NovelToon NovelToon
Dekapan Maut Gadis Manja

Dekapan Maut Gadis Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:110
Nilai: 5
Nama Author: Cloud_berry

Crystal Kusuma sih bungsu dari keluarga Kusuma yang terobsesi pada sang daddy sejak bayi.
Sedari dalam kandungan bayi mungil berusia dua tahun tersebut selalu ingin berada dekat dengan Jimmy Kusuma sang daddy.
Mereka pikir itu hanya ketertarikan biasa putri kecil pada daddynya. Siapa sangka obsesi tersebut malah berubah menjadi dosa terlarang selama belasan tahun?

Dosa terlarang dimana sang daddy Jimmy Kusuma pun tidak menyadarinya.

Selama ini kematian-kematian pegawai di kantor hukumnya, jimmy kira semata hanya kecelakaan biasa.

Tapi mereka salah, semua itu adalah dosa yang dilakukan Crystal kecil.....

Lalu dosa apa itu? Apa yang bisa dilakukan oleh bayi berusia dua tahun?

Saksikan eklusif disini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cloud_berry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 18 : Hijau

Pagi itu, ruang makan Mansion Kusuma yang megah sudah dipenuhi dengan aroma kopi premium dan bau kayu cendana yang menenangkan. Meja makan panjang dari kayu ek itu menjadi saksi bisu berkumpulnya delapan malaikat kecil yang memiliki wajah serupa, namun dengan jiwa yang sangat berbeda.

​Di kursi utama, Jimmy duduk dengan wibawa yang tak tergoyahkan. Di sisi kanan dan kirinya, ketujuh pangeran kecilnya sudah duduk dengan rapi di kursi tinggi mereka masing-masing.

​Gavin, si sulung yang semalam menjadi tempat pengungsian Alice, duduk paling dekat dengan daddynya. Di sampingnya ada Grady yang tampak tenang, Grant yang sibuk memperhatikan pola pada serbetnya, Findlay yang gemar mengetuk-ngetuk sendok, Darragh yang selalu terlihat waspada, Kynan yang asyik dengan dunianya sendiri, dan Conor si bungsu dari barisan laki-laki yang sedang berusaha memegang gelas susunya sendiri.

​Ketujuh bocah laki-laki berusia dua tahun itu adalah salinan karbon dari Jimmy; tatapan mata mereka tajam, meski masih tersirat kepolosan balita.

​Sedangkan di ujung meja, Alice berdiri dengan apron yang membungkus tubuh anggunnya. Ia baru saja meletakkan delapan mangkuk kecil berisi bubur kacang hijau—resep rahasia yang ia pelajari sebelum mimpinya sebagai chef dihancurkan. Bubur itu lembut, manisnya pas, dan penuh nutrisi, dibuat khusus untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anaknya.

​"Sarapan sudah siap," ujar Alice datar, menghindari kontak mata dengan Jimmy. Ia meletakkan mangkuk terakhir di hadapan si bungsu dari seluruh kembar delapan: Crystal.

​Crystal, yang pagi ini bertahta di kursi khusus tepat di sebelah Jimmy, menatap mangkuk hijau di hadapannya dengan kerutan di dahi. Ia melirik mangkuk kakak-kakaknya, lalu beralih menatap Alice dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat.

​"Tidak mau hijau," tukas Crystal pendek, mendorong mangkuknya hingga hampir jatuh dari meja. "Bau. Crystal mau udang tempura Bibi Arum!"

​"Crystal, ini masih pagi. Bubur kacang hijau ini bagus untukmu. Mommy sudah membuatnya sejak subuh," bujuk Alice, mencoba menahan emosinya. Ia tahu Crystal hanya sedang mencari gara-gara untuk menunjukkan siapa penguasa di rumah ini.

​"TIDAK MAU!" Crystal mulai berteriak, wajahnya memerah. Ia menoleh ke arah Jimmy, menarik-narik ujung lengan kemeja mahal daddynya. "Daddyyy... buang hijau itu! Crystal mau susu cokelat dan udang saja!"

​Keenam kakak laki-lakinya hanya terdiam, seolah sudah terbiasa dengan drama pagi adik perempuan mereka. Hanya Gavin yang sempat melirik ke arah Alice dengan tatapan yang sulit diartikan, teringat bagaimana semalam sang Mommy menangis di pelukannya.

