"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Setelah berbulan-bulan hanya menjadi "pahlawan layar" di malam hari, hari yang kutunggu sekaligus kutakuti itu tiba. Sabtu malam, Kaila dan Alif merencanakan sebuah double date di sebuah kafe remang-remang yang cukup populer di pinggir kota.
"Fis, lo harus dandan yang cantik. Ini kan pertama kalinya lo jalan bareng Guntur secara... yah, semi resmi lah," goda Kaila sambil membantuku merapikan rambut.
Aku hanya tersenyum gugup. Di kepalaku, aku sudah membayangkan kami akan mengobrol banyak hal seperti di chat. Mungkin dia akan memuji penampilanku, atau setidaknya, memberikan senyum kecil yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
Namun, realita kembali menamparku dengan telak.
Di kafe itu, suasana terasa sangat kontras. Kaila dan Alif terlihat sangat asyik mengobrol, sesekali tertawa renyah sambil menikmati pesanan mereka. Sementara di depanku, Guntur duduk dengan punggung tegak dan pandangan yang lebih sering tertuju pada layar televisi di sudut kafe yang sedang menyiarkan pertandingan bola ulang.
Dia tidak banyak bicara. Sangat tidak banyak bicara.
"Kak, dicoba gih kopinya. Enak lho," aku memberanikan diri membuka suara, mencoba memecah keheningan di antara kami.
Guntur hanya menoleh sekilas, mengangguk tipis, lalu menyesap kopinya tanpa sepatah kata pun. Ia kembali diam, membiarkan kebisingan kafe menjadi satu-satunya pengisi ruang kosong di antara kursi kami.
"Kalian ini kencan atau lagi ujian lisan sih? Kaku banget!" celetuk Alif sambil tertawa, mencoba mencairkan suasana.
Guntur hanya tersenyum tipis—senyum yang nyaris tak terlihat—lalu kembali fokus pada dunianya sendiri. Aku merasa sangat kecil di sana. Aku ingin marah, ingin bertanya mengapa dia bisa begitu manis di layar ponsel tapi begitu jauh saat duduk hanya berjarak satu jengkal dariku. Tapi aku terlalu takut merusak momen yang sudah susah payah diatur ini.
Semua orang yang melihat kami mungkin menganggap kami adalah pasangan yang serasi. Kami duduk berdampingan, pakaian kami tampak serasi, dan terkadang ia akan mengambilkan tisu atau menggeser piring ke arahku tanpa diminta. Gestur kecil itu terasa sangat manis, namun tetap saja... kebisuan ini menyesakkan.
Saat malam semakin larut dan kami bersiap untuk pulang, barulah keajaiban itu muncul lagi.
"Hati-hati pulangnya," bisiknya sangat pelan saat kami berjalan menuju parkiran. Hanya itu. Tanpa jabat tangan, tanpa pelukan.
Namun, begitu aku sampai di rumah dan merebahkan tubuh di kasur, ponselku bergetar. Satu pesan masuk dari Guntur.
Guntur: "Makasih ya buat malam ini. Kamu cantik pakai baju itu."
Hatiku yang tadinya mendung seketika cerah kembali. Aku kembali terjebak dalam labirin yang sama: membenci kaku-nya di dunia nyata, tapi jatuh cinta sedalam-dalamnya pada kehangatannya di dunia maya. Aku tidak sadar, bahwa kebiasaannya yang sulit bicara secara langsung ini akan menjadi bumerang paling mematikan saat badai itu datang.
Badai yang bernama... Konser Slank di Jogja.
Pesan itu aku baca berulang kali sampai mataku terasa panas. Mengapa dia harus sekejam ini? Memberiku harapan setinggi langit lewat layar ponsel, tapi mengabaikanku seolah aku tak kasat mata saat berhadapan. Namun, itulah Guntur. Dan kebodohanku adalah tetap mencintai setiap ketidakkonsistenannya.
Seminggu setelah malam double date yang kaku itu, ponselku bergetar di tengah pelajaran sejarah yang membosankan. Sebuah pesan singkat dari Guntur muncul di layar.
Guntur: "Minggu besok ada konser Slank di Jogja. Teman-teman Alif berangkat semua. Kamu... mau ikut bareng aku?"
Jantungku serasa berhenti berdetak. Ini dia. Kesempatan yang selama ini kudoakan. Sebuah ajakan kencan yang sebenarnya, di kota yang romantis, dengan band favorit sejuta umat. Di kepalaku, aku sudah membayangkan kami berdiri di tengah kerumunan, mungkin dia akan menggenggam tanganku agar tidak terpisah, atau setidaknya, kami akan bicara banyak selama perjalanan.
Tapi detik berikutnya, kenyataan menghantamku dengan keras. Aku teringat jadwal ekstrakurikuler yang sudah lama kusiapkan.
Afisa: "Kak, serius mau ngajak aku? Tapi hari Minggu aku ada acara ekskul ke Bandung. Nggak bisa dibatalin..."
Aku menunggu balasannya dengan perasaan campur aduk. Berharap dia akan berkata, "Oh, ya sudah, lain kali saja," atau mungkin, "Yah, sayang banget." Tapi menit demi menit berlalu tanpa balasan. Hanya centang dua biru yang dingin.
Hingga malam tiba, dia baru membalas singkat.
Guntur: "Oh, ya sudah. Aku berangkat sama teman-teman saja."
Tidak ada nada kecewa, tidak ada paksaan. Hanya datar. Sangat Guntur.
Hari Minggu itu tiba. Sambil duduk di dalam bus menuju Bandung, pikiranku terus tertuju pada Jogja. Aku membayangkan dia di sana, tertawa bersama Alif dan Kaila—karena Kaila memang ikut pacarnya. Aku mengiriminya pesan, "Hati-hati ya di jalan," tapi dia tidak membalas. Tidak ada telepon, tidak ada kabar sama sekali sepanjang hari.
Perasaanku mulai tidak enak. Heningnya Guntur kali ini terasa berbeda. Bukan dingin yang biasa, tapi dingin yang seolah... menjauh.
"Satu hari saja aku nggak bisa nemani dia, apa sebegitu pengaruhnya?" gumamku sambil menatap jendela bus yang dibasahi rintik hujan.
Aku tidak tahu bahwa di Jogja sana, saat lagu "Terlalu Manis" berkumandang, Guntur sudah menyiapkan sesuatu untukku. Dan karena aku tidak ada di sisinya, sesuatu itu hancur berantakan bersama egonya yang setinggi langit. Ketidakhadiranku di Jogja ternyata menjadi kunci yang mengunci pintu hatinya untukku—selamanya.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2