Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".
Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.
"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.
Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Ibu Kota dan Anjing Penjaga
Kaki pengawal Sekte Bintang Es itu tinggal sejengkal lagi meremukkan punggung kakek renta yang sedang bersujud memohon ampun di tanah.
"Tolong, Tuan... cucuku belum makan dari kemarin..." rintih kakek itu dengan air mata bercampur debu jalanan.
"Persetan dengan cucumu! Kereta Nona Lin Yue tidak boleh menunggu sedetik pun!" bentak pengawal itu kejam. Dia sengaja menambah tekanan energinya untuk membuat kakek itu muntah darah.
Tapi, tepat sebelum sepatu tebal itu mendarat, sebuah tangan melesat dari kerumunan dan menangkap pergelangan kaki pengawal tersebut.
Bugh!
Benturan keras terdengar. Pengawal itu membelalakkan matanya lebar-lebar. Kaki kanannya tertahan telak di udara. Tangan Zian mencekeram pergelangan kaki pengawal itu dengan postur yang sangat santai, seolah dia hanya sedang memegang sebatang ranting kecil.
"Kau tuli? Kubilang berhenti," ucap Zian datar.
"Siapa kau berani mencampuri urusan Sekte Bintang Es?!" teriak pengawal itu dengan wajah memerah. Dia mencoba menarik kakinya kembali. Dia mengerahkan seluruh energi tingkat Perwira miliknya, tapi kakinya sama sekali tidak bisa bergerak. Tangan pemuda tanpa aura di depannya ini terasa mengunci kakinya seperti jepitan gunung besi.
Zian tidak menjawab. Dia hanya memutar pergelangan tangannya sedikit ke arah luar.
Krak!
Suara tulang yang patah terdengar sangat renyah.
"Aaaarghhh!" Pengawal itu menjerit histeris. Wajahnya langsung pucat pasi. Dia jatuh bergulingan di atas jalan berbatu sambil memegangi kakinya yang kini melipat ke arah yang tidak wajar.
Kerumunan orang di depan gerbang raksasa ibu kota seketika hening. Ratusan pasang mata menatap Zian dengan rasa terkejut.
"Bocah itu... dia tidak punya fluktuasi energi sama sekali! Bagaimana dia bisa mematahkan tulang seorang Perwira?" bisik salah satu pedagang di antrean.
"Dia cari mati! Itu pengawal elit Sekte Bintang Es! Sekte nomor satu di ibu kota!" sahut warga lainnya dengan nada ngeri.
Zian sama sekali tidak mempedulikan bisikan mereka. Dia berjongkok dan membantu kakek tua penjual kayu bakar itu untuk berdiri. Zian menepuk debu di pakaian lusuh si kakek dengan lembut.
"Kakek tidak apa-apa? Bawa gerobak kakek pergi dari sini sekarang. Biar aku yang mengurus jalanan ini," kata Zian sambil tersenyum tenang.
Kakek itu gemetar hebat. Tangannya memegang lengan baju Zian dengan cemas. "T-terima kasih banyak, Anak Muda. Tapi kau dalam bahaya besar. Mereka orang-orang kuat... Tuan muda cepatlah lari sebelum terlambat."
"Tenang saja, Kek. Tubuhku kebetulan sedang gatal, butuh memukul sedikit sampah untuk pemanasan," jawab Zian santai.
Melihat ketenangan Zian, kakek itu akhirnya menunduk hormat berulang kali, lalu buru-buru menarik gerobak kayu bakarnya menjauh dari kerumunan dengan sisa tenaganya.
Sementara itu, pengawal Sekte Bintang Es yang satu lagi langsung mencabut pedang panjangnya. Mata pedang itu memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang. Dia menatap Zian dengan amarah yang meledak-ledak.
"Bocah kampung keparat! Beraninya kau melukai saudaraku di depan gerbang ibu kota! Akan kucincang tubuhmu untuk makanan anjing!"
Pengawal itu melompat tinggi, mengayunkan pedangnya langsung ke arah leher Zian. Udara di sekeliling bilah pedang itu membeku, membentuk kristal-kristal es tajam yang siap merobek kulit.
Zian hanya mendengus meremehkan. Dia bahkan tidak repot-repot menghindar. Dia mengangkat tangan kirinya ke atas, menggunakan punggung tangannya untuk menangkis pedang berlapis sihir es tersebut.
Trang! KRAK!
Bunyi benturan logam keras bergema. Bukannya memotong tangan Zian, pedang baja pusaka itu justru hancur berkeping-keping menjadi belasan potongan besi rongsokan begitu menabrak kulit lengan Zian.
