Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJAMUAN DI ATAS PUING
Asap kelabu mengepul dari bangkai kapal-kapal perang Kekaisaran yang berserakan di lereng tebing seperti tulang-belulang raksasa yang jatuh dari surga. Bau ozon yang tajam bercampur dengan aroma tanah basah dan besi terbakar. Lembah Sunyi, yang beberapa saat lalu bergetar di bawah ancaman pemusnahan, kini dicekam oleh kesunyian yang lebih mengerikan daripada ledakan itu sendiri.
Dua ribu murid Sekte Tanpa Hutang masih bersila di tanah. Tubuh mereka kaku, bukan lagi karena formasi, melainkan karena syok. Mata mereka terpaku pada sosok di tengah lapangan: Tian Feng.
Rambut peraknya yang kini menyentuh tanah perlahan memendek, namun warna perak itu tidak memudar menjadi hitam kembali. Ia berdiri diam, telapak tangannya masih menghadap ke langit, sementara debu emas dari tujuh Hakim Agung masih melayang-layang di sekelilingnya seperti kunang-kunang yang sekarat.
Feng terbatuk. Setetes darah berwarna emas kental jatuh ke tanah, dan di mana darah itu mendarat, rumput liar mendadak tumbuh setinggi satu meter dalam sekejap—sebuah ledakan vitalitas yang tak terkendali.
"Feng!" Xuelan menerjang maju. Tangannya gemetar saat menyentuh bahu Feng. Ia merasa seolah sedang menyentuh permukaan matahari yang dibungkus es. Panas dan dingin silih berganti menghantam telapak tangannya.
Feng menoleh. Matanya yang tadi emas murni perlahan kembali ke warna aslinya, namun ada celah vertikal tipis di pupilnya yang tetap tinggal. "Aku... tidak apa-apa, Xuelan. Hanya sedikit lelah."
Suaranya terdengar seperti gesekan dua batu purba. Ia mencoba melangkah, namun lututnya goyah. Mei, gadis kecil yang masih memegang potongan Guqin yang kini bersinar lembut, menyusup di bawah ketiak Feng untuk menopangnya.
"Tuan tidak boleh berjalan dulu," Mei berbicara datar, matanya menatap lurus ke depan. "Aliran modal di meridianmu sedang mengalami inflasi. Jika Tuan memaksakan gerakan, jiwamu akan meledak menjadi koin-koin energi yang tak berguna."
Guru Lin datang berlari dengan napas tersengal, tas medisnya berguncang. "Minggir! Berikan dia ruang!" Ia segera memeriksa denyut nadi Feng dan wajahnya seketika memucat. "Ini... ini mustahil. Nadimu tidak berdetak, Feng. Ia berirama seperti... transaksi? Apa yang terjadi di dalam tubuhmu?"
Feng hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak sangat letih. "Aku baru saja menggadaikan sedikit kemanusiaanku, Guru. Jangan khawatir, bunganya bisa kubayar nanti."
Malam turun dengan cepat, menyelimuti lembah dalam kegelapan yang hanya dipecah oleh api unggun dari puing-puing kapal. Di aula barak yang baru setengah jadi, sebuah perjamuan sederhana digelar. Tidak ada anggur mahal atau daging binatang suci. Hanya bubur jagung, sayur hutan, dan air jernih dari sungai.
Namun, suasana di aula itu sangat tegang. Para murid duduk berkelompok, berbisik-bisik sambil melirik ke arah meja utama di mana Feng duduk di antara Xuelan, Guru Lin, dan Mei.
Zhao, yang kini kehilangan seluruh kekuatannya dan hanya menjadi manusia biasa yang gemuk, duduk di sudut paling gelap dengan tangan terikat. Matanya penuh kebencian, namun mulutnya disumpal dengan kain.
"Kita tidak bisa membiarkan ini, Feng," Guru Lin memecah keheningan sambil mengaduk buburnya. "Tujuh Hakim Agung hilang tanpa jejak. Kekaisaran Pusat tidak akan mengirim jenderal lagi. Mereka akan mengirim Pemusnah Sektor. Kita harus lari dari lembah ini."
Feng meletakkan sendok bambunya. Ia menatap ke luar jendela, ke arah reruntuhan kapal emas yang kini mulai dipreteli oleh para pelayan untuk dijadikan alat masak dan senjata.
