"Capek tidak sayang? aku masih mau sekali lagi.."
"Kamu kuat sekali Mas.."
Si tampan itu tertawa menciumi pipi sang Istri, entah sejak kapan dia sangat mencintai istrinya ini.
"Sudah di minum Pilnya Sayang?"
"Harus Mas? Aku lelah minum Pil KB terus.."
"Menurutlah sayang semua demi kebaikan.."
Tidakkah Tama tau jika larangannya itu justru menyakiti hati Istrinya?
"Aku takut sayang, Aku takut kamu akan meninggalkan aku saat mengetaui kebenaran atas Suamimu ini."
Tama selalu di hantui rasa bersalah, ketakutan dia akan masa lalunya.
Sebenarnya apa Yang terjadi di masa lalu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SIAPA SELIN?
BAB 1
Tak pernah absen di sentuh, bahkan selalu nurut saat sang Suami menginginkan dia, beruntung Alisya selalu di perlakukan dengan sangat baik tapi yang bikin heran Alisya Tidak pernah di bolehkan untuk mengandung.
Hati istri mana yang tidak sakit saat melihat sang Suami yang terus menerus menyuruhnya meminum Pil penunda kehamilan?
Alisya Naumara, Gadis dua puluh tiga tahun ini harus memendam kesedihannya seorang diri.
Menikah selama lima tahun namun Alisya belum di izinkan hamil oleh sang Suami, Menyakitkan memang, Alisya terus bertanya apa alasannya tapi Sang Suami enggan memberitahunya.
Sakit?
Sudah pasti..
Semua Istri ingin sekali hamil dan memiliki buah Hati tapi Tidak dengan Alisya, Dia harus memendam kesedihannya seorang diri. Bahkan sering kali si cantik ini menangis tanpa pengetauan Suaminya.
“Sudah di minum Pilnya sayang?
Tak ada kata lain selain perkara Pil yang di tanyakan Mas Tama, Apakah Suaminya ini tak memikirkan hati Istrinya?
“Sudah Mas,, Aku bahkan minum selalu tepat waktu..”
Alisya membersihkan dirinya di bawah Guyuran air, gadis itu terus menangis, apa salahnya sampai – sampai sebegitu kerasnya dia tak di bolehkan mengandung.
“Apa Mas Tama tidak mencintaiku?”
“Mengapa aku di nikahi kalau hanya untuk melayaninya di ranjang? Apa aku ini hanya selir hatinya?”
Beragam pertanyaan muncul di benak Alisya, sangat menyakitkan tapi Alisya hanya bisa menangis dalam diam, sesekali Alisya hanya bercerita pada Saudaranya, Keluarga satu – satunya yang bisa memahami kondisinya.
“Mungkin Mas Tama Belum siap jadi Ayah Al,,”
“Tidak mungkin, Dia sangat menyukai anak – anak, sering kali aku melihat dia berbagi dengan anak – anak jalanan..yang pasti bukan itu alasanya..”
“Atau mungkin Mas Tama masih menunggu waktu yang tepat?”
Alisya menghembuskan nafasnya dengan kasar, belum ada jawaban yang masuk akal soal penolakan Tama, Karena yang Alisya tau Suaminya itu selalu melarangnya dengan tegas.
“Aku seperti Selingkuhan... apa Mas Tama diam – diam menghianati aku?”
“Jangan berpikir negatif dulu Al,, tapi apa kamu pernah mendapati gelagat aneh dari Suamimu?” Alisya menggelengkan kepala..
Tidak..
Hampir tidak pernah..
Alisya memijat pelipisnya, Mungkin jika waktunya sudah pas Alisya akan bertanya pada Suaminya.
Beruntung ada Tasya yang selalu mendengarkan segala keluh kesahnya.
Malam harinya selepas Tama pulang dari Kantor Alisya berpakaian sangat tertutup, Rambut tergerai dan wajah yang cukup pucat, Sehingga membuat Tama menjadi cemas.
