Kirana Seo, seorang penulis novel yang hidup pas-pasan, baru saja menyelesaikan bab terakhir novelnya yang tragis. Namun, alih-alih merayakannya, ia justru terbangun dalam tubuh karakter antagonis utama yang ia ciptakan sendiri: Gwyneth Valerine.
Terjebak dalam tubuh seorang "monster" yang terkenal dingin dan kejam, Kirana menyadari situasi berbahaya yang dihadapinya. Dua hari lagi, suaminya, Xavier Zhang, akan kembali, dan sebuah insiden kelam yang seharusnya meninggalkan trauma mendalam bagi putrinya, Amethysta Valerine, akan terjadi.
Bertekad untuk mengubah takdir, Kirana—dalam tubuh Gwyneth—memutuskan untuk menulis ulang kisah hidup mereka. Ia berusaha mendekati Amethysta kecil yang ketakutan, mengganti ketakutan dengan kasih sayang, dan berusaha mencegah tragedi yang telah ia tulis sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Meja Makan Keluarga Hartono
...— ✦ —...
Sabtu malam tiba lebih cepat dari yang Kirana siapkan.
Ia berdiri di depan lemari pakaian Gwyneth — yang ukurannya hampir sebesar kamar apartemennya dulu — dan menatap deretan gaun, blazer, dan set perhiasan yang tersusun rapi seperti koleksi museum pribadi. Semuanya mahal. Semuanya sempurna. Semuanya terasa seperti kostum untuk peran yang belum sepenuhnya ia kuasai.
"Mama mau pakai yang mana?"
Amethysta berdiri di ambang pintu lemari, sudah rapi dalam gaun putih gading dengan pita ungu di pinggang — warna yang pas dengan matanya, meski Kirana ragu apakah itu kebetulan atau Seren yang memilihnya dengan sengaja. Di tangan gadis kecil itu ada bando kecil berbentuk bintang yang tampaknya baru.
"Kamu yang pilihkan," kata Kirana.
Amethysta berkedip. "Aku?"
"Kamu yang paling tahu mana yang bagus."
Sebuah kebohongan kecil yang tidak merugikan siapapun — Kirana tidak tahu mana yang bagus karena semua tampak bagus dan asing sekaligus, dan membiarkan Amethysta memilih adalah cara paling mudah untuk tidak membuat kesalahan yang mencolok sekaligus memberi gadis kecil itu sesuatu untuk dilakukan selain berdiri kaku menunggu.
Amethysta masuk ke lemari dengan langkah hati-hati — masih belum sepenuhnya terbiasa dengan izin yang diberikan begitu saja — dan menelusuri deretan pakaian dengan jari kecilnya. Serius. Seperti tugas yang penting.
Akhirnya ia menarik keluar sebuah gaun navy blue dengan potongan yang elegan, sederhana tanpa ornamen berlebihan.
"Ini," katanya. "Mama kelihatan seperti mama orang kalau pakai ini."
Kirana menatap gaun itu, lalu menatap Amethysta. "*Mama orang?*"
"Maksudku..." Amethysta mengerjap, sedikit tersipu. "Mama yang baik. Yang di buku cerita."
Kirana menerima gaun itu dengan kedua tangan. Tenggorokannya terasa aneh lagi — perasaan yang sudah mulai akrab tapi tidak pernah benar-benar jadi mudah.
"Terima kasih," katanya pelan. "Ini pilihan yang bagus."
...✦ ✦ ✦...
Rumah keluarga Hartono tidak jauh — dua puluh menit berkendara melalui jalan perumahan elite yang pohon-pohon di pinggirnya tampak dipangkas secara berkala oleh tangan yang sangat profesional. Xavier duduk di depan bersama supir. Kirana dan Amethysta di belakang, berdampingan, dengan jarak yang sudah tidak sejauh tiga hari lalu meski belum sedekat yang Kirana harapkan.
Di perjalanan, Amethysta menatap keluar jendela dengan ekspresi yang sulit dibaca. Jarinya sesekali menelusuri embun di kaca — menulis sesuatu, lalu menghapusnya, lalu menulis lagi.
"Nervous?" tanya Kirana pelan.
Gadis kecil itu tidak menjawab langsung. "Aku belum pernah ikut acara seperti ini sebelumnya."
"Aku tahu."
"Mereka akan melihatku."
"Ya."
"Dan mereka kenal Mama." Amethysta menatap Kirana sekarang, matanya ungu dan serius. "Mereka akan tahu kalau Mama berbeda."
Kirana menahan napas sejenak. Tujuh tahun, dan gadis ini sudah bisa membaca situasi sosial dengan ketajaman yang seharusnya tidak perlu dimiliki seseorang seusianya. Inilah yang dilakukan trauma pada anak-anak — mengajari mereka untuk selalu, selalu mengamati, karena mengamati adalah cara bertahan.
