NovelToon NovelToon
Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Wanita perkasa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21

*Abyssal Crawler* itu bergerak mendekati ksatria beku. Ia mencium aroma darah dan perubahan suhu dari es yang baru saja dipecahkan oleh Genevieve. Dengan gerakan yang sangat cepat dan brutal, capit depannya menghantam sisa bongkahan es yang membungkus ksatria malang itu. Es itu hancur berkeping-keping. Makhluk itu menjepit helm baja sang ksatria, mencoba meremukkannya, mencari daging hangat di baliknya. Ketika ia menyadari bahwa yang ia hancurkan hanyalah es dan tulang yang telah membeku selama seabad, ia melepaskan raungan histeris bernada tinggi yang menggetarkan udara.

Suara itu begitu nyaring hingga telinga Genevieve berdenging.

Monster itu marah. Ia merasa ditipu. Ia tahu ada mangsa segar yang baru saja membongkar es ini, dan mangsa itu tidak mungkin menguap begitu saja. Kepalanya yang buta kembali berputar liar, tentakelnya bergetar dengan frekuensi yang lebih gila. Ia mulai merayap menjauhi pilar, kaki-kakinya yang banyak menghasilkan suara berdetak yang mengerikan di atas lantai batu, menyisir area reruntuhan dengan memutar ke arah Sungai Umbra.

Ia bergerak mendekati posisi Genevieve.

Sepuluh meter. Delapan meter. Lima meter.

Jantung Genevieve berdetak dengan liar, memompa adrenalin dalam dosis yang nyaris mematikan bagi tubuh rapuhnya. Kabut sungai mungkin menutupi suhu tubuhnya, tetapi jika monster itu berjalan cukup dekat, ia akan menabraknya secara fisik. Dan jika makhluk itu menemukannya di tepi tebing yang sempit ini, Genevieve tidak memiliki ruang sama sekali untuk menghindar. Di belakangnya adalah jurang sungai yang arusnya bergerak dengan kecepatan empat puluh knot—kematian instan akibat tenggelam. Di depannya adalah monster penebas daging.

Genevieve harus mengalihkan perhatiannya. Ia harus membuat makhluk itu berbalik.

Dengan sangat, sangat lambat, tangan kiri Genevieve meraba tanah di sekitarnya yang basah. Jari-jarinya menemukan sebongkah batu kali seukuran kepalan tangan, bulat dan cukup berat. Ia menggenggamnya erat-erat. Ia menghitung jarak dan sudut di dalam kepalanya. Mengandalkan sisa memori tentang lintasan fisik, ia harus melempar batu ini tanpa membuat lengannya menimbulkan embusan angin yang bisa dideteksi oleh tentakel monster itu.

*Empat meter.* Bau asam belerang dari mulut monster itu kini sangat menyengat, membuat mata Genevieve berair.

Dalam satu gerakan yang mengandalkan ayunan pergelangan tangan saja, Genevieve melempar batu itu melengkung tinggi ke udara, melewati atas pilar reruntuhan, mengarah kembali ke hutan pinus tempat ia pertama kali datang.

Batu itu melayang dalam keheningan yang menyiksa, lalu...

*KLAK!*

Batu itu menghantam keras sebuah akar Pohon Pinus Besi raksasa sekitar belasan meter di belakang monster tersebut. Suaranya bergema nyaring, tajam, dan memecah keheningan dasar jurang.

Seketika, *Abyssal Crawler* itu berhenti merayap. Tubuh melengkungnya menegang. Kepalanya yang dipenuhi tentakel berputar 180 derajat dengan kecepatan luar biasa ke arah sumber suara. Mengira bahwa mangsanya sedang mencoba melarikan diri ke arah hutan, monster itu memutar tubuh panjangnya dan melesat pergi dengan kecepatan yang menakutkan, mengejar gema suara batu tersebut. Cakar-cakarnya menggores salju dan batu, meninggalkannya pergi menjauh dari tepian sungai.

Genevieve menghembuskan napas yang sedari tadi ia tahan, tubuhnya nyaris merosot sepenuhnya ke atas bebatuan basah. Keringat dingin menetes dari dagunya, bercampur dengan kabut sungai. Ia telah memenangkan satu putaran permainan mematikan ini dengan kecerdasannya.

Namun, perayaan itu terjadi terlalu dini.

Di saat monster itu berlari menjauh, ekornya yang panjang dan ditutupi cangkang sekeras baja berayun liar karena momentum tubuhnya. Tanpa disengaja, ekor tebal itu menghantam keras pilar batu kuno yang telah rapuh—pilar yang sama tempat ksatria beku itu disandarkan selama berabad-abad.

Benturan itu tidak ditujukan padanya, namun dampaknya berantai. Pilar penyangga yang telah lapuk dimakan waktu dan es itu kehilangan keseimbangannya. Terdengar suara retakan batu yang sangat masif, seolah bumi itu sendiri sedang mengerang kesakitan.

"Sial," rutuk Genevieve pelan. Matanya membelalak ngeri.

