Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.
Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 18.
Veronica meneguk wine di tangannya sekaligus, cairan merah itu terasa pahit di tenggorokannya.
Di sekelilingnya, pesta memang kembali berjalan—musik kembali diputar, para tamu mencoba bercakap-cakap seperti biasa. Namun jelas terasa bahwa perhatian semua orang sudah berubah.
Topik pembicaraan hanya satu... Arunika.
Berbagai percakapan dari para tamu yang sebagian besar merupakan kalangan dokter terus terdengar memenuhi ruangan.
“Dia benar-benar menyelamatkan nyawa dengan obat yang ia racik sendiri, kalau itu benar... kemampuan medisnya pasti luar biasa.”
“Apa benar dia Dokter Jenius yang selama ini dicari banyak rumah sakit besar?”
Bisikan-bisikan itu seperti jarum yang menusuk telinga Veronica, tangannya mengepal. Rencana yang ia siapkan dengan hati-hati justru berubah menjadi panggung yang memperlihatkan kehebatan Arunika.
Sementara itu di dekat meja minuman, Simon masih berdiri diam. Matanya menatap ke arah pintu keluar aula, tempat Arunika tadi pergi bersama Angkasa.
Tatapan Simon rumit.
“Arunika…” gumamnya pelan.
Veronica berjalan mendekat ke arahnya. “Kamu terlihat sangat terpukul, apa kamu tidak curiga pada istrimu?”
Simon menoleh.
Veronica tersenyum tipis, ia melirik ke arah pintu keluar aula. “Wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrimu, barusan menyelamatkan nyawa di depan semua orang. Bukan hanya kali ini, aku dengar kejadian serupa pernah terjadi saat Gala.“
Simon tidak menjawab.
Veronica melanjutkan dengan suara yang terdengar santai, tetapi jelas penuh maksud.
“Aku penasaran… bagaimana rasanya melihat seseorang yang dulu begitu dekat denganmu, berubah menjadi seseorang yang begitu jauh dari jangkauanmu.”
Simon mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
Veronica memutar gelas wine di tangannya dengan santai. “Kau pasti tahu maksudku. Dari semua kemungkinan… hanya ada satu identitas yang masuk akal. Dengan kemampuan seperti itu, menurutmu… sebenarnya siapa dia?”
Ia mendekat sedikit. “Wanita seperti Arunika… kalau benar dia Dokter Jenius, masa depannya akan berada di puncak dunia medis.”
Mata Simon langsung membelalak. Jadi dugaannya selama ini benar—Arunika adalah Dokter Jenius yang selama ini dicari banyak orang.
Di sampingnya, Veronica menatap Simon dengan senyum tipis yang sulit ditebak. “Menurutmu… apa wanita sehebat dia masih mau melirik pria sepertimu? Apalagi setelah kau mengkhianatinya.”
Kalimat itu tepat mengenai harga diri Simon, tangannya mengepal perlahan.
Veronica melihat reaksi itu dan tersenyum dalam hati. “Aku hanya merasa sayang saja.”
Simon menatap Veronica tajam.
“Kalian terlihat cocok, tapi sepertinya sekarang... jarak kalian terlalu jauh.” Veronica melanjutkan memprovokasi Simon.
Simon terdiam, matanya kembali menatap pintu keluar aula.
____
Sementara itu di luar gedung pesta, mobil Angkasa melaju cepat menuju rumah sakit. Lampu kota berkilat melewati jendela mobil. Di kursi belakang, ibu Angkasa terbaring lemah tetapi sudah sadar.
Arunika duduk di sampingnya, memantau kondisi dengan alat medis kecil yang ia bawa.
Angkasa duduk di seberang mereka, tatapannya tidak pernah lepas dari Arunika.
“Kondisi ibuku stabil?” tanya Angkasa akhirnya.
Arunika memeriksa kembali denyut nadi wanita itu. “Untuk sementara, ya.”
Angkasa menghembuskan napas panjang.
“Kalau kau tidak ada di sana tadi…” pria itu tidak melanjutkan kalimatnya.
