Rania keras kepala memilih balikan dengan mantannya, Adrian, meskipun sahabat-sahabatnya sudah memperingatkan bahwa pria itu tidak baik. ia terlalu percaya pada perasaannya sendiri, sampai akhirnya menyadari bahwa Adrian hanya memanfaatkannya. Di saat Rania mulai bangkit dari luka itu, seseorang yang tak terduga justru datang mendekat—Revano, pria dingin yang perlahan mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon mantu Mami
"Rania."
Rania menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. Ia melihat para sahabatnya datang menghampiri.
"Nih, air mineralnya, Ran," ucap Bintang sambil menyerahkan sebotol air mineral kepada Rania.
"Thanks ya, Bin."
Bintang mengangguk, lalu duduk di salah satu bangku taman yang masih kosong. Begitu juga dengan yang lainnya, mereka ikut duduk mengelilingi Rania.
"Gue tadi lihat lo barengan dengan Revano," ucap Bunga sambil menatap Rania penuh penasaran.
Rania mengangguk membenarkan ucapan Bunga. "Iya, tapi lo jangan salah paham—."
"Gue gak salah paham kok, Ran," potong Bunga cepat. "Gue cuma kaget aja lo sama Revano datang barengan. Biasanya dia jarang lewat depan."
"Tunggu... Rania bareng Revano?" sahut Bintang kaget.
"Iya," balas Rania santai. "Oh iya, dia juga follow Instagram gue."
"Apa!" Bunga dan Bintang langsung terkejut secara bersamaan.
“Lebay banget sih kalian,” ucap Freya.
Namun Bunga dan Bintang sama sekali tidak mempedulikan komentar Freya.
“Serius, Ran?” tanya Bintang, masih ingin memastikan.
“Iya. Ngapain gue bohong? Emang kenapa sih, lebay banget kalian,” ucap Rania heran.
“Lo cewek pertama yang dia follow di Instagramnya,” ucap Bunga yang langsung disetujui oleh Bintang.
“Fix, dia suka sama lo, Ran.”
“Ngaco lo,” ucap Rania datar.
Bunga justru semakin semangat. “Serius Ran, selama ini dia cuma follow temen cowoknya doang. Cewek? Nggak ada.”
Bintang mengangguk setuju. “Makanya gue kaget.”
Freya yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara. “Ya kali langsung disimpulin suka.”
“Lah terus kenapa dia follow Rania?” balas Bunga cepat.
Freya mengangkat bahu. “Ya mungkin karena mereka kenal sekarang.”
Rania meminum air mineralnya dengan santai, seolah tidak terlalu peduli dengan pembahasan itu.
“Udah ya, jangan bahas dia terus."
Bunga menyipitkan mata, menatap Rania penuh selidik.
“Ran…”
“Apaan lagi?”
“Jangan-jangan lo juga mulai tertarik sama dia.”
Rania langsung menatap Bunga dengan wajah datar.
“Enggak.”
Jawabannya singkat, tapi cukup membuat Bunga dan Bintang saling pandang dengan senyum jahil.
~~
Malam terasa begitu tenang, menyelimuti suasana di sekeliling. Sayup-sayup terdengar suara jangkrik yang memecah keheningan malam. Sesekali burung malam melintas di langit. Udara terasa dingin namun menyegarkan.
Langit malam tampak cerah, dihiasi bintang-bintang yang bertebaran. Cahaya mereka seakan menemani sang raja malam yang bersinar terang, menebarkan kilauan lembut di angkasa.
Malam ini terasa damai.
Beberapa jiwa yang kelelahan telah terlelap dalam tidur malam mereka. Sementara itu, Rania duduk sendiri di bangku taman, ditemani ponsel di genggamannya.
“Rania.”
Rania mendongak ketika seseorang menepuk bahunya.
Revano.
Ia berdiri di belakang Rania dengan wajah datarnya seperti biasa.
“Gue boleh duduk di sini?” tanyanya.
Rania terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan dan sedikit menggeser tubuhnya, memberi ruang untuk Revano.
“Ngapain lo di sini sendirian?” tanya Revano setelah duduk di sampingnya.
“Cuma pengen aja,” balas Rania santai. “Ngapain lo di sini?”
“Gue habis anterin teman nyokap,” jawab Revano sambil menatap Rania.
Rania mengangguk kecil. “Oh.”
Beberapa detik mereka terdiam. Hanya suara jangkrik yang terdengar di sekitar taman.
Revano melirik ponsel yang masih berada di tangan Rania.
“Lo lagi main apa?” tanyanya datar.
