NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Mafia

Menyusui Bayi Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan rahasia / Ibu Pengganti / Mafia / Duda / Konflik etika
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Amis Darah dan Bubuk Mesi

​Pagi di Isola del Sangue tidak pernah terasa sepi, namun pagi ini, kesunyian itu memiliki tekstur yang berbeda. Langit pasca-badai berwarna abu-abu baja, dengan awan yang menggantung rendah di atas permukaan laut yang masih bergejolak. Aruna terbangun bukan oleh tangisan Leonardo, melainkan oleh tarikan kasar selimut dari tubuhnya.

​Dante berdiri di kaki tempat tidur, sudah mengenakan pakaian taktis hitam—celana kargo, kaus ketat yang menonjolkan setiap serat ototnya, dan sepatu bot militer. Di tangannya, ia memegang sebuah setelan serupa dalam ukuran yang lebih kecil.

​"Lima menit, Aruna," suara Dante datar, tanpa kehangatan sisa semalam. "Jika kau ingin menjadi pemain, kau harus belajar bahwa waktu adalah mata uang yang paling berharga. Terlambat satu detik berarti satu lubang di kepalamu."

​Aruna mengerjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya. Rasa nyeri di tubuhnya akibat pergulatan emosi dan fisik semalam masih terasa, namun ia teringat pada janjinya. Ia bukan lagi mahasiswi yang manja. Ia adalah wanita yang sedang menegosiasikan nyawanya.

​Tanpa sepatah kata pun, Aruna menyambar pakaian itu dan menuju kamar mandi. Lima menit kemudian, ia keluar dengan rambut hitamnya yang diikat ekor kuda tinggi. Pakaian taktis itu membalut tubuhnya dengan sempurna, membuatnya tampak tajam sekaligus rapuh.

​"Bagus," puji Dante singkat. Ia melemparkan sebuah sabuk kulit padanya. "Pakai ini. Kita ke area latihan di tebing utara."

​Area latihan itu terletak di sebuah ceruk alami yang tersembunyi di balik hutan pinus pulau. Di sana, deretan sasaran tembak dari baja berdiri tegak di depan dinding tebing. Suara ombak yang menghantam karang di bawah sana menciptakan latar belakang suara yang konstan dan liar.

​Dante berdiri di depan sebuah meja kayu panjang yang dipenuhi dengan berbagai jenis senjata api. Mulai dari pistol kecil yang bisa disembunyikan di dalam tas tangan, hingga senapan serbu otomatis yang tampak begitu mengerikan bagi Aruna.

​"Pelajaran pertama," Dante mengambil sebuah Glock 17 hitam mengkilap. Ia menunjukkannya pada Aruna seolah itu adalah sebuah karya seni. "Senjata ini tidak memiliki perasaan. Ia tidak tahu siapa yang baik dan siapa yang jahat. Ia hanya menjalankan perintah dari jari yang menarik pelatuknya."

​Dante mengosongkan magasinnya, lalu memberikannya pada Aruna. Berat logam dingin itu mengejutkan tangan Aruna. Senjata itu terasa begitu asing, begitu berat dengan beban nyawa yang bisa diambilnya.

​"Pegang dengan kedua tangan. Kunci pergelangan tanganmu. Jangan biarkan bahumu tegang," perintah Dante. Ia berdiri di belakang Aruna, menempelkan tubuhnya untuk memperbaiki posisi berdiri gadis itu. Tangan Dante yang besar menutupi tangan Aruna, membimbing jarinya ke arah pelatuk.

​"Rasakan beratnya, Aruna. Bayangkan sasaran di depanmu adalah Luciano. Bayangkan dia adalah pria yang memotong rem mobil ibumu," bisik Dante tepat di telinga Aruna.

​Napas Aruna memburu. Amarah yang selama ini ia tekan mulai merayap naik. Ia menatap sasaran baja di kejauhan. Bayangan ibunya yang terbaring lemah di rumah sakit muncul di benaknya.

​"Sekarang, masukkan magasinnya," Dante memberikan satu kotak peluru.

​Dengan tangan yang sedikit gemetar, Aruna mengikuti instruksi Dante. Bunyi klik saat magasin terkunci terdengar begitu memuaskan di telinganya. Ia menarik slide ke belakang, memasukkan peluru pertama ke kamar picu.

​"Bidik. Tahan napas. Tarik perlahan."

​DOR!

​Sentakan senjata itu membuat tangan Aruna terlempar ke atas. Suara ledakannya memekakkan telinga, bergema di antara dinding tebing. Pelurunya meleset jauh, menghantam tanah di samping sasaran.

​"Lagi," ujar Dante tanpa ekspresi.

