Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.
Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Negosiasi di Balik Secangkir Kafein
Senin pagi di pusat London terasa berbeda bagi Eleanor Lichtenzell. Ia kini duduk di kursi empuk kantor direksi Lichtenzell Group, mengenakan setelan blazer ivory yang sangat tajam dan profesional. Rambut hitamnya disanggul rapi, menampakkan leher jenjangnya yang elegan. Di meja kerjanya, dokumen-dokumen bernilai jutaan Poundsterling menumpuk, namun pikirannya justru tertuju pada sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselnya satu jam lalu.
"Aku butuh kopi. Temui aku di kafe seberang kantor mu dalam sepuluh menit. — E.Z"
Eleanor ingin mengabaikannya, namun ia tahu Edward Zollern tidak akan berhenti sampai ia muncul. Dengan langkah kaki yang menghentak penuh kekesalan, ia menyeberangi jalan menuju kafe eksklusif bergaya minimalis di depan gedung perusahaannya.
Begitu masuk, ia langsung melihat Edward duduk di sudut ruangan yang paling privat, sedang membaca koran bisnis dengan ketenangan yang luar biasa.
"Anda benar-benar tidak punya pekerjaan lain ya, Tuan Zollern?" Sapa Eleanor sambil menarik kursi di depan Edward dengan kasar hingga menimbulkan bunyi decit yang cukup keras.
Edward menurunkan korannya, menatap Eleanor dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Pakaian yang bagus, Nona Eleanor. Sangat cocok dengan statusmu sebagai lulusan Oxford. Tapi sepertinya wajahmu lebih muram daripada saat kau masih menjadi pelayan kafe."
"Wajah saya muram karena setiap hari harus melihat wajah Anda," balas Eleanor tajam. "Jadi, apa lagi sekarang? Ingin memesan kopi dengan suhu aneh?"
"Bukan," Edward menyandarkan punggungnya, menatap Eleanor dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku ingin membahas masalah teknis. Menurutmu, kapan tanggal pernikahan yang paling cocok untukmu? Aku sudah menyiapkan beberapa opsi di bulan Juni, tapi nenekku lebih menyukai musim semi di bulan Mei."
Eleanor hampir tersedak ludahnya sendiri. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit penuh ancaman. "Pernikahan itu tidak akan terjadi, Tuan Zollern!"
"Akan terjadi, Nona Eleanor. Apapun yang terjadi, tetap akan terjadi," sahut Edward dengan suara yang sangat tenang, seolah-olah ia sedang membicarakan prakiraan cuaca.
"Tidak akan!" Seru Eleanor, suaranya sedikit meninggi hingga beberapa pelanggan lain menoleh.
"Akan terjadi," balas Edward lagi, masih dengan ketenangan yang sama.
"Saya bilang tidak akan! Saya akan mengajukan pembatalan secara hukum, saya akan kabur ke Antartika, saya akan—"
"Akan terjadi," potong Edward untuk ketiga kalinya, kali ini dengan seringai tipis yang sangat menyebalkan di sudut bibirnya.
Eleanor menggebrak meja dengan telapak tangannya. "Tuan Zollern! Berhenti mengulang kalimat itu! Anda pikir Anda adalah Tuhan yang bisa menentukan takdir saya?"
"Bukan Tuhan, hanya seorang pria yang memegang kontrak perjodohan yang sudah ditandatangani oleh ayahmu," Edward menyesap kopinya dengan santai. "Dan ingat, kau punya hutang sepuluh jam waktu padaku. Jika kau terus membantah, aku akan menambah bunganya menjadi seumur hidup."
"Itu pemerasan!" Eleanor mendesis, wajahnya merah padam antara marah dan malu. "Anda ini benar-benar keras kepala. Kenapa Anda sangat ingin menikahi wanita yang jelas-jelas tidak menyukai Anda?"
Edward meletakkan cangkirnya, lalu menatap Eleanor dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah menjadi sangat serius—sebuah tatapan yang membuat jantung Eleanor berdegup kencang secara tidak sadar.
"Karena kau adalah satu-satunya variabel yang tidak bisa kuprediksi, Eleanor. Dan di dunia yang membosankan ini, hanya kau yang bisa membuatku merasa tertantang setiap harinya. Jadi, mau Juni atau Mei?"
Eleanor terdiam seribu bahasa. Ia ingin memaki, tapi kata-katanya tertahan di tenggorokan. "Saya pilih... tidak keduanya! Saya pilih hari kiamat!"
"Sayangnya, kalenderku tidak mencantumkan hari kiamat," sahut Edward sambil berdiri. Ia merapikan jasnya dan meletakkan selembar uang di atas meja. "Aku akan mengirimkan detailnya melalui asistenku. Jangan coba-coba memblokir nomornya, atau aku akan datang langsung ke rapat dewan direksimu hanya untuk menanyakan warna bunga meja pengantin."
Eleanor hanya bisa menatap punggung Edward yang menjauh dengan rasa frustrasi yang memuncak. "Pria gila! Psikopat sombong! Lintah darat!" Teriaknya dalam hati.
Namun, saat ia menatap cangkir kopi yang ditinggalkan Edward, Eleanor menyadari sesuatu yang membuatnya semakin kesal. Edward memesan kopi hitam dengan aroma jeruk nipis—persis seperti kopi kesukaan Eleanor. Pria itu benar-benar sedang mempermainkan perasaannya dengan cara yang paling manis sekaligus paling menyebalkan.