Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Semburat fajar menyelinap masuk melalui celah jendela kabin, namun suasana tenang pagi itu seketika pecah.
Permadi menggeliat, mencoba meraih tubuh istrinya yang berada dalam pelukannya. Namun, bukannya rasa hangat yang ia rasakan, melainkan getaran hebat.
Permadi membuka matanya lebar-lebar. Ia mendapati Rengganis sedang menggigil hebat di bawah selimut.
Wajah yang semalam memerah karena gairah, kini berubah pucat pasi dengan bibir yang membiru.
"Sayang, kamu kenapa?!" tanya Permadi panik.
Ia menyentuh dahi Rengganis dan tersentak; suhu tubuh istrinya sangat panas, kontras dengan tubuhnya yang gemetar karena kedinginan.
Rengganis hanya mengerang pelan, matanya terpejam rapat.
Sepertinya kelelahan setelah dua jam "maraton" semalam, ditambah angin laut yang kencang dan suhu malam yang drop, membuat kondisi fisiknya tumbang.
"Ganis! Bangun, Sayang!" Permadi menepuk-nepuk pipi istrinya, namun Rengganis sudah tidak memberikan respons yang kuat.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Permadi melompat dari tempat tidur.
Ia menyambar celananya dan segera berlari ke ruang kemudi.
Persetan dengan kru yang belum datang; sebagai putra konglomerat, ia sudah terbiasa mengoperasikan jet pribadi maupun kapal pesiar miliknya.
Permadi menyalakan mesin kapal dengan tangan gemetar.
Mesin menderu, dan dengan kecepatan penuh, ia memutar haluan kapal menuju dermaga utama.
Sambil memegang kemudi, ia meraih ponselnya dan menelepon pihak hotel dengan nada bicara yang meledak-ledak.
"Siapkan ambulans di dermaga hotel sekarang juga! Istriku kritis! Cepat! Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan meratakan resort kalian!" teriak Permadi ke arah ponsel.
Di sepanjang perjalanan kembali ke darat, Permadi terus berlari bolak-balik antara ruang kemudi dan kabin untuk mengecek kondisi Rengganis.
Ia menyelimuti istrinya dengan semua kain yang ada, mencoba menyalurkan kehangatan yang kini seolah tak cukup.
"Tahan, Sayang. Kumohon bertahanlah. Sebentar lagi kita sampai," bisik Permadi dengan suara parau, air mata kecemasan mulai menggenang di sudut matanya.
Sultan yang biasanya sombong dan tak takut apa pun itu kini tampak begitu rapuh, ketakutan setengah mati kehilangan wanita yang baru saja menjadi dunianya.
Dermaga hotel berubah menjadi area penuh ketegangan saat kapal pinisi itu merapat dengan kecepatan yang nyaris menabrak pembatas.
Permadi melompat turun bahkan sebelum tali tambat terikat sempurna.
Di sana, sirine ambulans sudah meraung-raung, dan sosok Affan berdiri di garis depan dengan wajah pucat pasi.
"Ganis! Apa yang terjadi?!" teriak Affan panik saat melihat Permadi menggendong tubuh Rengganis yang lunglai dan terbungkus selimut tebal.
"Minggir kamu! Jangan halangi jalanku!" bentak Permadi dengan mata memerah.
Amarahnya memuncak melihat pria itu lagi di tengah situasinya yang kacau.
Petugas medis segera mengambil alih, memindahkan Rengganis ke tandu. Namun, saat ambulans akan berangkat, Affan tanpa ragu ikut melompat masuk ke dalam mobil tersebut.
"Turun kamu! Siapa kamu berani masuk ke sini?!" raung Permadi yang duduk di samping tandu.
"Aku manajer hotel ini dan aku bertanggung jawab atas keselamatan tamuku! Lagipula aku tahu riwayat kesehatannya sejak dulu!" balas Affan tidak peduli.
Ia mengabaikan tatapan membunuh Permadi dan tetap memegang tangan Rengganis yang dingin, membuat suasana di dalam ambulans semakin panas karena emosi dua pria itu.
Sesampainya di UGD rumah sakit terdekat, Rengganis segera dilarikan ke ruang tindakan.
Permadi dan Affan dipaksa menunggu di luar. Permadi mondar-mandir seperti singa yang terluka, sementara Affan duduk dengan wajah tertunduk, mengepalkan tangan.
Setelah hampir satu jam yang menyiksa, seorang dokter pria keluar dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
Ia melihat ke arah Permadi dan Affan secara bergantian.
"Siapa suaminya?" tanya Dokter itu.
"Saya!" Permadi maju dengan cepat.
Dokter tersebut menghela napas panjang dan memberikan isyarat agar Permadi menjauh sedikit dari kerumunan agar bisa bicara lebih privat, namun Affan tetap mengekor di belakang.
