NovelToon NovelToon
Kukira Kita Spesial

Kukira Kita Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:224
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha Aprila

Rendra tidak pernah menyangka, kedekatannya dengan Cila dan keluarganya akan membuatnya merasa seperti menemukan tempatnya sendiri.

Semua terasa nyata. Terasa spesial.

Sampai suatu hari, ia melihat sendiri sesuatu yang mengubah semuanya.

Di saat itulah Rendra mulai memahami, bahwa tidak semua perasaan memiliki arti yang sama bagi setiap orang.

Dan dalam hidup, ada hal-hal yang harus dihadapi sendirian—meski itu berarti merelakan sesuatu yang dulu ia anggap bagian dari dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha Aprila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Album Kenangan

Pagi itu aku bangun dengan kepala terasa berat. Semalam aku sulit tidur, dan rasa gelisahnya masih terasa sampai sekarang. Aku duduk di tepi ranjang sambil menatap jendela sebentar, mencoba menenangkan diri.

Setelah itu aku mandi untuk menghilangkan rasa gerah. Selesai mandi dan berpakaian, aku keluar kamar. Rumah terasa sepi, bahkan lebih sepi dari biasanya. Entah memang begitu atau hanya perasaanku saja.

Di meja makan sudah ada sepiring sarapan.

“Eh, Dek Rendra sudah bangun?” sapa Bi May dari arah dapur. Logat Sundanya selalu terasa hangat. “Maaf ya, sarapannya sudah dingin. Bibi siapkan dari pagi sekali.”

“Enggak apa-apa, Bi,” jawabku pelan.

Aku makan tanpa banyak selera. Pikiranku malah melayang ke sesuatu yang tiba-tiba membuatku penasaran.

Album foto keluarga.

Aku berdiri dari meja makan lalu berjalan ke ruang tengah. Di dinding ada foto besar Ayah, Ibu, dan Kak Marisa. Aku memperhatikan wajah mereka satu per satu, mencoba mencari kemiripan denganku.

Mungkin fotoku ada di album, pikirku.

Aku masuk ke ruang keluarga lama yang jarang dipakai. Di sudut ruangan ada lemari kayu tua. Aku membuka pintunya dan menemukan beberapa album foto tebal di dalamnya.

Aku mulai membuka satu per satu.

Album pertama berisi foto pernikahan Ayah dan Ibu. Banyak wajah keluarga dari kampung.

Album berikutnya berisi masa kecil Kak Marisa. Ulang tahunnya, liburan keluarga, sampai saat dia memakai seragam SD.

Aku terus membalik halaman.

Namun semakin lama, dadaku terasa tidak enak.

Tidak ada satu pun foto diriku.

Seolah-olah aku tidak pernah ada di keluarga ini.

“Apa aku memang bukan bagian dari mereka?”

Pikiran itu muncul begitu saja. Jika aku memang anak mereka, kenapa Ayah selalu bersikap dingin? Apa kehadiranku hanya dianggap beban?

Aku membawa album itu ke dapur. Bi May sedang mencuci piring.

“Bi… boleh bicara sebentar?”

Bi May menoleh lalu mengelap tangannya.

“Iya, Dek. Mau bicara apa?”

“Bibi sudah lama kerja di sini, kan?”

“Wah, sudah lama sekali, Dek. Sejak Kak Marisa umur empat tahun, Bibi sudah kerja di sini.”

Aku menarik napas.

“Bi… sejujurnya… menurut Bibi… aku ini benar anak kandung Ayah dan Ibu, kan?”

Gerakan tangan Bi May langsung berhenti. Ia menatapku beberapa saat.

“Ya anak kandunglah, Dek,” jawabnya setelah jeda. “Bibi tahu waktu kamu lahir. Bibi juga yang sering mengasuh kamu kalau Ibu sedang sibuk.”

Aku membuka album di atas meja.

“Tapi kenapa tidak ada fotoku di sini, Bi? Satu pun tidak ada!”

Bi May terdiam. Ia terlihat bingung, seperti sedang mencari jawaban.

Namun sebelum ia sempat bicara—

“DARRR!”

