Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Kalimat terakhir itu jujur.
Terlalu jujur.
Rehan menatap Runa. Runa menatap Yazid. Yazid mengangguk kecil gerakan nyaris tak terlihat, tapi semua orang langsung mengerti.
Kita awasi dia.
“Oke,” kata Rehan akhirnya. “Tapi satu syarat. Lo jujur kalau ada yang aneh sama badan lo. Deal?”
Zidan mengulurkan tangannya. “Deal.”
Mereka menumpuk tangan di atas lutut Zidan, seperti kebiasaan sejak SMP. Lima tangan berbeda ukuran dan warna, menyatu jadi satu.
“Fix nih?” Rehan menatap mereka satu per satu. “Minggu depan. Gunung Ciremai. Jalur Linggarjati.”
“Linggarjati?” Salsa langsung meringis. “Itu jalur penyiksaan, Han. Lutut gue bisa copot. Signal susah pula. Gimana gue mau live?”
“Justru itu bagusnya,” sahut Runa tenang. “Nggak ada notifikasi. Nggak ada komentar netizen. Hanya kita.”
Salsa terdiam. Dia melirik kameranya, lalu menghela napas panjang. “…Oke. Tapi gue bawa tripod.”
“Bawa tripod dua kilo ke Linggarjati?” Zidan menatapnya ngeri.
“Ini demi seni, Zidan.”
“Ini demi konten yang lo mau.”
“Itu hal yang sama.”
Zidan menyerah, menggelengkan kepala. “Gue bakal jadi porter. Bawain tas Salsa sekalian orangnya kalau perlu.”
“Gaya lo,” sahut Yazid datar. “Bawa diri sendiri aja lo sering kesandung angin.”
“YAZ.” Zidan ternganga dramatis. “Lo baru saja nyindir gue. Dengan suara kalem. Itu lebih mematikan daripada hinaan Rehan yang langsung.”
“Makasih,” kata Yazid lagi. Kali ini sudut bibirnya naik lebih jelas.
Tawa mereka meledak serempak. Riuh rendah yang naik ke langit Bandung yang mulai keunguan, menandingi bising kendaraan di bawah.
Mereka tertawa bukan karena lelucon itu lucu.
Tapi karena mereka butuh tertawa. Butuh meyakinkan diri bahwa apa pun yang menanti setelah ini kuliah, kerja, perpisahan selama suara tawa ini masih bisa mereka kumpulkan di satu tempat, dunia tidak akan terlalu menakutkan.
Mereka tidak tahu, sore itu adalah tawa bersama terakhir mereka sebelum segalanya berubah.
Pukul 18.30 WIB
Di Atas Angkot Jurusan Antapani, Bandung
Angkot itu penuh sesak. Bau solar bercampur pengharum ruangan rasa jeruk yang sudah mengering, ditambah keringat penumpang pulang kerja, menjadi aroma khas Bandung sore hari. Lima sekawan berdesakan di bangku panjang yang seharusnya muat enam orang, tapi kini diisi delapan. Zidan duduk paling pojok, kepalanya sesekali terbentur kaca jendela setiap angkot menghantam lubang aspal. Dia tidak protes. Malah tertidur sebentar, tersentak bangun, lalu tertidur lagi.
Runa memperhatikannya dari sudut mata.
Di dalam keheningan yang hanya diisi getaran mesin tua, pikirannya melayang. Bukan ke ujian yang baru selesai, bukan pula ke gunung minggu depan. Tapi ke hal-hal yang jarang dipikirkan orang lain tentang lima orang ini hal-hal yang hanya terlihat kalau seseorang sudah cukup lama duduk di antara mereka.
REHAN WIRAWAN
Kalau ada yang ditanya siapa di antara mereka yang paling mungkin sukses, hampir semua orang akan menjawab: Rehan.
Bukan karena dia paling keras berusaha.
Tapi karena dia lahir di tanah yang sudah subur.
Ayahnya, Pak Darmawan Wirawan, pemilik PT Wirawan Infrastruktur Nusantara perusahaan jasa pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang proyeknya tersebar dari Sumatera sampai Sulawesi. Namanya tidak sering muncul di majalah bisnis, tapi rekeningnya berbicara sendiri. Rumah mereka di Dago Pakar bukan sekadar besar; itu sebuah pernyataan.
Yang tak terlihat dari luar adalah ini: Pak Darmawan mencintai anaknya dengan cara yang salah kaprah. Protektif bukan karena lemah, tapi karena terlalu tahu betapa kejamnya dunia. Rehan anak tunggal. Pewaris tunggal segala yang dibangun dua puluh tahun. Maka setiap keputusan hidupnya dari pilihan sekolah, pilihan teman, sampai pilihan celana jeans harus melewati meja persetujuan ayahnya lebih dulu.
“Kamu tidak perlu bermain di jalan, Han. Orang Wirawan tidak bermain di jalan.”
“Kamu tidak perlu naik angkot. Supir sudah siap.”
“Teman-teman kamu itu… latar belakangnya seperti apa?”