Dokter itu akhirnya menjelaskan hasil pemeriksaan dengan nada bicara yang sangat serius.
"Istri Anda mengalami kelelahan ekstrem dan demam tinggi akibat peradangan. Kami menemukan adanya luka lecet yang cukup signifikan pada area intim atau mahkotanya. Itulah yang memicu reaksi menggigil dan infeksi ringan karena daya tahan tubuhnya sedang drop," jelas Dokter itu tanpa basa-basi medis yang rumit.
Wajah Permadi seketika memanas. Rasa malu dan sesal menghantamnya begitu keras.
Ia teringat kejadian semalam—gaya helikopter dan maraton dua jam tanpa henti yang ia paksakan demi memuaskan egonya.
Dokter itu menepuk bahu Permadi dengan tegas. "Saya minta Anda untuk setop dulu. Jangan menyentuhnya secara seksual sampai dia benar-benar pulih dan lukanya mengering. Dia butuh istirahat total, bukan latihan fisik di tempat tidur."
Permadi tertunduk lesu, ia menganggukkan kepalanya dengan lemah.
"Baik, Dok. Saya mengerti. Maafkan saya."
Tiba-tiba, suara sinis memecah keheningan. Affan, yang ternyata mendengar semuanya, berdiri dengan tatapan penuh kebencian ke arah Permadi.
"Kamu gila, ya?" desis Affan tajam. "Kamu kira Ganis itu mesin? Kamu bilang kamu mencintainya, tapi kamu malah menyakitinya hanya untuk memuaskan nafsu bejatmu!"
Permadi hanya diam, tidak mampu membalas karena kali ini, ia tahu bahwa dialah penyebab penderitaan istrinya.
Langkah kaki perawat yang mendorong brankar Rengganis terdengar sunyi di lorong rumah sakit yang dingin.
Rengganis akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan VVIP yang jauh lebih tenang, dengan fasilitas terbaik yang bisa dibeli oleh kekayaan keluarga Wijaya.
Begitu pintu tertutup, menyisakan kesunyian di antara mereka, Permadi segera mendekat.
Ia duduk di kursi kayu di samping ranjang, menatap wajah istrinya yang masih pucat dengan selang infus yang menancap di punggung tangan.
Permadi meraih jemari Rengganis, menggenggamnya dengan sangat hati-hati seolah tangan itu adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja.
Ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di atas tangan Rengganis.
"Ganis, aku minta maaf," bisik Permadi dengan suara yang bergetar hebat.
"Aku egois. Aku terlalu berambisi membuktikan diriku sampai aku lupa kalau aku menyakitimu. Aku benar-benar suami yang buruk."
Rengganis perlahan membuka kelopak matanya. Meski kelopak itu terasa sangat berat dan tubuhnya masih didera rasa nyeri yang luar biasa di bagian bawah sana, ia memaksakan sebuah senyum tipis untuk suaminya.
"M-mas, kamu nggak salah," ucap Rengganis dengan suara parau dan lemah.
Ia mencoba menggerakkan jarinya untuk membalas genggaman Permadi.
"Aku yang kelelahan. Jangan salahkan dirimu sendiri."
Permadi mendongak, matanya yang biasanya tajam dan penuh keangkuhan kini tampak berkaca-kaca.
"Tidak, Sayang. Dokter sudah bicara padaku. Aku yang memaksamu melakukan gaya-gaya itu. Aku yang membuatmu lecet dan demam seperti ini. Aku merasa sangat brengsek karena membuatmu berakhir di rumah sakit di hari kedua bulan madu kita."
Rengganis menghela napas pelan, mencoba menenangkan pria yang tampak sangat hancur karena rasa bersalah itu.
"Mas, aku ini dokter. Aku tahu kapasitas tubuhku. Tapi semalam, aku juga menikmatinya. Hanya saja, mungkin kondisiku memang sedang tidak fit karena kurang tidur sejak di Jakarta."
Permadi menggeleng cepat. Ia mencium punggung tangan Rengganis berkali-kali.
"Mulai sekarang, aku akan mendengarkan kata Dokter. Tidak ada 'olahraga malam' sampai kamu benar-benar pulih total. Aku tidak akan menyentuhmu lebih dari sekadar memeluk dan mencium keningmu. Aku janji."
Rengganis tertawa kecil, meski dadanya terasa sesak.
"Tuan Wijaya yang posesif bisa tahan tidak 'praktik' selama itu?"
"Demi kamu, aku bisa tahan seumur hidup kalau perlu," jawab Permadi serius, meski ia tahu itu mustahil.
Tepat saat suasana mulai mencair, pintu kamar diketuk dengan keras.
Sosok Affan muncul di ambang pintu dengan wajah yang masih dipenuhi amarah, memegang sebuah tas berisi pakaian ganti untuk Rengganis.