"A-apa?!" Pengawal itu melongo melihat pedang kebanggaannya hancur hanya oleh benturan kulit pemuda tanpa energi.
"Pedang es kalian selalu terasa sangat rapuh," bisik Zian dengan tatapan sedingin jurang maut.
Sebelum pengawal itu sempat mendarat kembali ke tanah, tangan kanan Zian melesat kilat dan langsung mencekik leher pria itu. Zian menahan tubuh pengawal itu menggantung di udara.
"Kau terlalu banyak bicara," kata Zian datar.
Brak!
Zian mengayunkan lengannya ke bawah dan membanting tubuh pengawal itu dengan tenaga murni yang brutal. Jalanan aspal batu tebal itu langsung retak berantakan membentuk kawah kecil. Pengawal itu memuntahkan seteguk darah kental dan langsung pingsan tak sadarkan diri dengan tulang rusuk yang hancur.
Dua pengawal Sekte Bintang Es tumbang dalam waktu kurang dari lima belas detik. Murni hanya menggunakan kekuatan fisik.
Melihat keributan itu, sekelompok Penjaga Gerbang Ibu Kota berseragam zirah perak langsung menerobos kerumunan. Pemimpin mereka, seorang Kapten bertubuh kekar, menghunuskan pedang besarnya ke arah Zian.
"Berani sekali kau buat kekacauan di wilayahku!" bentak sang Kapten dengan suara menggelegar. Dia memancarkan aura angin tingkat Perwira tinggi untuk menekan Zian. "Kau tahu siapa pemilik kereta biru ini?! Kau sudah menyinggung orang yang sangat salah, Bocah Kampung!"
Zian menepuk-nepuk tangannya dengan santai, membersihkan sisa debu. Dia melirik Kapten penjaga itu dari atas ke bawah.
"Anjing penjaga gerbang ibu kota," ejek Zian pelan. "Warga biasa ditindas kalian pura-pura buta. Tapi saat majikan sekte kalian disentuh, kalian langsung menyalak keras."
Wajah Kapten itu berubah merah padam karena malu dan marah di depan ratusan pasang mata.
"Tutup mulut kotor mu!" teriak Kapten itu kalap. "Karena kau tidak punya aura kultivasi, kau pasti cuma beruntung memakai jimat pelindung murahan! Serahkan semua uang, cincin, dan jimat di tubuhmu sebagai denda! Lalu merangkaklah lewat pintu saluran air kotor di pojok sana! Kalau tidak, aku akan menebas kepalamu sekarang juga atas nama hukum ibu kota!"
Zian tertawa kering. Tawa yang sangat pelan namun entah kenapa membuat bulu kuduk semua orang yang mendengarnya berdiri.
"Kau mau memotong kepalaku?" Zian mulai melangkah pelan mendekati Kapten bertubuh kekar itu. "Coba saja maju satu langkah lagi."
"Mati kau, Sampah!" Kapten itu benar-benar tersinggung. Energi pusaran angin hijau berkumpul di kepalan kirinya. Dia maju dan melayangkan pukulan tenaga badai dengan kecepatan penuh ke dada Zian. Pukulan ini sangat terkenal bisa menghancurkan batu karang.
Buum!
Pukulan itu mendarat telak di dada Zian. Angin berpusar kencang meniup pakaian warga di sekitarnya.
Tapi, setelah sisa angin mereda, rahang sang Kapten seakan mau copot.
Zian masih berdiri tegak di posisi yang sama. Dia tidak mundur satu sentimeter pun. Dada pemuda itu sekeras baja abadi. Pukulan badai tadi sama sekali tidak memberikan goresan apa pun di kain bajunya.
Tangan kiri sang Kapten justru bergetar hebat dan mati rasa akibat gaya pantul dari kepadatan Tulang Asura milik Zian.
"Giliran tanganku yang gatal," kata Zian dengan suara sedingin es.
Zian menarik tangan kanannya sedikit ke belakang. Tanpa ada cahaya sihir sedikit pun, otot lengannya mengeras. Dia melayangkan satu tamparan lurus ke pipi Kapten penjaga tersebut. Tamparan itu terlihat sangat biasa, tapi tekanan angin sonik yang dihasilkannya langsung membelah udara.
Plak! BOOM!
Suara tamparan itu meledak seperti sambaran petir jarak dekat.
Tubuh Kapten Penjaga Gerbang yang beratnya mencapai seratus kilogram lebih itu langsung terlempar ke udara dengan kecepatan mengerikan. Dia melayang seperti layang-layang putus, terbang melewati kepala kerumunan warga, lalu menabrak tembok batu raksasa gerbang ibu kota dengan benturan yang sangat keras.
