Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.
Semua terasa nyata. Terasa spesial.
Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.
Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.
Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Album Kenangan
Pagi itu aku bangun dengan kepala terasa berat.
Sisa malam yang tidak benar-benar selesai masih menempel di pikiranku.
Aku duduk di tepi ranjang, menatap jendela sebentar.
Cahaya pagi sudah masuk, tapi rasanya tidak cukup untuk menghilangkan gelisah yang tertinggal.
Aku menarik napas pelan.
Mencoba menenangkan diri, meski tidak benar-benar berhasil.
—
Setelah itu aku mandi.
Air dingin menyentuh kulit, sedikit membantu meredakan rasa gerah yang tidak hanya datang dari tubuh, tapi juga dari pikiran.
Selesai mandi dan berpakaian, aku keluar kamar.
Rumah terasa sepi.
Lebih sepi dari biasanya.
Entah memang begitu… atau hanya karena aku yang sedang tidak ingin mendengar apa pun.
—
Di meja makan sudah ada sepiring sarapan.
“Eh, Dek Rendra sudah bangun?” sapa Bi May dari arah dapur. Logat Sundanya selalu terasa hangat. “Maaf ya, sarapannya sudah dingin. Bibi siapkan dari pagi sekali.”
“Enggak apa-apa, Bi,” jawabku pelan.
Aku duduk.
Mulai makan.
Tapi tidak benar-benar menikmati.
Setiap suapan terasa sekadar lewat.
—
Pikiranku malah melayang ke sesuatu yang tiba-tiba membuatku penasaran.
Album foto keluarga.
Pikiran itu muncul begitu saja.
Tanpa alasan yang jelas.
Atau mungkin… karena aku memang sedang mencari sesuatu.
—
Aku berdiri dari meja makan.
Berjalan ke ruang tengah.
Di dinding ada foto besar Ayah, Ibu, dan Kak Marisa.
Aku memperhatikan wajah mereka satu per satu.
Mencoba mencari sesuatu yang bisa menghubungkanku dengan mereka.
Kemiripan.
Atau tanda apa pun.
—
Mungkin fotoku ada di album, pikirku.
—
Aku masuk ke ruang keluarga lama yang jarang dipakai.
Udara di dalamnya terasa berbeda.
Lebih dingin.
Lebih diam.
Di sudut ruangan ada lemari kayu tua.
Aku membuka pintunya.
Beberapa album foto tebal tersusun rapi di dalamnya.
—
Aku mulai membuka satu per satu.
Album pertama berisi foto pernikahan Ayah dan Ibu.
Banyak wajah keluarga dari kampung.
Beberapa terlihat asing.
Beberapa terasa… seharusnya aku kenal.
—
Album berikutnya berisi masa kecil Kak Marisa.
Ulang tahunnya.
Liburan keluarga.
Sampai saat dia memakai seragam SD.
Halaman demi halaman terisi rapi.
Penuh cerita.
—
Aku terus membalik halaman.
Semakin cepat.
Semakin berharap menemukan sesuatu.
—
Namun semakin lama, dadaku terasa tidak enak.
Kosong.
—
Tidak ada satu pun foto diriku.
—
Seolah-olah aku tidak pernah ada di keluarga ini.
—
“Apa aku memang bukan bagian dari mereka?”
Pikiran itu muncul begitu saja.
Tidak diminta.
Tidak diinginkan.
Tapi tetap ada.
—
Jika aku memang anak mereka…
kenapa Ayah selalu bersikap dingin?
Apa kehadiranku hanya dianggap beban?
—
Aku membawa album itu ke dapur.
Bi May sedang mencuci piring.
“Bi… boleh bicara sebentar?”
Bi May menoleh lalu mengelap tangannya.
“Iya, Dek. Mau bicara apa?”
“Bibi sudah lama kerja di sini, kan?”
“Wah, sudah lama sekali, Dek. Sejak Kak Marisa umur empat tahun, Bibi sudah kerja di sini.”
Aku menarik napas.
Sedikit ragu.
Tapi tetap bertanya.
“Bi… sejujurnya… menurut Bibi… aku ini benar anak kandung Ayah dan Ibu, kan?”
Gerakan tangan Bi May langsung berhenti.
Ia menatapku beberapa saat.
Seperti menimbang sesuatu.
“Ya anak kandunglah, Dek,” jawabnya setelah jeda. “Bibi tahu waktu kamu lahir. Bibi juga yang sering mengasuh kamu kalau Ibu sedang sibuk.”
Aku membuka album di atas meja.
“Tapi kenapa tidak ada fotoku di sini, Bi? Satu pun tidak ada!”
Bi May terdiam.
Ia terlihat bingung.
Seperti ingin menjawab… tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
—
Namun sebelum ia sempat bicara—
“DARRR!”
“Astaga!”
Aku dan Bi May sama-sama kaget.
Bi May hampir menjatuhkan piringnya.
—
Cila berdiri di belakang kami dengan senyum lebar.
