NovelToon NovelToon
Golden Girl, Silver Boy

Golden Girl, Silver Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.

Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.

Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.

Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.

"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."

Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 11 - SATU KALIMAT YANG MERUBAH SEGALANYA

Istirahat makan siang.

Ara tidak menuju kantin.

Kakinya sudah hafal jalannya sekarang, naik tangga gedung B, pintu yang tampilannya seperti gudang, anak tangga yang sedikit berdebu, dan keluar ke bawah langit Eldria yang hari ini sudah sepenuhnya terbuka setelah mendung tipis tadi pagi pergi entah ke mana.

Ia membawa bekal lagi.

Kebiasaan baru yang terbentuk tanpa ia rencanakan, tapi setelah dua hari terakhir ia sudah cukup belajar bahwa kantin adalah tempat dimana hal-hal yang tidak ia siapkan cenderung terjadi dengan frekuensi yang terlalu tinggi.

Atap menyambutnya dengan angin yang lebih hangat dari kemarin dan cahaya matahari yang jatuh miring dari barat ke sisi kanan pagar. Ara berjalan ke tempat yang sama seperti kemarin, sudut yang terlindung dari angin langsung, dan duduk.

Ia membuka bekalnya.

Mulai makan.

Satu suapan, dua suapan, dan Ara sudah bersiap bahwa hari ini mungkin berbeda. Bahwa atap ini mungkin hanya miliknya hari ini. Bahwa kemarin adalah kebetulan dan kebetulan tidak selalu berulang.

Pintu atap terbuka.

Ara menatap ke arah itu.

Gill masuk dengan kantong plastik yang sama, isinya berbunyi seperti lebih banyak jajanan dari kemarin, dan es krim cone yang kali ini rasa matcha kalau warnanya bisa dijadikan petunjuk. Ia memindai atap dengan cara yang sama seperti kemarin, matanya berhenti di tempat yang sama ketika menemukan Ara di sudutnya.

Tidak ada yang berkata apa-apa selama beberapa detik.

Lalu Gill berjalan ke sudutnya sendiri dan duduk.

Kantong plastik diletakkan. Ponsel dikeluarkan. Es krim dipegang di tangan kiri sementara jari tangan kanan mulai bergerak di layar.

Persis seperti kemarin.

Ara menatap bekalnya dan memutuskan bahwa percakapan harus dimulai dari dirinya karena menunggu Gill membuka percakapan adalah strategi yang sudah terbukti tidak efektif.

"Tadi kamu masuk ke kelasku," Ara berkata.

"Iya." Gill tidak mengangkat kepala dari ponselnya.

"Tanpa bilang ke aku dulu."

"Iya."

Ara menarik napas pelan, mengumpulkan kesabaran yang sudah mulai ia pelajari cara menggunakannya dengan lebih efisien sejak mengenal Gill. "Kenapa?"

Gill mengunyah ujung cone-nya. "Karena kamu tidak datang ke kelasku."

"Aku belum bilang aku setuju."

"Tapi kamu juga tidak bilang tidak setuju."

Ara membuka mulutnya. Lalu menutupnya. Karena secara teknis itu benar dan membantahnya hanya akan membuang waktu.

"Kamu bisa tanya dulu sebelum tiba-tiba bilang hal seperti itu di depan seluruh kelas," Ara berkata, memilih sudut argumen yang berbeda.

Gill akhirnya mengangkat kepala dari ponselnya. Menatap Ara dengan ekspresi yang tidak membela diri tapi juga tidak menyesal. "Aku tak suka menunda-nunda masalah, selesaikan dengan cepat."

Ara menahan sesuatu di dadanya. "Tapi harusnya aku yang buat keputusan itu."

"Kamu benar." Gill mengangguk sekali, santai. "Tapi hasilnya sama saja. Gosip itu sekarang punya konfirmasi. Via dan Mike sudah tahu. Dan kamu tidak perlu menghabiskan lebih banyak malam menatap langit-langit memikirkan harus mulai dari mana."

Hening.

Ara menatap cowok di depannya dengan perasaan yang campurannya sulit ia urai. Kesal, iya. Tapi di bawah kesal itu ada sesuatu yang lebih jujur, sesuatu yang tidak nyaman untuk diakui bahkan kepada dirinya sendiri.

Bahwa ia lega.

Bahwa keputusan itu sudah dibuat sebelum ia sempat mencari alasan untuk tidak membuatnya.

Dan bahwa cara Gill melakukannya, langsung dan tanpa drama berlebih, terasa seperti cara yang paling Ara tidak bisa lakukan sendiri.

"Kamu tahu dari mana aku menatap langit-langit," Ara berkata akhirnya, bukan pertanyaan.

"Tebakan," Gill menjawab, kembali ke ponselnya.

Ara menatapnya beberapa detik lagi. Lalu membuang pandangan ke bekalnya dan meneruskan makan karena kesal juga tidak bisa mengisi perut.

Mereka makan dalam hening beberapa menit. Bukan hening yang tidak nyaman, lebih seperti hening yang sudah menemukan equilibrium-nya sendiri tanpa perlu dipaksa ke sana.

