NovelToon NovelToon
Suami Tanpa Giliran

Suami Tanpa Giliran

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Balas Dendam / Penyesalan Keluarga / Kebangkitan pecundang / Percintaan Konglomerat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.

Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Saat Kevin membuka mata, langit-langit putih langsung menyambut pandangannya dengan bau antiseptik yang menusuk hidung. Suara alat medis berdetak pelan di kejauhan dan tanpa perlu bertanya, Kevin tahu di mana ia berada, rumah sakit.

Kepalanya berdenyut, ia mengerang pelan sambil mengangkat tangan untuk menekan pelipisnya yang terasa nyeri. Ingatannya perlahan menyusun ulang potongan peristiwa sebelum semuanya gelap.

Ia ingat langkahnya yang maju, tinju yang hampir mendarat, lalu detik berikutnya suara retakan keras dari atas, papan besar itu jatuh tiba-tiba.

Kevin sempat melihat wajah Vano berubah pucat, namun yang paling jelas ia ingat adalah tangan Iren yang menarik Vano menjauh dengan panik, lalu rasa sakit menghantam kepalanya hingga dunia seketika menghitam.

“Ck,” desis Kevin lirih sambil menarik napas pelan. “Benar-benar seperti drama murahan, takdir macam apa ini.”

Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Tidak ada siapa pun di sana, tidak ada kursi yang bergeser, tidak ada suara napas lain selain miliknya sendiri.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu terbuka pelan dan sosok Iren masuk dengan parsel buah di tangannya. Wajahnya rapi seperti biasa, tanpa bekas panik, tanpa jejak air mata, hanya ekspresi datar yang sudah sangat Kevin kenal.

“Kamu sudah sadar?” tanya Iren sambil melangkah mendekat.

Kevin menoleh dan menatapnya lama dengan ekspresi tak terbaca.

Iren mengernyit tipis. “Dokter bilang kamu tidak ada masalah serius, tapi kamu pingsan lama. Kamu mau bikin aku panik?”

Ia meletakkan parsel itu di atas meja kecil di samping ranjang lalu merapikan plastik pembungkusnya.

“Ini dari Vano,” ucapnya datar. “Katanya mau minta maaf, tapi dia tidak berani datang karena takut kamu makin marah.”

Kevin terkekeh pelan, bukan tawa geli, melainkan desahan pahit yang lolos tanpa izin.

“Dia selalu tahu kapan harus bersembunyi,” katanya lirih.

Iren menatapnya dengan sorot tak setuju. “Vin, jangan berulah lagi. Lagian kenapa kamu mau memukul dia? Kamu tahu kata orang apa? Yang menimpamu sekarang itu karma.”

“Karma?” Kevin mengulang sambil menyipitkan mata.

“Apalagi? Orang tidak bersalah malah mau kamu pukul, sekarang kalau kamu berada di sini itu namanya karma,” balas Iren tanpa ragu.

Kevin tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak hangat. “Jadi papan itu memang harus menimpaku supaya terdengar seperti karma? Kalau bukan kamu yang menarik Vano, kita berdua yang tertimpa papan itu.”

Tangan Iren yang tadi hendak mengupas jeruk langsung berhenti, buah itu ia letakkan begitu saja di meja.

“Kevin,” ucapnya dengan nada ditekan, “apa kita harus berdebat terus? Kamu itu harus belajar menerima kenyataan.”

Kevin mengepalkan tangannya di atas selimut. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat, karena hasilnya selalu sama dan tidak pernah sesuai dengan yang ia inginkan. Untuk saat ini, diam terasa jauh lebih aman.

“Kamu istirahat saja, aku masih ada urusan,” kata Iren dingin, lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan.

Namun saat melangkah menuju pintu, ada harapan kecil yang terbit di dadanya, berharap Kevin akan memanggil atau menahannya. Ketika harapan itu tak terwujud, ia menoleh sebentar, emosi hampir meluap dari dadanya.

Tepat saat itu, ponselnya berdering dan nama Vano tertera di layar. Iren menarik napas singkat, mengalihkan kekesalannya dari Kevin, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

***

Beberapa hari berlalu begitu saja. Kevin masih terbaring di rumah sakit, kadang dijenguk Iren, kadang juga tidak ada tanda-tanda wanita itu akan datang. Ia hanya bisa tersenyum pahit, karena dulu saat jari Iren terluka sedikit saja, dirinyalah yang paling panik dan sigap merawat, namun sekarang keberadaannya seolah tidak lagi memiliki arti apa pun.

“Pak Kevin, hari ini Anda sudah diperbolehkan pulang,” ujar salah satu perawat sambil tersenyum profesional, “dan mohon untuk segera melunasi biaya rumah sakit.”

Kevin mengernyit tipis. “Biaya rumah sakit? Bukannya sudah dibayar oleh istri saya?”

Perawat itu menunduk sebentar, lalu kembali menatap Kevin dengan ekspresi canggung.

“Mohon maaf, Pak. Istri Anda beberapa hari yang lalu hanya melunasi biaya operasi, sedangkan untuk biaya rawat inap sampai hari ini belum dibayarkan.”

