Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akrom Kafa Bihi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Mengarah ke Dalam
Malam sudah turun ketika Arkan dan Aluna kembali ke mobil.
Hujan mulai turun lagi, rintiknya memantul di kaca mobil hitam yang diparkir di depan proyek.
Suasana di dalam mobil terasa sunyi.
Aluna masih memikirkan semua yang terjadi di gudang tadi.
Cemalia.
Uang proyek.
Dan kemungkinan bahwa kematian ayahnya berkaitan dengan semua itu.
“Apakah menurutmu Cemalia benar-benar melakukannya?” tanya Aluna pelan.
Arkan menyalakan mesin mobil sebelum menjawab.
“Aku tidak pernah percaya pada kesimpulan yang terlalu cepat.”
Mobil mulai bergerak meninggalkan area proyek.
Lampu-lampu jalan membentuk garis panjang di kaca yang basah.
“Cemalia memang ambisius,” lanjut Arkan. “Tapi membunuh seseorang bukan sesuatu yang bisa dia lakukan sendirian.”
“Jadi ada orang lain?”
Arkan mengangguk pelan.
“Dan orang itu kemungkinan besar berasal dari dalam perusahaan.”
Aluna menelan ludah.
“Orang dalam…”
Kata-kata itu terasa menakutkan.
Karena artinya pelaku mungkin seseorang yang setiap hari mereka temui.
Arkan meliriknya sekilas.
“Kamu tidak perlu memikirkan ini terlalu jauh.”
Aluna menggeleng.
“Ayahku meninggal karena ini. Aku tidak bisa berpura-pura tidak peduli.”
Arkan tidak menjawab.
Namun di dalam hatinya, ia mengakui sesuatu.
Wanita di sampingnya jauh lebih kuat dari yang ia kira.
—
Beberapa jam kemudian mereka tiba di mansion keluarga Wijaya.
Rumah besar itu tampak tenang seperti biasa.
Namun bagi Aluna, semuanya terasa berbeda.
Setiap sudut rumah itu kini dipenuhi bayangan kecurigaan.
Jika benar ada pengkhianat di dalam perusahaan…
Siapa yang bisa dipercaya?
Mereka baru saja memasuki ruang tamu ketika suara berat terdengar dari arah tangga.
“Jadi kalian akhirnya pulang.”
Tuan Wijaya berdiri di anak tangga dengan tangan di belakang punggung.
Tatapannya langsung tertuju pada Arkan.
“Aku sudah mendengar laporan dari polisi.”Arkan melepas jasnya.
“Berita menyebar cepat.”
“Terlalu cepat,” jawab ayahnya dingin.
Ia turun perlahan dari tangga.
“Ada transaksi lima puluh miliar yang mengalir ke perusahaan milik Cemalia. Itu bukan masalah kecil.”
Aluna berdiri diam di samping Arkan.
Ia masih belum terbiasa menghadapi aura intimidasi pria tua itu.
“Aku akan menyelesaikannya,” kata Arkan tenang.
Tuan Wijaya menatapnya tajam.
“Kau lebih baik melakukannya dengan cepat.”
Ia berhenti tepat di depan mereka.
“Karena jika media mengetahui ini… reputasi perusahaan kita bisa hancur.”
Arkan tidak terlihat terpengaruh.
“Perusahaan bisa dibangun kembali.”
Ayahnya mengangkat alis.
“Dan bagaimana dengan reputasi keluarga kita?”
Arkan menjawab dengan nada datar.
“Jika kita menutupinya, reputasi itu tidak pernah benar-benar ada.”
Untuk sesaat, suasana menjadi tegang.
Namun Tuan Wijaya hanya menghela napas panjang.
“Kau keras kepala seperti ibumu.”
Ia menoleh pada Aluna.
“Dan kamu.”
Aluna sedikit terkejut.
“Ya, Pak?”
“Kau sebaiknya berhati-hati.”
Tatapannya tajam.
“Orang yang terlibat dalam uang sebesar itu biasanya tidak segan melakukan apa pun.”
Kalimat itu membuat Aluna merinding.
—
Malam itu Aluna sulit tidur.
Ia duduk di balkon kamar sambil memandangi taman yang gelap.
Angin malam terasa dingin.
Pikirannya dipenuhi terlalu banyak pertanyaan.
Tiba-tiba pintu balkon terbuka.
Arkan keluar dengan dua cangkir kopi di tangannya.
Ia menyerahkan satu pada Aluna.
“Terima kasih,” kata Aluna.
Mereka berdiri berdampingan tanpa bicara selama beberapa saat.
Lampu taman memantulkan bayangan pohon yang bergoyang pelan.
“Aku ingin menanyakan sesuatu,” kata Aluna akhirnya.
“Apa?”
