Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.
Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.
Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.
Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Kontrak yang Terbakar dan Ikatan Abadi
Enam bulan telah berlalu sejak operasi transplantasi ginjal Arya dinyatakan berhasil. Musim hujan di kota Jakarta telah sepenuhnya berganti menjadi musim kemarau yang terik, namun bagi Nadin Kirana, kehidupannya justru terasa seperti berada di musim semi yang hangat dan abadi.
Waktu enam bulan itu membawa perubahan yang sangat masif. Arya kini sudah kembali bersekolah seperti anak remaja pada umumnya. Anak laki-laki itu tinggal di sebuah apartemen mewah yang letaknya sangat dekat dengan sekolah internasional terbaik di Jakarta, dikawal oleh tim keamanan rahasia yang dibayar langsung oleh Gilang Mahendra. Arya tumbuh sehat, berat badannya naik, dan senyum ceria tidak pernah lepas dari wajahnya setiap kali Nadin datang berkunjung di akhir pekan.
Sementara itu, nasib ayahnya, Herman Kirana, juga telah diselesaikan oleh Gilang dengan cara yang sangat efisien dan dingin. Herman tidak pernah diizinkan kembali ke Jakarta. Pria tua itu diasingkan ke sebuah vila terpencil yang sangat nyaman di daerah perbukitan Bali. Segala kebutuhan hidupnya dijamin penuh, namun dia hidup di bawah pengawasan ketat anak buah Gilang. Herman tidak diizinkan menyentuh dunia bisnis, tidak diizinkan memegang uang tunai dalam jumlah besar, dan semua alat komunikasinya disadap. Gilang memastikan bahwa pria pengecut itu tidak akan pernah bisa membuat utang baru atau membahayakan nyawa Nadin lagi seumur hidupnya.
Dan bagi Nadin sendiri, sangkar emas yang dulu terasa mencekik kini telah berubah menjadi sebuah kerajaan tempat dia berkuasa.
Pagi ini, Nadin sedang berdiri di atas lantai beton di tingkat kelima puluh proyek Menara Selatan. Angin kencang menerpa wajahnya, menerbangkan beberapa helai rambut yang keluar dari ikatan helm proyek putih yang dia kenakan. Proyek raksasa itu tumbuh dengan sangat pesat. Rangkaian kisi-kisi logam aerodinamis yang Nadin desain sudah mulai dipasang di sisi utara gedung, memantulkan cahaya matahari pagi dengan sangat elegan.
Nadin memakai kemeja katun tebal berwarna abu-abu dan celana bahan hitam, lengkap dengan sepatu bot keselamatan. Di sekelilingnya, belasan insinyur dan mandor berdiri dengan sikap hormat, menunggu instruksi selanjutnya dari sang Kepala Konsultan Arsitek.
"Kemiringan panel di zona B masih kurang dua derajat, Pak Handoko," ucap Nadin dengan suara yang jernih dan sangat tegas, menunjuk ke arah struktur baja di atas kepala mereka. "Kita tidak bisa memberikan toleransi kesalahan sekecil apa pun. Jika angin muson datang, beban tekanannya akan merusak engsel utama. Bongkar bagian itu dan pasang ulang hari ini juga."
"Baik, Nona Kirana. Akan segera kami bongkar dan kami perbaiki sesuai cetak biru," jawab Pak Handoko cepat, langsung mencatat instruksi tersebut di papan berjalannya. Pria paruh baya itu menunduk hormat. Tidak ada satu pun pekerja di lapangan ini yang berani meremehkan ketelitian dan kecerdasan wanita di hadapan mereka.
Setelah memberikan beberapa instruksi teknis tambahan, Nadin menyudahi inspeksi lapangannya. Dia berjalan menuju lift sementara untuk turun ke lantai dasar. Dimas, asisten setia yang kini merangkap sebagai kepala pengawal pribadinya, berdiri dengan sigap di belakang Nadin, memastikan tidak ada material berbahaya yang mendekati wanita itu.
Perjalanan kembali ke markas besar Mahendra Corp memakan waktu sekitar empat puluh menit. Di dalam mobil, Nadin membersihkan sisa debu dari tangannya menggunakan tisu basah. Dia melihat pantulan wajahnya di kaca jendela mobil. Sorot matanya kini terlihat sangat berbeda dibandingkan enam bulan yang lalu saat dia pertama kali dipaksa masuk ke dalam mobil ini. Tidak ada lagi keputusasaan. Yang ada hanyalah ketenangan dan keyakinan mutlak.
Setibanya di lantai enam puluh, suasana kantor terasa sangat profesional dan sibuk seperti biasa. Nadin berjalan menyusuri lorong berlapis marmer putih, membalas sapaan para staf dengan anggukan kecil, lalu membuka pintu ganda ruang kerja CEO.