"Kalau mereka bertanya," kata Kirana hati-hati, "kita jawab jujur bahwa Mama sedang mencoba hal baru. Tidak ada yang salah dengan itu."
Amethysta mempertimbangkan jawaban itu. Lalu mengangguk sekali, kembali menatap jendela, dan kali ini tidak menghapus tulisannya di embun kaca.
Kirana mencuri pandang. Tulisan itu kecil, huruf-hurufnya tidak rata seperti tulisan anak yang masih belajar. Tapi bisa dibaca.
*Orion.*
...✦ ✦ ✦...
Ny. Hartono adalah wanita enam puluh tahun yang tampak lima puluh, dengan rambut silver yang ditata dengan sangat sengaja dan mata cokelat yang tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Ia menyambut mereka di pintu dengan senyum yang hangat di permukaan dan penilaian yang tenang di baliknya.
"Xavier! Sudah lama." Ia memeluk Xavier dengan natural, lalu beralih ke Kirana. "Gwyneth, sayang. Kamu kelihatan..." Ia berhenti. Satu detik. Dua detik. "...berbeda. Istirahat yang baik?"
"Cukup baik," jawab Kirana dengan nada yang ia usahakan mendekati frekuensi Gwyneth — tidak terlalu hangat, tidak terlalu dingin, tepat di garis yang tidak menimbulkan pertanyaan lebih lanjut.
Tapi Ny. Hartono sudah melihat ke bawah. Ke Amethysta yang berdiri di samping Kirana, tenang, dengan bando bintangnya.
"Dan ini..." Ny. Hartono menunduk sedikit dengan cara yang orang dewasa lakukan saat bicara pada anak kecil. "Amethysta? Sudah besar sekali. Terakhir kali aku melihatmu kamu masih seumur ini." Ia menunjukkan ketinggian lutut dengan tangannya.
Amethysta menatapnya dengan mata ungu yang menimbang. "Selamat malam, Tante."
"Sopan sekali." Ny. Hartono mengangkat pandangannya ke Kirana, dan di matanya ada sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa Kirana artikan. Bukan curiga. Lebih seperti... catatan. *Ini akan disimpan dan dipikirkan nanti.* "Ayo masuk, semua sudah menunggu."
...✦ ✦ ✦...
Ada delapan orang di meja makan malam itu.
Tn. Hartono yang ramah dan lebih mudah dibaca dari istrinya. Dua pasang kolega bisnis Xavier yang Kirana kenali dari jurnalnya sebagai bagian dari lingkaran profesional keluarga Valerine. Dan satu orang yang tidak ia antisipasi sepenuhnya — seorang wanita sekitar empat puluh tahun, Melissa, yang dari cara orang-orang di meja memperlakukannya jelas adalah teman lama Gwyneth. Teman yang berarti seseorang yang mengenal Gwyneth dari dalam.
Kirana duduk dengan punggung tegak dan otak yang bekerja tiga kali lebih keras dari biasanya.
Amethysta duduk di sebelahnya, diam dan mengamati — tapi tidak dengan ketakutan. Lebih seperti seorang peneliti kecil yang mengumpulkan data.
Percakapan mengalir. Bisnis, berita, rencana liburan. Kirana menjawab ketika ditanya, tersenyum di waktu yang tepat, mengikuti ritme meja dengan telinga yang sudah terlatih dari membaca ratusan adegan sosial dalam penulisannya.
Lalu Melissa berbicara.
"Gwyneth." Suaranya punya kualitas yang langsung menarik perhatian — hangat tapi tajam di tepinya, seperti pisau yang dibungkus beludru. "Aku dengar kamu akhir-akhir ini... lebih banyak di rumah. Lebih banyak dengan keluarga."
Kalimat yang bisa diartikan dua cara. Kirana memilih artian yang lebih aman. "Iya. Ada beberapa hal yang kurasa butuh lebih banyak perhatian."
"Hal-hal." Melissa mengulangi kata itu dengan nada yang tidak sepenuhnya netral. "Seperti?"
"Seperti ini." Kirana menoleh ke Amethysta di sebelahnya, yang sedang dengan serius memilih antara dua sendok untuk sup yang baru disajikan. Gestur kecil. Alami. Tidak direncanakan sepenuhnya — tapi tepat.
Melissa mengikuti pandangannya. Melihat Amethysta. Lalu kembali ke Kirana, dan untuk pertama kalinya malam itu, ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang lebih sulit dibaca.
"Tentu," katanya akhirnya. Singkat.
Ny. Hartono, yang tidak pernah benar-benar berhenti mengamati dari ujung meja, mengalihkan topik dengan keahlian seseorang yang sudah puluhan tahun mengelola meja makan.
...✦ ✦ ✦...
