Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.
"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.
Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.
Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.
Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.
"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.
Gelap.
Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.
"Kevin Pratama... Karina Adelia..."
Senyumnya tajam. Berbahaya.
"Permainan baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 - IDENTITAS BARU, MISI LAMA
HARI KE-15 LATIHAN
Akselia tidak pernah menyangka hampir mati bukan karena Kevin atau Karina.
Tapi karena Pak Dharma.
"Lagi," perintah mentornya dari luar ring. "Kamu terlalu lambat."
Akselia mengelap darah di sudut bibirnya. Di hadapannya, Sari berdiri dengan stance sempurna... tangan terangkat, kaki stabil, mata tajam. Mereka sudah sparring dua puluh menit tanpa henti.
"Aku sudah..." Akselia menarik napas, "...sudah cepat, Pak."
"Cepat menurut kamu, tapi lawan tidak akan kasih kamu waktu istirahat." Pak Dharma mengetuk ring dengan tongkat kayu. "Lagi! Sampai kamu bisa hindari pukulan Sari tanpa mikir."
Sari menyerang... Jab kiri... Akselia tangkis telat, kepalan tangan Sari mengenai rahang. Kepala Akselia terlempar ke samping, tubuhnya oleng.
"Fokus!" teriak Pak Dharma.
Akselia balas... Hook kanan... Sari menghindar dengan mudah, lalu counter dengan uppercut ke perut Akselia.
Udara keluar dari paru-paru. Akselia terjatuh ke kanvas, batuk-batuk.
"Bangkit," kata Sari datar. "Kalau ini pertarungan beneran, kamu sudah mati."
Akselia menatap ke atas, lampu dojo menyilaukan, kepalanya pusing. Tubuhnya sakit di mana-mana, hasil latihan brutal lima belas hari non stop. Otot-ototnya memang mulai terbentuk lagi, tapi refleksnya masih jauh dari dulu.
"Aku... butuh istirahat sebentar..."
"Tidak ada istirahat di ring!" Pak Dharma memukul ring lagi. "Kamu mau balas dendam ke Kevin? Kamu mau tunjukkan kamu bukan perempuan lemah yang dia buang? Lalu BANGKIT!"
Sesuatu di dalam Akselia meletup.
Dia bangkit... Tidak pelan-pelan, tapi cepat... Mata menyala.
"Kamu mau lihat aku serius, Pak? Oke."
Akselia maju tanpa pemanasan. Feint kiri... lalu tendangan tinggi ke kepala Sari. Sari mundur terkejut, tendangan hampir kena, Akselia tidak berhenti. Kombinasi cepat jab-jab-hook-uppercut. Sari bertahan, tapi terdesak ke sudut ring.
"Bagus!" teriak Pak Dharma. "Tapi jangan emosi buta! Kontrol!"
Akselia mencoba kontrol. Tapi amarahnya... amarah yang sudah mengendap dua minggu, amarah pada Kevin, pada Karina, pada dirinya sendiri yang bodoh seketika meledak.
Dia serang lebih keras, lebih cepat, lebih brutal.
Sari mulai kewalahan. Salah satu pukulan Akselia tembus pertahanan, hook keras ke tulang rusuk Sari. Sari meringis.
"Akselia, cukup..."
Tapi Akselia tidak dengar. Dia maju lagi, tendangan rendah ke kaki Sari. Sari kehilangan keseimbangan, jatuh ke satu lutut.
Akselia angkat tangan untuk finishing blow---
"BERHENTI!"
Pak Dharma melompat masuk ke ring, menangkap tangan Akselia sebelum pukulan mendarat.
Genggamannya seperti besi. Akselia tersentak, baru sadar apa yang hampir dia lakukan.
"Lepaskan!" perintah Pak Dharma dingin.
Akselia melepas kepalan tangannya, napas masih memburu, adrenalin masih tinggi.
Sari bangkit perlahan, memegangi rusuk. Wajahnya pucat tapi tatapannya keras. "Kamu kehilangan kontrol."
"Maaf..." Akselia mundur. "Maaf, aku tidak..."
"Maaf tidak cukup!" Pak Dharma menatap Akselia tajam. "Kamu tahu apa yang baru saja terjadi? Kamu kehilangan kontrol, kamu biarkan amarah mengendalikan kamu. Kalau aku tidak hentikan, kamu bisa melukai Sari lebih parah."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi!" Pak Dharma menunjuk keluar ring. "Keluar sekarang!"
Akselia turun dari ring dengan kaki gemetar, bukan karena kelelahan. Tapi karena dia baru sadar, dia hampir menyakiti Sari. Sari yang cuma latihan, bukan musuh.
Pak Dharma turun menyusul. Wajahnya tidak marah, tapi kecewa. Dan entah kenapa, kecewa Pak Dharma terasa lebih menyakitkan daripada amarahnya.
"Duduk," perintahnya.
Akselia duduk di tepi matras, Pak Dharma duduk di sampingnya.
Hening beberapa saat, Cuma suara napas Akselia yang masih berat.
"Kamu tahu kenapa aku berhentikan kamu?" tanya Pak Dharma akhirnya.
"Karena aku kehilangan kontrol."
"Bukan cuma itu." Pak Dharma menatap lurus ke depan. "Karena aku lihat matamu, matamu bukan mata petarung yang mau menang. Tapi mata orang yang mau bunuh."
