NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dewa Kehampaan

Reinkarnasi Dewa Kehampaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.

Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.

Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.

Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.

Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.

Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.

Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.

Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengorbanan Luo Yan

Ye Chenxu tidak memberikan jawaban. Ia meluncur maju seperti anak panah yang lepas dari busur dewa.

Jarum Pembunuh Jiwa melesat dari ujung jarinya, bukan lagi berupa energi tipis, melainkan pasak hitam yang sangat padat. Jarum itu menusuk tepat ke arah alis Algojo Bayangan.

Algojo Bayangan menjerit murka dan langsung melepaskan ledakan Qi Transformasi Roh untuk menghancurkan jarum itu. Namun, sebelum ia tewas atau mundur, sebuah telapak tangan merah milik Algojo Bayangan menghantam dada Ye Chenxu dengan kekuatan penuh.

KRAKK!

Suara tulang yang retak terdengar jelas. Tubuh Ye Chenxu terpental menghantam dinding tebing hingga batu-batu besar runtuh menimbunnya.

Darah membanjiri jubah dan pakaiannya, membuat pandangannya mulai mengabur menjadi kemerahan.

Dunia di sekitar Ye Chenxu perlahan terasa sunyi. Suara pertempuran Luo Yan di kejauhan memudar. Penglihatannya bergetar hebat, dan setiap napas terasa seperti menghirup pecahan kaca.

Di tengah ambang kehancuran itu, sebuah suara yang sudah lama tidak didengar muncul dari kedalaman jiwanya.

"Bangkit, pewaris. Apakah ini batas dari keinginanmu?” Roh Dewa Kehampaan akhirnya berbicara. “Jika kau ingin memutus rantai nasib yang mengikatmu dan ibumu, kau tidak bisa hanya menggunakan kehampaan. Kau harus memaksa kehampaan itu tunduk pada kehendakmu. Menjadi raja di atas ketiadaan.”

Ye Chenxu menggigit lidahnya hingga rasa sakit yang tajam memicu adrenalinnya kembali. Mulutnya penuh dengan darah, namun ia memaksa inti spiritualnya berputar.

Lebih cepat dan lebih padat hingga rasanya ingin meledak.

Rasa sakit yang luar biasa perlahan berubah menjadi kekosongan.

Ye Chenxu tidak lagi merasakan tubuhnya, dia merasa dirinya adalah bagian dari ruang itu sendiri.

Saat Algojo Bayangan melompat ke arah tumpukan batu untuk memberikan serangan terakhir, Ye Chenxu menghilang. Bukan dengan kecepatan, tapi benar-benar lenyap dari dimensi itu.

Untuk pertama kalinya, ia berhasil melangkah ke dalam lapisan kehampaan tipis—mengiris ruang dan waktu. Ia muncul tepat di belakang Algojo Bayangan, seolah-olah baru saja keluar dari balik tirai udara.

Satu telapak tangan yang diselimuti cahaya hitam pekat menembus punggung dan jantung Algojo Bayangan.

Algojo itu membeku. Pedangnya jatuh berdenting. Matanya menatap kosong ke arah depan, tidak mampu memahami bagaimana seorang "tikus" bisa membunuh seekor "singa".

Tubuhnya yang besar runtuh perlahan, jiwanya langsung ditelan oleh energi kehampaan yang menghancurkan setiap selnya.

Saat pertempuran mencapai puncaknya, Luo Yan berhasil menembus barisan penjaga terakhir dengan pedang peraknya. Rantai hitam yang mengikat kereta besi dihancurkan dengan satu tebasan presisi.

Pintu kereta terbuka. Wanita di dalamnya terjatuh berlutut di atas tanah yang dingin.

“Cepat!” teriak Luo Yan sambil menoleh ke arah Ye Chenxu. “Waktu kita sangat singkat. Formasi pengalih perhatian di luar sana tidak akan bertahan lama!”

Ye Chenxu berjalan mendekat dengan langkah yang berat dan goyah. Napasnya terdengar parau, tubuhnya tertutup oleh luka dan darah—baik darahnya sendiri maupun darah musuhnya. Namun matanya, yang biasanya dingin dan tak tersentuh, kini bergetar hebat.

"Ibu ..." suaranya pecah, penuh dengan kerinduan yang telah ia pendam selama ini.

Wanita itu mengangkat wajahnya yang pucat. Matanya yang sayu menatap sosok pemuda di hadapannya. Awalnya ia ragu, namun ada sesuatu dalam sorot mata itu yang tidak akan pernah berubah.

"Xu’er ...?" tangis yang telah tertahan selama ini akhirnya akhirnya meledak.

Mereka berpelukan di tengah lembah yang hancur itu. Di sekelilingnya, Dunia Bawah tetaplah tempat yang kejam dan berdarah. Mayat berserakan, dan bau kematian menyengat hidung.

Namun bagi Ye Chenxu, saat ia merasakan kehangatan pelukan ibunya yang rapuh, waktu seolah-olah berhenti berputar. Semua rasa sakit dan perjuangannya terasa terbayar lunas.

Sayangnya, Dunia Bawah bukanlah tempat untuk akhir yang bahagia secara cuma-cuma. Di kejauhan, ufuk langit bergetar.

