Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Sore hari di kantor itu biasanya mulai terasa lebih lengang. Suara ketikan keyboard yang sejak pagi bersahut-sahutan kini perlahan menghilang. Beberapa karyawan sudah mulai merapikan meja kerja mereka, sementara yang lain mematikan komputer dan bersiap pulang.
Novita berdiri dari kursinya setelah menyelesaikan pekerjaan terakhir hari itu. Ia menarik napas pelan, merasa sedikit lega karena semua tugasnya sudah selesai tanpa kesalahan. Beberapa hari bekerja di kantor itu membuatnya semakin memahami ritme pekerjaan administrasi yang cukup padat.
Namun seperti hari-hari sebelumnya, ada satu hal yang selalu membuatnya sedikit tegang menjelang pulang.
Panggilan dari Pak Andra.
Direktur administrasi itu hampir setiap sore memanggilnya ke ruang kerja dengan alasan meminta bantuan membawa barang-barangnya ke mobil atau mengambil sesuatu. Pekerjaan itu sebenarnya tidak termasuk dalam tugas administrasi, tetapi Novita tidak pernah berani menolak.
Hari ini pun sama.
Salah satu staf memberi tahu bahwa Pak Andra memanggilnya ke ruang direktur.
Dengan langkah hati-hati, Novita berjalan menuju ruangan besar di ujung lorong. Tangannya mengetuk pintu pelan.
Tok.
“Masuk,” terdengar suara dari dalam.
Novita membuka pintu perlahan.
Namun begitu ia masuk, langkahnya langsung terhenti.
Di dalam ruangan itu bukan hanya ada Andra.
Bu Rika juga ada di sana.
Wanita itu duduk di kursi tamu di depan meja kerja Andra. Posisi tubuhnya tegak, wajahnya tenang, tetapi udara di dalam ruangan terasa sedikit tegang, seolah percakapan yang baru saja terjadi bukan percakapan ringan.
Andra berdiri di dekat meja kerjanya dengan ekspresi wajah yang jelas tidak senang.
Begitu melihat Novita masuk, Bu Rika menoleh kepadanya.
Tatapannya lembut, berbeda dengan tatapan dingin Andra.
“Novita?” tanya Bu Rika.
Novita langsung menunduk sedikit. “Iya, Bu.”
“Kamu sudah selesai dengan pekerjaan hari ini?”
“Iya, Bu. Semua laporan sudah saya rapikan dan file-nya juga sudah saya kirim ke sistem.”
Bu Rika mengangguk pelan.
“Bagus.”
Ia lalu tersenyum tipis.
“Kalau begitu kamu boleh pulang.”
Novita sedikit terkejut dan tidak percaya.
“Pulang, Bu?”
“Iya,” jawab Bu Rika dengan nada tenang. “Tidak perlu melakukan hal yang bukan bagian dari pekerjaanmu.”
Kalimat itu sederhana, tetapi maknanya jelas.
Novita sempat melirik sekilas ke arah Andra yang berdiri dengan wajah semakin kaku.
Namun ia segera menundukkan kepala lagi.
“Iya, Bu. Terima kasih.”
Tanpa menambah kata apa pun, Novita membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruangan itu.
Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Begitu Novita pergi, suasana di ruangan itu langsung berubah.
Andra menatap Bu Rika dengan wajah kesal.
“Kenapa Anda menyuruhnya pulang?” katanya dengan nada dingin.
Bu Rika menyandarkan punggungnya ke kursi dengan santai.
“Memangnya salah?”
Andra menyilangkan tangan di dada.
“Dia dipanggil ke sini karena ada urusan.”
“Urusan apa?” tanya Bu Rika dengan alis sedikit terangkat.
Andra menghela napas pendek.
“Saya menyuruhnya membantu membawa barang-barang saya ke mobil.”
Bu Rika tersenyum kecil.
“Menarik.”
Nada suaranya terdengar santai, tetapi tatapannya tajam.
“Sejak kapan staf administrasi punya tugas menjadi pembawa barang direktur?”
Andra langsung menjawab tanpa ragu.
“Saya sedang melatih mentalnya.”
Bu Rika mengerutkan kening.
“Melatih mental?”
“Iya,” kata Andra. “Dia pegawai baru. Kalau mentalnya lemah, dia tidak akan tahan di dunia kerja. Kantor bukan tempat untuk orang yang terlalu sensitif.”
Ia berjalan sedikit mendekati meja.
“Jadi saya hanya ingin membiasakannya menghadapi tekanan.”
