NovelToon NovelToon
Marni, LC Sholehah

Marni, LC Sholehah

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:32.8k
Nilai: 5
Nama Author: Qinan

Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.

Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.

Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab~06

Marni pun terpaksa tinggal saat teman-temannya pulang duluan karena mereka cukup sungkan meskipun hanya sekedar menyapa Firman sang idola kampung yang bagi mereka sosok pria yang cukup sempurna karena selain tampan juga lumayan kaya mengingat ayahnya adalah seorang juragan yang memiliki beberapa lahan sawit di kampung halamannya di luar pulau jadi tanpa bekerja pun uang setiap 2 minggu sekali mengalir ke tabungan mereka.

Sementara Firman sehari-hari bekerja sebagai teknisi elektronik di rumahnya sekaligus menjual beberapa ponsel bekas hasil jual beli ataupun hasil perbaikannya sendiri dan juga menjual apapun yang berhubungan dengan benda pipih tersebut seperti pulsa maupun kuota internet dan pelengkap lainnya, pria itu juga menyambi sebagai guru ngaji bersama ayahnya Marni saat sore atau malam hari di kampungnya.

"Bagaimana kabarnya Mar?" ucap pria itu setelah kini mereka hanya tinggal berdua karena sebelumnya saat Marni hendak pergi bersama teman-temannya tiba-tiba ditahan oleh pria itu.

"Aku baik mas Firman," sahut Marni dengan senyuman tipisnya.

Sebenarnya setahun yang lalu pria itu pernah mengutarakan perasaannya namun sengaja ia tolak karena dilihat dari sudut mana pun mereka tidak cocok, ia hanya gadis miskin putus sekolah sedangkan pria itu anak orang kaya lulusan sarjana S1 teknisi.

Firman nampak tak berkedip menatap wanita tak jauh darinya itu, namun saat Marni balik menatapnya pria itu langsung menundukkan pandangannya.

"Kenapa tidak pernah membalas pesanku?" ucapnya kemudian.

"Maaf mas, aku sibuk bekerja." sahut Marni, keduanya memang saling memiliki kontak telepon masing-masing karena Marni biasanya telepon kedua orang tuanya melalui ponsel pria itu mengingat di kampungnya jarang sekali yang memiliki ponsel.

Pernah suatu ketika ia meminjam ponsel Astuti untuk menghubungi ibunya mengingat rumah mereka bersebelahan namun wanita itu merasa keberatan dan kembali menghina keluarganya, sejak saat itu memilih menghubungi ibunya melewati Firman yang tak pernah keberatan meminjamkan ponselnya.

Sebenarnya ia pernah membelikan ibunya ponsel tapi dijual oleh adiknya dengan alasan butuh uang dan kini ia pun enggan membelikannya lagi.

Firman pun mengangguk kecil. "Tidak apa-apa yang penting kamu baik-baik saja," ucapnya menanggapi.

Marni pun kembali menatapnya. "Terima kasih mas Firman tapi ini sudah malam kalau begitu aku pulang dahulu," ucapnya lantas segera berlalu dari hadapan pria itu.

Entah kenapa perasaannya tiba-tiba tak karuan ketika tatapan mereka bertemu. Tidak, tidak mungkin ia menyukainya karena sekali lagi ia tidak pantas untuknya. Ia sudah kotor dan pria itu berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik darinya pikir Marni.

"Meskipun lama tinggal di kota kamu belum berubah Marni, kamu masih suka malu-malu seperti dulu." gumam Firman menatap kepergiannya sembari menaikkan kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis.

Kemudian pria itu pun segera berlalu pergi ke arah berlawanan bersama pak ustadz sekaligus pamannya sendiri itu.

"Nak Firman apa tidak ingin menikah?" ucap pria paruh baya tersebut ditengah langkah mereka.

"Belum ada yang cocok Man," sahut pria berusia 25 tahun itu menanggapi perkataan sang paman.

