NovelToon NovelToon
The Adgof

The Adgof

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Romantis / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Setelah kecelakaan tragis empat tahun lalu, Lyodra Taylor terbangun dari koma panjang di Chicago dalam keadaan amnesia total. Keluarganya, yang menyimpan dendam dan mengira kecelakaan itu adalah sabotase bisnis, memilih memalsukan kematian Lyodra dan menghapus seluruh masa lalunya—termasuk rahasia bahwa ia sempat hamil dan keguguran saat kecelakaan terjadi.
Di sisi lain, Archello Dominic, sang kekasih yang hancur karena mengira Lyodra telah tiada, berubah menjadi pria yang dingin dan menutup diri. Di bawah tekanan ibunya, Archello terpaksa bertunangan dengan Oliver Bernardo, seorang gadis baik hati yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di balik perjodohan mereka.
Tanpa mereka sadari, kecelakaan itu sebenarnya adalah skenario manipulatif kakek Oliver demi ambisi bisnis keluarga. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang membeku dan kebohongan yang rapi tersusun, Archello mulai berjuang antara kesetiaannya pada memori Lyodra atau membuka hati bagi ketulusan Oliver.

🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#21

Matahari sore Chicago menyusup malu-malu melalui jendela dapur utama Mansion Dominic yang luas. Area ini biasanya riuh dengan kesibukan belasan pelayan dan koki bersertifikat bintang Michelin, namun atas perintah tegas Archello, dapur itu kini kosong melompong. Ia menginginkan privasi, sesuatu yang semahal berlian di dalam rumah yang penuh dengan mata-mata Nenek Hera.

Empat hari lagi, neraka kecil bernama "Kelas Tata Krama" akan dimulai. Nenek Hera telah menyusun jadwal yang lebih padat dari agenda presiden, bertujuan untuk "mencuci" asal-usul Lyodra dan menggantinya dengan etiket kaku keluarga Dominic. Namun bagi Archello, empat hari itu adalah masa bulan madu yang tidak boleh diganggu.

Lyodra sedang berdiri di depan meja marmer panjang, mencoba meracik teh herbal yang diberikan ayah mertuanya tadi pagi. Ia mengenakan gaun rumah berbahan sutra tipis berwarna merah muda pucat yang jatuh lembut di lekuk tubuhnya. Rambutnya disanggul asal, menyisakan beberapa helai yang jatuh di tengkuknya—pemandangan yang bagi Archello jauh lebih menggoda daripada gaun pesta mana pun.

Tanpa suara, Archello melangkah mendekat. Ia melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Lyodra, menarik punggung istrinya hingga menempel di dadanya yang bidang.

"Ello! Kau mengejutkanku," bisik Lyodra, tangannya yang memegang sendok teh sedikit bergetar.

"Harummu lebih enak daripada teh ini, Ay," gumam Archello, membenamkan wajahnya di ceruk leher Lyodra. Ia mulai memberikan kecupan-kecupan kecil yang menuntut, menghirup aroma vanila dan sabun bayi yang selalu menjadi candunya.

Lyodra mencoba berbalik dalam kungkungan lengan itu, namun Archello justru mengangkatnya ke atas meja marmer yang dingin. Sentuhan kulit hangat Archello pada paha Lyodra membuat napas gadis itu tertahan.

"Ello, jangan di sini... bagaimana jika pelayan masuk?" protes Lyodra lemah, meskipun tangannya justru merambat naik ke leher suaminya, meremas rambut hitam Archello.

"Sudah kukosongkan, sayang. Tidak akan ada yang berani masuk tanpa izin dariku," Archello menyeringai nakal. Matanya yang biasanya sedingin es kini berkilat penuh gairah. Ia mulai mencium bibir Lyodra dengan lapar, tangan satunya mulai menjelajahi kancing gaun istrinya. "Meja ini cukup luas untuk hal gila yang sedang kupikirkan sekarang."

Lyodra tertawa kecil di sela ciuman mereka, merasa tertular kegilaan suaminya. Archello baru saja akan melangkah lebih jauh, menarik gaun Lyodra sedikit lebih tinggi, ketika sebuah suara dehaman yang sangat familiar terdengar dari arah pintu masuk samping.

"Archello Dominic!"

Suara itu membuat Lyodra meloncat turun dari meja marmer dengan wajah semerah buah bit. Archello, dengan tenang namun sedikit kesal, berbalik dan menemukan ibunya, Beatrice, berdiri di sana dengan wajah yang tertutup telapak tangan, meski jari-jarinya sedikit terbuka.

"Mom? Sedang apa di sini?" tanya Archello tanpa rasa bersalah sedikit pun, sambil merapikan letak kemejanya yang berantakan.