"Lari ke mana, Guru? Di dunia ini, tidak ada tempat yang tidak tercatat dalam buku besar mereka," sahut Feng. "Kekaisaran, Istana Karma, faksi-faksi besar... mereka semua terhubung oleh sistem hutang yang sama. Jika kita pergi sekarang, kita hanya akan menjadi pengemis takdir di tempat lain."
Xuelan meletakkan tangannya di atas tangan Feng. "Lalu apa rencanamu? Kita baru saja membantai departemen hukum tertinggi mereka. Mereka tidak akan mengajakmu bernegosiasi."
"Justru sebaliknya, Xuelan," Feng menatap mata biru gadis itu. "Mereka akan sangat ingin bernegosiasi sekarang. Karena mereka takut. Mereka tidak takut padaku sebagai pejuang, mereka takut padaku sebagai 'Ketidakteraturan'. Mereka takut pada sistem yang kubangun di lembah ini—sistem di mana energi tidak mengalir ke atas, tapi berputar di antara kita sendiri."
Tiba-tiba, Mei berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan menuju tengah aula, menarik perhatian semua orang. Ia mengangkat potongan kayu Guqin-nya ke udara.
"Perjamuan ini belum lengkap," ucap Mei. Suaranya yang kecil namun tajam menusuk hingga ke sudut-sudut ruangan. "Ada tamu yang tidak diundang yang sedang menunggu di pintu masuk lembah. Ia membawa tawaran, bukan pedang."
Feng mengerutkan kening. Ia menutup matanya, menyebarkan indra "Bendahara"-nya ke seluruh penjuru lembah. Benar saja. Di perbatasan formasi pelindung es milik Xuelan, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan jubah pedagang sederhana. Ia tidak membawa senjata, hanya sebuah sempoa yang terbuat dari tulang naga hitam yang tergantung di pinggangnya.
"Biarkan dia masuk," perintah Feng.
Beberapa saat kemudian, pria itu masuk ke dalam aula. Ia berjalan dengan langkah yang sangat teratur, seolah setiap inci langkahnya telah dihitung biayanya. Ia membungkuk hormat di depan meja Feng.
"Hamba adalah Qian Fu, utusan dari Perserikatan Bankir Langit," ucap pria itu. Suaranya halus seperti sutra. "Kami mendengar bahwa ada aset baru yang muncul di Lembah Patah Hati yang berhasil melikuidasi tujuh Hakim Agung dalam satu jentikan jari. Kami datang untuk menawarkan... kemitraan strategis."
Xuelan berdiri, pedangnya berdenting di dalam sarungnya. "Kemitraan? Setelah kalian mengirim anjing-anjing kekaisaran untuk membantai kami?"
Qian Fu tersenyum tenang, matanya yang sipit berkilat cerdas. "Nona yang cantik, Kekaisaran adalah klien kami, tapi mereka bukan pemilik kami. Di mata Perserikatan, Kekaisaran Pusat saat ini sedang mengalami 'Krisis Likuiditas'. Mereka terlalu banyak meminjam kekuatan dari masa lalu untuk menjaga kekuasaan mereka sekarang. Kami melihat Tuan Tian Feng sebagai peluang investasi yang jauh lebih menjanjikan."
Feng menopang dagunya dengan tangan, menatap Qian Fu dengan tatapan malas. "Bicara langsung pada intinya, Pedagang. Berapa harga yang kau tawarkan untuk kepalaku, dan berapa harga yang kau tawarkan untuk kesetiaanku?"
Qian Fu tertawa kecil, suara sempoanya gemerincing saat ia bergerak. "Kami tidak menginginkan kepala Anda, Tuan. Kami ingin 'Lisensi' Anda. Kami ingin Anda melegalkan sistem Transmutasi Kolektif ini di bawah pengawasan Perserikatan. Sebagai imbalannya, kami akan menghapus status 'Kriminal' Anda di seluruh benua, dan Kekaisaran Pusat akan dipaksa untuk mengakui lembah ini sebagai Zona Otonom."
Suasana di aula menjadi riuh. Pengampunan? Zona otonom? Ini adalah hal yang paling diinginkan oleh para murid yang ketakutan. Mereka mulai saling pandang, harapan baru mulai tumbuh di wajah-wajah yang lelah itu.
