Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. Ritual Air Garam
Uap panas membubung tinggi, menyelimuti pilar-pilar marmer hitam yang kokoh di pemandian bawah tanah The Velvet Manor. Ruangan ini adalah jantung dari kegelapan keluarga von Raven—tempat di mana luka dibasuh, namun rasa sakit justru diperam. Aroma belerang yang tajam bercampur dengan konsentrasi garam laut yang sangat pekat menciptakan udara yang berat, menyesakkan paru-paru bagi siapa pun yang tidak terbiasa dengan atmosfer penindasan ini.
Aira duduk di atas singgasana batu di tepi kolam, posisinya persis seperti penguasa yang sedang memandangi budak-budaknya. Ia mengenakan jubah sutra tipis berwarna hijau zamrud yang menempel di kulitnya yang lembap karena uap, memperlihatkan siluet tubuhnya yang berbahaya. Di tangannya, ia memegang sebuah kuas kecil berbahan bulu angsa yang lembut, namun ujungnya telah direndam dalam larutan cuka dan garam.
Di dalam kolam, tiga pria berdiri kaku dengan air setinggi dada. Dante, Zane, dan Kael.
Mereka berdiri berjauhan, tidak ada satu pun yang saling menyentuh. Kebencian di antara mereka masih berkobar, namun di bawah pengawasan Aira, mereka dipaksa untuk mematung. Luka-luka di dada Kael, robekan di bibir Dante, dan pelipis Zane yang berdarah kini mulai bereaksi terhadap air garam yang pekat. Rasa perihnya luar biasa—seperti ribuan jarum panas yang menusuk langsung ke syaraf—namun mereka hanya bisa menggertakkan gigi hingga rahang mereka menonjol tajam.
"Kalian tahu kenapa garam disebut sebagai pembersih jiwa?" suara Aira bergema di dinding batu yang lembap. Ia tidak berteriak, namun otoritas dalam suaranya sanggup menghentikan detak jantung. "Karena ia tidak mengenal belas kasihan. Ia akan mencari setiap celah di kulit kalian yang sombong dan mengingatkan kalian bahwa di bawah otot-otot besar itu, kalian hanyalah daging yang bisa membusuk jika aku membiarkannya."
Aira memberikan smirk yang sangat dingin. Ia bangkit dari singgasananya, melangkah dengan kaki telanjang menuju tepi kolam.
Di dalam kolam, Dante, Zane, dan Kael masih mematung. Air garam yang mencapai dada mereka terus bekerja, menggerogoti setiap luka terbuka dengan rasa perih yang sanggup melumpuhkan akal sehat. Namun, tak satu pun dari mereka yang berani memalingkan wajah saat Nyonya mereka mendekat.
Aira berhenti tepat di depan Dante. Sang Kepala Pelayan itu terengah-engah, rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya menonjol seperti akar pohon tua.
"Kau selalu merasa paling benar, Dante," bisik Aira. Ia merendahkan tubuhnya, lalu dengan gerakan yang sangat pelan, ia mencelupkan jemari kakinya yang dingin ke dalam air, menekan luka di bahu Dante yang terendam.
Dante memejamkan mata, kepalanya tertunduk saat ia mengerang rendah—sebuah suara yang penuh dengan penderitaan sekaligus hasrat yang tersiksa. Ia tidak mencoba menghindar; ia justru membiarkan Aira menekan lebih dalam.
"Kau gagal menjinakkan amarahmu di aula tadi pagi," ujar Aira dengan nada yang sangat manis namun kejam. "Dan sekarang, kau harus belajar bagaimana rasanya diam saat garam ini memakan dagingmu. Bukankah kau yang selalu mengajariku tentang disiplin?"
Dante mendongak, matanya yang biru es berkilat dengan pemujaan yang gelap. "Disiplin saya... hanya milik Anda, Nyonya. Hancurkan saya jika itu membuat Anda merasa berkuasa."
Aira memberikan smirk yang dingin, lalu beralih ke arah Zane.
Zane menatap Aira dengan diam yang mencekam. Telapak tangannya yang terluka karena sumpah darah semalam kini memutih karena air garam. Aira mengambil tangan Zane dari bawah air, mengangkatnya ke permukaan, lalu dengan sengaja meneteskan lilin panas dari lampu dinding yang ia raih ke atas luka terbuka Zane.
