"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Rina Mulai Menulis Rutin
...GAMON...
...Bab 33: Rina Mulai Menulis Rutin...
...POV Rina...
---
Senin – 20.30 WIB
Rumah Baru – Ruang Tamu
Rumah mulai terasa seperti rumah.
Lampu ruang tamu—beli kemarin di ACE—nyala terang. Warna kuning hangat, bukan putih kayak lampu toko. Dinding-dinding masih kosong. Belum ada lukisan, belum ada foto. Tapi sofa sudah dateng. Sofa kecil warna abu-abu, cukup buat dua orang. Meja kopi kayu jati—second, tapi masih bagus. Dan di pojok dekat jendela, rak buku.
Rak buku itu. Tingginya nyampe dada Rina. Warna cokelat tua. Empat rak. Rak paling bawah agak miring—kayaknya kaki meja nggak rata. Tapi Rina suka. Rak itu punya cerita. Dia sendiri yang cari. Dia sendiri yang pilih. Dia sendiri yang bayar—dari uang tabungan.
Dan di rak paling atas, di belakang deretan novel lama, ada buku biru muda. Jurnal.
Rina duduk di lantai. Punggung sandar ke sofa. Kaki diluruskan. Di meja kopi, segelas teh anget. Udah mulai dingin. Di sampingnya, ponsel. Layar gelap.
Bima di kamar mandi. Suara air. Dia mandi setelah seharian kerja.
Rumah ini memang baru. Tapi Rina mulai punya rutinitas.
Setiap malam, sebelum tidur, dia nulis.
---
20.45 WIB
Ruang Tamu – Masih di Lantai
Rina buka jurnal. Halaman udah mulai terisi. Bukan banyak. Mungkin sepuluh halaman. Tiap malam dia tulis. Nggak banyak-banyak. Cukup satu halaman. Kadang setengah. Yang penting nulis.
Dia buka halaman kosong. Ambil pulpen. Jari sedikit gemetar—bukan takut. Tapi karena ini satu-satunya tempat dia bisa jujur. Tanpa topeng. Tanpa senyum. Tanpa "aku baik-baik aja".
---
Hari ini Bima pulang lebih awal. Awalnya aku seneng. Tapi ternyata dia pulang cepet karena capek, bukan karena pengen bareng aku. Kita makan malam diam-diam. Nggak banyak omong. Aku tanya kabarnya, dia jawab "biasa". Dia tanya kabarku, aku jawab "baik".
Tapi nggak ada yang biasa. Nggak ada yang baik.
Aku liat dia liat ponsel tadi. Cuma sebentar. Liat, terus tutup. Mungkin cek email. Mungkin cek kerjaan. Tapi di dalem hati aku langsung mikir: "Apa dia buka chat lama? Apa dia buka foto itu lagi?"
Aku tahu ini nggak sehat. Aku tahu aku harus percaya. Tapi bagaimana caranya percaya kalau luka masih segar?
Rak buku udah dateng. Aku suka. Setiap kali liat rak itu, aku inget kenapa aku beli. Bukan buat buku. Tapi buat nyimpen jurnal ini. Biar nggak gampang ditemuin. Biar nggak ada yang baca.
Tapi kadang aku berharap Bima nemu. Biar dia tahu. Biar dia sadar.
Tapi kadang aku takut. Takut kalau dia nemu, dia malah pergi.
Rin, lo payah. Lo nulis di jurnal tapi nggak berani ngomong langsung. Lo beli rak buku buat nyimpen rahasia. Lo mendingan ngomong aja sekalian.
Tapi nggak bisa. Aku nggak bisa. Belum.
Besok aku mau beli tanaman hias. Buat halaman belakang. Biar rumah ini keliatan lebih hidup. Karena kalau rumahnya hidup, mungkin aku juga bisa hidup.
---
Rina berhenti. Baca ulang.
Matanya basah. Tapi kali ini dia nggak nangis. Cuma nahan. Tarik napas.
Suara kamar mandi berhenti. Bima udah selesai.
Rina cepet-cepet nutup jurnal. Taruh di rak paling atas, di belakang novel-novel. Rapih.