Namun, Feng tidak tampak senang. Ia justru menatap Mei, yang sedang menatap Qian Fu dengan tatapan penuh jijik.
"Dan apa jaminannya?" tanya Feng.
"Jaminannya adalah jiwa Anda, Tuan Tian Feng," jawab Qian Fu dengan tenang. "Anda hanya perlu menandatangani Kontrak Jiwa ini, yang menyatakan bahwa sepuluh persen dari seluruh energi yang dihasilkan oleh lembah ini setiap bulan akan dikirim ke gudang pusat Perserikatan sebagai 'Pajak Perlindungan'."
“Jangan tanda tangani!” Yue Er berteriak di dalam pikiran Feng, suaranya dipenuhi amarah yang meledak-ledak. “Itu adalah 'Kontrak Perbudakan Terselubung'! Jika kau memberikan sepuluh persen energi lembah ini pada mereka, kau memberikan mereka kunci untuk menutup meridian setiap orang di sini kapan pun mereka mau!”
Feng berdiri perlahan. Ia berjalan mendekati Qian Fu. Tekanan udara di dalam aula mulai meningkat kembali. Rambut perak Feng sedikit berkibar meskipun tidak ada angin.
"Pajak perlindungan?" Feng mengulangi kata itu dengan nada meremehkan. "Kau datang ke rumahku, melihatku menghancurkan pasukan terkuat kekaisaran, dan kau berpikir aku akan membayar pajak padamu?"
"Ini adalah cara terbaik untuk menghindari perang yang lebih besar, Tuan," Qian Fu masih mencoba bersikap sopan, namun ada nada ancaman di suaranya. "Perserikatan memiliki kolektor yang jauh lebih efisien daripada para Hakim itu."
Feng mengambil sempoa tulang naga dari pinggang Qian Fu. Pria itu terkejut, namun ia tidak bisa bergerak; seolah-olah berat tubuhnya mendadak meningkat satu juta kali lipat, menguncinya di lantai marmer.
Feng memutar-mutar sempoa itu di tangannya, lalu dengan satu gerakan cepat, ia menghancurkannya menjadi serbuk halus.
"Audit ini selesai," ucap Feng dingin. "Katakan pada Perserikatan Bankir Langit-mu: Aku tidak mencari mitra. Aku mencari 'Pesaing'. Mulai malam ini, mata uang energi di dunia ini tidak lagi ditentukan oleh emas kalian, tapi oleh keringat dan takdir orang-orang di lembah ini."
Feng menjentikkan jarinya, dan sebuah ledakan energi gravitasi melemparkan Qian Fu keluar dari aula, meluncur melewati gerbang lembah hingga menghilang di kegelapan hutan.
Kesunyian kembali menyelimuti aula. Kali ini, para murid menatap Feng dengan ketakutan yang berbeda. Mereka menyadari bahwa pemimpin mereka baru saja menolak perdamaian demi martabat yang berbahaya.
Feng berbalik menghadap murid-muridnya. "Kalian takut?"
Tidak ada yang menjawab.
"Bagus," Feng menyeringai. "Rasa takut adalah modal pertama untuk kewaspadaan. Malam ini, kita tidak hanya merayakan kemenangan. Kita merayakan kelahiran sebuah musuh bagi seluruh tatanan dunia."
Feng berjalan menuju Xuelan, mengambil tangannya, dan membimbingnya ke balkon barak. Di sana, di bawah langit yang kini bersih dari awan perunggu, ribuan murid mengikuti mereka.
"Lihat ke atas," Feng menunjuk ke bintang-bintang. "Bintang-bintang itu tidak berhutang cahaya pada siapa pun. Begitu juga kita."
Xuelan bersandar di bahu Feng. "Ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang dan berdarah, bukan?"
"Sangat," jawab Feng. "Tapi setidaknya, kita tidak akan bosan."
Di sudut aula, Mei duduk sendirian. Ia memetik satu senar terakhir pada kayu Guqin-nya. Sebuah nada rendah yang terdengar seperti lonceng kematian yang didentingkan untuk sebuah era yang lama, dan lagu pembuka untuk era yang penuh dengan kekacauan yang indah.
Mei berbisik pelan, hanya untuk dirinya sendiri. "Audit besar-besaran baru saja dimulai, Tuan Bendahara. Dan kali ini... tidak ada yang bisa bangkrut dengan tenang."