NovelToon NovelToon
OWNED BY AZEUS

OWNED BY AZEUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / CEO
Popularitas:847
Nilai: 5
Nama Author: Andara Wulan

"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."

Karya ini berisi Novel dalam Novel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesona Aluna

Azeus melangkah masuk ke kamar tamu yang sekarang sudah resmi jadi kamar Nana. Kamar itu luas, wangi aromaterapi, dan punya balkon pribadi. Azeus melihat Nana yang masih berdiri kaku di dekat tempat tidur, kelihatan bingung mau ngapain.

"Sini, Na. Aku nyalain AC-nya dulu ya biar nggak gerah," ucap Azeus santai.

Dia meraih remote di dinding dan menekan tombolnya. Saat Azeus mengangkat tangannya, kaos hitam yang dia pakai sedikit terangkat, memperlihatkan jam tangan keren dan urat-urat tangannya yang tegas. Nana terdiam.

Tanpa sadar, matanya menjelajahi sosok di depannya. Dari rambutnya yang sedikit berantakan ala badboy, bahunya yang lebar, sampai kakinya yang sekarang sudah tegak sempurna tanpa kruk.

Ganteng banget... batin Nana polos.

Azeus selesai dengan urusan AC dan hendak menoleh. Menyadari itu, Nana panik. Dia langsung buang muka ke arah jendela, jantungnya berdegup kencang karena takut ketahuan lagi merhatiin Azeus.

"Eh, kamar ini... bagus banget Kak," gumam Nana sambil mencoba melangkah menjauh buat pura-pura melihat hiasan di sudut kamar.

Tapi malang, Nana masih pakai sepatu kets lamanya dari panti asuhan yang talinya sudah menjuntai lepas.

SRET!

"Aaah!" Nana memekik saat kakinya menginjak tali sepatu itu sendiri. Tubuhnya limbung ke depan.

Dalam kepanikan, tangan Nana terjulur dan menarik kencang lengan jaket Azeus. Azeus yang nggak siap langsung ikut tertarik.

BRUAKK!

Mereka berdua jatuh berdebam di lantai. Refleks Azeus luar biasa cepat; sedetik sebelum kepala Nana menghantam lantai marmer yang keras, Azeus menyelipkan telapak tangannya di bawah kepala gadis itu.

Posisi mereka sangat dekat. Azeus berada tepat di atas Nana, menumpu badannya dengan satu tangan lain agar tidak menindih Nana sepenuhnya. Napas mereka memburu, terasa hangat di wajah satu sama lain. Hening seketika. Mata cokelat Nana bertemu langsung dengan mata tajam Azeus yang kini terlihat penuh kekhawatiran.

"Nana... kamu nggak apa-apa?" suara Azeus rendah, terdengar lebih dalam dari biasanya.

Nana nggak bisa jawab. Dia cuma bisa mengerjap, terpaku melihat wajah Azeus dari jarak sedekat ini. Jantungnya berasa lagi balapan liar di dalam dada.

"Kepala kamu... nggak kena lantai kan?" tanya Azeus lagi, memastikan tangannya sudah melindungi Nana dengan benar.

"Nggak... nggak apa-apa, Kak," bisik Nana terbata-bata.

Azeus menghela napas lega, tapi dia nggak langsung bangun. Dia menatap Nana lebih lama, seolah baru sadar kalau gadis di bawahnya ini punya mata yang sangat indah. Sadar suasananya makin aneh, Azeus perlahan bangkit dan menarik tangan Nana untuk membantunya berdiri.

"Lain kali hati-hati, Na. Sepatu rusak begini jangan dipake lagi, nanti aku beliin yang baru," ucap Azeus sambil berusaha menetralkan rasa salting-nya sendiri dengan gaya sok keren, padahal telinganya sudah merah padam.

Nana cuma bisa nunduk dalam-dalam, sibuk mengusap tengkuknya yang terasa panas, bener-bener nggak berani natap mata Azeus lagi

Setelah mengantar Nana ke kamar dan memastikan gadis itu istirahat, Azeus turun ke ruang tengah. Raka, Dion, dan Gathan sudah duduk melingkar di sofa mewah, menanti laporan sang ketua.

"Gimana, Ze? Aman?" tanya Raka sambil nyengir narsis.

"Gue denger ada suara benda jatuh tadi di atas. Lo nggak nerkam anak orang, kan?"

"Sembarangan lo! Nana kepeleset tali sepatu, gue jagain biar kepalanya nggak kena lantai," jawab Azeus bangga sambil benerin kerah kaosnya, balik ke mode badboy keren.

 "Dia lembut banget, Bro. Gak tega gue pake bahasa kasar ke dia."

 "Aluna Izlia... anak SMA Trihasta. Gue baru inget, itu kan sekolah deket tikungan maut tempat kita balapan. Kasihan juga ya, dia harusnya lulus tahun ini bareng adek-adek kelas kita."

"Masalahnya, Ze," Dion menimpali dengan nada serius

"dia ketinggalan setahun di Trihasta. Itu sekolah saklek bener soal absen. Gimana caranya dia bisa dapet ijazah kalau komanya aja setahun? Apa harus ngulang kelas 3 dari nol?"

Tiba-tiba, langkah kaki berat terdengar dari arah pintu depan. Ayah Azeus masuk dengan wajah lelah tapi tetap berwibawa. Seketika, Raka yang tadi lagi selonjoran langsung duduk tegak kayak lagi ikut simulasi sidang skripsi. Dion bahkan hampir tersedak martabaknya.