Kevin mengangguk pelan, bukan karena ia mengerti, melainkan karena tak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Perawat itu pamit setelah menyerahkan rincian biaya, meninggalkan selembar kertas yang terasa lebih berat dari tubuhnya sendiri.

Ia menatap angka-angka itu lama, lalu tertawa kecil, tawa yang berhenti di tenggorokan. Hanya dua digit saja, Iren tak membayarnya?

“Lucu,” gumamnya lirih, “ternyata semurah ini harga ditinggal.”

Beberapa jam kemudian, Kevin keluar dari rumah sakit dengan langkah tertatih. Ia tidak langsung pulang ke rumah melainkan ke kantor pengacara guna mengalihkan semua harta yang dulu atas nama Iren menjadi harta miliknya. Sementara harta setelah pernikahan yang jadi milik bersama juga akan dibagi menjadi dua.

Pengalihan aset tidak bisa dilakukan dalam satu hari, Kevin tahu itu. Terlebih sebagian besar harta masih terikat atas nama bersama. Namun dengan bantuan Nurma, proses itu mulai dijalankan, satu per satu, pelan tapi pasti. Setidaknya butuh waktu sekitar satu minggu agar semuanya berjalan rapi tanpa celah.

“Iren,” gumamnya lirih, suaranya dingin tanpa emosi, “aku ingin lihat, setelah ini apa kamu masih bisa tetap berada di puncak bersama lelaki itu.”

1
Ariany Sudjana
kevin kamu juga bodoh, sudah tahu pelacur murahan seperti Irene, punya beribu macam cara untuk menjebak kamu, dan kamu dengan bodohnya percaya sama omongan pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
Kevin kamu jangan terjebak dengan perkataan Irene, kalau kamu percaya dengan omongan Irene, kamu bodoh
Ariany Sudjana
Irene kamu bodoh, kamu menyalahkan Kevin untuk semua masalah kamu, padahal kamu sendiri sumber masalahnya, kamu saja yang jadi perempuan gatal 🤭🤭
Ridwani
👍👍👍
falea sezi
lanjut g sabar nunggu kehancuran iren
Ariany Sudjana
hahaha dua orang pecundang, yang satu pelacur murahan, yang satu pebinor 🤣🤣😂😂 silakan menikmati kejatuhan kalian
Ariany Sudjana
hahaha ada lagi perempuan , yang katanya CEO, tapi bodoh, dan bisa dimanipulasi sama laki-laki yang licik dan culas 😂😂🤣🤣
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: hahhaha katanya si paling beruntung kak
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Yuliana Tunru
sdh di tinggalkan baru nyari2 kevin dulu dijadikan banu iren kau pikir kevin buta tau kau yg tak punya malu gmn selalu dgn vano pegang2an dll ngapain jd bodoh kevin buang istri tak tau diri itu
Ridwani
semoga cepat cerai,iren semoga menyesal
Ridwani: iy kita liat nanti apa iren nangis histeris kebahagiaan kevin
total 2 replies
Yuliana Tunru
akhir x kau bicara sosl cerai jg benar2 iren tak punya malu dan otak..msh kurang keras kevin biar iren shock
Yuliana Tunru
ya ampun.iten.punya kaca ndk lha kamu dgn.vano bkn x lebih dr selingkuh kebin cm.makan kamu malah tiap.saat dgn vano gandrngan aplh fatwa mak lampir matre berani mau nampar ...tampar balik biar sadar
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: merasa paling benar dia kak
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Yuliana Tunru
bahus kevin ingatkan pisisi masing2 knp jg eelama ini kevin jd babu di rmh sendiei dan.istri yg tak tau diri jg klga x jd penguasa jd lupa status 😡
Yuliana Tunru
bagus kevin iren siap2 kau jd sampah buangan kevin kau wanuta miskin ahlak dan harta semena2 krn kevin takluk tinggu balsan karma yg sebenar x
Ridwani
👍👍👍👍👍
Yuliana Tunru
kenapa alki2 arogan mulut beracun kalah dgn wanita bekas teman kau bkn kere kevintp bagai pengemis hancurkan iren ambil kembali sahqm vano dgn bayaran perceraian yg di mibta iren nurma bkn musush turuti kata 2 x dan jadilqh raja hancurkqn keangjuhan.dan lenghiatan vano dan iren mrk manusia sampqh
Yuliana Tunru
vano dan iren brnar teman lucnut ..ayo kevin ambil hak mu mlm ini dan jika iren ingin cerai suruh kembalikan saham itu jgn buarkan penghianat itu mengambil bayaran atas lukamu jika saham sdh kembali buang iren pd vano bagai sampah 😡😡
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: biarkan Vano dan Iren bersatu lagi ya, masalah Iren jatuh biarkan saja
total 1 replies
Ma Em
Iren kamu pasti akan menyesal karena sdh menyia nyiakan Kevin dan malah memilih Vano yg tdk pernah mencintaimu , mampir Thor aku suka , ceritanya seru .
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: terimakasih kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!