Akselia tersentak.
"Kamu pikir aku tidak tahu? Dua minggu ini kamu latihan seperti orang kerasukan, bangun subuh, latihan sampai malam. Hampir tidak makan, hampir tidak istirahat. Kamu hantam samsak sampai tangan kamu berdarah, kamu lari sampai muntah. Semua karena apa? Karena kamu mau jadi kuat? Atau karena kamu mau kabur dari rasa sakit?"
Pertanyaan itu menohok tepat di jantung Akselia.
"Aku... aku cuma mau..."
"Mau apa? Balas dendam? Hancurkan Kevin?" Pak Dharma menatapnya. "Akselia, dengar baik-baik. Kekuatan tanpa kontrol itu bukan kekuatan, itu kehancuran. Kamu akan hancurkan orang lain, tapi kamu juga hancurkan dirimu sendiri."
"Aku tidak peduli kalau aku hancur!" Akselia meledak. "Yang penting Kevin dan Karina merasakan sakit yang aku rasakan!"
"Dan setelah itu? Setelah mereka hancur? Kamu pikir kamu akan bahagia?"
Akselia terdiam.
"Kamu tidak akan bahagia, Akselia. Kamu cuma akan kosong, karena amarah itu cuma mengisi lubang sementara. Begitu amarah habis, yang tersisa cuma kehampaan yang lebih besar."
"Lalu aku harus apa?!" Akselia berdiri, suaranya naik. "Diam aja? Terima aja Kevin buang aku seperti sampah? Pura-pura tidak sakit? Pura-pura bayiku yang mati itu tidak penting?!"
Suaranya pecah di akhir kalimat, air mata yang sudah dua minggu Akselia tahan akhirnya jatuh.
Pak Dharma berdiri, menghadap Akselia. "Aku tidak bilang kamu harus diam, aku bilang kamu harus kontrol. Ada bedanya antara balas dendam dengan amarah buta, dan balas dendam dengan kepala dingin."
"Aku tidak bisa kepala dingin, Pak! Setiap kali aku ingat Kevin, ingat Aksana, ingat bayiku..." Akselia menekan dada, "...semua terasa seperti terbakar!"
"Justru itu, makanya kamu harus belajar kontrol api itu. Jangan biarkan api itu bakar kamu, kamu yang kendalikan api itu. Pakai untuk memanaskan dirimu, bukan membakar semuanya."
Akselia menggeleng, air mata masih mengalir. "Aku tidak tahu caranya..."
"Makanya kamu di sini, makanya kamu latihan." Pak Dharma meletakkan tangan di bahu Akselia. Hangat... Kokoh... Seperti jangkar di tengah badai. "Tiga bulan itu bukan cuma untuk latih fisik, tapi untuk latih mental. Untuk belajar bahwa kekuatan sejati bukan datang dari amarah, tapi dari kontrol terhadap amarah."
Akselia menatap mentornya, pria yang sudah seperti ayah baginya sejak dulu. Pria yang tidak pernah menyerah pada Akselia meski Akselia berkali-kali menyerah pada diri sendiri.
"Aku... takut, Pak," bisiknya. "Takut kalau aku berhenti marah, aku tidak punya apa-apa lagi."
"Kamu punya dirimu sendiri, kamu punya kekuatanmu, kamu punya tujuanmu." Pak Dharma menggenggam bahu Akselia lebih erat. "Akselia, kamu bukan cuma amarah. Kamu lebih dari itu, dan aku akan bantu kamu ingat siapa dirimu yang sebenarnya."
Akselia mengangguk pelan, napasnya masih tersendat tapi mulai teratur.
"Sekarang," Pak Dharma melepas genggamannya, "minta maaf ke Sari. Terus istirahat seharian penuh, besok kita mulai lagi. Kali ini kita latih kontrol, bukan cuma kecepatan dan kekuatan."
Akselia berbalik ke Sari yang masih duduk di pojok ring, mengompres rusuknya.
"Sari... maaf, aku..."
"Sudah," potong Sari, tersenyum tipis. "Aku tahu kamu tidak sengaja, lagipula itu pukulan bagus. Rusukku masih terasa sampai sekarang."
Akselia tertawa lemah. "Rusukmu tidak patah kan?"
"Tidak, cuma memar. Aku pernah kena lebih parah." Sari berdiri, meringis sedikit. "Tapi Pak Dharma benar, kamu harus belajar kontrol. Kamu punya kekuatan, sekarang kamu butuh otak untuk pakai kekuatan itu dengan benar."
Akselia mengangguk.
Hari itu, untuk pertama kalinya dalam dua minggu, Akselia benar-benar istirahat.
Dan untuk pertama kalinya, dia mulai mengerti bahwa balas dendam bukan soal seberapa keras pukulan kamu.
Tapi seberapa pintar kamu memilih kapan, di mana, dan bagaimana memukul lawan.
Kevin Pratama dan Karina Adelia belum tahu apa yang menunggu mereka.
Tapi mereka akan tahu.
Cepat atau lambat.
author terbaik.. 😍
ayo karina hancurkan sekalian saja akselia kn bodoh dia biar tamat.
Apalagi sudah bab 19 ya, akan ada perhitungan retensi di bab 20. Tolong dengan sangat ya... sahabat pembaca untuk segera dilanjut bacanya.
Terima kasih.
kok Kevin gak mengenali selia sekarang?