NovelToon NovelToon
Kau Harus Rela Melepasnya

Kau Harus Rela Melepasnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Idola sekolah / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anto Sabar

Ryan adalah seorang mekanik yang sangat mencintai Arini namun karena status yang sangat jauh sehingga arina tak mau membuat Ryan kecewa karena Arini sudah di jodohkan dengan pemuda lain pilihan orangtuanya.Bagaimana kisah lengkapnya,ayo kita simak bersama perjuangan Ryan !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anto Sabar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Hari Yang Menentukan

Siang itu—

Ryan tiba di lokasi yang disebut Adrian.

Sebuah workshop besar.

Tertutup.

Dan jauh dari keramaian.

Bangunan itu terlihat sederhana dari luar.

Namun saat pintu terbuka—

semuanya berubah.

Peralatan modern.

Mesin canggih.

Dan beberapa mobil yang jelas bukan mobil biasa.

Ryan melangkah masuk perlahan.

Matanya mengamati setiap sudut.

“Tempatnya… beda,” gumamnya.

“Karena ini bukan bengkel biasa.”

Suara dari belakang membuat Ryan menoleh.

Seorang pria berdiri di sana.

Lebih tua sedikit darinya.

Dengan seragam kerja.

Tatapan tajam.

“Saya Raka,” katanya singkat.

“Yang akan awasi kamu.”

Ryan mengangguk.

“Ryan.”

Raka tersenyum tipis.

“Sudah tahu.”

Ia berjalan mendahului.

“Ke sini.”

Ryan mengikuti.

Mereka berhenti di depan satu mobil.

Mobil itu—

rendah.

Lebar.

Dan jelas—

dibuat untuk kecepatan.

Ryan menatapnya beberapa detik.

“Ini yang harus kamu kerjakan,” kata Raka.

Ryan mendekat.

Mengamati.

Beberapa bagian sudah dibongkar.

Namun bukan sembarangan.

Ia membuka salah satu panel.

Dan langsung—

mengerti.

“Setting ulang total…” gumamnya.

Raka melirik.

“Kamu cepat tangkap.”

Ryan tidak menjawab.

Matanya masih fokus.

“Mesinnya sudah dimodifikasi,” lanjut Raka.

“Tapi belum stabil.”

Ryan mengangguk pelan.

“Dipaksa naik performa… tapi belum siap.”

Raka tersenyum kecil.

“Makanya kamu di sini.”

Ryan menarik napas.

Tiga hari.

Dan pekerjaan ini—

bukan main.

“Kalau gagal?” tanya Ryan.

Raka menjawab santai,

“Kamu tahu jawabannya.”

Ryan tersenyum tipis.

“Baik.”

Ia langsung mengambil alat.

Tanpa buang waktu.

Hari pertama—

dimulai.

Jam demi jam berlalu.

Ryan bekerja tanpa henti.

Ia membongkar.

Memeriksa.

Menghitung.

Setiap bagian ia analisis.

Setiap sambungan ia cek ulang.

Raka hanya berdiri di kejauhan.

Mengawasi.

Tanpa banyak bicara.

Sesekali—

ia terlihat mengangguk.

“Tidak buruk…” gumamnya.

Namun ia tidak memuji.

Karena ini belum selesai.

Malam tiba.

Namun Ryan belum berhenti.

Tangannya mulai kotor.

Bajunya penuh noda.

Namun matanya—

tetap fokus.

Ia membuka bagian mesin utama.

Dan di situlah—

masalah sebenarnya terlihat.

“Ini…” Ryan mengernyit.

Ia memperhatikan lebih dekat.

Sistem pendingin.

Tidak seimbang.

“Kalau dipaksa…” gumamnya.

Ia langsung mengerti.

“Mesin bisa overheat.”

Raka yang mendengar mendekat.

“Akhirnya ketemu juga.”

Ryan melirik.

“Kenapa dibiarkan?”

