NovelToon NovelToon
Hidup Kedua Sang Istri Teraniaya

Hidup Kedua Sang Istri Teraniaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Time Travel / Sci-Fi
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

"Kau pikir aku masih wanita lemah yang dulu?"

Dara Alvarino, dokter bedah kelompok mafia paling ditakuti mati ditikam dari belakang oleh sahabatnya sendiri. Saat membuka mata, ia terbangun dalam tubuh Kiara Adisaputra, istri lemah yang sedang hamil tiga bulan, dipukuli suaminya sendiri karena dituduh selingkuh.

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipinya. "Pelacur! Ngaku saja kalau anak itu bukan anakku!"

Arkan Adisaputra, suaminya berdiri dengan mata penuh kebencian. Di belakangnya, Lenna si adik angkat tersenyum tipis, pura-pura cemas. "Kak Arkan, jangan kasar... Kak Kiara kan sedang hamil..."

Dara yang sekarang Kiara menatap tajam. Tubuh ini lemah, tapi jiwanya adalah predator yang pernah membedah tubuh manusia tanpa berkedip.

"Kau mau bukti?" Kiara berdiri, mengusap darah di sudut bibirnya. "Aku akan tunjukkan siapa yang sebenarnya berbohong di rumah ini."

Pembalasan dimulai. Kali ini, ia tidak akan mati sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 - INGATAN DUA KEHIDUPAN

Kiara terbangun dengan tubuh yang terasa seperti dihancurkan truk. Setiap inci tubuhnya sakit, memar di lengan, pipi bengkak, perut yang berdenyut mengerikan. Tapi yang membuatnya mengerang bukan rasa sakit fisik.

Melainkan banjir ingatan yang tidak berhenti.

Dua kehidupan... Dua identitas... Bercampur dalam satu kepala.

Dara Alvarino tiga puluh dua tahun, dokter bedah kelompok mafia, mati diracun sahabatnya sendiri.

Kiara Adisaputra dua puluh lima tahun, istri yang tidak dicintai, hamil tiga bulan, dipukuli suami yang percaya fitnah adik angkatnya.

"Sial..." Kiara atau Dara atau siapapun dia sekarang, menekan keningnya yang berdenyut.

Ingatan Kiara yang asli mengalir seperti film pernikahan tanpa cinta. Arkan yang dingin, Lenna yang manis di permukaan tapi beracun di belakang. Semua kebohongan, semua manipulasi, semua rasa sakit yang harus ditanggung Kiara selama dua tahun.

Dan yang paling menyakitkan, Kiara yang asli menerima semua itu. Diam... Pasrah... Berharap suatu hari Arkan akan mencintainya.

"Bodoh," desis Dara. "Kamu terlalu bodoh, Kiara."

Tapi kemudian rasa bersalah menusuk dadanya, Kiara yang asli sudah tidak ada. Entah kemana jiwanya pergi, mungkin sudah tenang, mungkin sudah bebas dari penderitaan. Dan sekarang Dara yang menempati tubuhnya.

Dara yang membawa semua amarah, trauma, dan kegelapan dari kehidupan sebelumnya.

"Maafkan aku," bisiknya pada Kiara yang sudah tiada. "Aku tidak tahu kenapa aku ada di tubuhmu. Tapi aku janji, aku akan balas dendam untuk kita berdua."

Ketukan di pintu membuatnya waspada.

"Siapa?"

"Nyonya, saya Sari. Saya bawakan sarapan."

Sari, pembantu yang sudah bekerja di rumah keluarga Adisaputra selama sepuluh tahun. Dari ingatan Kiara, Sari adalah satu-satunya orang yang pernah bersikap baik padanya meski hanya sesekali, karena takut dengan Lenna.

"Masuk."

Pintu terbuka. Sari masuk dengan nampan, wajahnya terlihat khawatir saat melihat kondisi Kiara.

"Nyonya... wajahnya..." Sari meletakkan nampan dengan tangan gemetar. "Perlu saya panggilkan dokter?"

"Tidak perlu."

Dara bangkit perlahan, mengabaikan protes tubuh yang sakit. Dia berjalan ke cermin, menatap wajahnya... wajah Kiara yang lebam, bibir pecah, mata bengkak.

"Sari, aku mau tanya sesuatu."

"Ya, Nyonya?"

"Kamu percaya aku selingkuh?"

Sari tersentak. "Ti... tidak, Nyonya! Saya tahu Nyonya tidak seperti itu!"

"Kenapa kamu yakin?"

"Karena... karena Nyonya bahkan tidak pernah keluar rumah tanpa izin Tuan Arkan. Nyonya tidak punya teman, Nyonya selalu sendirian..."

Dara tersenyum pahit. Iya, Kiara yang asli seperti tahanan di rumahnya sendiri. Dikontrol, dikekang, diabaikan.

"Tapi kenapa Arkan lebih percaya Lenna?"

Sari menunduk, takut menjawab.

"Jawab."

