Ia berlutut pelan di depan ibunya.
“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.
Butuh dua detik untuk menyadari.
“Ara?”
Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.
“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”
Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.
“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak
Ara langsung panik setengah jengkal
“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Ia memasukkan kembali ponselnya, menarik napas pelan.
Beberapa hari lagi.
Bukan lagi sekadar rencana di atas kertas.
Bukan lagi daftar panjang yang bisa dicoret satu per satu.
Beberapa hari lagi, satu kalimat akan diucapkan.
Dan hidupnya berubah arah.
“Mas, ini sudah selesai,” kata anak bengkel sambil menyerahkan kunci motor pelanggan.
Danu mengangguk. Ia berdiri, menyerahkan motor pada bapak tadi.
“Sudah beres, Pak. Rantainya tadi agak kendor. Sekarang aman.”
Bapak itu menerima kunci, lalu menepuk bahu Danu pelan.
“Sekali lagi, selamat ya. Semoga lancar sampai hari H.”
“Aamiin,” jawab Danu singkat.
Motor itu pergi meninggalkan bengkel dengan suara mesin yang lebih halus. Danu berdiri sebentar di depan pintu rolling yang setengah terbuka. Matahari sudah naik lebih tinggi.
Hidup tetap berjalan seperti biasa.
Orang datang memperbaiki motor.
Oli tetap harus diganti.
Ia kembali masuk ke dalam bengkel. Suara kompresor mendesis, anak bengkel tertawa kecil membicarakan pertandingan bola semalam. Bau oli bercampur logam panas memenuhi udara, bau yang sudah akrab sejak ia remaja.
“Mas, nanti sore ada yang ambil motor servis” ujar salah satu karyawan.
“Iya jangan lupa dicek lagi” jawab Danu
Ia membungkuk membuka blok mesin, tangannya cekatan memutar kunci pas. Di sela-sela suara logam beradu, pikirannya melayang pada satu pagi yang sudah ditetapkan waktunya.
Akad jam sembilan tepat.
Ia membayangkan duduk bersila. Wali di depannya. Saksi di kanan dan kiri. Beberapa pasang mata menatap penuh harap.
Satu tarikan napas.
Satu ijab.
Satu kabul.
Tidak boleh salah. Tidak boleh terhenti.
Tangannya berhenti sesaat.
“Mas?” panggil anak bengkel, menyadarkannya
“Iya” jawabnya cepat kembali fokus
Ia tidak ingin gugup. Ia tidak ingin pikirannya mengganggu pekerjaannya. Hari ini tetap hari kerja. Motor-motor tetap butuh diperbaiki.
Ia menyeka keringat di pelipis dengan punggung tangan. Matahari makin tinggi, panas mulai terasa meski pintu bengkel hanya terbuka setengah.
Seorang pelanggan lain datang, seorang ibu dengan motor yang sulit distarter.
“Mas, ini kok susah hidup ya?” tanyanya.
Danu tersenyum ramah “Coba saya cek dulu, Bu”
Ia menunduk lagi, membuka bagian mesin dengan hati-hati. Sambil bekerja, ia mendengar ibu itu berbicara pada temannya yang ikut mengantar.
“Mas Danu ini mau nikah lho, minggu ini” bisik sang ibu, tidak pelan-pelan amat.
Temannya tertawa kecil “Oh ya? Wah selamat ya Mas!”
Danu hanya tersenyum, sedikit canggung tapi tidak menghindar.
“Iya doakan lancar ya.Bu”
“Iya, semoga jadi keluarga sakinah” jawab ibu itu tulus.
Kata itu—keluarga—terasa berbeda ketika diucapkan orang lain.
Keluarga.
Bukan lagi tentang dirinya sendiri.
Bukan lagi tentang bengkel dan penghasilan.
Tapi tentang dua orang yang akan berbagi rumah, berbagi lelah, berbagi keputusan.
Motor ibu itu akhirnya menyala dengan halus. Ia menyerahkan kunci, menerima pembayaran, lalu kembali berdiri sendirian beberapa detik setelah pelanggan pergi.
Suasana bengkel kembali pada ritmenya.
Ia mengambil botol minum, meneguk air panjang. Dadanya terasa penuh, tapi bukan karena cemas. Lebih seperti kesadaran yang perlahan matang.
Ia teringat Ara.
Danu tersenyum kecil.
Ia merogoh saku, memastikan ponselnya masih di sana. Tidak ada pesan baru. Tapi ia membuka layar sebentar, hanya untuk melihat nama Ara di kontaknya pada percakapan terakhir.
“Calon istri"
Ia membaca ulang kalimatnya sendiri, lalu mengunci layar lagi.
Siang beranjak sore. Cahaya matahari berubah lebih lembut. Satu per satu motor yang diservis hari itu mulai diambil pemiliknya.
“Mas, besok tetap buka?” tanya salah satu pelanggan.
Danu menggeleng pelan. “Besok buka pak tapi nanti pegawai saya yang menangani dulu”
“Wah, mulai cuti ya?” goda pelanggan itu.
Danu tersenyum “Iya Pak. Mulai fokus yang lain”
Fokus yang lain.
Ia menyukai bagaimana kalimat itu terdengar sederhana, padahal maknanya besar.
Setelah bengkel lebih sepi, ia membantu anak-anak membereskan alat. Kunci pas dikembalikan ke tempatnya. Lap kotor dikumpulkan. Lantai disiram sedikit agar debu dan sisa oli tidak terlalu terlihat.
Rutinitas penutup hari.