"Sore, Om!" sapa mereka serempak, suaranya naik dua oktav karena tegang.

Ayah Azeus mengangguk tipis, meletakkan tas kerjanya di meja. "Papa dengar kalian lagi bahas sekolah Nana?"

Azeus berdeham, mencoba terlihat bijak di depan Papanya.

"Iya, Pah. Aku nggak mau Nana sekolah bareng anak-anak kecil yang baru masuk kelas 3. Kasihan dia kalau harus ngulang setahun penuh, padahal dia pinter."

Ayah Azeus menyandarkan punggungnya ke kursi tunggal.

"Papa sudah urus itu tadi siang. Papa sudah telepon yayasan Trihasta. Nana nggak perlu masuk kelas reguler lagi. Papa bakal panggil guru privat ke sini buat kejar materi setahun dalam tiga bulan. Nanti dia ikut ujian susulan khusus. Ijazahnya tetap asli Trihasta, tapi prosesnya dipercepat."

"Wuidih! Power of Bapaknya Azeus emang nggak ada lawan!" celetuk Raka keceplosan, bikin Dion langsung nyikut perutnya keras-keras. "Eh, maksud saya... Om emang paling solutif, Om!"

Setelah Ayah Azeus naik ke lantai atas untuk istirahat, suasana di ruang tengah kembali pecah. Raka dan Dion langsung heboh ngebahas betapa "saktinya" Papa Azeus yang bisa ngatur urusan ijazah SMA Trihasta semudah membalikkan telapak tangan.

"Gila, Ze! Ijazah Trihasta itu harganya mahal banget gengsinya, dan Nana dapet jalur khusus. Emang bener-bener anak emas Papa lo sekarang," celetuk Raka sambil geleng-geleng kepala.

"Gue sih setuju aja," timpal Gathan kalem.

"Yang penting Nana nggak perlu ngulang setahun bareng bocil-bocil SMA lagi. Dia bisa langsung kuliah tahun depan kalau emang beneran dapet ijazah itu."

Azeus nyengir, dadanya membusung sombong.

"Makanya, lo semua jangan macem-macem. Nana itu di bawah perlindungan gue sekarang. Udah ah, Papa tadi nyuruh gue nyampein kabar ijazah ini ke dia. Gue ke atas dulu."

"Ciee! Bilang aja mau modus lagi!" teriak Dion yang langsung dibalas Azeus dengan lemparan bantal

sofa.

^^^

Azeus melangkah ke depan kamar Nana dengan gaya cool-nya. Dia mengetuk pintu kayu jati itu pelan.

"Na? Nana? Ini aku, Azeus. Mau ngomong bentar" panggilnya.

Satu menit... dua menit... nggak ada jawaban. Azeus mengernyit. Dia mengetuk lagi, tapi tetap hening. Karena ini rumahnya dan dia merasa punya "kuasa" penuh, Azeus yang dasarnya memang agak slengean dan nggak sabaran ini langsung memutar gagang pintu tanpa pikir panjang.

"Na? Kamu tidur ya—"

Kalimat Azeus terputus di tenggorokan. Matanya membelalak sempurna.

 Nana membeku di ambang pintu kamar mandi. Tubuh mungilnya terbalut handuk putih, memperlihatkan bahu yang masih basah dan tulang selangka yang nampak rapuh. Rambut hitamnya yang lembap jatuh menjuntai, tetesan airnya membasahi kulit pundaknya.

Azeus mematung. Jantungnya berdentum kencang, jauh lebih keras dari deru mesin motornya di lintasan balap. Namun, alih-alih keluar, sifat nakalnya justru terpancing. Dia melangkah maju, perlahan mendekati Nana.

Nana tidak berteriak. Dia tidak melempar barang atau lari ketakutan. Gadis itu hanya diam dengan wajah datar, matanya yang jernih menatap Azeus tanpa emosi yang meledak. Dia seperti putri malu yang hanya bisa mengatupkan diri, pasrah namun tetap tenang dalam kelembutannya.

Azeus berhenti tepat di depan Nana. Jarak mereka tinggal beberapa sentimeter. Napas Azeus memburu, dadanya naik-turun menahan gejolak yang tiba-tiba membakar jiwa lelakinya. Aroma sabun mandi yang segar bercampur parfum vanilla dari tubuh Nana menyerang indra penciumannya, membuat akal sehat Azeus perlahan mengabur.

Azeus menunduk, wajahnya mendekat ke ceruk leher Nana. Dia bisa merasakan hawa hangat dari kulit gadis itu.

"Kenapa diam aja, Na?" bisik Azeus dengan suara serak yang berat.

 "Nggak takut aku ada di sini? Aku bisa aja lupa kalau kita harusnya jadi kakak-adik."

Nana tetap tidak bergeming. Dia hanya menatap lurus ke arah dada Azeus, tidak membalas tatapan nakal itu, tapi juga tidak menolak. Keheningan Nana justru membuat Azeus merasa tertantang sekaligus merasa sangat bersalah di waktu yang bersamaan.

Tangan Azeus terangkat, ujung jarinya menyentuh helai rambut Nana yang basah dengan sangat hati-hati, seolah gadis di depannya ini adalah porselen mahal yang bisa pecah kapan saja.

"Kamu... beneran nggak punya rasa takut ya?" gumam Azeus lagi, kini suaranya terdengar lebih lembut, mencoba mencari reaksi di wajah polos itu.

Nana tetap diam, hanya embusan napasnya yang teratur yang membuktikan bahwa dia masih ada di sana, tenggelam dalam dominasi Azeus yang kian menyesakkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!