NovelToon NovelToon
CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Mobil sedan hitam milik Alan meluncur membelah kemacetan kota menuju Rumah Sakit Pusat, tempat di mana ambulans yang membawa Dita telah tiba lebih dulu. Di dalam kabin yang kedap suara itu, keheningan terasa mencekik. Dinda duduk kaku di kursi penumpang, matanya menatap kosong ke arah aspal yang terus berputar di bawah roda mobil.

Alan sesekali melirik Dinda. Kalimat "menjual keperawanan" yang diucapkan Dinda di puskesmas tadi masih terngiang-ngiang di telinganya, menghantam ulu hatinya lebih keras daripada pukulan fisik mana pun.

"Dinda," panggil Alan lirih. "Jangan bicara seperti itu. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai barang yang bisa dibeli."

Dinda tidak menoleh. Bibirnya tersenyum getir, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Lalu apa namanya, Tuan? Tuan menodai saya, lalu Tuan membayar rumah sakit adik saya. Di dunia saya, itu disebut transaksi. Orang kaya seperti Tuan selalu punya cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan, bukan?"

"Aku melakukan ini karena aku ingin Dita sembuh!" Alan memukul kemudi dengan frustrasi. "Dan aku ingin bertanggung jawab atas semalam. Aku mencintaimu, Dinda!"

"Cinta tidak menghancurkan, Tuan Alan. Cinta tidak memaksa," sahut Dinda dingin. "Sekarang, tolong fokus mengemudi. Adik saya sedang bertaruh nyawa."

***

Begitu sampai di lobby utama rumah sakit internasional yang sangat mewah itu, Dinda langsung turun sebelum mobil benar-benar berhenti sempurna. Ia berlari menuju ruang instalasi gawat darurat (IGD). Di sana, ia melihat Dika sedang berdiri di depan pintu kaca otomatis, tampak kebingungan dan terintimidasi oleh kemegahan rumah sakit itu.

"Dika!" panggil Dinda terengah-engah.

Dika menoleh, matanya merah. "Kak... tempat apa ini? Mereka bilang Dita harus masuk ke ruang isolasi khusus. Perawatnya bilang semua biayanya sudah ada yang menjamin di muka. Kakak dapat uang dari mana sebanyak itu?"

Dinda tercekat. Ia melihat Alan muncul di belakangnya, berjalan dengan langkah tegap khas seorang penguasa. Dika menyadari kehadiran Alan. Tatapannya mendadak berubah menjadi sangat tajam dan penuh permusuhan.

"Kenapa dia ada di sini lagi, Kak?" tanya Dika, suaranya rendah dan mengancam. "Pria ini... dia yang bayar semua ini, kan?"

Alan hendak bicara, namun Dinda lebih dulu memegang lengan Dika. "Dika, dengar. Perusahaan tempat Kakak bekerja punya kerja sama asuransi dengan rumah sakit ini. Tuan Alan adalah atasan Kakak, dia hanya memastikan karyawannya mendapat fasilitas terbaik. Jangan keras kepala sekarang, nyawa Dita lebih penting!"

Dika melepaskan pegangan tangan Dinda dengan kasar. "Asuransi? Kakak baru kerja di sana berapa hari? Jangan bohongi aku, Kak! Orang ini... aku tahu dia punya maksud jahat."

Dika melangkah maju, berdiri tepat di depan Alan. Meskipun tubuhnya sedikit lebih pendek, nyali Dika tidak menciut sedikit pun. "Apa yang kamu inginkan dari kakakku? Ambil kembali uangmu. Kami tidak butuh belas kasihanmu!"

Alan menatap Dika dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rasa hormat sekaligus rasa bersalah. "Adikmu sedang ditangani oleh dokter terbaik di negeri ini, Dika. Jika kau mengusirku sekarang dan menghentikan pengobatannya, kau sedang membunuh adikmu sendiri. Apa kau siap memikul beban itu seumur hidupmu?"

Dika terdiam. Napasnya memburu. Ia menoleh ke arah ruang kaca di mana Dita sedang dipasangi berbagai alat medis oleh tim dokter berseragam lengkap. Hatinya hancur. Ia merasa gagal sebagai laki-laki karena harus menerima bantuan dari pria yang ia benci demi menyelamatkan kembarannya.

"Dika, Kakak mohon... biarkan ini lewat dulu," isak Dinda sambil memeluk punggung Dika. "Nanti Kakak jelaskan semuanya. Tolong... demi Dita."

Dika akhirnya meluruh. Ia terduduk di kursi tunggu dengan tangan menutupi wajahnya. Ia menangis tanpa suara, sebuah pemandangan yang membuat Dinda merasa jiwanya tercabik-cabik. Ia telah menipu adiknya, mengkhianati martabat keluarganya, dan kini ia terikat kontrak tak kasat mata dengan pria yang berdiri di sampingnya.

**

Beberapa jam kemudian, Dita dinyatakan stabil namun harus tetap berada di ruang ICU untuk observasi ketat. Dika menolak meninggalkan pintu kamar Dita, ia tidur meringkuk di kursi tunggu dengan keras kepala.

Dinda berjalan menjauh menuju koridor yang lebih sepi untuk mencari udara segar. Alan mengikutinya dari belakang.

"Dia adik yang hebat," ucap Alan memecah kesunyian.