“Astaga!”

Aku dan Bi May sama-sama kaget. Bi May hampir menjatuhkan piringnya.

Cila berdiri di belakang kami dengan senyum lebar.

“Lagi bahas apa sih? Serius amat kayak rapat negara!” godanya.

Aku yang sedang tidak enak hati langsung kesal.

“Ngapain sih ke sini?” tanyaku ketus.

Senyum Cila langsung hilang.

“Lho? Emang kenapa? Enggak boleh?”

Suasana langsung jadi canggung.

“Gitu aja marah. Orang cuma bercanda kok. Ya sudah, aku pulang saja!” katanya kesal.

Melihatnya berbalik, aku langsung merasa bersalah.

“Eh, eh… jangan pulang dulu. Gitu aja ngambek,” kataku lebih lembut. “Maaf ya. Aku tadi cuma kaget.”

Bi May segera menengahi.

“Sudah-sudah. Dek Cila sudah sarapan?”

“Sudah, Bi,” jawab Cila masih sedikit cemberut.

“Ini ada pisang goreng hangat. Dek suka, kan?”

Bi May menyodorkan piring kecil. Cila akhirnya duduk dan mulai makan, walau sesekali masih melirikku.

Saat Cila sibuk makan, Bi May menatapku dan memberi kode dengan matanya agar aku menyimpan album itu.

Aku mengerti.

Aku membawa album itu kembali ke lemari tua.

Saat kembali ke dapur, Cila langsung bertanya.

“Emang tadi kamu lagi bahas apa sih sama Bi May?”

“Bukan apa-apa. Enggak penting kok,” jawabku.

“Masa sih? Perasaan tadi kelihatannya serius banget.”

Aku berpikir sebentar lalu berkata asal.

“Tadi Bi May bilang rumah sebelah kanan yang kosong itu ada hantunya.”

“Serius?”

Cila langsung menoleh ke arah dapur.

“Emang iya, Bi?”

Bi May hanya tertawa kecil.

“Hehe… enggak kok, Dek.”

Cila langsung menunjukku.

“Tuh kan! Bohong kamu!”

“Yee… dibilangin. Emang kamu enggak percaya hantu?”

“Percaya sih,” jawabnya ragu.

“Aku punya cerita horor waktu di kampung,” kataku. “Waktu itu ada orang kecelakaan motor. Tabrakan sama mobil. Kepala, tangan, sama kakinya sampai kepisah semua.”

“Hah?! Terus gimana? Orangnya mati dong?” tanya Cila dengan mata membelalak.

“Enggak. Justru dia hidup,” jawabku santai.

Cila mengerutkan kening.

“Lho kok bisa?”

“Ya bisa lah. Tabrakannya juga enggak terlalu parah.”

“Bukan itu maksudku! Kamu bilang tadi tangan sama kakinya kepisah!”

Aku langsung tertawa.

“Justru aneh kalau setelah tabrakan semuanya jadi nyatu! Kan dari awal memang sudah pisah tempatnya!”

Bi May yang mendengar dari dapur ikut tertawa.

“Ih dasar! Itu kan jokes bapak-bapak. Enggak lucu,” kata Cila dengan wajah datar.

“Tapi kamu sempat terkecoh,” kataku sambil tertawa.

Suasana yang tadi tegang akhirnya mencair. Kami terus mengobrol tentang banyak hal.

Menjelang siang, langit mulai mendung dan gerimis turun perlahan.

Perut kami mulai lapar.

Aku punya ide membuat nasi goreng rumahan. Kami mencoba memasak bersama sambil bercanda.

Hasilnya? Rasanya aneh.

Untung saja Bi May membantu memperbaikinya, jadi akhirnya tetap bisa dimakan.

Setelah itu kami duduk di teras sambil melihat hujan yang mulai reda.

Tak lama kemudian rasa kantuk datang.

Cila berpamitan pulang, sementara aku kembali ke kamar.

Di balik selimut, pikiranku sempat kembali pada album foto itu.

Pertanyaan yang sama masih ada di kepalaku.

Namun kali ini aku memilih memejamkan mata dan mencoba tidur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!