Bu Rika memandangnya beberapa detik.
Lalu tiba-tiba ia tersenyum.
Senyum yang tenang, tetapi terasa seperti menyimpan sesuatu.
“Oh begitu.”
Andra mengangkat dagu sedikit.
“Ya.”
Bu Rika melipat tangannya di atas pangkuan.
“Kalau begitu tidak perlu repot.”
“Maksud Anda?”
“Saya akan mendidik Novita sendiri.”
Andra mengerutkan kening.
“Dengan cara yang benar,” lanjut Bu Rika.
Kalimat itu langsung membuat wajah Andra berubah.
“Cara yang benar?” ulangnya dengan nada tidak suka.
Bu Rika menatapnya lurus.
“Iya.”
Andra tertawa kecil, tetapi tawanya terdengar sinis.
“Sejak kapan Anda ikut campur urusan divisi saya?”
Bu Rika tidak langsung menjawab.
Ia hanya memandang Andra dengan tenang.
“Andra,” katanya pelan, “kamu tahu kenapa saya bisa duduk di posisi HRD di perusahaan ini?”
Andra mengangkat bahu.
“Karena Anda sahabat ibu saya.”
Bu Rika tersenyum tipis.
“Sebagian benar.”
Ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan.
“Tapi juga karena saya tahu bagaimana menjaga perusahaan ini tetap sehat.”
Andra mendecakkan lidah.
“Jangan berlebihan.”
“Saya tidak berlebihan.”
Suara Bu Rika tetap lembut, tetapi kali ini ada ketegasan yang jelas.
“Andra, kamu adalah direktur administrasi.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Dan kamu juga putra presiden direktur.”
Tatapan matanya semakin tajam.
“Artinya, semua orang di kantor ini melihatmu sebagai contoh.”
Andra tertawa pendek.
“Contoh?”
“Iya.”
Bu Rika menatapnya tanpa berkedip.
“Contoh bagaimana seorang pemimpin seharusnya bersikap.”
Ruangan itu menjadi hening beberapa detik.
Namun Andra akhirnya menggeleng pelan.
“Menurut saya Anda terlalu serius.”
“Dan menurut saya kamu terlalu main-main dengan posisi kamu.”
Kalimat itu keluar cepat dan tepat.
Andra langsung menatap Bu Rika dengan tajam.
“Main-main?”
“Iya.”
Bu Rika berdiri dari kursinya.
Gerakannya tenang, tetapi wibawanya terasa jelas.
“Mempermalukan staf baru, menyuruhnya melakukan pekerjaan yang bukan tugasnya, dan membuat suasana kantor tidak nyaman.”
Ia menatap Andra dengan ekspresi datar.
“Kalau itu bukan main-main dengan jabatan, lalu apa?”
Wajah Andra jelas menunjukkan kekesalan.
Namun ia tidak menjawab.
Ia hanya mengambil kunci mobilnya dari meja dengan gerakan cepat.
“Sudahlah,” katanya dingin. “Saya tidak punya waktu untuk perdebatan seperti ini.”
Ia berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, suara Bu Rika terdengar lagi.
“Andra.”
Langkahnya berhenti.
Ia menoleh sedikit.
“Apa lagi?”
Bu Rika berdiri dengan tangan terlipat.
Tatapannya serius.
“Berhenti mengganggu Novita.”
Andra menatapnya tajam.
“Kalau tidak?”
Bu Rika tidak mengubah ekspresinya.
“Kalau tidak,” katanya tenang, “saya yang akan melaporkan semuanya kepada ibu kamu.”
Ruangan itu langsung terasa lebih sunyi.
Andra menghela napas panjang.
Ekspresi wajahnya jelas tidak senang.
Namun kali ini ia tidak membalas.
Ia hanya membuka pintu dengan sedikit keras.
“Lakukan saja kalau anda mau,” katanya singkat.
Lalu ia keluar dari ruangan itu.
Pintu tertutup dengan suara yang cukup keras.
Bu Rika tetap berdiri di tempatnya beberapa detik.
Ia menghela napas pelan.
Tatapannya kemudian beralih ke pintu yang baru saja ditutup Andra.
“Anak keras kepala,” gumamnya pelan.
Namun di balik kekesalan itu, ada kekhawatiran yang tidak bisa ia sembunyikan.
Karena ia tahu satu hal dengan pasti.
Jika Andra tidak menghentikan sikapnya, masalah di kantor itu tidak akan berhenti sampai di situ.