Lalu Ara berkata, "Aku harus cerita ke Via."

"Tentang apa?"

"Tentang ini." Ara menepuk udara di antara mereka dengan satu gerakan tangan kecil. "Tentang semuanya. Kenapa namamu yang keluar, kenapa aku setuju dengan tawaran ini, kenapa aku tidak memberitahunya dari awal." Ia meletakkan sendoknya. "Via bukan orang yang mudah dibohongi. Dan aku tidak mau berbohong kepada dia lebih dari yang perlu."

Gill diam mendengarkan. Tidak menyela, tidak mengomentari, hanya mendengarkan dengan cara yang menyampaikan bahwa ia hadir meski matanya masih setengah ke layar ponselnya.

Ara melanjutkan, lebih pelan sekarang. "Dia suka Mike dari SMP. Itu bukan perasaan kecil yang bisa diabaikan. Dan aku tahu kalau aku memilih Mike, itu akan menyakiti dia meski dia tidak akan pernah mengatakannya dengan terang-terangan karena itu bukan cara Via bekerja." Ia berhenti sebentar. "Tapi aku juga nggak mau dia ngerasa dikasihani. Itu yang paling dia benci. Jadi aku butuh alasan yang cukup kuat untuk bilang bahwa aku tidak memilih Mike bukan karena mengalah, tapi karena ada orang lain."

Gill mengambil sebungkus keripik dari kantong plastiknya. Membukanya. Memasukkan satu ke mulutnya.

Mengunyah.

Ara menatapnya dengan ekspresi yang berada di perbatasan antara sabar dan tidak sabar. "Kamu mendengarkan?"

"Iya."

"Kamu tidak kelihatan mendengarkan."

"Aku bisa mendengarkan sambil makan keripik."

Ara menghela napas. "Gill."

"Lanjut," ia berkata, menawarkan bungkus keripiknya ke arah Ara seolah itu akan membantu.

Ara menatap tawaran keripik itu sebentar, lalu mengambil satu karena berbicara tentang hal yang berat lebih mudah kalau tangan ada yang dipegang. Ia memasukkannya ke mulut, mengunyah, lalu melanjutkan.

"Masalahnya sekarang, Via sudah tahu kamu yang aku sebut. Dan dia yang sudah lihat kamu kasih susu tadi pagi dan dengar kamu bilang ke Mike soal ini. Dia sedang memproses itu semua sekarang." Ara menelan. "Nanti sepulang sekolah atau mungkin besok, dia akan minta penjelasan penuh. Dan aku harus siap dengan penjelasan itu."

Gill mengangguk satu kali. Pelan.

"Jadi," Ara meneruskan, "aku perlu tahu sejauh apa kamu mau melakukan ini. Seberapa banyak yang bisa aku ceritakan ke dia soal situasi ini. Apakah ada batasan yang perlu aku jaga."

Gill diam beberapa detik.

Angin lewat, menggerakkan ujung rambut Ara dan sedikit menggeser kantong plastik jajanan Gill yang tidak cukup berat untuk bertahan di tempatnya.

"Cerita semua," Gill berkata akhirnya.

Ara berkedip. "Semua?"

"Iya." Ia menatap Ara sebentar dengan ekspresi yang lebih serius dari biasanya, serius yang bukan dramatis tapi padat. "Kalau kamu mau Via benar-benar percaya, jangan pakai cerita setengah. Dia sudah mendekati aku kemarin pagi, itu berarti dia cukup peduli untuk mengecek sendiri. Orang seperti itu tidak akan puas dengan versi yang disunting." Ia kembali ke ponselnya. "Cerita semua. Termasuk bahwa ini dimulai dari nama yang keceplosan dan aku yang menawarkan ini lebih dulu."

Ara menatapnya.

"Kamu tidak keberatan kalau dia tahu itu inisiatifmu?" Ara bertanya.

"Kenapa harus keberatan?"

"Karena itu memperlihatkan bahwa kamu yang mengusulkan, bukan aku yang meminta. Itu bisa terde—"

"Seolah aku yang peduli?" Gill memotong, datar. "Aku tidak keberatan terdengar seperti itu."

Ara terdiam.

Gill masih menatap ponselnya tapi jarinya sudah tidak bergerak sejak beberapa detik yang lalu. "Kamu terlalu sering mengkhawatirkan bagaimana sesuatu terdengar," ia berkata. "Itu yang membuatmu lelah."

Ara tidak langsung menjawab itu.

Karena itu kalimat yang terlalu tepat untuk ditembakkan tanpa peringatan oleh seseorang yang ia kenal baru tiga hari.

"Aku harus melakukan itu." Ara berkata akhirnya, pelan. "Karna seperti itulah cara aku hidup selama ini, dan aku tak bisa membuangnya tiba-tiba.."

"Aku tahu." Gill mengangkat kepalanya dan menatap Ara dengan cara yang berbeda dari biasanya, bukan lebih hangat, tapi lebih dalam, seperti seseorang yang melihat ke bawah permukaan dan tidak berkomentar tentang apa yang mereka lihat di sana karena mereka mengerti mengapa itu ada. "Tapi kamu tidak harus melakukannya di sini."

