"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Tamu di Meja Nomor 7
Ketegangan yang sempat terjadi di pagi hari mulai mencair saat senja tiba. Sheril mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa kecurigaannya hanyalah efek samping dari kelelahan karena banyak pekerjaan. Di dalam taksi menuju restoran Jungkook, ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir bayangan mayat di ruang forensik. Ia ingin melihat Jungkook sebagai kekasihnya, bukan sebagai subjek investigasi.
Restoran Le Lapin milik Jungkook terlihat hangat dari luar. Cahaya lampu kuning temaram memberikan kesan eksklusif dan nyaman. Saat pintu kaca itu berdenting, aroma mentega cair dan kayu manis langsung menyambutnya.
"Kamu datang sayang" suara Jungkook terdengar riang saat melihat Sheril muncul dari balik pintu.
Ia baru saja keluar dari dapur, masih dengan seragam koki putihnya yang rapi. Tanpa mempedulikan beberapa pelanggan yang menoleh, Jungkook menghampiri Sheril, meraih pinggangnya lembut, dan menariknya ke dalam pelukan singkat yang hangat. Ia mengecup kening Sheril cukup lama, seolah ingin menghapus semua beban yang dibawa wanita itu dari rumah sakit.
"Aku sudah menyiapkan meja khusus untukmu di sudut. Meja favoritmu," bisik Jungkook tepat di telinganya.
Jungkook membimbingnya ke sebuah meja kecil yang tersembunyi di balik pilar kayu, dihiasi setangkai bunga mawar putih segar. Ia mendudukkan Sheril dengan sangat sopan, lalu berlutut di samping kursinya agar mata mereka sejajar.
"Kau terlihat sangat cantik hari ini, dokter," goda Jungkook sambil meraih tangan Sheril, mengecup punggung tangannya dengan lembut.
"Tapi matamu masih terlihat lelah sayang, Biarkan aku merawatmu malam ini, oke? Aku akan membuatkanmu pasta spesial yang tidak ada di menu."
Sheril merasakan pipinya memanas. Sentuhan Jungkook selalu terasa nyata dan penuh kasih sayang. Bagaimana mungkin pria selembut ini memiliki sisi gelap? Saat Jungkook kembali ke dapur, Sheril memperhatikan punggungnya dengan tatapan memuja. Gerakan Jungkook begitu elegan saat menyapa tamu-tamunya yang lain.
Namun, ketenangan itu terusik ketika pintu depan terbuka kembali.
Dua orang pria masuk dengan gaya yang sangat kontras dengan suasana restoran yang tenang. Pria pertama mengenakan setelan jas abu-abu mahal dengan senyum yang tampak sangat ramah, namun sorot matanya terasa kosong—itu Jimin. Di belakangnya, seorang pria dengan jaket kulit hitam dan topi beanie melangkah dengan santai seolah dia pemilik tempat itu—J-Hope.
Mereka langsung berjalan menuju Meja Nomor 7, sebuah meja di tengah ruangan yang memberikan pemandangan luas ke arah dapur. Sheril sering melihat mereka di pemberitaan, wajah jimin dan J-Hope sering muncul sebagai pengusaha.
Namun, Sheril terdiam ia mengingat kalau wajah mereka ada dalam berkas kasus yang sedang dikerjakan RM. Ia secara insting menurunkan sedikit wajahnya, berpura-pura membaca buku menu, namun matanya tetap mengintip dari balik lembaran kertas.
Jungkook keluar dari dapur dengan membawa dua gelas air mineral. Saat melihat siapa yang duduk di Meja Nomor 7, langkahnya sempat tertahan sekejap—hanya sepersekian detik—sebelum ia melanjutkan langkah dengan senyum profesional yang tampak dipaksakan.
"Selamat malam, Tuan-tuan," suara Jungkook terdengar berat di telinga Sheril.
"Koki kesayangan kita," Jimin berucap dengan suara yang lembut namun terdengar seperti desisan ular. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Jungkook dengan intens.
"Kami rindu masakanmu. Terutama... cara kau mempersiapkan bahan-bahannya. Begitu rapi."
J-Hope tertawa kecil sambil memainkan serbet di atas meja.
"Benar. Jarang ada orang yang punya ketelitian seperti kau, Kook. Kami butuh hidangan yang kuat malam ini. Sesuatu yang 'berdarah', kalau kau mengerti maksudku."
