NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:211
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 16

Pesawat kecil itu membelah awan tipis di atas khatulistiwa, membawa mereka kembali ke arah barat laut. Di dalam kabin yang menderu pelan, Andi terlihat sibuk dengan beberapa sketsa manual di buku catatannya, sementara Siska menyandarkan kepala di jendela, menatap hutan Kalimantan yang mulai terlihat seperti samudera hijau di bawah sana.

"Masih menggambar jembatan, Ndi?" tanya Siska pelan.

Andi menoleh, lalu memutar buku catatannya agar Siska bisa melihat. Bukan jembatan beton atau baja, melainkan sketsa desain sekolah alam yang terintegrasi dengan pusat rehabilitasi satwa. "Arlan minta masukan untuk fasilitas pendidikan di Zona D. Dia ingin anak-anak para pekerja dan warga lokal punya sekolah yang tidak memisahkan mereka dari hutan."

Siska menyentuh permukaan kertas itu. "Kamu tidak pernah benar-benar pensiun, ya?"

"Arsitektur itu bukan pekerjaan, Sis. Itu cara melihat dunia," Andi menutup bukunya dan menggenggam tangan Siska. "Sama seperti kamu yang tidak pernah berhenti menjadi pemimpin, meski sekarang tanpa setelan blazer formal."

Saat mereka mendarat dan kembali ke kamp, Mahesa sudah menunggu dengan wajah yang lebih serius dari biasanya. Ia tidak memegang tablet, melainkan sebuah botol kecil berisi sampel air.

"Ada apa, Ma? Ada masalah dengan sensor?" tanya Siska saat turun dari tangga pesawat.

Mahesa menggeleng, tapi matanya berbinar. "Bukan masalah. Ini keajaiban. Hasil tes laboratorium menunjukkan kadar mikro-plastik di aliran sungai utama kita turun drastis, hampir mendekati nol. Sistem filtrasi alami dari akar-akar pohon yang kita tanam lima tahun lalu bekerja jauh lebih efektif dari simulasi AI mana pun."

Andi dan Siska saling berpandangan. Keheningan sesaat menyelimuti mereka, hanya terdengar suara hutan yang riuh di latar belakang. Kabar itu jauh lebih berarti bagi mereka daripada laporan laba rugi mana pun yang pernah mereka baca di Jakarta.

Malam itu, mereka berkumpul di sekitar api unggun kecil di depan rumah kayu. Arlan membawa beberapa jagung manis hasil kebun komunitas lokal. Sambil mengipasi bara api, Arlan menatap ayah dan ibunya.

"Ayah, Bunda, aku baru sadar sesuatu hari ini," kata Arlan. "Dulu aku pikir Kota Hutan ini adalah tentang menyelamatkan alam. Tapi setelah melihat data dari Paman Mahesa dan melihat cara orang-orang di sini bekerja... aku sadar kalau kota ini sebenarnya menyelamatkan manusia."

Andi mengangguk pelan. "Alam tidak butuh kita untuk selamat, Lan. Bumi bisa memulihkan dirinya sendiri dalam jutaan tahun. Tapi kitalah yang butuh alam untuk tetap menjadi manusia."

Siska tersenyum, merasakan kehangatan api unggun di wajahnya. Ia melihat ke arah kegelapan hutan di mana pohon Jaka berdiri tegak. Di sana, di antara ribuan pohon yang mereka perjuangkan, sebuah ekosistem baru telah terbentuk—bukan hanya ekosistem biologis, tapi ekosistem nilai-nilai kemanusiaan yang baru.

"Jadi," Mahesa memecah suasana dengan nada jenaka khasnya. "Karena airnya sudah bersih, besok pagi siapa yang mau ikut aku memantau peluncuran rakit riset baru di hulu?"

"Arlan ikut, Paman!" seru Arlan semangat.

Andi menoleh pada Siska, memberikan isyarat dengan matanya. Siska tertawa dan mengangguk. "Jangan tinggalkan kami. CEO dan Arsitek Kepala lama ini masih punya cukup tenaga untuk naik rakit."

Di bawah naungan bintang-bintang Borneo yang tak terhitung jumlahnya, mereka duduk bersama sebagai sebuah tim yang utuh. Jembatan yang dulu hanya berupa garis di atas kertas Andi, kini telah menjelma menjadi kenyataan yang bernapas, mengalir, dan memberikan kehidupan bagi siapa saja yang berani melintasinya.