Aura menakutkan yang jauh lebih besar dari Algojo Bayangan mulai bangkit dan mendekat dengan kecepatan tinggi.

Tiga ahli Transformasi Roh tingkat puncak sekaligus sedang menuju lokasi mereka. Langit bergetar oleh kemurkaan Paviliun Darah yang baru saja menyadari bahwa "akar" mereka telah diputus.

“Pergi sekarang!” ujar Luo Yan dengan nada tegas yang tak terbantahkan.

Ia berdiri menghadap arah datangnya musuh, pedang peraknya bersinar dengan cahaya yang membutakan. “Bawa ibumu pergi dari jalur rahasia ini. Aku akan menahan mereka.”

Ye Chenxu menatap Luo Yan. Ia tahu apa artinya ini. “Kau akan mati jika melawan mereka sendirian.”

Luo Yan tersenyum samar, sebuah senyuman yang tampak sangat damai di tengah kekacauan.

“Aku sudah terlalu lama hidup dalam kesunyian yang membosankan, Ye Chenxu. Setidaknya hari ini, namaku akan diingat sebagai orang yang mengawali keruntuhan Paviliun Darah.”

Luo Yan mengaktifkan formasi pamungkas yang tertanam di tubuhnya.

Langit di atas lembah mulai retak secara visual. Ledakan cahaya kelabu yang masif menelan seluruh medan tempur, menciptakan dinding energi yang memisahkan Ye Chenxu dari para pengejarnya.

Retakan itu menjalar seperti urat nadi di kaca pecah, membentang dari satu ujung cakrawala ke ujung lainnya, dan mengeluarkan suara gemeretak rendah yang membuat tulang belakang bergetar.

Di tengah kehancuran itu, Ye Chenxu tidak menoleh lagi. Ia menggendong ibunya yang lemah dan berlari menembus jalur rahasia di balik tebing.

Ye Chenxu meninggalkan lautan darah dan pengorbanan di belakangnya, namun juga membawa sebuah janji yang terukir di dalam jiwanya, Paviliun Darah akan runtuh, dan setiap nyawa yang hilang hari ini akan dibayar dengan kehancuran total mereka.

Berjam-jam kemudian, di sebuah gua kecil yang terpencil dan sangat tersembunyi, jauh dari pusat konflik yang sedang membara, Ye Chenxu duduk bersila.

Ibunya tertidur lelap di sampingnya di atas tumpukan jerami kering yang hangat. Napas wanita itu mulai stabil, meskipun wajahnya masih menyimpan bekas penderitaan.

Sementara itu, tubuh Ye Chenxu bergetar hebat. Tekanan dari pertempuran hidup-mati melawan Algojo Bayangan, pemaksaan hukum kehampaan yang belum matang, dan benturan hukum ruang telah menciptakan kekacauan di dalam dirinya.

Retakan-retakan kecil muncul pada inti spiritualnya. Rasa sakitnya seolah-olah jiwanya sedang disobek. Namun, tepat sebelum inti itu runtuh, energi dari Fragmen Hukum Kehampaan mulai bereaksi.

Energi itu mengalir masuk ke dalam retakan, bertindak seperti semen yang memperkuat fondasi.

Inti spiritualnya memadat kembali. Lebih pekat, lebih hitam, dan jauh lebih dalam.

Auranya mulai naik secara perlahan namun pasti.

Tanpa disadari, sekarang dia telah berada di Tingkat Pembentuk Inti tahap puncak.

Ye Chenxu membuka mata. Pupil matanya kini tidak lagi sekadar hitam, melainkan tampak seperti lubang tanpa dasar yang mampu menyerap cahaya di sekelilingnya.

Dunia tampak lebih sunyi, namun setiap detail energi di alam semesta terasa jauh lebih tajam bagi persepsinya.

"Ini baru permulaan ..." bisiknya pada kegelapan gua.

1
Daryus Effendi
bertele tele,kebanyakan penjelasan
𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘽𝙤𝙣𝙜𝙠𝙤𝙠
alurnya terlalu cepat 🤔
Optimus prime
ad cincin ruang kenapa di simpan dlm jubah ..aduh thor2...
iwakali
ga dpt 1000 koin dong
Mommy Dza
Menarik ditunggu kelanjutannya 👍💪
Mommy Dza
Semakin sulit rintangannya💪
Mommy Dza
Kasihan Ibunya Chenxu 😩
Mommy Dza
Bayangan kehampaan yg menanen jiwa dalam diam 💪
Mommy Dza
tekanan adalah tungku terbaik untuk menempa emas sejati ❤️
Mommy Dza
Up 💪
Mommy Dza
Menarik 👍👍💪
Mommy Dza
Semangat up author 👍💪
Mommy Dza
Selamat datang pewaris 💪
Mommy Dza
Semangat author 👍💪
Mommy Dza
Chenxu semakin kuat 👍💪
Semangat
Mommy Dza
Ditunggu up nya 👍
Mommy Dza
Pembantaian dimulai 💪
Habiskan
Mommy Dza
Terus bergerak maju
Ye Chenxu 💪💪
Mommy Dza
Up 👍💪
Mommy Dza
Ceritanya menarik 👍💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!