Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
“Xavier! Dengarkan aku, gadis ini pandai bersandiwara. Dia yang lebih dulu menggigit tanganku tanpa alasan!” seru Catherine dengan nada yang dibuat semalang mungkin sembari menunjukkan bekas kemerahan di pergelangan tangannya. “Padahal, aku hanya ingin berkenalan baik-baik, tapi dia menyerangku seperti binatang buas!”
“Bohong! Dia bohong, Sapir!” potong Luna dengan suara lantang. Ia berdiri tegak, tak lagi menunjukkan sisi lemahnya di depan wanita angkuh itu. “Dia yang menyeret Luna dan bilang Luna harus pergi. Katanya Luna sampah, bau, bahkan dia bilang Luna pembawa sial! Luna tidak suka disebut pembawa sial!”
Luna menatap tajam ke arah Catherine. Jika memang dia salah, Luna akan mengakuinya. Namun, jika dia diperlakukan tidak adil seperti ini, insting liarnya bangkit. Dia tidak akan pernah mau mengalah pada manusia yang menganggapnya rendah.
“Kau yang berbohong, Dasar Gadis Hutan!” bentak Catherine.
“Kau yang tukang fitnah, Manusia Berisik!” balas Luna tak kalah sengit.
“Cukup!” Xavier melangkah mendekat, matanya yang dingin menatap Catherine seolah wanita itu adalah kotoran yang mengganggu pemandangan. “Aku tidak peduli tentang apa pun yang keluar dari bibirmu. Yang jelas, aku melihat Luna-ku yang terluka.”
Catherine terdiam seribu bahasa. Wajahnya pucat pasi. Tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Ia tak menyangka Xavier akan bersikap sedingin itu padanya, bahkan tanpa menanyakan kronologi versinya. Xavier benar-benar menganggapnya tak lebih dari debu yang tak terlihat.
Gerry, yang melihat suasana mulai mereda, mendekati Luna dengan cemas. “Apa ini sakit, Nona?” tanya Gerry lembut saat melihat Luna meniup-niup pergelangan tangannya yang memerah. Ia juga melihat dahi Luna yang mulai membiru akibat benturan meja.
“Iya, sakit. Kepalaku juga,” jawab Luna dengan jujur.
“Biar saya obati, Nona. Saya punya kotak P3K di laci,” tawar Gerry tulus.
“Terima kasih, manusia baik,” ucap Luna sembari tersenyum tipis.
Melihat interaksi mereka berdua, rahang Xavier mengeras. Ada rasa panas yang menjalar di dadanya melihat Gerry begitu perhatian pada Luna. Ia tidak terima miliknya diperhatikan secara intim oleh sang asisten, meski itu untuk tujuan mengobati.
“Mari ikut saya ke kursi sana, Nona. Saya akan kompres dahinya,” ajak Gerry sembari hendak menyentuh tangan Luna untuk membimbingnya duduk.
“Lepaskan tangannya, Gerry!” seru Xavier dengan nada sedingin es. Ia bergegas menyambar tubuh Luna. “Biar aku yang melakukannya! Kau, urus wanita ini. Berikan hukuman yang setimpal karena sudah membuat keributan di kantorku.”
Xavier memberikan mandat pada Gerry tanpa memandang Catherine sedikit pun. Ia seolah sudah membuang Catherine dari daftar manusia yang perlu ia ajak bicara.
Gerry pun mengangguk patuh. “Baik, Tuan. Saya mengerti.”
Xavier langsung membopong Luna dalam dekapannya. Karena sudah muak berada di ruangan yang berantakan itu, ia pun segera berbalik menuju lift pribadi untuk menuju mobil.
Luna hanya diam, menyandarkan kepalanya di bahu Xavier, merasa aman dalam dekapan pria yang ia panggil Sapir itu.
Sementara itu, Catherine hanya bisa menghentakkan kakinya dengan kesal. Air matanya hampir tumpah karena malu dan marah. “Awas kau, Vier! Kau akan menyesal karena lebih memilih gadis liar itu!” geramnya sebelum akhirnya diseret keluar oleh Gerry dan para pengawal.
*
*
Di sisi lain, jauh di dalam jantung hutan yang rimbun, suasana di sebuah pondok kayu mungil tampak sangat kacau. Elisa, sang ibu peri yang merupakan sahabat Luna, tengah mondar-mandir dengan gelisah.
Ia terbang ke sana kemari menggunakan tongkat ajaibnya yang unik, berbentuk bulan sabit dengan hiasan bintang di ujungnya. Sesekali Elisa mengayunkan tongkat itu ke udara, merapalkan mantra dengan mulut komat-kamit.
“Ayo, tunjukkan di mana Luna! Tunjukkan wajah si kucing nakal itu!”
Sayangnya, setiap kali mantra ia ucapkan, hanya muncul kepulan asap hitam yang berbau gosong. Tidak ada bayangan Luna di dalam bola kristalnya.
“Ada apa dengan tongkat bodoh ini? Kenapa tidak berfungsi? Aku bahkan tidak bisa melihat di mana Luna berada!” tanyanya pada diri sendiri dengan nada frustrasi. “Apa jangan-jangan dia dalam bahaya? Tapi, kucing itu biasanya selalu bisa menjaga dirinya sendiri dengan cakarnya yang tajam.”
Elisa terus mencoba. Ia tidak akan menyerah sampai tahu nasib sahabatnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan energi sihir di ujung tongkatnya.
“Mari coba sekali lagi dengan kekuatan penuh! Hokus fokus terulala... tunjukkan Luna segera!”
Masih sama, tidak ada reaksi.
“Bam salabam abera kadabera hom... muncul lah!”
Boom!
Sebuah ledakan terjadi tepat di depan wajah Elisa. Bukannya menunjukkan keberadaan Luna, sihir itu justru memantul dan mengenai dirinya sendiri. Tubuh Elisa terpental menabrak lemari ramuan hingga ia jatuh pingsan di lantai kayu.
Beberapa saat kemudian, Elisa mengerang pelan. Kepalanya terasa sangat berat. Saat ia mencoba membuka mata, pemandangan di sekitarnya tampak berkali-kali lipat lebih besar dari biasanya. Ia mencoba berdiri, tapi ia merasa ada yang aneh dengan kakinya. Kaki itu terasa pendek dan berbulu.
Elisa menatap ke arah cermin besar di pojok ruangan dan seketika matanya membelalak.
“Meong?!” (Hah?!)
Elisa terlonjak kaget. Di dalam cermin, ia tidak lagi melihat gadis penyihir berambut ungu, melainkan seekor kucing hutan berwarna putih dengan telinga runcing dan mata biru muda.
“Huwaaaa! Kenapa?! Kenapa tubuhku kembali seperti dulu?! Tidak! Aku tidak mau menjadi kucing lagi. Susah payah aku semedi ribuan tahun!” teriaknya dalam bahasa kucing.
“Dasar mantra sialan!” Elisa berguling-guling di lantai dengan frustrasi. Nasibnya kini sama dengan Luna.
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂
kan Xander jadi semakin dekat dengan Luna
hati hati Luna sama Xander itu