Seorang taruna tingkat akhir Angkatan Laut diperkenalkan oleh ibunya kepada putri sahabat lamanya. Pertemuan yang awalnya sekadar bentuk silaturahmi itu perlahan berubah menjadi kisah yang tak pernah mereka duga—sebuah perjalanan dari perkenalan sederhana hingga tumbuhnya cinta yang tulus. Lareina Shafa Putri, yang akrab disapa Nana, adalah siswi kelas 12 SMA. Ia merupakan anak ketiga sekaligus putri satu-satunya dari tiga bersaudara. Tumbuh di tengah dua kakak laki-laki membuat Nana menjadi pribadi yang mandiri, hangat, dan penuh perhatian. Ia adalah buah hati dari pasangan Ibu Hapsari dan Bapak Widodo, yang selalu mendidiknya dengan kasih sayang dan nilai-nilai keluarga yang kuat. Sementara itu, Izzan Adreano Althaf, atau Izzan, adalah seorang taruna Angkatan Laut tingkat terakhir yang dikenal tegas, bertanggung jawab, dan berwibawa. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dengan seorang adik laki-laki bernama Kaivan Adreano Althaf. Izzan adalah putra dari Ibu Karin dan Bapak Sudirman, yang membesarkannya dengan disiplin dan prinsip hidup yang kokoh. Perbedaan usia empat tahun di antara Nana dan Izzan sempat terasa sebagai jarak yang membatasi. Namun, waktu membuktikan bahwa angka hanyalah hitungan. Kedewasaan Izzan dan keceriaan Nana justru saling melengkapi. Dari perkenalan yang sederhana, tumbuh rasa saling memahami, saling menjaga, hingga akhirnya bersemi cinta yang menguatkan satu sama lain. Bagi mereka, perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, melainkan jembatan untuk belajar menerima, mengerti, dan berjalan berdampingan menuju kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K.Ayura Dane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sore Yang Mengubah Arah
(POV Izzan Bertemu kembali setelah lama tidak berjumpa)
Aku tidak pernah benar-benar percaya pada kebetulan. Sebagai taruna tingkat akhir, hidupku lebih sering diatur oleh jadwal, komando, dan rencana yang jelas. Bangun pukul sekian. Latihan pukul sekian. Istirahat sekian menit. Semua terukur. Semua disiplin.
Tapi sore itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku berjalan tanpa agenda.
Aku baru saja menyelesaikan beberapa keperluan di kota. Seragam kutinggalkan di rumah. Hari itu aku hanya mengenakan kemeja gelap dan celana bahan sederhana. Rasanya aneh melihat diriku sendiri di kaca mobil—lebih seperti mahasiswa biasa daripada calon perwira.
Entah kenapa, kakiku membawaku ke sebuah kafe lama yang dulu sering kukunjungi saat masih SMA. Tempat itu tidak terlalu besar, tapi punya suasana yang nyaman. Dinding bata, lampu gantung kuning, dan aroma kopi yang selalu terasa hangat di dada.
Aku memesan kopi hitam tanpa gula, lalu duduk di sudut dekat jendela.
Awalnya aku hanya ingin menenangkan pikiran. Tapi ternyata sore itu menyimpan sesuatu yang lain.
Pintu kafe terbuka, lonceng kecil di atasnya berbunyi pelan.
Dan seseorang masuk.
Aku mengenali wajah itu bahkan sebelum otakku sempat memprosesnya.
Cintya Putri Amalia.
Adik kelasku waktu SMA.
Dulu ia siswa kelas satu ketika aku kelas tiga. Gadis yang selalu aktif di organisasi sekolah, paling cerewet saat rapat, dan tidak pernah ragu mengajukan pertanyaan.
Aku ingat bagaimana ia dulu berdiri di depan kelas memperkenalkan diri dengan suara lantang. Rambutnya diikat rapi, senyumnya lebar, dan tatapannya penuh percaya diri.
Sekarang, ia berdiri di depan kasir kafe dengan versi yang lebih dewasa dari dirinya dulu.
Rambutnya tergerai setengah diikat, mengenakan blouse biru muda dan celana jeans sederhana. Tidak berlebihan, tapi justru itu yang membuatnya terlihat berbeda.
Cantik.
Aku terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berdiri.
“Cintya?”
Ia menoleh cepat. Matanya membulat, lalu wajahnya berubah cerah.
“Kak Izzan?!”
Nada suaranya masih sama. Penuh energi.
Aku tersenyum tanpa sadar. “Iya. Kamu sendirian?”
“Iya. Lagi nunggu temen, tapi kayaknya dia telat.” Ia menatapku dari atas ke bawah. “Kak… serius ini Kak Izzan? Kok beda banget.”