“Seberapa dekat hubunganmu dengan Cemalia dulu?”
Arkan tidak terlihat terkejut.
Ia sudah menduga pertanyaan itu akan muncul.
“Kami bertunangan selama satu tahun.”
Aluna menatapnya.
“Kenapa kalian putus?”
Arkan terdiam sejenak.
Angin malam meniup rambutnya.
“Karena aku menyadari sesuatu tentang dirinya.”
“Apa?”
Arkan menyesap kopinya sebelum menjawab.
“Cemalia tidak pernah benar-benar mencintai siapa pun.”
Aluna mengerutkan kening.
“Lalu kenapa dia ingin menikah denganmu?”
Arkan tersenyum tipis.
“Karena aku.”
“Karena kamu?”
“Karena nama keluarga Wijaya.”
Jawaban itu terasa sangat dingin.
Namun juga sangat masuk akal.
Aluna menunduk sedikit.
“Kalau begitu… kenapa dia membenciku?”
Arkan menatapnya.
“Karena kamu mendapatkan sesuatu yang dia inginkan.”
Aluna menghela napas pelan.
“Padahal pernikahan kita hanya kontrak.”
Arkan tidak menjawab.
Namun di dalam hatinya, ia tahu satu hal.
Kontrak itu sudah lama terasa jauh lebih rumit dari yang mereka rencanakan.
—
Di tempat lain di kota yang sama, sebuah mobil hitam berhenti di depan sebuah gudang tua di pinggiran Jakarta.
Seorang pria turun dari mobil.
Ia mengenakan jas mahal, namun wajahnya tampak tegang.
Pintu gudang terbuka.
Di dalamnya berdiri seorang wanita dengan gaun merah gelap.
Cemalia.
Ia tersenyum ketika melihat pria itu.
“Kau datang juga, Dimas.”
Pria itu menelan ludah.
“Kita harus menghentikan ini.”
Cemalia mengangkat alis.
“Menghentikan apa?”
“Arkan sudah mulai menyelidiki proyek itu.”
Cemalia tertawa kecil.
“Tentu saja dia akan menyelidikinya.”
Ia berjalan mendekat dengan langkah anggun.
“Bukankah itu yang kita inginkan?”
Dimas terlihat gugup.
“Jika dia menemukan semuanya—”
Cemalia memotongnya.
“Dia tidak akan menemukan semuanya.”
Matanya bersinar dingin.
“Selama kau melakukan tugasmu.”
Dimas terdiam.
“Dan ingat,” lanjut Cemalia, “kau juga terlibat dalam semua ini.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit.
“Jika aku jatuh… kau jatuh bersamaku.”
Wajah Dimas menjadi pucat.
Ia tahu wanita di depannya tidak sedang bercanda.
Cemalia kembali tersenyum.
“Sekarang pulanglah.”
“Dan bersiaplah.”
“Karena permainan sebenarnya baru akan dimulai.”
—
Sementara itu, di mansion Wijaya, Arkan berdiri di ruang kerjanya sambil menatap layar laptop.
Beberapa laporan keuangan terbuka di depannya.
Angka-angka yang ia lihat membuat alisnya semakin berkerut.
Transfer lima puluh miliar itu bukan satu-satunya transaksi mencurigakan.
Ada beberapa transaksi lain.
Jumlahnya lebih kecil.
Namun semuanya mengarah ke perusahaan yang sama.
Perusahaan milik Cemalia.
Arkan mengetuk meja perlahan.
Jika semua ini benar…
Berarti permainan ini sudah berlangsung lama.
Jauh sebelum kematian ayah Aluna.
Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti.
Satu nama di laporan lama.
Nama itu sangat familiar.
Bahkan terlalu familiar.
Arkan menatap layar laptopnya dengan mata menyipit.
Karena nama itu bukan milik karyawan biasa.
Nama itu adalah seseorang yang sangat dekat dengan keluarganya.
Seseorang yang bahkan ia percayai selama bertahun-tahun.
Arkan bersandar perlahan di kursinya.
Pikirannya mulai menyusun kemungkinan baru.
Dan jika dugaan itu benar…
Maka rahasia yang mereka cari tidak hanya akan menghancurkan perusahaan.
Tapi juga keluarganya sendiri.
Arkan menutup laptopnya dengan pelan.
Di luar, hujan mulai turun lebih deras.
Dan tanpa disadari oleh siapa pun di rumah itu—
Pengkhianatan yang lebih besar sedang mendekat.
End Bab 32🔥
di bab 2 dijelaskan klo ayah Aluna tidak bisa hadir di pernikahan Aluna karena kesehatan yang belum stabil, tapi di bab ini menjelaskan klo ayah Aluna meninggal di tempat proyek? yang benar mana nih?