Pilar raksasa itu runtuh. Ribuan ton batu obsidian kuno berjatuhan dalam gerakan yang terasa sangat lambat. Bebatuan itu menghantam lantai reruntuhan dengan dentuman yang menggetarkan seluruh dasar lembah, menciptakan gempa lokal berskala kecil. Debu salju, es, dan serpihan batu meledak ke segala arah layaknya awan jamur.

Genevieve mengangkat mantel bulunya, menutupi wajahnya, dan meringkuk rapat ke tanah saat serpihan-serpihan tajam menghujani posisinya. Suara keruntuhan itu menenggelamkan segalanya, bahkan mengalahkan deru Sungai Umbra.

Ketika guncangan akhirnya berhenti dan debu salju mulai mereda tersapu angin, Genevieve menurunkan lengannya perlahan. Telinganya berdenging nyaring, namun ia memaksakan dirinya untuk berdiri, bersandar pada tepi bebatuan licin. Ia mencengkeram *Nightfang* bersiap menghadapi skenario terburuk jika keruntuhan itu memancing monster itu kembali.

Namun, *Abyssal Crawler* itu tampaknya terlalu terkejut oleh keruntuhan masif tersebut, atau mungkin tertimpa oleh sebagian reruntuhan batu di kejauhan. Monster itu tidak terlihat di mana pun.

Alih-alih monster, pandangan Genevieve justru terpaku pada pemandangan di depannya.

Pilar batu yang runtuh itu sebelumnya menutupi sebagian besar dinding tebing di belakang ksatria yang membeku. Dengan hancurnya pilar tersebut, sebuah struktur yang tersembunyi berabad-abad lamanya kini terkuak secara paksa. Di balik puing-puing batu yang berserakan, terdapat sebuah celah besar yang menganga di dinding tebing obsidian.

Itu bukan sekadar celah gua alami. Sisi-sisinya dipahat dengan sangat presisi membentuk sebuah gerbang melengkung. Di atas gerbang tersebut, meski sebagian telah hancur oleh keruntuhan barusan, masih terlihat ukiran lambang yang sama persis dengan yang ada di zirah sang ksatria: Naga Berkepala Tiga yang melilit pedang patah.

Udara kuno yang stagnan berhembus keluar dari dalam celah gelap itu, membawa serta aroma kapur dan sesuatu yang menyerupai bau logam tembaga. Namun, yang membuat napas Genevieve kembali tertahan bukanlah kegelapan di dalamnya, melainkan pendaran cahaya yang sangat samar yang berasal dari kedalaman terowongan tersebut. Cahaya itu memancarkan warna ungu redup yang tidak wajar, berdenyut pelan seolah ada jantung mekanis raksasa yang berdetak di dalam perut gunung.

Sebuah lorong rahasia. Sebuah jalan masuk ke dalam fasilitas atau makam kuno milik faksi yang telah lama dilupakan oleh sejarah Aethelgard. Ksatria beku itu tidak sedang mencari jalan keluar dari jurang; ia gugur tepat di depan pintu gerbang bentengnya sendiri, mati kedinginan sebelum ia sempat membukanya.

**[Anomali Topografi Terdeteksi!]**

**[Pemindaian Menunjukkan Adanya Arsitektur Buatan Berongga di Dalam Dinding Tebing. Suhu di dalam lorong diperkirakan stabil pada 5 Derajat Celcius. Emisi energi tak dikenal terdeteksi dari kedalaman struktur.]**

**[Saran Taktis: Area dalam terowongan memberikan perlindungan absolut dari badai salju dan pemangsa ukuran besar di dasar jurang.]**

Genevieve menatap celah gelap yang berdenyut dengan cahaya ungu itu. Jurang Hitam di luar sini dipenuhi oleh serigala raksasa dan lipan pemburu termal yang akan mencabik-cabiknya begitu malam kembali turun. Masuk ke dalam lorong yang tak dikenal itu mungkin sama dengan melangkah ke dalam rahang kematian yang baru, tetapi itu adalah risiko yang dihitung. Setidaknya di sana, ia memiliki peluang untuk tidak mati membeku, dan mungkin, ia akan menemukan jalan naik yang tersembunyi.

Ia memutar *Nightfang* di tangan kanannya, menyarungkannya secara darurat di balik ikat pinggang gaunnya. Ia merapatkan mantel bulu serigalanya yang kini sedikit basah oleh kabut sungai, menahan rasa nyeri yang membakar di rusuknya, lalu melangkah maju melintasi puing-puing batu.

Sang Lady yang terbuang tidak lagi mencari jalan pintas untuk melarikan diri. Ia kini berjalan masuk menuju jantung kegelapan yang menyangkal sejarah dunianya sendiri. Pintu menuju kebenaran yang dilupakan Aethelgard kini telah terbuka, menyambutnya dalam pelukan bayang-bayang.

1
Bambang Widono
🙏👍💯💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏🙏
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗋𝗂𝗄
Wahyuningsih
thor sustemnya kok cuman gitu aja gk srulah
Wahyuningsih
thor buat suaminya menyesal d buat segan matipun tk mau biar nyakho dia n buat bbadaz abuz biar mkin keren
Wahyuningsih
q mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!