Rania menoleh sekilas. “Game.”
Revano memperhatikan layar ponsel itu beberapa detik.
“Lo suka game itu?”
Rania mengangguk. “Lumayan buat ngisi waktu.”
Revano mengangguk pelan, lalu menyandarkan punggungnya pada bangku taman.
Angin malam kembali berhembus pelan.
“Biasanya lo begadang?” tanya Revano lagi.
“Kadang.”
Revano menatap langit yang dipenuhi bintang.
“Sama,” gumamnya singkat.
Rania meliriknya sekilas, lalu kembali fokus pada ponselnya. Namun entah kenapa, suasana malam itu terasa lebih berbeda dari biasanya.
Revano kemudian merogoh saku jaketnya.
Ia mengeluarkan sesuatu, lalu menyodorkannya pada Rania.
Sebuah cokelat.
Rania menatap cokelat itu sebentar, lalu menoleh pada Revano dengan alis sedikit terangkat. “Buat gue?”
Revano mengangguk singkat. “Ambil aja.”
Rania menerimanya pelan. “Thanks.”
Revano hanya mengangguk kecil, lalu kembali menatap ke depan.
Rania membuka bungkus cokelat itu, menggigit sedikit sambil tetap memegang ponselnya.
“Lumayan,” gumamnya.
Sudut bibir Revano terangkat tipis melihat reaksinya.
Ia tampak hendak mengatakan sesuatu lagi.
Namun tiba-tiba—
Brrt… Brrt…
Ponsel di saku Revano berdering.
Revano mengeluarkannya, menatap layar ponsel itu beberapa detik.
“Sebentar,” ucapnya pada Rania.
Rania hanya mengangguk pelan.
Revano kemudian mengangkat panggilan telepon yang masuk di ponselnya.
“Ada apa, Mih?”
“Kamu di mana, Van? Kok belum balik?” tanya Riyana—Mami Revano.
“Aku mampir di taman, Mih. Dekat rumah teman Mami,” jawab Revano. Sesekali ia melirik Rania yang tampak begitu menikmati cokelat pemberiannya.
“Ngapain kamu di sana? Gak biasanya,” ucap Riyana dengan nada heran.
“Aku lagi samperin calon mantu Mami.”
Uhuk, uhuk!
Rania langsung terbatuk kaget mendengar ucapan Revano.
“Pelan-pelan, Ran,” ucap Revano sambil mengelus punggung Rania.
“Apa? Calon mantu?”
“Doain, Mih.”
Belum sempat Riyana membalas, Revano sudah lebih dulu mematikan sambungan teleponnya. Hal itu langsung membuat Riyana kesal.
Sementara itu, di seberang sana, Riyana menatap ponselnya dengan ekspresi jengkel.
“Anak itu, suka banget buat orang kesal,” ucapnya.
Namun beberapa detik kemudian, wajahnya berubah menjadi antusias.
“Tapi tunggu… Revano bilang calon mantu. Akhirnya putraku itu suka cewek,” ucapnya dengan penuh semangat.
Rania langsung menatap Revano dengan tajam begitu telepon itu dimatikan.
“Lo barusan ngomong apa?” tanyanya datar, meski terdengar nada kesal yang ia tahan.
Revano menyimpan ponselnya kembali ke saku jaketnya. Wajahnya tetap setenang biasanya, seolah tidak merasa bersalah sedikit pun.
“Ngomong apa?” balasnya santai.
Rania tidak menjawab. Ia hanya mendesah pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Revano menatap Rania yang masih memasang wajah kesal sambil menggigit cokelat itu.
Senyum tipis masih bertahan di sudut bibirnya.
“Udah malam,” ucapnya akhirnya.
Rania melirik sekilas. “Terus?”
Revano berdiri dari bangku taman, merapikan sedikit jaketnya.
“Gue balik dulu.”
Rania tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk kecil sambil tetap memegang cokelat di tangannya.
Revano menatapnya beberapa detik, lalu berkata singkat, “Jangan terlalu malam di luar.”
“Gue tau,” balas Rania datar.
Revano mengangguk pelan.
Revano berjalan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari taman. Ia membuka pintu lalu masuk ke dalam.
Namun sebelum menyalakan mesin mobil, pandangannya kembali tertuju pada Rania.
Dari dalam mobil, Revano masih bisa melihat gadis itu duduk di bangku taman, sesekali menggigit cokelat yang tadi ia berikan.
Sudut bibir Revano terangkat tipis.
Entah kenapa, pemandangan sederhana itu terasa menyenangkan.