"Jika mau akan paman kenalkan dengan anak kenalan paman dari pondokan siapa tahu jodoh karena bapakmu juga sepertinya tak keberatan," tukas pria paruh baya itu yang sontak membuat wajah Firman sedikit menegang menatapnya.

"Terima kasih Man, tapi untuk saat ini Firman masih ingin sendiri." sahutnya menimpali atau lebih tepatnya menolak secara halus usulan pamannya tersebut, baginya pernikahan adalah ibadah terlama dan harus dengan orang yang tepat dan ia sukai tentu saja agar saat ujian datang takkan terasa berat karena dijalani karena sebuah cinta.

"Apa sudah ada gadis yang kamu taksir?" sang paman pun menatapnya namun Firman hanya diam tak menjawabnya.

"Aku masih ingin membesarkan usahaku agar nanti istri dan anakku tidak kekurangan apapun," sahutnya pada akhirnya.

"Firman-Firman, orang tuamu itu sudah kaya tidak bekerja pun kamu tidak akan kekurangan." sang paman langsung menepuk bahu pemuda itu lantas segera masuk ke dalam rumahnya sedangkan Firman terus melangkah menuju rumahnya yang berada tak jauh dari sana.

Rumah paling luas diantara warga desanya dengan sebelah rumahnya ia jadikan sebagai tempat usahanya, Firman memiliki seorang adik perempuan yang kini menempuh pendidikan di pondok pesantren milik pamannya. Keluarga pria itu memang berasal dari keluarga muslim taat dan untuk itu sudah bertahun-tahun ayahnya dipercaya oleh warga desa untuk memimpin kampungnya.

Sementara itu Marni yang baru sampai nampak tak sengaja bertemu dengan Astuti yang sedang berada di teras rumahnya. "Baru pulang Mar? taraweh sudah selesai dari tadi kamu baru kembali," ucapnya sedikit berteriak karena Marni berada di jalanan depan rumahnya.

"Iya mbak," sahut wanita itu sembari melangkah menuju pekarangan rumahnya.

"Mentang-mentang baru dari kota tidak usah sok caper lagipula siapa juga yang mau sama keluarga paspasan seperti kalian jangankan sawah rumah reyot saja tidak mampu memperbaiki," sindir Astuti lagi.

Marni nampak menahan emosinya dengan mengepalkan tangannya, sebenarnya jika uangnya tidak dihabiskan oleh ibu dan adiknya pasti sudah ia bangun rumah warisan dari kakeknya tersebut.

"Sabar," gumamnya menenangkan dirinya sendiri.

"Baik mbak, aku masuk dulu ya." ucapnya lantas berlalu masuk ke dalam rumahnya.

"Dasar tidak sopan orang bicara ditinggal pergi begitu saja." gerutu Astuti dengan kesal namun detik selanjutnya senyumnya langsung mengembang ketika melihat sebuah motor masuk ke dalam pekarangan rumahnya, siapa lagi jika bukan suaminya yang baru datang dari kota karena biasanya satu minggu sekali pria itu pulang jika bertepatan tujuannya melewati daerahnya namun terkadang juga bisa sampai sebulan sekali jika tujuannya ke kota lain yang berlawanan arah.

"Mas kamu baru pulang?" ucapnya dengan nada khawatir sekaligus senang melihat kedatangan pria itu.

Joko yang baru membuka helmnya nampak menatap istrinya yang sedang mengenakan daster yang katanya pakaian sejuta umat para mak emak seindonesia raya itu.

"Kenapa pakai daster itu lagi, bukankah minggu lalu sudah ku berikan uang untuk membeli daster yang lebih bagus?" ucapnya seraya menyerahkan helmnya kepada wanita itu.

"Sayang uangnya mas ini juga masih bagus mending uangnya buat beli makanan yang baru buka diujung jalan itu," sahut wanita itu menanggapi dengan santai.