“Sayang.. kamu sakit?” Alisya menggelengkan kepala, entah mengapa dia lelah dengan keadaan rumah tangganya. Hubungan dengan Sang Suami begitu harmonis tapi hanya terlihat di fisik tidak di hatinya.
“Mau kita ke dokter?”
“Tidak usah Mas, aku hanya kurang Istirahat..”
Tama melepas kemejanya, dia menuntun sang Istri dan mengajaknya berbaring.
“Mas Please malam ini tidak dulu yaa.. badan aku sakit semua..”
Tama tersenyum, di kecupnya kedua pipi sang Istri dengan usapan lembut di kepalanya.
“Mas bukan pemaksa yang membiarkan Istri mas melayani mas dalam keadaan sakit sayang.. Istirahatlah.. Mas akan buatkan teh hangat..”
Alisya memejamkan matanya, amarah dalam dirinya selalu padam saat melihat sang Suami bersikap begitu lembut, tapi di saat dirinya jauh dari sang suami amarah itu datang kembali..
“kenapa kamu begitu lembut padaku Mas? Kenapa kamu terlihat sangat mencintaiku...” Gelisah Alisya seraya melihat suaminya yang mulai berjalan keluar dari kamarnya.
Pagi harinya Alisya bangun lebih siang, diam – diam dia melihat sang suami yang sedang sibuk dengan laptopnya, sesekali Tama menoleh pada Alisya yang masih terpejam. Tama begitu menjaga Istri tersayangnya.
Ting!
Tama menoleh pada layar ponselnya yang menyala, rupanya seseorang menghubunginya, diam – diam Tama mengecek sang Istri apa masih tertidur atau sudah bangun. Dan Tama mengangkat sambungan teleponnya dengan suara yang sangat pelan.
“Ada apa?”
“Istri saya masih tidur..”
“No Selin, saya tidak mungkin meninggalkan Alisya..”
“I now,, tapi tidak untuk sekarang.. Alisya sedang tidak baik – baik saja..”
Kedua mata yang masih terpejam itu berdenyut, mendengar jelas ucapan sang Suami dengan seseorang melalui telepon genggamannya.
“Mas Tama bicara pada siapa?”
“Selin, siapa dia?”
Bayang – bayang perselingkuhan melintas, siapa Sosok yang menghubungi Suaminya itu?
“Saya akan menunggu Alisya bangun,, jika dia sudah membaik saya segera kesana..”
Usai mematikan sambungan telepon Tama mendekati sang Istri di usapnya kepala Alisya dan di kecup berulang – ulang.
“Mas?”
“Haii sayang.. Sudah bangun?” berbeda dengan suara Tama saat mengangkat telepon, Kini Lelaki itu kembali pada mode lembutnya.
“Tanganmu menggangguku..”
Tama tersenyum sangat manis, Tama adalah sosok yang sangat lembut dan juga Romantis. Sehingga Alisya selalu menganggumi Suaminya.
“Maafkan Mas, Sayang. bagaimana keadaanmu?” Alisya mendudukan dirinya, di peluknya Tama dengan erat sehingga si tampan itu membalasnya.
“Sudah jauh lebih baik, Cuma masih lemas...”
“Tiduran saja,, Vitaminya jangan lupa diminum.. Ada Raka dan Fatimah di Rumah, Jangan melakukan kerjaan apapun, tugasmu hanya bersantai dan menungguku pulang..”
“Kamu mau kemana Mas?” Lagi – lagi Tama menciumi pipi Alisya dan seketika si Cantik itu kembali luluh.
“Mas ada kerjaan sayang, Mas harus pergi.. tidurlah lebih awal jangan menunggu Mas Pulang..”
Tak bisa melarang, Karena Alisya tau Suaminya sangat taat pada pekerjaan, entah apa yang di kerjakan karena Yang Alisya tahu Pekerjaanya itu berhubungan langsung dengan sosok yang bernama Selin.