Brak!
Tembok gerbang bersejarah itu retak parah. Kapten itu menempel sesaat di dinding berbatu sebelum akhirnya merosot jatuh ke tanah. Giginya rontok berantakan, separuh wajahnya bengkak parah, dan dia langsung pingsan dengan mulut mengeluarkan busa.
Keheningan mutlak menyelimuti gerbang ibu kota. Ratusan orang menahan napas mereka secara serentak.
Menampar seorang petarung elit tingkat Perwira tinggi sampai terbang menabrak tembok hingga retak? Murni hanya dengan kekuatan tamparan tangan kosong? Manusia monster dari mana pemuda ini?!
Empat penjaga gerbang yang tersisa mematung di tempat. Pedang di tangan mereka bergetar hebat. Mereka saling pandang dengan wajah seputih kertas, tidak berani bernapas terlalu keras apalagi melangkah maju.
"Ada lagi anjing yang mau minta denda padaku?" tanya Zian memecah keheningan yang mencekam itu. Matanya menyapu deretan penjaga gerbang yang ketakutan.
Tidak ada satu pun yang berani menjawab. Mereka semua langsung menundukkan kepala.
Zian mendengus pelan. Dia mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke arah kereta mewah berwarna biru es yang masih berhenti diam di tengah jalan masuk gerbang.
"Hei, orang yang bersembunyi di dalam kereta," panggil Zian dengan nada suara yang sengaja dikeraskan. "Anjing-anjing penjagamu sudah tertidur pulas semua. Kau mau terus bersembunyi di dalam sangkar kayu itu, atau kau mau keluar dan berhadapan denganku langsung?"
Hening sesaat. Tidak ada jawaban dari dalam kereta.
Namun, tiba-tiba suhu udara di seluruh area gerbang ibu kota anjlok drastis. Ratusan warga mulai menggigil kedinginan. Napas mereka berubah menjadi kabut putih tebal. Embun beku mulai merayap cepat di atas jalanan batu, menyebar dari arah roda kereta mewah tersebut.
Krieet...
Pintu kereta biru itu perlahan terbuka dari dalam. Hawa dingin yang luar biasa pekat dan membunuh tumpah keluar bagai air bah dari dalam kabin kereta.
Sesosok kaki jenjang yang dibalut sepatu bot salju putih melangkah turun dengan anggun. Disusul oleh jubah biru sutra panjang yang memancarkan tekanan aura tingkat Jenderal yang sangat menyesakkan dada para penonton.
Seorang wanita muda melangkah keluar dan berdiri tegak di depan kereta. Wajahnya sangat cantik sempurna, tapi tatapannya memancarkan kedinginan abadi, seolah dia sedang memandang tumpukan kotoran di sekitarnya.
Mata wanita itu menyapu tajam para pengawal sekte yang terkapar pingsan, lalu perlahan pandangannya terkunci lurus ke arah Zian.
Melihat wajah itu, Zian menyeringai sangat lebar. Urat-urat di lehernya mulai berdenyut keras menahan antusiasme membunuh yang meledak-ledak.
Orang yang baru saja turun dari kereta itu sama sekali bukan orang asing baginya. Wajah sombong yang pernah menghina keluarganya di ruang tamu itu sangat dia kenal.
"Sudah kuduga," bisik Zian pelan. Tangannya kembali mengepal kuat hingga berbunyi gemeretak nyaring memecah udara dingin. "Lin Yue... kita bertemu jauh lebih cepat dari dugaanku."
Wanita itu memicingkan matanya. Dia menatap pemuda berpakaian kain hitam di depannya dari atas ke bawah. Wajahnya perlahan berubah. Dari kedinginan yang angkuh, berubah menjadi rasa terkejut yang tertahan, lalu seketika berubah lagi menjadi raut wajah jijik yang amat sangat.
"Zian?" Suara Lin Yue mengalun sangat tajam, menusuk telinga seperti pecahan es yang dilempar. "Bagaimana mungkin sampah cacat sepertimu masih hidup dan berani menampakkan wajah di ibu kota?"
Zian tertawa kering, santai tapi mematikan. "Aku datang jauh-jauh ke sini khusus untuk mengabulkan janjimu yang tertunda, Yue-er."
Zian melangkah maju satu langkah. Tekanan fisik murninya membentur keras hawa dingin sihir Lin Yue. Tanah beku di bawah kakinya langsung retak.
"Aku datang ke sini agar kau bisa memotong lidahku secara langsung," ucap Zian menantang dengan senyum iblisnya. "Coba saja kalau kau sanggup melakukannya hari ini."
cuma tinju asal ajaaa