Dia berdiri. Ambil gelas teh. Pura-pura minum.
---
21.00 WIB
Ruang Tamu – Bima Keluar
Bima keluar dari kamar. Rambut masih basah. Wangi sabun. Pake kaos oblong dan celana pendek.
"Rin."
"Iya?"
"Lo nggak mandi?"
"Nanti." Rina senyum. "Aku masih diem-diem di sini."
Bima jalan ke rak buku. Liat-liat.
"Rak baru?"
"Iya. Dateng tadi sore."
Bima liat buku-buku. Jarinya nyusuri punggung buku. Rina liat dari belakang. Jantungnya berdebar.
Jari Bima berhenti di baris paling atas. Di belakang novel.
Rina nahan napas.
"Buku lo banyak juga."
"Iya. Dulu suka baca."
Bima ambil satu novel. Membalikkan novel tersebut, dan membaca sampul belakang.
"Ini bagus?"
Rina lega. "Bagus. Ceritanya tentang... perempuan yang lagi berantem sama masa lalunya."
Bima angkat alis. "Kok lo suka bacaan berat?"
Rina senyum tipis. "Ya. Biar nggak tenggelam sama beratnya hidup."
Bima liat dia. Ada sesuatu di matanya. Tapi dia nggak nanya. Cuma taruh novel balik.
"Lo mandi dulu, ya. Aku mau tidur. Capek."
"Iya."
Bima jalan ke kamar. Rina liat dia pergi.
Dia jalan ke rak. Pastiin jurnalnya masih di tempat. Tersembunyi.
---
21.30 WIB
Kamar Tidur – Bima Udah Tidur
Rina habis mandi. Rambut masih basah. Udara dingin—kipas angin muter pelan.
Bima udah tidur. Posisi miring ke kiri. Tangannya di atas bantal. Kayak tadi pagi. Kayak kemarin. Kayak selalu.
Rina rebahan di samping. Jaga jarak.
Di gelap, dia buka mata. Liat punggung Bima. Lebar. Tapi jauh.
Dia ingat yang dia tulis tadi: "Rin, lo payah. Lo nulis di jurnal tapi nggak berani ngomong langsung."
Iya. Dia payah.
Tapi buat apa ngomong? Bima udah janji. Bima udah hapus foto. Bima udah bilang akan usaha. Kalau dia masih nanya, dia yang jadi istri nggak percaya.
Rina pejam mata. Coba tidur.
Tapi tidurnya nggak datang.
---
Selasa – 05.30 WIB
Ruang Tamu – Sebelum Bima Bangun
Rina bangun lebih dulu. Seperti biasa.
Dia jalan ke rak. Ambil jurnal. Duduk di sofa. Membuka halaman kosong, lalu menulis di halaman itu.
---
Tadi malem Bima hampir nemu jurnal ini. Jantung aku kayak mau copot. Aku pura-pura biasa. Dia pilih novel lain. Nggak lihat yang di belakang.
Tuhan, aku tahu ini rahasia. Aku tahu ini nggak baik. Tapi aku butuh ini. Aku butuh tempat buat jujur. Karena kalau aku jujur sama Bima, aku takut dia nggak kuat. Atau aku yang nggak kuat denger jawabannya.
Besok aku mau beli tanaman. Kayanya kaktus. Biar nggak gampang mati. Kayak aku. Masih hidup. Meskipun kadang rasanya mati.
---
Rina nutup jurnal. Taruh di rak.
Matahari mulai naik. Cahaya masuk lewat jendela.
Rina berdiri. Jalan ke dapur. Siapin sarapan.
---
Bersambung ke Bab 34: Bima Mulai Penasaran
---
...📝 Preview Bab Bab 34:...
Bima mulai sadar. Rina punya rahasia.
Setiap malam, Rina nulis sesuatu di buku biru. Setiap pagi, buku itu disembunyiin di rak paling atas.
Bima penasaran. Tapi dia nggak berani nanya.
Sampai suatu malam, Rina lupa nutup jurnalnya.
Bab 34: Bima Mulai Penasaran—segera!
---