"Karena... Nona Lenna selalu ada untuk Tuan Arkan. Sejak kecil, mereka besar bersama. Tuan Arkan menganggap Nona Lenna seperti... seperti belahan jiwanya."

Belahan jiwa... Bukan istri sahnya, tapi adik angkatnya.

Dara merasakan amarah Kiara yang asli bergabung dengan amarahnya sendiri. Dua amarah jadi satu, membara di dadanya.

"Lenna ada di rumah sekarang?"

"Ada, Nyonya. Di ruang makan, sarapan dengan Tuan Arkan dan Nyonya Besar."

Nyonya Besar... ibunya Arkan. Salah satu orang yang paling membenci Kiara.

"Bagus." Dara berbalik dari cermin. "Siapkan baju untukku, yang paling bagus."

"Nyonya mau turun?"

"Kenapa tidak? Ini rumahku juga, kan?"

Sari terlihat ragu, tapi mengangguk. Dia membantu Kiara memilih dress sederhana tapi elegan, biru navy yang membuat kulitnya terlihat lebih cerah meski penuh lebam.

Dara menatap pantulannya. Wajahnya memang hancur, tapi matanya... Matanya berbeda, tidak ada lagi ketakutan atau kesedihan yang biasa ada di mata Kiara.

Hanya tekad dingin.

Ruang makan keluarga Adisaputra luas dan mewah. Arkan duduk di ujung meja, membaca koran sambil sarapan. Lenna duduk di sebelahnya, cantik dengan dress putih, rambut terurai, tersenyum lembut sambil menuangkan kopi untuk Arkan.

Nyonya Devi, ibu Arkan duduk di seberang, menatap Lenna dengan penuh kasih sayang.

"Lenna sayang, kamu terlalu baik pada Arkan. Nanti tanganmu capek."

"Tidak apa-apa, Tante. Aku senang bisa membantu Kak Arkan."

"Harusnya istrinya yang melakukan ini, bukan kamu. Tapi ya sudahlah... istri seperti itu memang tidak berguna."

Arkan tidak berkomentar, dia hanya minum kopinya dalam diam.

Langkah kaki terdengar, mereka semua menoleh.

Kiara berdiri di pintu ruang makan, dengan wajah lebam tapi punggung tegak, dagu terangkat.

"Selamat pagi," katanya dengan nada datar.

Lenna hampir menjatuhkan cangkir kopinya, Nyonya Devi mengerutkan kening, Arkan menatapnya tanpa ekspresi.

"Kenapa kamu turun?" tanya Nyonya Devi ketus. "Kamu pikir kamu pantas makan bersama kami setelah perbuatanmu?"

"Perbuatan apa?" Dara berjalan tenang, menarik kursi, dan duduk. "Hamil dengan anak suamiku sendiri? Itu perbuatan apa, Bu?"

"Berani sekali kamu..."

"Atau maksud Ibu, perbuatan dipukuli sampai hampir keguguran? Itu memang perbuatan buruk, tapi yang melakukan bukan aku."

Hening.

Arkan akhirnya bicara, suaranya rendah. "Jaga bicaramu."

"Kenapa? Aku cuma bicara fakta."

Dara mengambil roti, mengoleskan selai dengan tenang seolah wajahnya tidak lebam dan perutnya tidak berdenyut sakit. Tangannya stabil... hasil latihan bertahun-tahun memegang pisau bedah.

Lenna menatapnya dengan campuran shock dan ketakutan. Ini bukan Kiara yang dia kenal. Kiara yang asli akan menangis, meminta maaf, bersembunyi di kamar.

"Kak Kiara... wajahnya..." Lenna bersuara lembut, pura-pura khawatir. "Kenapa tidak istirahat saja? Kamu sedang hamil, kan..."

Dara menoleh, menatap Lenna dengan tatapan yang membuat gadis itu terdiam.

"Kamu peduli?"

"Ten... tentu saja aku peduli... Kak Kiara kan kakak iparku..."

"Benarkah?"

Dara meletakkan rotinya, bersandar di kursi, menatap Lenna dengan intensitas yang membuat suasana berubah dingin.

"Kalau kamu peduli, kenapa kemarin kamu membiarkan Arkan memukuliku? Kamu berdiri di sana, kan? Cuma bilang 'jangan kasar' tapi tidak mencoba menghentikan. Bahkan tidak mencoba melindungiku."

"A... aku... aku takut..."

"Takut? Atau senang?"

"KIARA!" bentak Nyonya Devi. "Jangan menuduh Lenna sembarangan!"

"Aku tidak menuduh, Bu. Aku cuma bertanya." Dara tersenyum tipis. "Lagi pula, kalau dia benar-benar peduli, dia akan membawaku ke rumah sakit, bukan? Atau setidaknya memanggil dokter, tapi tidak ada yang datang. Aku dibiarkan sendirian semalam penuh dengan kondisi seperti ini."

Arkan terlihat tidak nyaman, ada sekilas rasa bersalah di wajahnya.