Raka menyilangkan tangan.

“Karena itu bagian dari ujian.”

Ryan tersenyum tipis.

“Kalau tidak ketemu?”

Raka menjawab dingin,

“Berarti kamu tidak layak.”

Sunyi.

Ryan kembali fokus.

Ia mulai merancang ulang.

Dalam pikirannya—

sudah terbentuk solusi.

Namun—

butuh waktu.

Dan waktu—

tidak banyak.

Hari kedua—

dimulai tanpa istirahat cukup.

Ryan masih di sana.

Matanya sedikit lelah.

Namun tidak menyerah.

Ia mulai memasang ulang sistem.

Mengatur ulang aliran.

Menyesuaikan tekanan.

Semua dilakukan dengan presisi.

Namun—

tantangan belum selesai.

Saat ia mencoba menyalakan mesin—

Mesin bergetar keras.

“Tidak stabil…” gumamnya.

Raka hanya menonton.

Ryan mematikan mesin.

Ia menarik napas panjang.

“Masih ada yang salah…”

Ia kembali membongkar.

Lebih dalam.

Lebih detail.

Waktu terus berjalan.

Sore hari—

ia masih belum menemukan titiknya.

Keringat mulai jatuh.

Namun kali ini—

bukan hanya karena kerja.

Tapi juga tekanan.

“Tiga hari…” bisiknya.

Dan ini sudah hari kedua.

Malam hari—

Ryan duduk sebentar.

Untuk pertama kalinya.

Tangannya lelah.

Pikirannya penuh.

Ia menatap mobil itu.

“Di mana salahnya…” gumamnya.

Tiba-tiba—

sesuatu terlintas.

Ia berdiri cepat.

“Bukan di mesin…”

Raka mengangkat alis.

Ryan langsung membuka bagian lain.

Sistem kontrol.

Dan di situlah—

ia menemukan sesuatu.

Sebuah pengaturan kecil.

Namun—

berpengaruh besar.

“Ini dia…”

Ia tersenyum tipis.

Raka mendekat.

Melihat.

Dan untuk pertama kalinya—

ekspresinya berubah.

“Menarik…”

Ryan langsung bekerja lagi.

Waktu terus berjalan.

Dan akhirnya—

hari ketiga tiba.

Penentuan.

Ryan berdiri di depan mobil itu.

Semua sudah diperbaiki.

Semua sudah disesuaikan.

Sekarang—

tinggal satu hal.

Menyalakan.

Ia duduk di kursi pengemudi.

Menarik napas dalam.

Lalu—

memutar kunci.

Mesin menyala.

Halus.

Stabil.

Namun Ryan tidak langsung puas.

Ia menekan pedal sedikit.

Suara mesin naik.

Respons cepat.

Tanpa getaran.

Raka memperhatikan.

Diam.

Ryan keluar dari mobil.

Menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata pelan,

“Sudah.”

Raka mendekat.

Menatap mesin itu.

Beberapa detik—

tidak ada suara.

Lalu—

ia tersenyum.

“Selamat.”

Satu kata.

Namun cukup.

Ryan menghela napas panjang.

Akhirnya—

selesai.

Namun ia tahu—

ini bukan akhir.

Ini—

awal.

Karena di tempat lain—

Adrian sudah menunggu hasilnya.

Dan keputusan berikutnya—

akan mengubah arah hidupnya sepenuhnya.

1
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
baru juga mau mulai belum apa² udah ada yang gak suka 🤦
Nur Wahyuni
seru
Nur Wahyuni
lanjut
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
O,oh .., tidak!!! jangan bikin aku nangis bawang kak .
istri sahnya minho❤️"naylee"❤️
ih ko sedih ya bayangin nya, jangan terlalu rumit lah kasian yang baca, next lanjut... semoga bagus ceritanya
Anto Sabar: insyaallah,makasih bnyk atas dukungannya senior.
total 1 replies
Nur Wahyuni
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!