NovelToon NovelToon
Transmigrasi Jadi Karakter Villain Di Dalam Novel

Transmigrasi Jadi Karakter Villain Di Dalam Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Harem / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Younglord

Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.

Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.

Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.

Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.

Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

PRANK!

Suara pecahan porselen mahal bergema di seluruh ruangan pribadi yang mewah. Adrian, dengan napas memburu dan wajah yang masih pucat, menyambar vas bunga di atas meja dan membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.

"SIAL! SIALAN!" pekiknya dengan suara serak.

Ia mencengkeram rambutnya sendiri, matanya memerah menahan malu dan amarah yang meluap-luap. Bayangan kepalan tangan Leon yang menghujam ulu hatinya terus terbayang-bayang seperti mimpi buruk.

"Adrian, tenanglah nak... luka-lukamu bisa terbuka lagi," ucap Luna dengan nada cemas. Ia mencoba mendekati putranya, namun langkahnya terhenti saat melihat tatapan liar Adrian.

"Tenang? Bagaimana aku bisa tenang, Ibu?!" Adrian berbalik, menatap ibunya dengan gigi gemeretak. "Aku dikalahkan! Di depan Ayah, di depan para penjaga, aku dipermalukan oleh sampah itu!"

Adrian menendang kursi kayu hingga terjungkal. Amarahnya benar-benar tidak terkendali.

"Dia itu hanya anak haram! Seorang pengecut yang seharusnya membusuk di tempat pembuangan!!" teriaknya lagi, nadanya dipenuhi rasa tidak terima.

Bagi Adrian yang selalu merasa sebagai ksatria jenius Rank B, kekalahan ini adalah noda hitam yang tidak akan pernah terhapus. Harga dirinya hancur berantakan.

"Ini pasti ada yang salah. Dia pasti menggunakan trik kotor! Tidak mungkin si lumpuh itu punya kekuatan seperti itu!" Adrian terus mengoceh, mencoba mencari pembelaan atas kekalahannya yang memalukan.

Pintu ruangan terbuka dengan kasar. Julian melangkah masuk dengan wajah datar, diikuti oleh Dante yang tampak gelisah di belakangnya.

"Hentikan," ucap Julian dingin. "Suara amukanmu terdengar sampai ke koridor luar."

"Kak!" seru Adrian dengan wajah memelas sekaligus marah. Ia segera menghampiri kakak tertuanya itu. "Kak, tolong lakukan sesuatu! Kau lihat sendiri apa yang dilakukan sampah itu padaku!"

Julian menatap Adrian dengan pandangan merendahkan. "Lakukan apa? Mengubah takdir agar kau menjadi pemenangnya? Kau sudah kalah, Adrian. Terima saja kenyataan itu."

Adrian terdiam seketika. Hawa dingin yang dipancarkan Julian membuat nyalinya sedikit menciut.

"Renungkan kesalahanmu," lanjut Julian sambil melangkah melewati puing-puing vas yang pecah. "Kau terlalu meremehkan lawanmu. Andai saja waktu itu kau tetap tenang dan fokus pada pertarungan, hasilnya tidak akan semalukan ini."

Dante hanya bisa menelan ludah, tidak berani membela Adrian jika Julian sudah bicara setegas itu.

Sementara itu, di sisi lain mansion yang lebih tenang.

Setelah Eiryn keluar untuk mengambilkan beberapa keperluan, Leon menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Ia mengembuskan napas panjang, lalu jemarinya bergerak di udara, memanggil layar hologram yang hanya bisa dilihat oleh matanya.

...[ STATUS KARAKTER ]...

...Nama : Leon von Anhart | Umur : 19 Tahun...

...Class : Swordsman Lv.2, Brawler Lv.5 | Rank : D...

...HP : 253 / 253 | MP : 100 / 100...

...Stamina : 60 / 60 [+] | Vitalitas : 20 [+]...

...Kekuatan : 24 [+] | Ketahanan : 19 [+]...

...Kelincahan : 25 [+] | Keberuntungan : 4...

...Atribut Khusus : [Demonic] (Terkunci)...

...Skill Aktif : Demonic Devour (Terkunci), Shield Lv.2, Phantom Step Lv.3...

...Skill Pasif : Appraisal Eye Lv.1...

...KONDISI KHUSUS : Gagal Jantung Kronis...

...Sisa Umur : 361 Hari...

...Poin : 210...

Leon menatap layar hologram di depannya. Ia tersenyum tipis melihat perkembangan statusnya. Kekuatan murninya memang masih di Rank D, tapi kenaikan level pada Class Brawler dan Phantom Step menunjukkan bahwa pemahamannya terhadap pertarungan fisik dan kecepatan telah meningkat pesat.

Enam Hari kemudian...

Enam hari telah berlalu sejak insiden di arena latihan. Selama hampir seminggu itu, Leon menghabiskan waktunya dengan disiplin tinggi. Ia terus melatih tubuhnya, membiasakan otot-ototnya dengan kekuatan Brawler yang kini naik ke level 5.

Berkat bantuan pil pemulihan, luka-lukanya sembuh dengan kecepatan yang tidak masuk akal, membuat tubuhnya terasa lebih kokoh dari sebelumnya.

Malam itu, suasana kamar terasa berbeda. Lebih tenang, namun penuh dengan emosi yang tertahan.

Leon dan Eiryn berbaring di atas ranjang yang sama. Eiryn berada di bawah dekapan Leon, menatap pria itu dengan mata sayu yang penuh pengabdian. Tidak ada lagi keterpaksaan atau rasa takut; yang ada hanyalah keintiman yang mendalam.

Leon merunduk, mempertemukan bibir mereka dalam ciuman yang lembut dan lama. Gerakannya malam ini jauh lebih romantis dan santai. Ia ingin menikmati setiap detik kebersamaan mereka, seolah ingin merekam aroma dan kehangatan kulit Eiryn di dalam ingatannya.

"Nngghh... Tuan..." desah Eiryn pelan di sela ciuman mereka.

Tangan Leon membelai pipi Eiryn dengan ibu jarinya, menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tahu, esok pagi adalah waktunya keberangkatan menuju Akademi Asterlyn. Malam ini adalah malam perpisahan sementara mereka.

"Istirahatlah setelah ini," bisik Leon lembut setelah mereka saling memuaskan satu sama lain dalam ritme yang penuh perasaan.

Eiryn menyandarkan kepalanya di dada bidang Leon, mendengarkan detak jantung pria itu yang kini terasa lebih kuat. "Berjanjilah untuk kembali dengan selamat, Tuan Leon," ucapnya lirih.

Leon tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mempererat pelukannya, mencium puncak kepala Eiryn hingga keduanya terlelap dalam keheningan malam terakhir mereka.

1
Mr. Wilhelm
Emm ... Keknya ini termasuk Plot armor gk sih? 🤔
Manstor
Nih aku kasih bintang 5 ya thor untuk ceritanya, aku harap novelnya bisa sampai tamat ya~ soalnya seru banget👍👍
SilentLore: Tentu aja pasti, Makasih banyak yaa🙏
total 1 replies
Manstor
waduh🙈
Manstor
Wah seru nih🤩👍
SilentLore: Maksih kaka🙏 udah tertarik baca
total 1 replies
Ryukia
ceritanya menarik
SilentLore: Terima kasih banyak!
Senang sekali kalau ceritanya bisa bikin kakak tertarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!