"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Penyelamatan Brutal
Bab 15: Penyelamatan Brutal
Kegelapan di dalam gudang 404 terasa mencekik. Alana meringkuk di balik mesin pemotong baja, telinganya menangkap suara gesekan sepatu boot yang sangat halus di atas lantai beton yang lembap. Laser merah membelah udara, menyapu debu yang beterbangan, mencari target.
"Target terdeteksi. Bergerak ke sektor pusat," bisik sebuah suara dari interkom musuh yang terdengar sayup.
Kenzi telah menyatu dengan bayang-bayang di langit-langit gudang, bergantung pada pipa pemadam kebakaran yang berkarat. Matanya yang dingin memindai jumlah lawan melalui kacamata thermal. Enam orang. Formasi Delta. Mereka bergerak dengan sinkronisasi tinggi, menunjukkan bahwa ini bukan sekadar preman bayaran, melainkan unit paramiliter profesional.
Kenzi menjatuhkan sebuah tabung gas kosong di sudut yang berlawanan.
Klang!
Dua laser merah segera beralih fokus ke arah suara. Itulah celah yang dibutuhkan Kenzi. Ia terjun bebas dari ketinggian tiga meter tanpa suara, mendarat tepat di belakang pengejar paling belakang. Dengan satu gerakan memutar yang cepat, Kenzi mematahkan leher pria itu sebelum ia sempat menarik pelatuk. Senjata lawan—sebuah MP5 dengan peredam—berpindah tangan ke Kenzi dalam hitungan detik.
Pft! Pft!
Dua peluru meluncur keluar, menembus tengkuk dua pria lainnya yang berada di depan. Mereka jatuh berdentum di lantai beton.
"Kontak! Kontak di sektor belakang!" teriak pemimpin tim pengepung.
Gudang itu meledak dalam kekacauan. Sisa pengepung mulai melepaskan tembakan acak ke arah kegelapan. Kilatan moncong senjata menerangi ruangan secara intermiten, menunjukkan sosok Kenzi yang bergerak zig-zag di antara tumpukan palet kayu dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Alana menutup telinga, air mata mengalir di pipinya. Ia mendengar erangan kesakitan, suara tulang yang patah, dan bau mesiu yang tajam. Baginya, Kenzi bukan lagi manusia. Di tengah kegelapan ini, pria itu adalah entitas maut yang sedang menari.
Kenzi kehabisan peluru. Ia membuang senjatanya dan mencabut pisau taktis dari sarung di kakinya. Lawan terakhir, seorang pria bertubuh raksasa dengan rompi antipeluru lengkap, mencoba menghantam Kenzi dengan popor senjatanya. Kenzi menghindar ke samping, membiarkan serangan itu mengenai mesin tua, lalu menusukkan pisaunya ke celah ketiak lawan—satu-satunya bagian yang tidak terlindungi rompi.
Pria raksasa itu tercekik darahnya sendiri. Kenzi tidak melepaskan pisaunya sampai pria itu benar-benar tak bernyawa.
Kenzi berdiri di tengah gudang yang kini sunyi, kecuali suara napasnya yang stabil dan rintik hujan di luar. Enam mayat tergeletak di sekelilingnya dalam posisi yang mengerikan. Penyelamatan ini tidak bersih; ini adalah pembantaian yang brutal dan efisien.
"Nona, keluar," perintah Kenzi. Suaranya datar, seolah ia baru saja menyelesaikan tugas administrasi, bukan menghabisi nyawa manusia.
Alana merangkak keluar dari balik mesin. Kakinya lemas saat melihat darah yang menggenang di lantai, memantulkan cahaya petir dari luar. Ia menatap Kenzi yang berdiri diam, wajahnya sedikit terkena percikan darah.
"Kau... kau membunuh mereka semua," bisik Alana ngeri.
"Jika saya tidak melakukannya, mereka akan membawa Anda ke tempat di mana kematian adalah sebuah kemewahan," sahut Kenzi. Ia mendekati Alana dan menarik gadis itu berdiri. "Kita harus pergi. Sinyal radio mereka sudah terputus. Bantuan mereka akan tiba dalam hitungan menit."
Namun, bantuan yang tiba bukan dari organisasi musuh.
Cahaya lampu sorot yang sangat terang tiba-tiba menerjang dari pintu gudang yang terbuka lebar. Suara helikopter meraung di atas atap seng. Tiga mobil SUV hitam dengan logo keluarga Wijaya mengerem mendadak di depan gudang.
Sekelompok pria berseragam keamanan lengkap menyerbu masuk dengan senjata terhunus. Di barisan paling depan, Bram, kepala keamanan lama yang selalu menaruh curiga pada Kenzi, memimpin pasukan.
"Nona Alana! Anda aman?!" teriak Bram. Ia segera memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengamankan perimeter.
Dua orang petugas medis segera menghampiri Alana, menyelimutinya dengan kain termal dan memeriksa tanda-tanda vitalnya. Bram melangkah maju, namun langkahnya terhenti saat ia melihat tumpukan mayat di lantai gudang. Matanya beralih ke Kenzi yang berdiri dengan tenang, pisaunya sudah kembali ke sarungnya, namun tangannya masih merah oleh darah.