“Beda gimana?” tanyaku ringan.
“Lebih… dewasa.”
Aku tertawa pelan. “Masa?”
“Serius.”
Kami akhirnya duduk satu meja.
Awalnya pembicaraan kami sederhana. Tentang kuliahnya yang sudah masuk semester tiga jurusan Ilmu Komunikasi. Tentang tugas yang katanya tidak ada habisnya. Tentang dosen yang menurutnya “killer tapi baik hati”.
Aku lebih banyak mendengar.
Entah kenapa, melihatnya bercerita dengan ekspresi hidup seperti itu membuatku lupa waktu.
“Kak sekarang masih se-disiplin dulu?” tanyanya sambil memainkan sedotan minumannya.
“Lebih,” jawabku singkat.
“Wah, serem banget.”
“Kenapa serem?”
“Ya… Kak Izzan dulu kan santai. Sekarang auranya beda.”
Aura.
Aku hampir tertawa mendengar kata itu.
“Mungkin karena hidupku sekarang nggak bisa santai,” jawabku jujur.
Ia mengangguk pelan, seolah mengerti.
Di sela obrolan, aku memperhatikannya lebih detail. Cara ia tertawa tanpa dibuat-buat. Cara ia menatap saat mendengarkan jawabanku. Cara ia menyebut namaku tanpa canggung.
Dulu aku tidak pernah memikirkan Cintya seperti ini.
Ia hanya adik kelas.
Tapi sore itu, ada sesuatu yang berubah dalam cara pandangku.
“Kak,” ia berkata tiba-tiba, “jujur ya… aku dulu sempat kagum sama Kak Izzan.”
Aku terdiam.
“Kagum?” ulangku.
“Iya. Kakak kan ketua organisasi. Paling tenang kalau ada masalah. Aku pikir, wah ini tipe yang jarang panik.”
Aku tersenyum tipis. “Ternyata aku juga panik.”
“Serius?”
“Cuma nggak kelihatan.”
Ia tertawa kecil.
Percakapan itu terasa ringan, tapi ada arus halus yang tidak bisa kuabaikan.
Aku merasa nyaman.
Bukan karena nostalgia. Bukan hanya karena kenangan masa sekolah.
Tapi karena aku menikmati berbicara dengannya sekarang—dengan versi dirinya yang sudah tumbuh.
“Kalau Kakak lagi di kota, sering ke sini?” tanyanya.
“Nggak juga. Baru kali ini lagi.”
“Berarti aku beruntung dong ketemu.”
Kalimat itu diucapkan santai, tapi entah kenapa membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
Aku menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
“Cintya,” panggilku pelan.
“Iya?”
“Kamu berubah.”
“Berubah jelek?”
“Berubah jadi… lebih dewasa.”
Ia tersenyum, kali ini tidak selebar tadi. Lebih lembut.
“Semua orang pasti berubah, Kak.”
Mungkin benar.
Dan mungkin aku juga sedang berubah saat itu.
Temannya akhirnya mengirim pesan bahwa ia sudah hampir sampai.
Kami berdiri bersamaan.
Di depan pintu kafe, sebelum ia melangkah keluar, ia menoleh lagi.
“Kak… nanti kalau lagi nggak sibuk, kabarin ya.”
“Aku kabarin.”
“Janji?”
Aku menatapnya, lalu mengangguk. “Janji.”
Ia tersenyum puas, lalu melangkah ke mobil yang menjemputnya.
Aku berdiri beberapa detik setelah mobil itu pergi.
Ada rasa yang tertinggal.
Bukan ledakan perasaan yang dramatis.
Tapi sesuatu yang pelan, hangat, dan membuatku ingin mengenalnya lebih jauh.
Di perjalanan pulang, ponselku bergetar.
Pesan darinya.
“Makasih ya tadi. Seneng banget bisa ketemu lagi.”
Aku tersenyum.
“Sama-sama. Hati-hati.”
Balasan datang cepat.
“Kak Izzan sekarang lebih kalem ya.”
Aku mengetik perlahan.
“Mungkin karena lagi mikirin masa depan.”
Beberapa detik hening.
Lalu ia membalas.
“Kalau masa depan itu… ada ruang buat orang baru nggak?”
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Untuk pertama kalinya, aku merasa pintu kemungkinan benar-benar terbuka.
Dan tanpa aku sadari, sore sederhana di sebuah kafe itu menjadi awal dari niat kecil di dalam hatiku—
untuk mendekatinya.
kadang hijabnya kadang rambutnya trs yang bener hijab apa rambut jadi bingung kadang