​Jimmy menghela napas. Ia menatap mangkuk bubur yang dibuat Alice, lalu beralih pada wajah Crystal yang mulai siap mengeluarkan "senjata" air matanya. Namun, pagi ini Jimmy memiliki jadwal pertemuan penting yang tidak bisa ditunda, dan ia tidak ingin Crystal menghambat perjalanannya ke Menara Kusuma.

​"Makan buburnya, Crystal. Ini enak," ujar Jimmy pelan.

​"Gak mau! Daddy... Crystal gak mau makan masakan Mommy! Mommy nakal semalam!" Crystal mulai terisak, sengaja mengungkit kejadian semalam untuk memojokkan Alice di depan saudara-saudaranya.

​Alice mengepalkan tangannya di balik apron. Ia merasa sangat terhina. Masakannya yang bahkan dipuji oleh kritikus internasional kini dihina oleh balita dua tahun yang merupakan darah dagingnya sendiri.

​Melihat kekerasan kepala putrinya, Jimmy mengubah nada suaranya menjadi lebih rendah dan dingin—nada yang biasanya ia gunakan untuk memutus kontrak bisnis secara sepihak.

​"Dengar, Crystal. Makan bubur itu sampai habis sekarang juga," tegas Jimmy. "Jika kamu terus membantah dan membuat keributan di meja makan, Daddy akan pergi ke Menara Kusuma sendirian. Kamu akan tinggal di rumah seharian ini bersama Mommy."

​Seketika, tangisan Crystal terhenti. Kata-kata "tinggal di rumah bersama Mommy" terdengar seperti hukuman penjara paling mengerikan baginya. Tinggal berdua dengan Alice berarti ia akan kehilangan perhatian Jimmy selama belasan jam. Itu berarti wilayah kekuasaannya akan terancam.

​Crystal melirik Alice yang berdiri diam dengan wajah pucat, lalu melirik Jimmy yang menatapnya tanpa kompromi. Ia tahu, kali ini daddynya tidak sedang bercanda.

​Dengan gerakan yang sangat terpaksa, Crystal menarik kembali mangkuk buburnya. Ia meraih sendok peraknya, menyendok bubur kacang hijau itu dengan kasar, lalu memasukkannya ke dalam mulut dengan wajah yang ditekuk sedemikian rupa.

​"Pintar," puji Jimmy singkat, kembali fokus pada ponselnya.

​Crystal mengunyah bubur itu dengan perasaan dongkol. Setiap suapan terasa seperti kekalahan baginya. Ia menatap Alice dengan mata yang menyipit tajam, seolah berkata, 'Aku makan ini bukan karena menghargaimu, tapi karena aku tidak mau jauh dari Daddy.'

​Alice hanya bisa mematung melihat pemandangan itu. Hatinya perih. Putrinya lebih memilih memakan makanan yang "ia benci" daripada harus menghabiskan waktu dengannya. Di meja makan itu, di antara delapan anak yang ia lahirkan, Alice merasa seperti seorang pelayan yang kehadirannya hanya dianggap sebagai gangguan.

​Gavin, Grady, Grant, Findlay, Darragh, Kynan, dan Conor terus makan dengan tenang, mengikuti kedisiplinan yang diajarkan Jimmy. Di balik ketenangan itu, meja makan keluarga Kusuma pagi ini adalah sebuah medan perang yang sunyi, di mana kasih sayang diperdagangkan dan ancaman menjadi alat kendali.

​"Selesai," gumam Crystal setelah mangkuknya kosong melompong. Ia segera mengangkat tangannya ke arah Jimmy. "Daddy, ayo berangkat. Crystal sudah patuh."

​Jimmy bangkit berdiri, merapikan jasnya, lalu menggendong Crystal. "Ayo. Kalian semua, belajar yang rajin dengan tutor hari ini," pesan Jimmy pada ketujuh putranya.

​Tanpa berpamitan pada Alice, Jimmy melangkah pergi membawa Crystal yang kini tertawa puas di atas bahunya. Ketujuh pangeran lainnya mulai turun dari kursi mereka, diikuti oleh para pengasuh menuju ruang belajar.

​Alice berdiri sendirian di ruang makan yang mendadak sunyi. Ia menatap delapan mangkuk kosong di hadapannya. Kebencian di hatinya semakin mengental, namun ada satu hal yang ia sadari pagi ini: Jika ia ingin bertahan di mansion ini, ia harus berhenti menjadi target yang mudah bagi Crystal.

​"Suatu hari nanti, Crystal... kamu akan tahu rasanya ditinggalkan oleh satu-satunya orang yang kamu anggap milikmu," bisik Alice pelan, sebelum mulai membereskan meja makan dengan tangan yang gemetar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!