Bram menatap teknik pembunuhan pada mayat-mayat itu. Presisi pada saraf leher, tusukan di celah rompi, tembakan di tengkorak belakang. Ini bukan teknik pertahanan diri bodyguard sipil. Ini adalah tanda tangan seorang pembunuh bayaran profesional kelas atas.
"Kau..." Bram menodongkan pistolnya tepat ke arah dada Kenzi. "Jangan bergerak, anak baru."
Kenzi mengangkat tangannya perlahan, namun matanya menatap Bram dengan tantangan yang dingin. "Saya menyelamatkannya, Bram. Turunkan senjata Anda sebelum Anda mempermalukan diri sendiri di depan majikan Anda."
"Menyelamatkannya? Atau menghabisi saksi mata?" gertak Bram. Ia menoleh ke arah salah satu anak buahnya. "Periksa senjata para penyusup ini. Dan kau, periksa latar belakang taktis yang digunakan di sini!"
"Cukup, Bram!" Alana berteriak, suaranya parau. Ia melepaskan diri dari petugas medis dan berdiri di antara Bram dan Kenzi. "Kenzi membawaku keluar dari hutan. Dia bertaruh nyawa untukku. Jika bukan karena dia, aku sudah diculik sekarang!"
Bram menurunkan senjatanya sedikit, namun kecurigaannya tidak berkurang. "Nona, pria ini terlalu berbahaya. Lihat teknik yang dia gunakan. Tidak ada satu pun pengawal di Indonesia yang dilatih untuk melakukan pembantaian seefisien ini. Dia menyembunyikan sesuatu yang sangat besar."
Satu jam kemudian, mereka semua kembali ke kediaman utama Wijaya. Rumah mewah itu kini dijaga tiga kali lipat lebih ketat dari biasanya. Tuan Wijaya sedang berada di luar negeri untuk urusan darurat, namun ia telah memberi instruksi lewat telepon untuk menempatkan Alana dalam perlindungan maksimum.
Kenzi duduk di ruang interogasi keamanan di rubanah kediaman Wijaya. Bram duduk di depannya, menaruh sebuah berkas di atas meja baja.
"Data masa lalumu di militer Singapura... semuanya terlihat terlalu sempurna," ujar Bram sambil menyalakan rokok. "Terlalu bersih. Dan setelah apa yang aku lihat di gudang tadi, aku yakin 100% bahwa catatan ini palsu. Tidak ada prajurit standar yang bisa menghabisi satu tim paramiliter dalam kegelapan total tanpa satu pun luka tembak."
Kenzi menyandarkan punggungnya, wajahnya tetap tidak terbaca. "Anda merasa tersaingi karena gagal mendeteksi serangan di jalan raya, Bram. Ego Anda terluka karena seorang 'anak baru' melakukan tugas Anda dengan lebih baik."
Bram menggebrak meja. "Ini bukan soal ego! Ini soal keselamatan keluarga Wijaya! Aku sudah melaporkan kecurigaanku pada Tuan Wijaya. Aku akan menggali siapa kau sebenarnya, Kenzi. Bahkan jika aku harus membongkar setiap lubang di dunia ini untuk menemukan asal-usulmu."
"Silakan dicoba," sahut Kenzi singkat.
Di kamarnya, Alana tidak bisa tidur. Ia terus teringat perkataan Bram. Siapa Kenzi sebenarnya? Bekas luka di punggungnya, kemampuan bertarungnya yang mengerikan, dan aura dingin yang seolah mengisolasi pria itu dari dunia luar.
Ia berjalan menuju balkon, menatap ke arah halaman bawah di mana Kenzi baru saja keluar dari ruang interogasi. Pria itu berdiri di bawah lampu taman, menatap ke arah kegelapan hutan yang mengelilingi rumah.
Kenzi meraba saku jaketnya, memastikan interkom rahasianya masih aktif. Ia tahu Bram benar. Penyamarannya mulai retak. Penyelamatan brutal di gudang tadi adalah kesalahan taktis yang terpaksa ia lakukan, namun itu memberikan efek samping yang besar: perhatian Bram kini sepenuhnya tertuju padanya.
Logika Kenzi mengatakan bahwa ia harus segera menyelesaikan misinya sebelum Bram menemukan sesuatu yang nyata. Namun, setiap kali ia mengingat bagaimana Alana memeluknya di hutan, sebuah bug muncul dalam sistem berpikirnya. Perasaan itu mengganggu—seperti debu di dalam mesin yang presisi.
Kenzi mendongak dan melihat Alana di balkon. Untuk beberapa detik, mata mereka bertemu. Tidak ada kata-kata, hanya hening yang penuh dengan pertanyaan yang tak terjawab.
Kenzi memutus kontak mata itu terlebih dahulu. Ia harus kembali menjadi mesin. Ia harus ingat mengapa ia ada di sini.
Misi utama: Sabotase Proyek Phoenix dan penghancuran Wijaya.
Status: Terhambat oleh anomali emosional.
Kenzi berjalan masuk ke dalam bayang-bayang rumah, sementara Bram di ruang kerjanya mulai mengetik sebuah email kepada kontak intelijen gelapnya untuk melacak asal-usul tato yang ia lihat sekilas di foto bukti dari gudang.
Perang dingin di dalam kediaman Wijaya baru saja dimulai.