Masalah datang setelah makan utama, saat tuan rumah menyajikan dessert dan percakapan berpencar menjadi kelompok-kelompok kecil.
Melissa mendekati Kirana di pojok ruangan, dengan dua gelas anggur di tangannya — satu ia sodorkan ke Kirana, satu ia pegang sendiri. Gerakan yang terlihat seperti keramahan tapi terasa seperti taktik.
"Gwyneth." Kali ini suaranya lebih rendah. Lebih pribadi. "Kamu baik-baik saja?"
"Baik. Sudah kubilang—"
"Bukan itu yang kumaksud." Melissa menatapnya langsung. "Maksudku kamu. Gwyneth yang aku kenal sejak dua puluh tahun lalu. Karena wanita yang duduk di meja makan tadi..." Ia berhenti, mengambil napas kecil. "Aku tidak mengenalinya."
Kirana tidak menjawab langsung. Ia memegang gelas anggurnya, menatap cairannya yang bergoyang pelan, dan memilih kata-katanya seperti memilih pijakan di atas tanah yang tidak stabil.
"Orang berubah, Melissa."
"Ya." Melissa mengangguk pelan. "Tapi tidak seperti ini. Tidak secepat ini. Tidak tanpa sesuatu yang terjadi." Matanya tidak melepaskan Kirana. "Gwyneth, apa yang terjadi?"
Dan di situlah Kirana merasakan sesuatu yang tidak ia antisipasi — bukan ketakutan ketahuan, tapi sesuatu yang lebih kompleks. Karena di balik kata-kata Melissa yang tajam itu, di balik pertanyaannya yang terasa seperti interogasi, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang terlihat seperti kekhawatiran nyata. Seperti seseorang yang sudah lama melihat temannya berjalan ke arah yang salah dan tidak tahu cara menghentikannya, dan kini melihat sesuatu bergeser dan tidak yakin apakah itu ke arah yang lebih baik atau sesuatu yang lebih mengkhawatirkan.
"Tidak ada yang terjadi," kata Kirana pelan. "Atau mungkin banyak yang terjadi, tapi dari dalam. Bukan dari luar." Ia mengangkat matanya, menatap Melissa langsung. "Aku hanya memutuskan bahwa beberapa hal tidak bisa terus berjalan seperti sebelumnya."
Melissa menatapnya lama. Sangat lama.
"Amethysta," katanya akhirnya. Bukan pertanyaan.
"Antara lain."
Sesuatu di wajah Melissa melunak — bukan dramatis, bukan seperti es yang mencair, tapi seperti satu lapisan yang selama ini terpasang karena perlu, perlahan dilepas karena mungkin tidak lagi perlu.
"Aku sudah lama ingin mendengar itu," katanya pelan. Ia mengangkat gelasnya sedikit — bukan toast yang meriah, hanya gestur kecil yang artinya hanya bisa dipahami oleh dua orang. "Jangan berhenti di tengah jalan."
...✦ ✦ ✦...
Dalam perjalanan pulang, Amethysta tertidur.
Kepalanya bersandar pelan ke lengan Kirana — bukan karena disandarkan, tapi karena gravitasi dan kantuk membawanya ke sana secara alami, dan Kirana tidak bergerak, tidak menggesernya, hanya duduk diam dengan lengan yang menahan berat kecil itu.
Di depan, Xavier melirik ke kaca spion sekali. Matanya bertemu dengan Kirana selama satu detik, lalu kembali ke jalan.
Tapi dalam satu detik itu, Kirana melihat sesuatu yang tidak bisa ia salah artikan.
Pria itu — pria yang dua puluh menit lagi akan kembali ke rumah yang sama, yang tidur di kamar yang sama, yang memanggil wanita ini dengan nama yang sama setiap hari — pria itu menatapnya dengan cara yang tidak pernah ia tuliskan dalam novelnya. Karena dalam novelnya, Xavier tidak pernah punya momen ini untuk dilihat.
Bukan hanya lega. Lebih dari itu.
Sesuatu yang lebih dalam, yang lebih rapuh, yang sudah lama disimpan di tempat yang bahkan ia sendiri mungkin tidak sering mengunjunginya.
Kirana menatap ke luar jendela, ke jalan yang diterangi lampu-lampu kota, dan merasakan berat kepala kecil di lengannya, dan berpikir bahwa malam ini — dengan segala ketegangan dan ketidakpastiannya, dengan Melissa yang terlalu jeli dan Ny. Hartono yang terlalu mengamati — malam ini tetap berhasil.
Tidak sempurna. Tidak tanpa retak.
Tapi berhasil.
Dan di antara bintang-bintang yang mulai muncul di langit malam di luar jendela, Kirana mencari Orion — dan menemukannya, tepat di tempat yang selalu ia janjikan.
...✦ ✦ ✦...
...— Bersambung —...