Sebelum menurunkan rolling door sepenuhnya, ia berdiri lagi di ambang pintu. Jalan di depan bengkel ramai seperti biasa. Orang berlalu-lalang, tidak tahu bahwa bagi Danu, hari-hari ini terasa berbeda.
Ia tidak merasa seperti tokoh utama dalam peristiwa besar.
Ia hanya merasa seperti laki-laki biasa yang sedang berjalan menuju tanggung jawab baru.
Dan anehnya, ia tidak ingin mundur.
Ia justru ingin cepat sampai.
Rolling door diturunkan perlahan, suara besi bergesek terdengar panjang. Bengkel tertutup. Hari kerja selesai.
Di saku celananya, ponsel kembali bergetar.
Ara: Jangan pulang terlalu malam ya.
Danu membalas cepat.
Danu: Iya. Kamu juga jangan begadang.
Ia menatap layar beberapa detik lebih lama sebelum menyimpannya kembali.
Langit sore mulai berubah warna. Ia menyalakan motor pribadinya, suara mesin menyala halus. Saat ia menarik gas dan melaju pelan meninggalkan bengkel, angin menerpa wajahnya.
Beberapa hari lagi.
Bukan lagi sekadar rencana.
Bukan lagi sekadar hitungan di buku catatan.
Beberapa hari lagi, ia akan duduk di hadapan wali Ara.
Dan ketika kalimat itu selesai diucapkan, hidupnya memang akan berubah arah.
Tapi untuk saat ini, ia tetap Danu yang sama.
Yang bekerja dengan tangan kotor oli.
Yang pulang menjelang magrib.
Yang belajar pelan-pelan memahami arti menjadi suami.
Motor berhenti di depan rumahnya. Ia mematikan mesin, duduk beberapa detik sebelum turun. Hening sejenak menyelimutinya.
Malamnya, ponsel Danu bergetar.
Ara: Mas, sudah pulang?
Danu: Sudah. Kamu lagi apa?
Ara: Lagi di kamar. Rumah ramai banget.
Danu: Capek?
Ara: Lumayan.
Danu: Kenapa belum tidur?
Ara: Kepikiran.
Danu menatap layar beberapa detik sebelum membalas.
Danu: Kepikiran apa?
Ara: Takut ada yang kurang
Danu: Acara kita?
Ara: Bukan cuma acara
Beberapa saat hening di antara dua layar.
Danu: Kamu takut apa?
Ara: Takut nanti aku nggak bisa jadi istri yang baik.
Danu menarik napas pelan sebelum mengetik.
Danu: Kamu ingat waktu dulu kamu takut kita nggak bakal sampai sini?
Ara: Iya.
Beberapa detik berlalu.
Ara: Kamu deg-degan nggak sih?
Danu: Iya.
Ara: Serius?
Danu: Iya. Aku juga takut.
Ara: Takut apa?
Danu: Takut nggak cukup sabar. Takut nggak cukup ngerti kamu.
Ara membaca lama sebelum membalas.
Ara: Jadi kita sama-sama takut?
Danu: Iya.
Ara: Terus?
Danu: Ya sudah. Takutnya bareng.
Ara: Mas.
Danu: Apa?
Ara: Makasih ya.
Danu: Buat apa?
Ara: Buat semuanya
Danu tersenyum kecil.
Ara: Besok kamu ke bengkel lagi?
Danu: Iya. Terakhir sebelum yang handle pegawai paling nanti aku cuti beberapa hari.
Ara: Jangan capek.
Danu: Kamu juga jangan mikir terus.
Ara: Susah.
Danu: Ya sudah. Kalau kepikiran, cerita ke aku.
Ara: Kamu nggak bosan?
Danu: Kalau sama kamu, nggak.
Beberapa saat tak ada balasan.
Danu: Dek?
Ara: Iya?
Danu: Setelah akad nanti…
Ara: Kenapa?
Danu: Aku mungkin masih tetap Danu yang pulang bau oli.
Ara: Aku juga tetap Ara yang cerewet
Danu: Jadi?
Ara: Ya sudah. Kita tetap jadi diri kita. Cuma tanggung jawabnya nambah.
Danu: Siap?
Ara: Siap belajar.
Danu: Aku juga.
Ara: Mas.
Danu: Iya?
Ara: Jangan berubah ya.
Danu terdiam sebentar sebelum menjawab.
Danu: Berubah pasti.
Ara: Maksudku?
Danu: Berubah jadi lebih dewasa, harusnya.
Ara: Jangan berubah jadi jauh.
Danu: Nggak akan.
Ara: Janji?
Danu: Janji.
Ara: Besok jangan lupa makan.
Danu: Iya, Bu.
Ara: Mas!
Danu: Hehe.
Ara: Deg-deganku belum hilang.
Danu: Punyaku juga belum.
Ara: Tapi kamu tetap mau?
Danu: Tetap.
Ara: Kenapa?
Danu: Karena bukan tentang hilangnya deg-degan.
Ara: Terus?
Danu: Tentang tetap memilih, meski deg-degan itu ada.
Ara lama tidak membalas.
Lalu muncul satu pesan singkat.
Ara: Aku juga tetap memilih.
Danu membaca kalimat itu berulang kali.
Danu: Istirahat ya.
Ara: Iya.
Danu: Beberapa hari lagi.
Ara: Iya.
Danu: Satu kalimat.
Ara: Satu hidup.
Danu: Bareng?
Ara: Bareng.
Dan malam itu, tanpa pelukan dan tanpa tatap muka, dua orang yang sama-sama deg-degan itu merasa sedikit lebih tenang—karena ketakutan mereka tidak lagi ditanggung sendiri.