Dinda berhenti di depan jendela besar yang menghadap lampu-lampu kota. "Dia adik yang tulus, Tuan. Dan dia akan sangat membenci saya jika dia tahu kenyataan di balik 'asuransi' ini."

Dinda berbalik, menatap Alan dengan mata yang lelah. "Tuan sudah mendapatkan apa yang Tuan inginkan. Dita sudah di rumah sakit terbaik. Sekarang, apa rencana Tuan selanjutnya? Berapa lama saya harus menjadi tawanan Tuan untuk melunasi semua ini?"

Alan mendekat, mencoba menyentuh pipi Dinda, namun Dinda menghindar dengan cepat. Alan menarik napas panjang.

"Aku ingin kau tinggal bersamaku, Dinda. Bukan sebagai tawanan, tapi sebagai... tunanganku. Aku butuh alasan resmi untuk terus membiayai Dita tanpa membuat Dika curiga. Jika aku memperkenalkanmu sebagai calon istriku, Dika tidak akan punya pilihan selain menerima bantuan dari 'kakak iparnya'."

Dinda tertawa hambar. "Calon istri? Setelah apa yang Tuan lakukan semalam? Tuan benar-benar tidak punya hati."

"Ini satu-satunya cara, Dinda! Ibuku sedang memaksaku menikah dengan anak rekan bisnisnya. Jika aku membawamu ke hadapannya, dia akan berhenti menggangguku, dan aku bisa memberikan perlindungan penuh pada keluargamu. Kau akan punya segalanya. Rumah, biaya pengobatan Dita sampai sembuh, dan masa depan Dika yang terjamin."

Dinda menatap Alan dengan pandangan kosong. "Jadi, saya harus berpura-pura mencintai Tuan di depan dunia? Menjadi tameng Tuan dari perjodohan itu?"

"Anggap saja ini bagian dari pekerjaanmu sebagai sekretaris pribadi. Tapi dengan tunjangan yang tidak terbatas," jawab Alan, kembali ke mode pebisnisnya yang dingin meskipun hatinya bergejolak.

Dinda memejamkan mata. Ia memikirkan biaya kemoterapi yang akan datang, biaya transplantasi sumsum tulang belakang yang kemungkinan besar akan dilakukan di Singapura seperti janji Alan. Ia memikirkan Dika yang harus kuliah dan punya masa depan cerah.

"Satu syarat," ucap Dinda pelan.

"Sebutkan."

"Jangan pernah sentuh saya lagi seperti semalam. Jangan pernah paksa saya melakukan hal-hal menjijikkan itu. Di depan orang lain, saya akan menjadi calon istri Tuan yang sempurna. Tapi di balik pintu, kita adalah orang asing. Jika Tuan melanggarnya sekali saja, saya akan pergi, meskipun itu berarti Dita harus berhenti berobat."

Alan terdiam cukup lama. Keinginannya untuk memiliki Dinda secara utuh sangat besar, namun melihat luka yang begitu dalam di mata wanita itu, ia sadar ia harus bersabar.

"Baik. Aku setuju," sahut Alan. "Mulai besok, kau akan pindah ke rumah utama bersamaku. Aku akan bilang pada Dika bahwa ini adalah bagian dari fasilitas kantor agar kau bisa bekerja lebih dekat denganku sambil mengawasi Dita."

**

Dinda kembali ke depan ruang ICU. Ia melihat Dika yang terbangun karena suara langkah kakinya. Dika berdiri, menatap kakaknya dengan penuh selidik.

"Kak, orang itu... dia masih di sini?"

Dinda mengangguk pelan. "Dika, ada yang harus Kakak bicarakan. Tuan Alan... dia menawarkan Kakak posisi yang lebih tinggi di perusahaannya. Tapi Kakak harus tinggal di mess yang disediakan kantor agar bisa mendampingi dia setiap saat karena proyek ini sangat rahasia. Gaji Kakak akan cukup untuk semua kebutuhan kita."

Dika mengerutkan kening. "Lagi-lagi 'proyek rahasia'. Kenapa semuanya terasa seperti kebetulan yang terlalu manis, Kak?"

Dinda memegang tangan adiknya, mencoba memberikan keyakinan yang sebenarnya palsu. "Ini kesempatan kita, Dik. Dita bisa sembuh. Kamu bisa fokus sekolah. Kakak janji akan sering pulang menengok kalian."

Dika menatap mata kakaknya lama sekali. Ia merasakan ada sesuatu yang hilang dari binar mata Dinda. Ada kesedihan yang coba ditutupi dengan lapisan ketegaran.

"Kalau Kakak merasa tertekan, bilang padaku," ucap Dika pelan, suaranya kini melunak. "Aku nggak butuh hidup mewah kalau itu harus bikin Kakak menderita. Aku lebih baik kerja di pasar seumur hidup daripada lihat Kakak sedih."

Dinda langsung memeluk Dika, menyembunyikan tangisnya di bahu adiknya. "Kakak nggak apa-apa, Dik. Kakak cuma bahagia karena Dita akhirnya bisa diobati."

Di kejauhan, Alan berdiri memperhatikan mereka. Ia telah berhasil mendapatkan Dinda secara fisik dan dalam sebuah ikatan perjanjian, namun ia sadar, ia telah menciptakan jurang yang sangat dalam di antara mereka. Ia telah memberikan segalanya yang uang bisa beli, namun ia telah merampas hal yang paling berharga bagi Dinda: kebebasan dan kejujuran pada keluarganya sendiri.

***

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!