Arunika menutup alat medisnya. “Kondisi Ibu Anda belum aman.”
Angkasa menatapnya. “Apa maksudmu?”
“Neurotoksin seperti ini bukan sesuatu yang muncul secara kebetulan di pesta.” Arunika menjawab tenang.
Mobil tiba-tiba terasa lebih sunyi, Angkasa menyipitkan mata. “Kau pikir ada yang sengaja melakukannya?”
Arunika tidak langsung menjawab, tatapannya tertuju ke luar jendela. Lampu kota memantul di matanya yang tenang.
“Pertanyaannya bukan apakah ada yang sengaja melakukannya.” Ia menoleh pelan pada Angkasa. “Tapi siapa target sebenarnya.”
Angkasa langsung memahami maksudnya. “Menurutmu… targetnya ibuku?”
Arunika menggeleng sedikit. “Belum tentu.”
Ia terdiam sejenak.
“Bisa saja targetnya orang lain.”
Angkasa menatapnya lebih dalam. “Kamu atau aku?”
Arunika tidak menjawab.
Namun keheningannya sudah cukup menjadi jawaban.
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah sakit Cakrawala. Pintu mobil terbuka, para tenaga medis sudah menunggu dengan brankar.
Saat ibu Angkasa dibawa masuk ke dalam rumah sakit, Arunika berjalan di samping pria itu. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti, ponsel di dalam clutch-nya bergetar.
Arunika mengeluarkannya.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, ia membuka pesan itu.
Isinya satu kalimat.
No tidak dikenal: [Pertunjukan yang sangat mengesankan malam ini, Dokter Jenius.]
Tatapan Arunika berubah dingin.
Angkasa memperhatikan perubahan kecil di wajah Arunika. “Ada apa?”
Wanita itu biasanya selalu tenang. Ekspresinya hampir tidak pernah berubah, bahkan ketika menghadapi situasi genting sekalipun. Namun kali ini berbeda, tatapan Arunika menjadi lebih dingin.
“Ada apa?” tanya Angkasa lagi.
Arunika tidak langsung menjawab.
Ponselnya kembali bergetar.
Pesan kedua masuk.
No Tidak Dikenal: [Apa kau masih ingat kecelakaan mobil itu?]
Untuk sepersekian detik, mata Arunika membeku. Kenangan lama yang selama ini terkubur rapat muncul kembali dalam benaknya. Malam itu hujan, mobil yang membawanya serta kedua orang tuanya kehilangan kendali. Saat itu ia baru berusia sepuluh tahun, namun setiap kejadian dari hari itu masih terekam jelas di ingatannya.
Terdengar suara benturan keras, dan api. Ia masih ingat bau asap yang menyengat ketika berdiri di depan mobil yang terbakar. Ia masih ingat bagaimana tubuh orang tuanya dikeluarkan dari kendaraan itu. Dan di kejauhan, seseorang berdiri sambil memperhatikan semuanya dengan senyum samar.
Ponselnya kembali bergetar.
No Tidak Dikenal: [Kau tumbuh jauh lebih menarik dari yang aku bayangkan.]
Napas Arunika tiba-tiba menjadi berat. Bau anyir darah bercampur asap seakan menyeruak tiba-tiba, membuat dadanya terasa sesak.
Angkasa yang berada di sampingnya langsung menyadari ada yang tidak beres, ia segera menyentak bahu wanita itu.
“Arunika!” panggilnya cemas.
Wanita itu akhirnya tersadar kembali, ia segera menutup layar ponselnya. “Bukan apa-apa.”
Namun Angkasa tidak mudah percaya, tatapannya tajam. “Ekspresi wajahmu mengatakan sebaliknya.”
Arunika menoleh pada pria itu, kini tatapannya kembali tenang seperti biasa.
“Hanya pesan iseng.” Wanita itu lalu berjalan kembali mengikuti brankar yang membawa ibu Angkasa ke dalam rumah sakit.
Angkasa berdiri beberapa detik sebelum akhirnya menyusul. Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu satu hal. Arunika... berbohong.
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️