Ruangan itu sangat sunyi. Nadin berjalan masuk dan melepaskan helm proyeknya. Dia melihat Gilang Mahendra sedang berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan kota. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, dipadukan dengan celana bahan berwarna senada. Postur punggungnya yang lebar memancarkan aura kekuasaan yang selalu berhasil membuat jantung Nadin berdetak sedikit lebih cepat.
Mendengar suara langkah sepatu Nadin, Gilang membalikkan tubuhnya. Mata hitam pekat pria itu langsung mengunci sosok Nadin dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sorot mata Gilang perlahan melembut, sebuah ekspresi langka yang hanya bisa dilihat oleh satu orang di dunia ini.
"Bagaimana inspeksinya?" tanya Gilang. Suara baritonnya menggema pelan di dalam ruangan yang luas itu. Pria itu berjalan mendekati Nadin.
"Semuanya berjalan sesuai jadwal. Ada sedikit kesalahan pemasangan panel di zona utara, tapi saya sudah menyuruh mereka untuk membongkarnya kembali hari ini," jawab Nadin. Dia meletakkan helm proyek dan tas kerjanya di atas meja gambar miliknya.
Gilang berhenti tepat di depan Nadin. Pria itu mengangkat tangan kanannya, mengusap noda debu tipis yang menempel di pipi Nadin dengan ibu jarinya yang besar. Sentuhan Gilang sangat lembut, sangat kontras dengan kepribadiannya yang kejam di luar sana.
"Kau bekerja terlalu keras, Nadin," gumam Gilang. Pria itu menundukkan kepalanya dan mengecup kening Nadin dengan durasi yang cukup lama. "Aku tidak membelimu dengan harga sepuluh miliar hanya untuk melihatmu menghabiskan waktu di tengah debu konstruksi setiap hari."
Nadin tersenyum tipis mendengar kata-kata posesif tersebut. Enam bulan yang lalu, pengingat tentang statusnya sebagai barang tebusan akan membuat Nadin merasa hina dan marah. Namun sekarang, dia tahu betul bahwa kata-kata itu hanyalah cara Gilang mengekspresikan betapa berharganya Nadin bagi pria itu.
"Ini adalah proyek yang kita menangkan bersama, Gilang. Saya hanya ingin memastikannya berdiri dengan sempurna," balas Nadin, merapikan kerah kemeja hitam yang dipakai pria itu.
Gilang menangkap kedua pergelangan tangan Nadin dan menurunkannya secara perlahan. Ekspresi wajah Gilang tiba-tiba berubah menjadi sangat serius dan sulit ditebak. Pria itu melepaskan tangan Nadin dan berjalan menuju meja kerja eboninya.
"Duduklah di sofa," perintah Gilang dengan nada suara yang sedikit lebih rendah.
Nadin mengerutkan kening karena bingung, namun dia menurut. Dia berjalan menuju sofa kulit panjang di sudut ruangan dan duduk di sana. Gilang membuka laci rahasia di bawah meja kerjanya yang hanya bisa diakses dengan pemindai sidik jari. Pria itu mengeluarkan sebuah map hitam tebal dari dalam laci tersebut, lalu berjalan menghampiri Nadin.
Gilang duduk di kursi tunggal yang berhadapan langsung dengan Nadin. Pria itu meletakkan map hitam tersebut di atas meja kaca di antara mereka.
Jantung Nadin seakan berhenti berdetak selama sedetik. Dia mengenali map itu. Itu adalah map yang sama persis dengan yang disodorkan Gilang kepadanya di malam hujan badai di rumah sakit, enam bulan yang lalu. Map yang berisi kontrak perjanjian tiga tahun yang mengikat Nadin untuk menyerahkan tubuh, waktu, dan kepatuhannya secara mutlak.
"Buka map itu, Nadin," ucap Gilang datar.
Dengan tangan yang mendadak terasa dingin, Nadin mencondongkan tubuhnya dan meraih map tersebut. Dia membukanya perlahan. Di dalamnya, terdapat berlembar-lembar kertas perjanjian dengan materai dan tanda tangannya sendiri di halaman terakhir. Tinta yang membentuk tanda tangannya itu tampak seolah sedang menertawakan ketakutannya di masa lalu.
Nadin mendongak menatap Gilang dengan sorot mata penuh tanda tanya. "Mengapa Anda mengeluarkan kontrak ini? Apakah saya melakukan sebuah kesalahan? Ataukah Anda sudah bosan dan ingin menyudahi semuanya lebih awal?"