Joko hanya bisa menghela napasnya, ia selalu royal dengan istrinya bahkan seluruh gajinya ia berikan kepada wanita itu kecuali uang bonus muatan tentu saja ia pegang sendiri tapi istrinya sama sekali tidak mau dandan atau membeli baju baru saat ia ada di rumah. Kerjaannya hanya makan dan makan sampai badannya melar sangat jauh berbeda dengan para ladies di tempat karaoke yang sering ia datangi, meskipun kebanyakan mereka janda muda tapi sangat merawat badannya hingga membuat pria mana pun pasti akan tertarik saat melihatnya.

"Loh bukankah itu Marni?" ucap Joko tiba-tiba ketika tak sengaja melihat Marni keluar dari rumahnya dengan hijab masih menutupi kepalanya meskipun malam mulai larut.

1
Rahmawati
wes mundur alon alon mar
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
dah pada gila ..anak pondok tapi geh begitu si Kania sama Farah 😌.... Astuti kamu pantes nya pake karung goni pas di badan mu 🤣
Arsyad Algifari.
Astuti ini ga punya kaca besar kali ya .yang kampungan itu kamu Astuti .kalau beneran lebel baju mu beneran ga di copot .sangat memalukan.dan PD amat kau Astuti punya badan kaya kerbau beranak aja .masih aja julid sama orang
վօօղíҽ̀z࿐༅ɯιƚԋ ʅσʋҽ࿐༅
Curiga si ibu sering konsumsi oseng kecubung /Sob/...
Ngereog mulu 🤦...
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
aduh.. mana udah diulti kalo ini karya gasampe lepas lebaran lagi ,sama othornya 😂
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
gada hubungannya wooiii.. salahin noh tiang listrik dipinggir jalan 😂😂
վօօղíҽ̀z࿐༅ɯιƚԋ ʅσʋҽ࿐༅
Waduhh jaga lilin kali dianya Mar, atau jual warisan /Panic/...
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
aku mulai ada di posisi ini, gabutuh validasi
վօօղíҽ̀z࿐༅ɯιƚԋ ʅσʋҽ࿐༅
Hati-hati Mas Paino nanti rezekimu seret penuh dengan elemen negatif 🙊...
Tuti Tyastuti
𝘮𝘶𝘭𝘶𝘵 𝘢𝘴𝘵𝘶𝘵𝘪 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘮𝘱𝘦𝘭👟
Arsyad Algifari.
ibunya Marni ko gitu ya .di mana" seorang ibu itu mendoakan yang terbaik untuk anaknya dari segi jodoh dan pekerjaan .ini MH seperti di pakai umpan . walaupun miskin jangan keterlaluan lah Bu .
վօօղíҽ̀z࿐༅ɯιƚԋ ʅσʋҽ࿐༅
Waduuuww ketemu kumbang ganasss lagi 😱, predator kelas kakap..
Arsyad Algifari.
tinggal di panti jompo kalau ga ada duit pasti ga akan di terima mar .
aku juga orang kampung Lo bang qinan .aku anak ke 11 dari 18 bersaudara..tapi ga terlalu susah walaupun bapakku seorang petani . sekaligus pegawai pemerintah . karena walaupun petani tapi lahan punya sendiri
վօօղíҽ̀z࿐༅ɯιƚԋ ʅσʋҽ࿐༅
Nasibmu Mar, sana sini apes mulu /Sob/..
Penggemarmu gentayangan di mana -mana 😣...
Shafa 💫💫
perilaku Muh itu yg miskin akhlak astuti😆😆😆
Shafa 💫💫
wkwkw benar semahal apapun y tetap aja lebar 🤭🤣🤣🤣🤣
Eva Karmita
Tuti....Tuti mulutmu ya pengen di kasih salam biar mingkem....mau ibadah masih aja sempat bikin dosa 😤😏

sabar Marni fokus ibadah jangan dengarkan omongan seyton" di sekitar mu
Hanima
Oooooo
Naysila mom's arga
si astuti corocos aja kyk petasan imlek ya allah kalo aku gx kuat tetanggan sama dia, kapan tuh mulut bisa diem dpt karma sekalian
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Sabar y Mar, jodoh g akan kemana mana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!