"Kamu... kamu baik-baik saja, kan?" tanyanya kaku.

Dara tertawa... tawa pendek tanpa humor yang terdengar sedikit horor. "Baik-baik saja? Kamu hampir membunuh anakmu sendiri, dan kamu tanya aku baik-baik saja?"

"Anak itu belum tentu anakku."

"Sudah kubilang, itu anakmu. Tapi kalau kamu tidak percaya, kita bisa tes DNA. Aku tidak masalah."

Nyonya Devi menggebrak meja. "Tes DNA itu bisa dipalsukan!"

"Kalau begitu kita lakukan di rumah sakit pilihan Ibu, di depan Ibu. Aku akan tunjukkan kalau anak ini..." Dara meletakkan tangannya di perut, "...adalah darah daging keluarga Adisaputra."

"Kak Kiara..." Lenna mencoba lagi dengan suara gemetar. "Kenapa Kakak berubah seperti ini? Kakak seperti orang lain..."

Dara menatap Lenna. Oh, betapa dia ingin mengatakan yang sebenarnya. Bahwa dia memang orang lain, bahwa Kiara yang lemah itu sudah tidak ada.

Tapi tidak sekarang.

"Orang berubah, Lenna, kalau sudah diperlakukan cukup buruk." Dara bangkit dari kursi. "Aku sudah kehilangan nafsu makan. Permisi."

Dia berbalik, melangkah keluar dengan punggung tegak.

Di belakangnya, dia bisa mendengar suara Lenna yang mulai terisak. "Tante... Kak Arkan... aku takut... Kak Kiara seperti benci padaku..."

"Sudah, sudah, sayang. Jangan menangis. Dia yang salah, bukan kamu."

Dara tersenyum dingin sambil berjalan ke kamarnya.

Menangis... Manipulasi... Mencari perlindungan...

Taktik yang sama persis dengan Salma dulu. Berpura-pura lemah, membuat orang lain melindunginya, sementara diam-diam menikam dari belakang.

Tapi Dara sudah tahu permainan ini, dia sudah jadi korban sekali.

Tidak akan ada kali kedua.

Sesampainya di kamar, dia mengunci pintu. Tubuhnya gemetar bukan karena takut, tapi karena amarah yang ditahan.

Dia berjalan ke cermin, menatap wajah Kiara yang lebam.

"Aku berjanji, Kiara," bisiknya. "Aku akan buat mereka semua membayar. Lenna, Arkan, ibunya... semua orang yang menyakitimu. Mereka akan merasakan apa yang kamu rasakan. Berlipat ganda."

Trauma kehidupan lamanya masih segar. Pengkhianatan Salma, kematian sia-sia, rasa bersalah karena terlalu percaya.

Tapi sekarang dia punya kesempatan kedua, kesempatan untuk tidak mati bodoh.

Dan dia akan menggunakan semua pengetahuan, semua keterampilan, semua kegelapan yang dia bawa dari kehidupan lama untuk menghancurkan siapapun yang menghalangi.

Dimulai dengan rubah betina bernama Lenna.

1
asih
saya ikut tegang bacanya
Dewi Sri
ceritanya bagus tp masih sepi koment, semangat kak author
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
pilihan yang sulit tapi aq yakin dara pintar dan cerdas pasti ada jalan keluar nya tanpa harus membunuh keduanya
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
wow
Dew666
👍👍👍👍
asih
pilihan yg sangat sulit,harus pintar bermain licik Dara
Ma Em
Dara kamu wanita cerdas mantan dokter mafia , kalahkan Viktor juga Rendra dgn siasat licikmu Dara jgn sampai mau di perbudak lagi sama Rendra juga Viktor mereka pasti punya titik lemahnya .
Dew666
🌹🌹🌹🌹
Wulan Sari
ceritanya dari bab perbab semakin menarik dan selalu buat penasaran semoga cerita di akhir akan bahagia, trimakasih Thor semangat buat karya lain salam sukses selalu ya cip 👍❤️🙂🙏
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
🏡s⃝ᴿ . Incha
kira ada cakaran rambut atau apa kek
Erchapram: Puasa Kak, mode kalem. Pembalasam intelektual bukan kek preman 🤣🤣🤣
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto: sama2 👌👍
total 2 replies
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
vj'z tri
Lo , w end 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 penipu yg tertipu
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
coba km hidup baik-baik len nasib km g bakalan sprti ini
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
lenna bilang cinta sama arka sekarang bilang cinta sama rio, jd sebenarnya yg mn nih lenna, wah pemain juga si lenna
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
lenna trlalu jahat sampe sampe nggak sadar kl dya di jahatin🤣🤭
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
author kapan penyelidikan calon istri regan di mulai? hehehe...
lupita namanya siapa ya
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉: lupita itu lupa thor aq plesetin🤭🤣
total 2 replies
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
tarik satu nafas... dan cuma satu kata wow 🤭
@ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ ⍣⃝🦉ꪻ꛰͜⃟ዛ༉
semoga lancar ya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!