​Aruna kembali membidik. DOR! DOR! DOR!

​Ia terus menembak hingga magasinnya kosong. Tak satu pun peluru mengenai sasaran. Aruna menurunkan senjatanya, napasnya tersengal, dadanya terasa sesak oleh frustrasi.

​"Kau terlalu banyak berpikir," Dante mengambil kembali senjata itu. "Kau mencoba mengendalikan ledakannya. Jangan dikendalikan. Jadilah bagian dari ledakan itu."

​Dante mengisi ulang magasin dan memberikannya kembali. "Tutup matamu sejenak. Ingat rasa takutmu saat lampu di pesta itu padam. Ingat saat kau merasa tidak punya kekuatan untuk melindungi dirimu sendiri. Ubah rasa takut itu menjadi satu titik fokus."

​Aruna memejamkan mata. Ia membayangkan kegelapan malam itu. Ia membayangkan tangan Dante yang menariknya. Namun, ia juga membayangkan rasa tidak berdayanya. Saat ia membuka mata, pupil matanya mengecil. Dunianya kini hanya terdiri dari dia dan sasaran logam itu.

​DOR!

​Suara denting logam terdengar nyaring. Pelurunya menghantam tepat di bagian dada sasaran baja itu.

​Aruna terpaku. Ada sensasi aneh yang menjalar di tulang belakangnya—campuran antara ngeri dan kekuatan yang memabukkan. Ia tidak berhenti. Ia menarik pelatuk lagi.

​DOR! TING!

DOR! TING!

​Tiga peluru berikutnya mengenai sasaran dengan presisi yang mengejutkan untuk seorang pemula. Aruna menurunkan senjatanya, tangannya masih bergetar, namun matanya berkilat.

​Dante mengamati lubang-lubang di sasaran baja itu, lalu menatap Aruna. Ada binar kepuasan yang berbahaya di matanya. "Kau punya bakat alami untuk kekerasan, Aruna. Itu ada di darahmu. Darah Adrian bukan darah seorang pengecut."

​"Aku melakukannya agar aku tidak perlu lagi bersembunyi di belakangmu," sahut Aruna tajam.

​"Sayangnya, mawar kecilku, semakin kau pandai menembak, semakin kau akan menyadari bahwa dunia ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan peluru," Dante berjalan mendekat, mengambil senjata dari tangan Aruna dan menyimpannya kembali di sabuknya. "Pelajaran kedua: pengkhianatan."

​Aruna mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"

​Dante memberi isyarat pada Marco yang sejak tadi berdiri di kejauhan. Marco berjalan mendekat sambil membawa sebuah tablet. Di layar tablet itu, terlihat rekaman CCTV dari dermaga barat, tempat Aris seharusnya dibebaskan semalam.

​Aruna melihat Aris sedang dikawal oleh dua penjaga menuju sebuah kapal motor kecil. Namun, sebelum Aris naik ke kapal, ia berhenti sejenak dan menyerahkan sesuatu—sebuah benda kecil berbentuk flashdisk—kepada salah satu penjaga.

​"Apa itu?" tanya Aruna, jantungnya mulai berpacu kencang.

​"Itu adalah alat pelacak yang diberikan Salieri padanya," jawab Dante dingin. "Aris-mu yang tercinta itu tidak hanya datang untuk menyelamatkanmu. Dia datang untuk memasang suar pelacak di pulau ini agar Luciano bisa mengirimkan pasukan udaranya."

​Aruna menggelengkan kepala, tidak percaya. "Tidak... Aris tidak mungkin melakukan itu. Dia mencintaiku!"

​"Dia mencintai uang Salieri lebih dari dia mencintaimu," Dante memberi isyarat pada Marco untuk melanjutkan rekaman.

​Di layar, Aris tampak tersenyum saat menerima tumpukan uang dari penjaga itu. Namun, senyumnya tidak bertahan lama. Dari balik kegelapan hutan di dermaga, sebuah tembakan tunggal meletus. Aris terjatuh, namun ia tidak mati. Peluru itu hanya mengenai kakinya.

​"Kau tidak membunuhnya?" bisik Aruna.

​"Belum," Dante menatap Aruna dengan tatapan yang seolah bisa menembus jiwanya. "Aku ingin kau yang memutuskan nasibnya. Dia masih di dermaga, diikat di dalam gudang. Dia adalah ujian pertamamu. Pelajaran tentang bagaimana perasaan bisa membunuhmu lebih cepat daripada peluru."

​Aruna merasa dunianya kembali berguncang. "Dante, kumohon... mungkin dia dipaksa."

​"Ayo kita tanya padanya sendiri."

