanyak ini."
Pria itu tetap diam. Ia hanya memberikan anggukan kecil yang tidak bermakna setuju atau tidak, lalu memberi isyarat dengan tangannya menuju pintu keluar. "Tuan sudah menyiapkan kendaraan untuk Anda. Mari, saya antar ke lobi belakang."
"Kendaraan? Oh, tidak usah, Mas. Saya bisa pesan taksi online sendiri dari depan," tolak Laras cepat. Ia merasa tidak enak jika harus menerima fasilitas berlebih. Baginya, pekerjaan ini sudah selesai.
Namun, pria itu tidak bergeming. Tatapannya seolah mengatakan bahwa perintah "Tuan"-nya tidak bisa dibantah oleh siapa pun, termasuk oleh orang luar seperti Laras. "Ini instruksi langsung. Demi keamanan dan kenyamanan Anda. Silakan, Mbak Laras."
Dengan rasa sungkan yang menggelitik, Laras akhirnya mengikuti langkah besar pria itu menyusuri lorong-lorong rahasia The Eagle. Mereka tidak melewati lobi utama yang masih bising oleh musik; mereka keluar melalui pintu khusus yang langsung menuju ke area parkir VIP yang privat dan dijaga sangat ketat.
*
Di sana, sebuah mobil sedan hitam mewah dengan kaca yang sangat gelap sudah menunggu dengan mesin yang halus menderu. Laras tidak tahu banyak soal otomotif, tapi ia tahu bahwa mobil ini harganya mungkin bisa membeli seluruh kompleks kos-kosannya.
Si pria berjas membukakan pintu penumpang belakang untuk Laras. "Silakan, Mbak."
Laras masuk dengan canggung. Begitu pintu tertutup, keheningan yang luar biasa menyergapnya. Kabin mobil itu beraroma kayu cendana dan kulit baru—aroma yang sangat mahal dan menenangkan. Ia tidak bisa melihat siapa yang berada di kursi kemudi dengan jelas karena pencahayaan parkir yang remang, ditambah lagi pengemudinya mengenakan topi cap hitam yang ditarik rendah hingga menutupi sebagian wajahnya.
Laras berasumsi pria di depan itu hanyalah supir pribadi salah satu staf The Eagle. Ia tidak pernah membayangkan, bahkan dalam mimpinya yang paling liar sekalipun, bahwa pria yang memegang kemudi itu adalah Elang Dirgantara.
Elang sengaja melakukannya. Ia telah melepas jas mahalnya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, menampakkan otot lengan yang kokoh dan urat-urat yang menonjol. Ia ingin tahu. Ia ingin melihat lebih dekat "mangsa" yang baru saja menggetarkan hatinya tanpa perlu melalui perantara layar monitor.
Mobil mulai melaju pelan meninggalkan gedung The Eagle.
"Malam, Pak. Maaf merepotkan," ucap Laras dari kursi belakang, suaranya terdengar sangat lembut dan tulus. Ia sedikit membungkuk, mencoba bersikap sopan pada sang pengemudi.
Elang tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan gumaman rendah yang nyaris tak terdengar sebagai balasan. Matanya tetap fokus pada jalanan di depan, namun sebenarnya, perhatiannya terbagi sepenuhnya pada pantulan Laras di spion tengah.
*
Laras merasa lelahnya mulai memuncak. Adrenalinnya benar-benar sudah habis. Ia menyandarkan kepalanya pada jendela mobil yang dingin, memperhatikan lampu-lampu jalanan Jakarta yang melintas seperti garis-garis cahaya yang buram.
"Alamatnya ke mana, Mbak?" tanya Elang. Suaranya diubah sedikit lebih rendah, mencoba menyamarkan otoritas yang biasanya meledak-ledak.
Laras menyebutkan nama gang sempit di daerah pinggiran yang bahkan sulit ditemukan di peta digital. "Maaf ya, Pak, rumah saya agak masuk ke dalam gang. Nanti kalau sudah sampai di depan gapura hijau, turunkan saya di situ saja. Biar Bapak tidak susah memutar mobilnya."
Elang hanya mengangguk singkat. Di dalam kepalanya, ia mencatat setiap detail. Daerah itu adalah daerah padat penduduk, kumuh, dan sama sekali tidak cocok untuk "mahakarya" seperti Laras Maheswari. Ada rasa tidak suka yang muncul di hati Elang mengetahui bidadari ini tinggal di tempat seperti itu.
Sepanjang perjalanan, Laras tidak banyak bicara. Ia sibuk menghitung uang di dalam amplop cokelat tadi di bawah cahaya lampu jalan yang masuk ke kabin. Matanya membulat saat melihat tumpukan uang seratus ribuan yang begitu tebal. Ini bukan lagi soal uang kos; ini adalah uang yang cukup untuk membuat Maya berhenti menangis karena tagihan air selama setahun.