Di sini.

Dua kata kecil yang maknanya lebih besar dari ukurannya.

Ara menatap atap sekolah ini, langit biru di atasnya, angin yang lewat tanpa permisi, dan cowok yang duduk di sudut dengan kantong jajanan dan ponsel dan cara bicara yang tidak pernah membutuhkan lebih banyak kata dari yang diperlukan.

Tempat ini terasa berbeda dari tempat-tempat lain di sekolah yang sama. Bukan lebih indah, bukan lebih nyaman secara fisik. Tapi di sini tidak ada yang menatap Ara dengan cara tertentu. Tidak ada yang menunggu ia berkata sesuatu yang tepat atau terlihat dengan cara yang sempurna.

Di sini hanya ada Gill yang bermain ponsel sambil makan keripik dan sesekali berkata sesuatu yang terlalu jujur untuk jadi basa-basi.

"Kamu bilang kalau kamu cuma memberi penawaran," Ara berkata, mengingat kembali percakapan di tempat yang sama dua puluh empat jam lalu. "Tapi kamu juga bilang aku yang harus memutuskan."

"Iya."

"Lalu kenapa tadi pagi kamu masuk dan memutuskan sendiri?"

Gill diam sebentar.

Bukan hening yang mencari jawaban. Lebih seperti hening yang sedang menimbang seberapa banyak yang perlu diucapkan.

"Karena kamu sudah memutuskan," ia berkata akhirnya. "Aku bisa lihat itu."

Ara menatapnya. "Dari mana kamu tahu?"

"Kamu datang ke atap lagi," Gill menjawab, sederhana. "Kemarin kamu datang ke sini karena menghindari sesuatu. Hari ini kamu datang ke sini dengan bekal dan tanpa terburu-buru. Itu beda."

Ara tidak berkata apa-apa.

Karena itu benar dan cara Gill membacanya dengan tepat dari hal sekecil itu, dari perbedaan antara melarikan diri dan memilih untuk hadir, membuat sesuatu di dalam dada Ara bergerak dengan cara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Bukan jatuh cinta. Ara tidak cukup gegabah untuk menyebutnya itu.

Tapi sesuatu yang berdekatan dengan rasa ingin tahu yang lebih besar dari sebelumnya. Tentang siapa Gian William sebenarnya, di balik semua kedinginan dan keacuhan dan kalimat-kalimat pendek yang entah bagaimana selalu tepat sasaran.

"Aku mau tanya sesuatu," Ara berkata.

"Tanyakan."

"Kenapa kamu mau repot melakukan ini?" Ara menatapnya langsung, tidak membuang pandangan. "Dan jangan bilang karena namamu sudah masuk ke dalam masalahku. Itu alasan yang benar tapi aku rasa bukan satu-satunya."

Gill menatap balik.

Kali ini lebih lama dari biasanya. Matanya tidak berpaling, tidak mencari pelarian ke ponsel atau ke cakrawala atau ke kantong jajanannya.

Hanya menatap Ara dengan cara yang membuat Ara menahan napasnya tanpa sadar.

"Karena," Gill berkata akhirnya, pelan, "orang yang dicintai semua orang biasanya adalah orang yang paling jarang benar-benar diperhatikan."

Hening.

Angin lewat satu kali lagi, lebih lembut dari sebelumnya.

Ara duduk di sana dengan kalimat itu masih bergema di dalam kepalanya, mencari dindingnya, menemukan sesuatu di sana yang sudah lama tidak disentuh dan sekarang disentuh oleh orang yang paling tidak ia duga akan melakukannya.

Ia tidak menjawab.

Karena tidak ada jawaban yang terasa tepat untuk kalimat seperti itu.

Dan Gill tidak menunggu jawaban. Ia kembali ke ponselnya, mengambil keripik terakhir dari bungkusnya, lalu meremuk bungkus kosong itu dengan satu tangan dan memasukkannya ke kantong plastik.

"Besok bekalmu bawa lebih banyak," ia berkata, nada suaranya sudah kembali ke kualitas netralnya yang biasa, seolah sepuluh detik yang lalu tidak pernah terjadi. "Karna aku mau."

Ara menatapnya.

Lalu menatap kotak bekalnya yang memang sudah hampir kosong.

Lalu, tanpa bisa ia tahan, sesuatu di sudut bibirnya bergerak ke atas.

Bukan senyum Tiara si sempurna. Bukan yang ia latih di depan cermin atau yang ia pasang di lorong sekolah. Tapi yang lebih kecil, lebih tidak rapi, dan justru karena itu terasa lebih nyata dari semua senyum yang sudah pernah ia miliki.

"Iya," ia berkata. "Nanti aku bawa lebih banyak."

Gill tidak menjawab.

Tapi kalau Ara memperhatikan dengan lebih seksama, dan ia memang memperhatikan meski tidak akan mengakuinya, ada sesuatu di sudut mulut Gill yang bergerak sangat sedikit ke arah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Samar.

Hampir tidak ada.

Tapi ada.

1
Varss V
terimakasih
wan auw
Bagus thor novelnya, semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!