Sheril merasakan bulu kuduknya meremang. Kata-kata itu terdengar sangat ambigu dan penuh ancaman tersembunyi. Dari posisinya, Sheril bisa melihat tangan Jungkook yang memegang baki sedikit bergetar, namun suaranya tetap terkendali.
"Akan saya siapkan yang terbaik," jawab Jungkook singkat.
"Oh, tunggu," Jimin menahan lengan Jungkook saat pria itu hendak pergi. Matanya tiba-tiba melirik ke arah sudut tempat Sheril duduk.
"Bukankah itu dokter forensik yang cantik itu? Kekasihmu?"
Darah Sheril seolah berhenti mengalir. Ia merasa tertangkap basah.
Jungkook segera menggeser tubuhnya, menghalangi pandangan Jimin terhadap Sheril. Suaranya berubah menjadi dingin dan tajam. "Dia di sini untuk makan malam, bukan untuk berurusan dengan kalian. Jangan berani mendekat atau bicara padanya."
J-Hope mengangkat kedua tangannya sambil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Tenang, Kook. Kami hanya mengagumi seleramu. Cantik dan... berisiko. Sama seperti pekerjaan kita, bukan?"
Jungkook tidak menjawab. Ia berbalik dan berjalan cepat menuju dapur. Saat melewati meja Sheril, ia sempat berhenti sejenak, meletakkan tangannya di bahu Sheril dan menekannya pelan—sebuah isyarat agar Sheril tetap tenang—sebelum menghilang di balik pintu dapur.
Sheril tidak bisa menikmati pastanya saat hidangan itu tiba. Pikirannya tersita oleh interaksi di Meja Nomor 7. Jimin dan J-Hope makan dengan tenang, namun sesekali mereka akan melirik ke arah dapur dan tertawa kecil, seolah sedang merencanakan lelucon yang sangat gelap.
Setengah jam kemudian, saat restoran mulai sepi dan dua pria itu akhirnya pergi, Jungkook kembali menghampiri Sheril. Ia terlihat jauh lebih santai, meski ada guratan kecemasan di keningnya.
"Maaf soal mereka," kata Jungkook sambil duduk di depan Sheril. Ia meraih tangan Sheril dan menggenggamnya erat, seolah takut wanita itu akan menghilang.
"Mereka hanya pelanggan lama yang sedikit menyebalkan. Tolong jangan pikirkan mereka."
Sheril menatap mata bulat Jungkook yang terlihat tulus.
"Kook, siapa mereka sebenarnya? Apa di balik topeng pengusaha mereka, mereka menyembunyikan sesuatu?"
Jungkook menghela napas panjang. "Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" Jungkook bertanya sedikit ragu
"Aku pernah melihat wajah mereka di berkas jin oppa dan RM oppa"
"Sheril," bisik Jungkook dengan nada yang sangat emosional.
"Jangan pikirkan soal mereka, mereka hanya pelanggan"
Jungkook menghela nafas pelan. Ia berdiri, menarik kursi Sheril agar lebih dekat, lalu memeluknya dari samping. Ia menyandarkan dagunya di bahu Sheril, menghirup aroma parfum wanita itu yang bercampur dengan aroma rumah sakit.
"Dunia luar sangat berbahaya. Ada banyak orang jahat di luar sana yang mungkin ingin menghancurkan kebahagiaan kita. Tapi percayalah padaku... aku akan melakukan apa pun—benar-benar apa pun—agar kamu tidak perlu berurusan dengan orang-orang seperti mereka. Kamu adalah satu-satunya hal berharga yang tersisa dalam hidupku."
Sheril tersenyum mendengar kata-kata itu, selalu manis dan berhasil membuat Sheril merona malu.
Jungkook membalikkan tubuh Sheril agar menghadapnya. Di bawah lampu remang restoran, ia mencium bibir Sheril dengan lembut, sebuah ciuman yang terasa seperti permohonan maaf sekaligus janji perlindungan.
Sheril membalasnya, mencoba mencari ketenangan dalam sentuhan itu.
Namun, di tengah momen romantis itu, mata Sheril tanpa sengaja melirik ke arah Meja Nomor 7 yang sudah kosong. Di atas meja itu, Jimin meninggalkan sebuah kartu nama kecil yang tertutup gelas. Di bawah gelas itu, Sheril bisa melihat coretan tinta merah berbentuk sebuah pisau dapur yang bersilang dengan pisau bedah.
Dingin kembali menyerang hati Sheril. Di dalam pelukan hangat kekasihnya, ia menyadari bahwa ia harus berhati-hati dengan mereka
...****************...