“Lagi bahas apa sih? Serius amat kayak rapat negara!” godanya.
Suasana yang tadi berat—
tiba-tiba terpotong.
—
Aku yang sedang tidak enak hati langsung kesal.
“Ngapain sih ke sini?” tanyaku ketus.
Senyum Cila langsung hilang.
“Lho? Emang kenapa? Enggak boleh?”
Nada suaranya berubah.
Suasana langsung jadi canggung.
—
“Gitu aja marah. Orang cuma bercanda kok. Ya sudah, aku pulang saja!” katanya kesal.
Melihatnya berbalik, aku langsung merasa bersalah.
Perasaannya berubah terlalu cepat.
Dan aku tahu… itu karena aku.
—
“Eh, eh… jangan pulang dulu. Gitu aja ngambek,” kataku lebih lembut. “Maaf ya. Aku tadi cuma kaget.”
Bi May segera menengahi.
“Sudah-sudah. Dek Cila sudah sarapan?”
“Sudah, Bi,” jawab Cila masih sedikit cemberut.
“Ini ada pisang goreng hangat. Dek suka, kan?”
Bi May menyodorkan piring kecil.
Cila akhirnya duduk dan mulai makan.
Walau sesekali masih melirikku.
—
Saat Cila sibuk makan, Bi May menatapku.
Memberi kode dengan matanya.
Pelan.
Tanpa suara.
—
Aku mengerti.
Aku membawa album itu kembali ke lemari tua.
Menutupnya.
Seperti menutup pertanyaan yang belum selesai.
—
Saat kembali ke dapur, Cila langsung bertanya.
“Emang tadi kamu lagi bahas apa sih sama Bi May?”
“Bukan apa-apa. Enggak penting kok,” jawabku.
“Masa sih? Perasaan tadi kelihatannya serius banget.”
Aku berpikir sebentar.
Mencari jawaban yang paling mudah.
Yang paling aman.
“Tadi Bi May bilang rumah sebelah kanan yang kosong itu ada hantunya.”
“Serius?”
Cila langsung menoleh ke arah dapur.
“Emang iya, Bi?”
Bi May hanya tertawa kecil.
“Hehe… enggak kok, Dek.”
Cila langsung menunjukku.
“Tuh kan! Bohong kamu!”
“Yee… dibilangin. Emang kamu enggak percaya hantu?”
“Percaya sih,” jawabnya ragu.
—
Aku melanjutkan.
Mencoba mengalihkan suasana sepenuhnya.
“Aku punya cerita horor waktu di kampung,” kataku. “Waktu itu ada orang kecelakaan motor. Tabrakan sama mobil. Kepala, tangan, sama kakinya sampai kepisah semua.”
“Hah?! Terus gimana? Orangnya mati dong?” tanya Cila dengan mata membelalak.
“Enggak. Justru dia hidup,” jawabku santai.
Cila mengerutkan kening.
“Lho kok bisa?”
“Ya bisa lah. Tabrakannya juga enggak terlalu parah.”
“Bukan itu maksudku! Kamu bilang tadi tangan sama kakinya kepisah!”
Aku langsung tertawa.
“Justru aneh kalau setelah tabrakan semuanya jadi nyatu! Kan dari awal memang sudah pisah tempatnya!”
Bi May yang mendengar dari dapur ikut tertawa.
“Ih dasar! Itu kan jokes bapak-bapak. Enggak lucu,” kata Cila dengan wajah datar.
“Tapi kamu sempat terkecoh,” kataku sambil tertawa.
—
Suasana yang tadi tegang akhirnya mencair.
Kami terus mengobrol tentang banyak hal.
Topik berpindah dengan mudah.
Tanpa arah.
Tanpa beban.
—
Menjelang siang, langit mulai mendung.
Gerimis turun perlahan.
Suara air jatuh di atap terdengar pelan.
Menenangkan.
—
Perut kami mulai lapar.
Aku punya ide membuat nasi goreng rumahan.
Kami mencoba memasak bersama.
Sambil bercanda.
Sambil saling mengganggu.
—
Hasilnya?
Rasanya aneh.
—
Untung saja Bi May membantu memperbaikinya.
Jadi akhirnya tetap bisa dimakan.
—
Setelah itu kami duduk di teras.
Melihat hujan yang mulai reda.
Udara terasa lebih dingin.
Lebih tenang.
—
Tak lama kemudian rasa kantuk datang.
Pelan.
—
Cila berpamitan pulang.
Aku mengangguk.
Tidak banyak bicara.
—
Sementara aku kembali ke kamar.
Menarik selimut.
Berbaring.
—
Di balik selimut, pikiranku sempat kembali pada album foto itu.
Pertanyaan yang sama masih ada di kepalaku.
Tidak hilang.
Hanya… tertunda.
—
Namun kali ini aku tidak melawannya.
Aku memejamkan mata.
Membiarkan lelah mengambil alih.
Dan mencoba tidur.