Pertanyaan terakhir itu meluncur begitu saja dari bibir Nadin, diiringi rasa sakit yang tiba-tiba menyengat dadanya. Pemikiran bahwa Gilang mungkin akan melepaskannya membuat Nadin merasa seperti kehilangan udara untuk bernapas. Dia tidak menyadari betapa dalamnya dia bergantung pada eksistensi pria ini di dalam hidupnya.
Gilang menatap wajah pucat Nadin. Sebuah helaan napas panjang keluar dari bibir pria itu. Gilang memajukan tubuhnya, mengambil map itu dari tangan Nadin, dan melemparkannya kembali ke atas meja kaca.
Gilang merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah pemantik api logam berwarna perak yang mahal. Bunyi logam yang dibuka terdengar sangat nyaring. Nyala api kecil berwarna biru kemerahan menyala di ujung pemantik tersebut.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Nadin, Gilang mendekatkan nyala api itu ke ujung kertas kontrak di dalam map.
Mata Nadin membelalak lebar saat melihat ujung kertas itu mulai menghitam dan terbakar. Lidah api dengan cepat melahap paragraf demi paragraf, mengubah kata-kata perjanjian itu menjadi abu yang berterbangan di udara. Gilang membiarkan kertas itu terbakar hingga setengahnya sebelum akhirnya membuangnya ke dalam asbak kristal besar di atas meja, membiarkan kontrak itu habis dilahap api.
Bau kertas terbakar memenuhi ruangan yang kedap suara tersebut. Nadin terlalu terkejut untuk mengeluarkan suara. Dia hanya bisa menatap abu hitam di dalam asbak, lalu kembali menatap wajah Gilang.
"Kontrak itu cacat sejak awal," ucap Gilang memecah keheningan yang mencekam. Suaranya terdengar sangat parau dan dipenuhi oleh dominasi yang absolut.
"Cacat bagaimana? Bukankah Anda sendiri yang meminta pengacara Anda untuk menyusunnya?" tanya Nadin dengan suara bergetar.
Gilang berdiri dari kursinya. Pria itu berjalan memutari meja kaca dan duduk tepat di sebelah Nadin di atas sofa kulit. Pria itu menggeser posisinya hingga kaki mereka bersentuhan, mengurung Nadin dengan tatapannya yang sangat pekat.
"Kontrak itu menuliskan batas waktu tiga tahun," jelas Gilang, mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Hawa panas dari tubuh pria itu menyelimuti Nadin. "Itu adalah kesalahan terbesarku. Enam bulan hidup bersamamu membuatku menyadari satu hal yang sangat penting, Nadin."
Gilang mengangkat tangan kanannya, menyusuri leher jenjang Nadin dengan sangat perlahan, membiarkan ibu jarinya berhenti tepat di atas denyut nadi wanita itu yang berpacu liar.
"Aku tidak bisa menerima batasan waktu untuk sesuatu yang sudah menjadi milikku," lanjut Gilang dengan nada suara yang bergetar oleh obsesi yang sangat kelam. "Tiga tahun, sepuluh tahun, atau seratus tahun, itu tidak akan pernah cukup bagiku. Aku menginginkan seluruh waktumu hingga napas terakhirmu keluar dari tubuhmu. Aku ingin kau terikat padaku dengan rantai yang tidak akan pernah bisa dirobek atau dibakar oleh siapa pun di dunia ini."
Nadin memejamkan matanya rapat-rapat, meresapi setiap kata yang meluncur dari bibir pria itu. Kata-kata itu bukanlah sebuah ungkapan cinta romantis yang manis dan penuh bunga. Kata-kata itu adalah deklarasi kepemilikan yang sangat egois, gelap, dan mengikat. Namun anehnya, kata-kata itulah yang paling diinginkan oleh hati Nadin saat ini. Nadin merindukan kepastian dari kegelapan pria ini.
Gilang menarik tangannya dari leher Nadin. Pria itu kembali merogoh saku celananya, dan kali ini dia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua yang terlihat sangat familier.
Gilang membuka kotak itu. Di dalamnya, tidak ada kalung berlian atau cincin ruby yang mencolok seperti dulu. Di dalam kotak itu, terbaring dua buah cincin emas putih yang desainnya sangat sederhana, elegan, namun memancarkan kemewahan yang tidak tertandingi. Tidak ada batu permata besar di sana, hanya ukiran halus di bagian dalamnya.
"Kita akan menikah akhir bulan ini," ucap Gilang tanpa memberikan ruang untuk diskusi apalagi penolakan. Nada suaranya adalah sebuah perintah mutlak dari seorang penguasa. "Aku sudah memerintahkan Dimas untuk mengurus semua surat-surat hukum dan pencatatan sipilnya. Kau tidak lagi menjadi jaminan utang, Nadin. Kau adalah milikku dengan cara yang sah di mata dunia. Kau akan menjadi Nyonya Mahendra, satu-satunya ratu yang berhak duduk di atas singgasanaku."