​Gudang di dermaga itu berbau amis ikan dan oli mesin. Aris terduduk di sebuah kursi kayu, tangannya terikat ke belakang, kakinya berlumuran darah yang sudah mulai mengering. Saat pintu gudang terbuka dan cahaya masuk, ia mendongak dengan wajah penuh ketakutan.

​"Aruna! Aruna, tolong aku!" teriak Aris saat melihat gadis itu masuk bersama Dante.

​Aruna mendekat dengan langkah ragu. "Aris... benarkah yang dikatakan Dante? Kau bekerja untuk Salieri? Kau memasang pelacak di sini?"

​Aris terdiam sejenak, matanya melirik ke arah Dante yang berdiri di kegelapan pintu dengan tangan bersedekap. "Aruna, aku terpaksa! Salieri mengancam akan membunuh keluargaku! Aku ingin membawamu keluar, tapi aku butuh bantuan mereka!"

​"Dengan cara mengkhianati lokasi tempat Leonardo berada?" suara Aruna meninggi. "Kau tahu ada bayi di sini, Aris! Jika Luciano menyerang, dia tidak akan peduli siapa yang mati!"

​"Dia hanyalah anak mafia, Aruna! Kenapa kau peduli?!" Aris berteriak frustrasi. "Ikutlah denganku sekarang, kita bisa lari! Salieri menjanjikan hidup baru!"

​Aruna menatap pria di depannya. Pria yang selama ini ia anggap sebagai simbol kebaikan dan masa lalu yang normal. Kini, ia hanya melihat seorang pria yang ketakutan dan bersedia menjual siapa pun demi keselamatannya sendiri.

​Dante melangkah maju ke dalam cahaya. Ia menyerahkan Glock hitam tadi kepada Aruna.

​"Selesaikan ini, Aruna. Jika kau membiarkannya hidup, dia akan tetap menjadi pelacak berjalan. Luciano akan menemukannya, dan dia akan bicara lagi. Pilihanmu: nyawa pria yang mengkhianatimu, atau keamanan Leonardo dan ibumu."

​Aruna memegang senjata itu. Tangannya terasa jauh lebih berat daripada saat di area latihan tadi. Ia menatap Aris.

​"Aruna... kau tidak mungkin melakukan ini," bisik Aris, matanya membelalak melihat moncong senjata mengarah padanya. "Kau gadis yang baik. Kau Aruna yang aku kenal di perpustakaan..."

​"Gadis itu sudah mati di pesta malam itu, Aris," sahut Aruna dengan suara yang sangat dingin, bahkan Dante pun sedikit terkejut mendengarnya. "Gadis itu mati saat dia menyadari bahwa semua orang yang dia sayangi hanya menganggapnya sebagai alat."

​Aruna menarik pelatuknya.

​DOR!

​Bukan ke kepala Aris. Peluru itu menghantam lantai tepat di antara kedua kaki Aris. Aris menjerit dan jatuh pingsan karena syok.

​Aruna menurunkan senjatanya dan berbalik menghadap Dante. "Aku tidak akan membunuhnya. Bukan karena aku masih mencintainya, tapi karena aku tidak akan membiarkanmu mengubahku menjadi pembunuh dalam waktu satu hari."

​Dante menatap Aruna, lalu menatap Aris yang pingsan. "Lalu apa maumu?"

​"Buang dia ke tengah laut dengan sekoci tanpa mesin. Jika Tuhan ingin dia hidup, dia akan sampai ke daratan. Jika tidak, itu bukan urusanku lagi," Aruna menyerahkan kembali senjata itu ke tangan Dante. "Aku sudah belajar pelajaranmu, Dante. Tapi aku akan melakukannya dengan caraku sendiri."

​Dante tidak marah. Sebaliknya, ia mengambil senjata itu dan tersenyum—sebuah senyuman yang benar-benar menghargai. "Kau baru saja belajar cara yang lebih kejam daripada membunuh, Aruna. Kau memberinya harapan yang palsu di tengah samudra. Itu adalah taktik Valerius yang sesungguhnya."

​Dante merangkul bahu Aruna, membimbingnya keluar dari gudang yang pengap itu. "Kau lulus ujian pertama. Sekarang, mari kita bicara tentang ujian yang sesungguhnya. Luciano baru saja mengirimkan pesan. Dia ingin bertemu dengan 'Kunci Valerius' secara langsung."

​Aruna menoleh tajam. "Kapan?"

​"Besok malam. Di kapal pesiar netral di perairan internasional. Dan kau... kau akan menjadi umpan yang paling cantik yang pernah dia lihat."

1
adrina salsabila alkhadafi
sungguh novel yang bagus sekali,aku menantikan bab selanjutnya,jangan lama2 ya up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!