Beatrice menurunkan tangannya, wajahnya tampak sangat malu sekaligus kesal. "Aku ingin mengambil air minum, tapi malah melihat tingkah putraku yang sudah seperti remaja puber! Archello, ini dapur! Bagaimana jika ada pelayan senior yang lewat? Kau benar-benar tidak punya rasa malu."

Lyodra hanya bisa menunduk, memperbaiki kancing gaunnya dengan tangan gemetar. Rasanya ia ingin menghilang ke dalam lantai marmer saat itu juga.

"Lakukan saja di kamar, Archello. Jangan buat malu di area publik seperti ini," lanjut Beatrice dengan nada mendesak. "Simpan kegilaan kalian di balik pintu yang terkunci. Aku tidak ingin mendengar gosip dari para pelayan bahwa pewaris tunggal lebih suka meja dapur daripada ranjang king size-nya."

Archello hanya terkekeh, ia merangkul bahu Lyodra yang masih memerah hebat. "Baik, Mom. Kami akan kembali ke kamar sekarang."

Namun, baru saja mereka akan melangkah keluar dari dapur untuk mengikuti saran Beatrice, seorang pelayan senior dengan seragam rapi dan wajah tanpa ekspresi muncul di koridor.

"Maaf mengganggu, Tuan Muda, Nyonya Muda," ucap pelayan itu sambil membungkuk dalam. "Nenek Hera meminta Nyonya Muda Lyodra untuk menemuinya di ruang kerja pribadi sekarang juga. Ada hal penting mengenai persiapan kelas empat hari lagi."

Suasana yang tadinya panas dan penuh tawa mendadak mendingin. Lyodra merasakan perutnya mulas. Panggilan dari Nenek Hera tidak pernah berarti kabar baik. Ia menatap Archello dengan pandangan cemas.

Archello melihat ketakutan di mata istrinya. Alih-alih membiarkan Lyodra pergi sendiri dengan langkah gontai, Archello justru melakukan sesuatu yang membuat Beatrice dan sang pelayan ternganga.

Dengan satu gerakan sigap, Archello mengangkat tubuh Lyodra ke dalam gendongan bridal style.

"Ello! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" seru Lyodra panik.

Archello mengabaikan protes istrinya. Ia menatap pelayan senior itu dengan senyum miring yang penuh tantangan.

"Katakan pada Nenek Hera, istriku sedang sibuk. Kami sedang dalam perjalanan menuju kamar untuk membuatkan cucu yang akan dia tuntut itu," ucap Archello dengan suara lantang yang sengaja dibuat agar terdengar hingga ke lorong.

"Archello!" Beatrice berteriak kecil, benar-benar tidak percaya dengan keberanian putranya.

"Katakan padanya, jika dia ingin Lyodra belajar tata krama, dia harus menunggu sampai urusan 'produksi pewaris' ini selesai," lanjut Archello sambil mulai melangkah menjauh, menggendong Lyodra yang hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang sudah matang di dada Archello.

Archello berbisik di telinga Lyodra, "Biarkan dia menunggu, Ay. Malam ini, tidak ada Nenek, tidak ada kelas tata krama. Hanya ada kita."

Di belakang mereka, Beatrice hanya bisa mengelus dada, sementara sang pelayan senior bingung bagaimana harus menyampaikan pesan "gila" itu kepada Nenek Hera yang terkenal sangat disiplin. Namun di balik dinding mansion yang kaku itu, Archello baru saja mendeklarasikan bahwa cinta mereka tidak akan tunduk pada aturan kuno mana pun.

🌷🌷🌷🌷

1
Meris
suka dgn karakter Alexander Dominic
ros 🍂: Ma'aciww sudah mampir kak🥰
total 1 replies
Meris
Suka dgn ketegasan Ello...sbg suami yg bertanggungjawab.
winpar
gmna yh pertemuan mreka????
winpar
smkin seru thor 🥰😍
ros 🍂: Ma'aciww kak🥰
total 1 replies
winpar
ceritanya selalu aj bgus 🥰😍
ros 🍂: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
winpar
seru🥰😍
winpar
kk cerita ini msih lnjut kn kk????
ros 🍂: masih kak🙏
total 1 replies
winpar
smga cinta elo dan lyodra kuat mnghdpi neneknya yg jhat
Amy Chacha
sangat suka dengan alur ceritanya gk bertele2 dan kasian lyodra thor pertemukan dengan ello thor kasian lyodra thor
ros 🍂: Sabar kak ini ujian 🤭🥰
total 1 replies
Amy Chacha
lanjut lagi thor up yang banyak
Amy Chacha
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!