Air mata haru yang sangat hangat menetes dari sudut mata Nadin. Dia tidak pernah menyangka bahwa air mata kebahagiaan akan turun karena pria yang sama yang dulu pernah menghancurkan seluruh harapannya.
Nadin menganggukkan kepalanya perlahan, membiarkan air mata itu membasahi pipinya. Dia tidak memberikan jawaban secara verbal karena tenggorokannya terlalu sesak oleh emosi. Dia hanya mengulurkan tangan kirinya, memberikan isyarat persetujuan yang paling dalam.
Gilang mengambil cincin emas putih yang ukurannya lebih kecil dari dalam kotak. Pria itu menarik tangan kiri Nadin dengan lembut. Gilang melepaskan cincin ruby raksasa yang selama ini menjadi simbol status simpanan dari jari manis Nadin, meletakkannya begitu saja di atas meja, lalu menggantinya dengan cincin emas putih tersebut. Cincin itu melingkar dengan sangat pas, terasa hangat menyentuh kulit Nadin.
Setelah memasangkan cincin itu, Gilang menundukkan kepalanya dan mengecup punggung tangan Nadin dengan durasi yang sangat lama, memberikan penghormatan terakhirnya pada wanita yang berhasil menaklukkan sisi paling buas di dalam dirinya.
Gilang kemudian menatap mata Nadin kembali. Gairah yang sedari tadi ditahan oleh pria itu kini meledak sepenuhnya. Mata hitamnya menyala oleh rasa lapar yang mematikan.
"Tatap mataku, Nadin," bisik Gilang dengan suara yang sangat serak, menggeser tubuhnya menindih sebagian tubuh wanita itu ke sandaran sofa.
Nadin membuka matanya, menatap langsung ke dalam sumur kegelapan di mata pria itu. "Saya menatap Anda, Gilang."
"Katakan padaku, kau milik siapa sekarang," tuntut Gilang, ujung hidungnya menyapu pipi Nadin yang basah oleh air mata. Tangan pria itu dengan cepat namun cekatan membuka kancing kemeja katun abu-abu yang dipakai Nadin satu per satu. Hawa dingin dari pendingin ruangan menyentuh kulit dada Nadin, namun segera digantikan oleh panas tubuh pria di atasnya.
"Milikmu, Gilang. Saya hanya milikmu," desah Nadin tanpa ragu sedikit pun. Suaranya dipenuhi oleh penyerahan diri yang absolut. Dia mengangkat kedua tangannya, melingkarkannya di leher pria itu, dan menarik wajah Gilang mendekat.
Mendengar pengakuan yang sempurna itu, pertahanan Gilang benar-benar hancur. Pria itu meraup bibir Nadin dengan ciuman yang sangat liar, kasar, dan dipenuhi oleh emosi yang meluap-luap. Ciuman itu adalah perayaan atas ikatan abadi yang baru saja mereka resmikan.
Di atas sofa kulit yang mewah, di dalam ruang kerja yang berdinding kaca dan menghadap langsung ke arah pusat kota Jakarta, penyatuan mereka terjadi dengan intensitas yang membutakan. Gilang tidak memberikan ampun sedikit pun. Pria itu mendominasi setiap inci tubuh Nadin, menuntut wanita itu untuk merasakan setiap gelombang kepemilikannya.
Nadin membalas sentuhan itu dengan sama liarnya. Dia meremas otot punggung Gilang, melengkungkan tubuhnya saat bibir pria itu menjelajahi leher dan tulang selangkanya, memberikan gigitan-gigitan kecil yang akan meninggalkan tanda baru yang jauh lebih permanen. Napas mereka memburu bersahutan, mengalahkan suara deru pendingin ruangan.
Bagi Nadin, rasa sakit di masa lalu telah terbakar menjadi debu bersama dengan kertas kontrak di dalam asbak sana. Dunia yang dulu terasa menakutkan kini berada tepat di dalam genggaman tangannya. Dia telah memilih untuk tidak melarikan diri dari sangkar emas ini. Sebaliknya, dia telah menaklukkan sangkar itu, mengubahnya menjadi sebuah kerajaan, dan mendudukkan dirinya sebagai satu-satunya wanita yang bisa mengendalikan sang iblis.
Di puncak kenikmatan yang gelap dan memabukkan itu, Nadin menyadari bahwa obsesi Gilang Mahendra adalah sebuah kutukan yang paling indah. Dan Nadin bersedia menanggung kutukan itu di dalam dekapannya, hari ini, esok, dan selamanya.