“Tapi aku bosan di rumah Mas..”
“Jangan keluar tanpa Aryo,, kamu bisa pergi ke salon atau ke Mall, tapi tidak boleh sendiri..”
“Kenapa tidak denganmu?”
“Next sayang.. aku ada kerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan..”
Baiklah Alisya menurut, Tama meraih jaket hitamnya dan berpamitan pergi.
Lima hari berlalu dan setiap malam Tama selalu pulang larut malam, entahlah apa yang membuat Suaminya itu selalu lembur saat bekerja.
“Apa seorang Manager pulang selarut ini Mas? Bukankah Jam Oprasional Bekerja itu delapan Jam?”
Tama tersentak kaget saat mendapati sang Istri belum juga terlelap.
“Hai sayang.. sudah jam Dua kamu belum tidur?” Alisya menepis tangan Sang suami yang ingin mengusap kepalanya.
“Istri mana yang tidak cemas saat Suaminya belum pulang selarut ini Hmm?”
“Sayang Maaf..”
“Sebenarnya apa kerjaan kamu Mas? Belakangan ini kamu selalu pulang larut malam, bahkan saat aku bangun kamu sudah kembali berangkat kerja.. Apa aku sudah tidak penting bagimu?”
Tama melempar tas kerjaanya, dia mendekati Alisya dan memeluk Istrinya itu dengan erat.
“Sayang Tidak begitu, maafkan aku.. Sungguh aku keluar rumah hanya untuk bekerja..” Dan benar saja lagi dan lagi Alisya kembali luluh, Alisya memeluk Tama dan menghirup wangi dari tubuh sang Suami.
Wanginya masih sama, tidak ada wangi yang mencurigakan, bahkan tak nampak tercium wangi wanita. Tapi kenapa Alisya masih saja berpikir negatif dengan sang suami? Dan masih saja menjadi Misteri siapa Selin itu?
Hari berlalu, dimana Tama dua hari benar – benar tidak bekerja, tidak pergi kemanapun dan hanya diam saja di rumah menemani sang Istri yang tiap harinya membuat dia gemas.
“Sayang.. Mama menghubungi aku,, katanya kamu belum menemui mama satu minggu ini, Kenapa? Bukankah minggu lalu kamu izin ingin mengunjungi Mama?” Tanya Alisya dengan nada sendunya.
Tama melepas pandangannya dari laptopnya, dua hari ini memang Tama hanya bekerja dari layar Laptop setidaknya Tama bisa menebus waktunya yang hilang bersama sang Istri.
“Waktu aku kerumah Mama sedang arisan sayang.. Hanya ada Raka dirumah.. Sabtu saja kita kerumah Mama,,”
“Kita?” Tama mengangguk dengan cepat.
“Iya dong.. kamu harus ikut, apa kamu tidak mau menemui Mama Mertuamu?”
Alisya tersenyum, hubungan Dia dengan Ibu mertuanya belum membaik, sejak menikah dengan Tama sang Ibu terus menentangnya. Sang Ibu lebih setuju jika anak Sulungnya menikah dengan Wanita pilihannya.
“Semua akan baik – baik saja Sayang,, percaya padaku..”
Alisya bersandar pada dada sang Suami, disanalah ketenangan akan Alisya dapatkan, ketenangan yang tidak dia dapatkan dari manapun.
“Raka bagaimana Mas?”
“Ah Raka.. anak itu aman.. jangan takuti apapun Al.. kamu itu Istriku,, sampai kapanpun kamu akan selalu punya tempat di keluargaku..”
Bukannya tidak mau, hanya saja Alisya selalu merasa canggung saat berada di dalam keluarga Suaminya. Baik Ibu mertua maupun adik Iparnya keduanya memiliki hubungan yang kurang baik dengan Alisya.
--------
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut
love banget pokonya 😗 😗
antagonis mulai keluar nih kayanya