Yang menyelamatkan Rehan dari menjadi manusia tanpa empati adalah ibunya, Bu Sekar. Wanita berambut selalu disanggul rapi, bicaranya halus, tapi tulang punggungnya tak bisa dibengkokkan. Bu Sekar yang selalu berdiri di antara Rehan dan ayahnya saat tekanan terlalu berat. Yang diam-diam membiarkan Rehan naik angkot. Yang menaruh uang jajan ekstra di laci meja tanpa sepengetahuan suaminya. Yang berkata pelan pada Pak Darmawan:
“Biarkan anak kita jadi manusia dulu, Mas. Baru jadi penerus.”
Rehan tumbuh menjadi anak yang pintar bukan hanya akademis, tapi pintar membaca ruang, membaca orang, membaca situasi. Dia tahu kapan harus bicara, kapan diam. Kapan seseorang butuh solusi, kapan hanya butuh didengar.
Itulah mengapa dia jadi “kepala” kelompok ini. Bukan karena paling tua atau paling berani. Tapi karena dia yang paling tahu cara membuat empat orang berbeda tetap berjalan ke arah yang sama.
YAZID FAUZAN
Yazid adalah orang yang paling sedikit bicara di antara mereka.
Tapi saat dia bicara, semua orang langsung diam.
Bukan karena suaranya keras. Justru sebaliknya. Suara Yazid selalu pelan, terukur, seolah setiap kata sudah ditimbang berulang kali. Dan entah kenapa, itu membuat kata-katanya terasa lebih berat daripada semua teriakan Zidan digabungkan.
Ayahnya, Dr. Fauzan, dokter spesialis jantung dengan jadwal praktik yang nyaris tanpa celah. Ibunya, Bu Layla, desainer tekstil sekaligus pemilik Layla Atelier butik kelas menengah atas di Jalan Riau yang langganannya antri dua bulan. Keduanya hebat di bidangnya.
Dan keduanya hampir tak pernah ada di rumah.
Sejak Yazid berusia empat tahun, sosok yang paling sering ada adalah Bi Eem. Pengasuh bermata sayu yang masakannya enak, suaranya lembut, dan tak pernah absen menyiapkan sarapan setiap pagi. Yazid menyayangi Bi Eem dengan caranya sendiri cara yang tak pernah diucapkan, tapi selalu ditunjukkan lewat hal kecil: selalu menghabiskan masakan Bi Eem, selalu pamit meski hanya ke warung, selalu bilang terima kasih.
Dari Bi Eem, Yazid belajar bahwa kehadiran bukan soal durasi, tapi kualitas perhatian.
Dari orang tua yang jarang pulang, dia belajar bahwa cinta kadang terasa sebagai kekosongan berbentuk materi.
Kamarnya penuh buku bukan buku pelajaran, tapi novel, jurnal psikologi, filsafat yang covernya sudah lecek. Dia membaca untuk mengisi waktu yang dulu terasa terlalu panjang. Lama-lama, membaca mengubahnya. Membuatnya bisa melihat hal-hal yang sering dilewatkan orang lain.
Di YouTube kelompok ini, Yazid tak pernah mau di depan kamera.
Tapi setiap skrip, setiap riset, setiap kata yang dipilih dengan cermat itu Yazid. Selalu Yazid.
RUNA AISYAH MAHARANI
Runa adalah orang yang paling sulit dibuat bingung di antara mereka lima.
Bukan karena dia tak punya perasaan.
Justru karena dia punya terlalu banyak perasaan yang sudah lama dilatih untuk disalurkan ke tempat yang tepat: logika, analisis, kesimpulan.
Dari luar, hidupnya terlihat sempurna. Ayahnya, Pak Hendra, CEO PT Garuda Nusantara Transport salah satu perusahaan logistik terbesar di Jawa Barat. Ibunya, Bu Ami, ibu rumah tangga yang memasak sendiri setiap pagi, hadir di setiap penerimaan rapor, dan masih menelepon Runa jam sembilan malam hanya untuk bertanya, “Sudah makan, Sayang?”
Runa adalah anak yang benar-benar disayang. Bukan karena prestasi, tapi karena keberadaannya. Fondasi itu membuatnya tumbuh kokoh dia tak butuh validasi dari luar, karena dari dalam rumah saja sudah cukup.
Kecerdasannya bukan hasil menghafal. Runa berpikir seperti insinyur membangun jembatan: melihat masalah sebagai struktur, mencari titik lemah, lalu merancang solusi paling efisien. Di kelas, dia selalu yang pertama mengacungkan tangan bukan untuk pamer, tapi karena pikirannya sudah selesai berjalan saat yang lain masih di awal.
Di kelompok ini, Runa adalah kompas.
Saat Zidan terlalu impulsif, Rehan terlalu berhati-hati, Yazid terlalu diam, Salsa terlalu sibuk dengan kamera Runa yang memetakan situasi dan berkata tenang:
“Ini yang harus kita lakukan. Berurutan.”
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