"Terima kasih banyak, Tuhan..." bisik Laras lirih, nyaris seperti doa.
Elang mendengar bisikan itu. Ia melihat melalui spion bagaimana Laras memeluk amplop itu di dadanya dengan mata yang berkaca-kaca karena lega. Hati Elang yang biasanya sekeras baja terasa berdenyut aneh. Bagi Elang, uang sebanyak itu hanyalah recehan yang ia buang untuk sekali minum alkohol. Namun bagi wanita di belakangnya, uang itu tampaknya adalah harapan hidup.
Ada ketulusan yang murni dalam reaksi Laras. Dia tidak tampak serakah; dia tampak bersyukur.
"Mbak lelah?" tanya Elang setelah beberapa menit keheningan. Ia hanya ingin mendengar suara Laras lagi.
Laras tersentak kecil, lalu tersenyum tipis—meskipun ia tahu supir di depan mungkin tidak melihatnya. "Iya, Pak. Lumayan lelah. Tadi tariannya cukup menguras tenaga."
"Anda penari yang hebat," ucap Elang. Kalimat itu jujur, keluar begitu saja tanpa ia rencanakan.
Laras sedikit tersipu. "Terima kasih, Pak. Tapi profesi seperti saya ini jarang ada yang mengapresiasi. Bisa dibayar layak malam ini saja saya sudah sangat bersyukur."
Elang mencengkeram kemudi lebih erat. Jarang ada yang mengapresiasi? Elang bersumpah dalam hati, jika dunia tidak menghargai wanita ini, maka ia akan menjadi satu-satunya orang yang memujanya setinggi langit.
***
Mobil mewah itu akhirnya sampai di depan sebuah gapura hijau yang sudah kusam warnanya. Jalanan di sana becek karena sisa hujan, sangat kontras dengan kilauan bodi mobil sedan yang dikendarai Elang.
"Di sini saja, Pak. Terima kasih banyak sudah mengantar saya," ucap Laras sambil bersiap turun.
Laras membuka pintu mobil, namun sebelum ia benar-benar keluar, ia kembali menoleh ke arah pengemudi. "Pak, tolong sampaikan terima kasih saya yang sedalam-dalamnya kepada pemilik The Eagle. Saya tidak tahu siapa beliau, tapi bayaran ini sangat berarti bagi saya dan sahabat saya. Semoga kebaikannya dibalas oleh Tuhan."
Elang tetap diam di balik bayang-bayang topinya. "Akan saya sampaikan," jawabnya pendek.
"Hati-hati di jalan, Pak. Selamat malam," ucap Laras untuk terakhir kalinya sebelum menutup pintu.
Laras berjalan cepat memasuki gang gelap itu, sesekali mengangkat sedikit celananya agar tidak terkena genangan air. Elang tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia tetap diam di sana, memperhatikan punggung Laras yang perlahan menghilang di balik tikungan gang yang kumuh.
Rahang Elang mengeras. Matanya kini tidak lagi tampak hangat; matanya kembali menjadi mata seorang pemangsa yang telah menemukan wilayah buruannya.
"Tuhan tidak akan membalasnya, Laras," gumam Elang dalam kesunyian kabin mobil. "Tapi aku sendiri yang akan memastikan kamu mendapatkan semua yang kamu inginkan. Tapi dengan satu syarat... kamu harus menjadi milikku."
Elang segera mengambil ponselnya, menghubungi tangan kanannya yang tadi memberikan amplop.
"Aku sudah tahu tempat tinggalnya. Cek share location yang aku kirim lalu kirimkan orang untuk berjaga di mulut gang itu 24 jam. Jangan sampai dia tahu. Dan pastikan tidak ada pria lain yang mendekati rumahnya. Siapa pun yang berani menyentuhnya, habiskan."
Elang menginjak pedal gas, memutar balik mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia telah mendapatkan alamatnya. Ia telah mencium aroma melatinya. Sekarang, perburuan yang sesungguhnya dimulai. Elang Dirgantara tidak akan pernah membiarkan permata yang ditemukannya di tengah lumpur itu tetap berada di sana. Ia akan membangunkan panggung yang paling megah, hanya agar Laras bisa menari untuknya—dan hanya untuknya.
Malam itu, di kamar kosnya yang sempit, Laras tidur dengan nyenyak karena beban finansialnya terangkat. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, sebuah bayangan besar sedang membentangkan sayap, siap untuk mengurungnya dalam sebuah perlindungan yang posesif dan tak terelakkan.