Ssssttt...
Zane tidak berteriak. Ia hanya menggetarkan seluruh tubuhnya, matanya tidak lepas dari mata Aira. Rasa sakit dari lilin panas dan air garam menciptakan sensasi yang melampaui batas kewarasan.
"Kau adalah bayanganku, Zane," bisik Aira di telinga Zane yang panas. "Tapi bayangan tidak boleh memiliki rahasia dari cahayanya. Luka ini adalah pengingat bahwa setiap tetes darahmu adalah hak milikku. Jika kau berbohong padaku lagi, aku akan membiarkan garam ini menetap di jantungmu."
Terakhir, Aira berjalan menuju Kael. Serigala liar itu tampak paling hancur; luka-lukanya luas dan air garam itu seolah sedang mengulitinya hidup-hidup. Kael menatap Aira dengan napas yang memburu, matanya yang berwarna amber berkilat penuh tantangan yang mulai runtuh.
Aira tidak menggunakan benda apa pun pada Kael. Ia turun ke dalam kolam, membiarkan tubuhnya terendam hingga dada, berhadapan langsung dengan Kael. Ia merangkul leher Kael, menarik pria besar itu mendekat, lalu menggigit bahunya yang penuh luka dengan sangat keras.
"Argh!" Kael mendesah panjang, suaranya parau oleh rasa sakit yang nikmat. Ia mencengkeram pinggang Aira di bawah air, menariknya hingga tidak ada celah di antara mereka.
"Kau ingin memilikiku dengan kekerasan, Kael?" desis Aira di antara gigitannya. "Maka rasakan kekerasanku. Kau adalah anjingku, dan anjing yang menggigit tuannya harus belajar bagaimana rasanya dicambuk oleh kelembutan yang mematikan."
Aira melepaskan Kael, meninggalkan bekas gigitan baru di atas luka lamanya. Ia berdiri di tengah kolam, menatap ketiga pria itu yang kini benar-benar berlutut di dalam air di hadapannya. Tidak ada interaksi di antara para pria itu; masing-masing dari mereka hanya terfokus pada rasa sakit dan gairah yang diberikan Aira secara pribadi.
Di permukaan uap, Isabella asli tertawa puas. "Kau menghancurkan mereka satu per satu, Aira. Kau tidak membiarkan mereka bersatu bahkan dalam rasa sakit. Kau benar-benar sudah menjadi pemilik sejati dari Manor ini."
Aira melangkah keluar dari kolam dengan keanggunan yang membekukan darah. Ia mengambil handuk sutra hitam yang disediakan pelayan, menyeka tubuhnya tanpa memedulikan tatapan lapar dan tersiksa dari ketiga pria itu.
"Selesaikan ritual kalian," perintah Aira tanpa menoleh. "Besok, Pangeran Valerius akan datang. Dan aku ingin kalian berdiri di belakangku dengan luka yang tertutup rapi, namun dengan jiwa yang sudah benar-benar patah di bawah kakiku. Siapa pun yang membuat kesalahan... akan kembali ke kolam ini selamanya."
Aira berjalan pergi, meninggalkan uap panas yang kini terasa lebih dingin dari es bagi para pria yang tertinggal. Ia telah memenangkan audit jiwa mereka.
"Keluar dari kolam ini dan segera bersihkan diri kalian. Gunakan minyak mawar untuk menutupi bau garam ini. Aku tidak ingin Pangeran Valerius mencium aroma hukuman pada kulit kalian saat dia datang besok pagi."
Aira berbalik, meninggalkan mereka dalam kabut uap yang panas. Ia berjalan menaiki tangga menuju aula atas dengan kepala tegak. Di dalam hatinya, Aira berbisik dengan tekad yang semakin menghitam: "Pangeran Valerius akan datang untuk mencari kelemahanku. Tapi dia akan menemukan sebuah benteng yang dijaga oleh serigala-serigala yang sudah kupatahkan jiwanya."
Aira menyadari bahwa ia telah berhasil menciptakan hierarki baru. Tidak ada persaudaraan di antara Dante, Zane, dan Kael. Yang ada hanyalah persaingan gila untuk menjadi anjing yang paling disukai oleh sang Nyonya Menor.
btw udah lama Kael tidak menampakkan diri Thor...
Lanjuutt