Keesokan paginya, rakit riset itu meluncur pelan membelah kabut yang masih menggantung di atas permukaan sungai hulu. Suasana di sini jauh lebih liar; pepohonan raksasa seolah membentuk terowongan hijau yang menaungi aliran air yang jernih. Mahesa berdiri di haluan, memegang alat pemindai sonar portabel, sementara Andi membantu Arlan mengendalikan kemudi mesin motor listrik yang nyaris tanpa suara.

"Lihat itu," bisik Mahesa sambil menunjuk ke arah akar-akar pohon besar yang menjuntai ke air. "Sensor kita mendeteksi anomali suhu di sana. Seperti ada mata air panas tersembunyi, atau mungkin... gua bawah air."

Siska, yang duduk di tengah rakit sambil mencatat observasi lapangan, mendongak. "Jika ada mata air panas, itu menjelaskan mengapa keanekaragaman hayati di zona ini jauh lebih padat. Ini bisa jadi laboratorium alam yang paling berharga untuk sekolah alam yang kamu rancang, Ndi."

Andi mematikan motor listrik sepenuhnya, membiarkan rakit hanyut mengikuti arus yang tenang. "Sekolah alam itu tidak boleh hanya berupa bangunan, Sis. Anak-anak harus bisa datang ke sini, melihat bagaimana akar-akar ini bekerja menyaring air secara langsung. Mereka harus belajar bahwa teknologi Mahesa hanya membantu kita mendengarkan apa yang sudah dikatakan alam sejak lama."

Arlan mengarahkan rakit lebih dekat ke tepian rawa. Di sana, mereka melihat seekor macan dahan yang sedang minum dengan tenang, seolah kehadiran rakit itu sama sekali bukan ancaman. Arlan menahan napas, matanya berbinar melihat predator eksotis itu dari jarak yang begitu dekat.

"Dia tidak lari," bisik Arlan kagum.

"Karena dia tahu kita tidak datang untuk merusak," sahut Siska pelan. "Kepercayaan adalah mata uang paling mahal di hutan ini, Lan. Dan kita sudah membayarnya dengan waktu dan kerja keras selama bertahun-tahun."

Setelah beberapa jam eksplorasi, mereka menepi di sebuah tebing batu yang ditumbuhi lumut tebal. Di balik tirai tanaman merambat, Mahesa menemukan sebuah celah gua kecil yang mengalirkan air jernih dengan suhu yang hangat. Ini adalah penemuan yang akan mengubah peta riset mereka; sebuah sumber energi geotermal kecil yang bisa digunakan untuk menyuplai energi bersih bagi pemukiman warga lokal tanpa harus membendung sungai.

Mahesa menatap Andi dan Siska dengan senyum puas. "Sepertinya sekolah alammu akan punya laboratorium energi terbarukan paling canggih di dunia, Andi. Dan semuanya disediakan gratis oleh alam."

Sambil duduk di tepi tebing, menikmati bekal sederhana di tengah suara air terjun kecil, mereka merasa bahwa setiap jengkal hutan ini masih menyimpan ribuan rahasia yang menunggu untuk dipelajari. Bagi mereka, ini bukan lagi soal menyelesaikan sebuah proyek, tapi tentang memulai sebuah dialog abadi dengan bumi.

"Ndi," panggil Siska saat mereka bersiap kembali ke kamp. "Besok, biarkan aku yang memimpin rapat dengan dewan guru untuk kurikulum sekolah alam. Aku ingin memastikan bahwa setiap anak yang sekolah di sini, tidak hanya pintar secara akademis, tapi punya jiwa yang terikat pada akar-akar ini."

Andi merangkul bahu istrinya, menatap matahari yang mulai turun di balik kanopi hutan. "Tentu, Sis. Aku akan fokus pada konstruksi kelas terapungnya. Kita akan pastikan sekolah ini menjadi jembatan terbaru bagi mereka."

Rakit itu pun kembali melaju pulang, membawa pulang harapan-harapan baru yang baru saja ditemukan di hulu sungai. Di sana, di tengah belantara yang dulu dianggap liar dan menakutkan, sebuah keluarga telah menemukan arti sebenarnya dari kemajuan: tumbuh bersama tanpa menginjak apa yang memberi mereka kehidupan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!