Di dunia yang dipenuhi para ahli bela diri dan kultivator kuat, Goo Yoon hanyalah seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu mengalahkan murid terlemah di sekte.
Namun Goo Yoon memiliki satu hal yang tidak dimiliki orang lain—tekad yang tidak pernah patah.
Setelah terus dipermalukan dan diremehkan, suatu hari ia menemukan sebuah seni bela diri kuno yang telah lama hilang. Seni tersebut dikenal sebagai Teknik Pedang Dewa Gila, sebuah kekuatan yang bahkan para master legendaris tak mampu kuasai.
Dengan latihan yang penuh darah, rasa sakit, dan kegagalan, Goo Yoon perlahan berubah.
Dari seorang pemuda lemah…
Menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jenih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Pertarungan Penentu
Benturan pedang kembali menggema di tengah hutan malam.
CLANG!
Percikan api kecil bertebaran saat pedang Goo Yoon dan Kang Dae-Rin saling menghantam dengan kekuatan penuh. Tanah di bawah kaki mereka retak akibat tekanan dari dua energi yang terus bertabrakan.
Goo Yoon melompat mundur beberapa langkah.
Napasnya berat, namun matanya tetap tajam.
Aura yang keluar dari tubuhnya masih terasa kuat. Energi dalam nadinya mengalir semakin cepat, seolah kekuatan yang baru bangkit itu masih terus berkembang.
Di hadapannya, Kang Dae-Rin juga terlihat tidak lagi tenang.
Ia berdiri dengan pedang di tangan, menatap Goo Yoon dengan ekspresi serius.
“Luar biasa…” katanya pelan.
“Kau benar-benar membuatku terkejut malam ini.”
Dua murid Sekte Naga Hitam di belakangnya juga mulai gelisah.
Mereka tidak pernah melihat Kakak Kang bertarung selama ini dengan kesulitan seperti ini.
Biasanya pertarungan selesai dalam beberapa jurus saja.
Namun sekarang—
Pertarungan itu telah berlangsung cukup lama.
Dan hasilnya masih belum jelas.
Kang Dae-Rin perlahan menarik napas panjang.
Kemudian ia berkata dengan suara rendah.
“Sepertinya aku harus menggunakan kekuatan penuhku.”
Ia memutar pedangnya dengan satu gerakan halus.
Aura hitam kembali muncul di sekitar tubuhnya.
Namun kali ini jauh lebih besar dari sebelumnya.
Udara di sekitar mereka terasa berat.
Angin berputar di sekitar tubuh Kang Dae-Rin seperti pusaran.
Dua murid Sekte Naga Hitam langsung mundur lebih jauh.
“Kakak Kang serius sekarang…”
“Ini teknik tingkat tinggi…”
Kang Dae-Rin mengangkat pedangnya perlahan.
Energi hitam berkumpul di bilah pedang itu.
Bayangan naga hitam samar terlihat berputar di udara.
“Gerakan Ketiga… Teknik Pedang Naga Hitam.”
Seketika tekanan besar menyebar ke seluruh area.
Pepohonan di sekitar mereka bergoyang keras.
Bahkan tanah di sekitar kaki Kang Dae-Rin mulai retak.
Goo Yoon bisa merasakan tekanan itu dengan jelas.
Jurus ini jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.
Namun anehnya—
Ia tidak merasa takut.
Sebaliknya, semangat dalam hatinya semakin membara.
Ia mengingat kembali semua perjalanan yang telah ia lalui.
Dari seorang pemuda lemah…
Hingga menjadi pendekar yang mampu berdiri di sini sekarang.
Semua itu terjadi karena satu alasan.
Ia tidak pernah menyerah.
Goo Yoon menggenggam pedangnya lebih erat.
“Kalau begitu…”
Ia menundukkan tubuhnya sedikit.
Energi dalam tubuhnya mulai mengalir menuju pedang.
“…aku juga akan menyerang dengan seluruh kekuatanku.”
Angin malam tiba-tiba berhenti.
Seolah dunia sedang menunggu sesuatu.
Kang Dae-Rin melesat maju lebih dulu.
WHOOSH!
Kecepatannya bahkan lebih cepat dari sebelumnya.
Pedangnya turun dari atas dengan kekuatan yang mengerikan.
SLASH!!
Aura naga hitam melesat bersama tebasan itu.
Namun pada saat yang sama—
Goo Yoon juga bergerak.
WHOOSH!
Tubuhnya melesat maju dengan kecepatan penuh.
Pedangnya menebas ke depan.
Dua serangan bertemu di tengah udara.
CLAAAAANG!!!
Ledakan energi besar terjadi.
Gelombang angin menyapu seluruh hutan.
Dedaunan beterbangan seperti badai.
Tanah retak semakin luas.
Dua murid Sekte Naga Hitam bahkan harus menahan tubuh mereka agar tidak terlempar oleh tekanan angin.
Di tengah ledakan itu—
Dua sosok masih berdiri saling berhadapan.
Pedang mereka saling menekan.
Goo Yoon menggertakkan giginya.
Tenaga di tangannya terus bertambah.
Sementara Kang Dae-Rin juga mendorong pedangnya dengan kekuatan penuh.
Beberapa detik terasa seperti waktu yang sangat lama.
Lalu—
CRACK!
Suara retakan terdengar.
Pedang Kang Dae-Rin tiba-tiba retak di bagian tengah.
Mata Kang Dae-Rin melebar.
“Apa—?!”
Detik berikutnya—
Pedangnya patah.
KRAK!
Sisa energi dari tebasan Goo Yoon mendorongnya mundur beberapa meter.
Kang Dae-Rin jatuh berlutut di tanah.
Debu perlahan turun kembali ke tanah.
Hutan kembali sunyi.
Goo Yoon masih berdiri dengan pedang di tangannya.
Napasnya berat.
Namun ia tidak terluka serius.
Sementara Kang Dae-Rin menatap pedang patah di tangannya.
Lalu ia tertawa kecil.
“Haha…”
Ia menggelengkan kepala.
“Sepertinya… aku kalah.”
Dua murid Sekte Naga Hitam langsung terkejut.
“Kakak Kang!”
Namun Kang Dae-Rin mengangkat tangannya.
“Cukup.”
Ia perlahan berdiri kembali.
Kemudian menatap Goo Yoon dengan tatapan yang berbeda.
Tidak lagi penuh permusuhan.
Melainkan penuh rasa hormat.
“Kau menang, Goo Yoon.”
Ia membuang sisa pedangnya ke tanah.
“Pendekar sepertimu tidak pantas dibunuh secara sembarangan.”
Ia berbalik.
“Suatu hari nanti… kita mungkin akan bertemu lagi.”
Dua murid Sekte Naga Hitam segera mengikuti di belakangnya.
Dalam beberapa detik, mereka menghilang ke dalam kegelapan hutan.
Goo Yoon akhirnya menurunkan pedangnya.
Ia menarik napas panjang.
Pertarungan itu benar-benar menguras seluruh tenaganya.
Namun di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang berbeda.
Ia telah menjadi lebih kuat.
Jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Namun ia juga tahu satu hal.
Dunia para pendekar masih sangat luas.
Masih banyak lawan kuat yang menunggunya di luar sana.
Dan rahasia tentang darah dalam tubuhnya—
Masih belum sepenuhnya terungkap.
Goo Yoon menatap langit malam.
Bulan bersinar terang di atas pegunungan.
Perjalanannya masih panjang.
Namun satu langkah besar telah ia lewati malam ini.
yg bner mn nih?
Hubungannya dengan gurunya membuat aku nostalgia sama guruku /Determined/