Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan Di balik Selimut
Malam keempat di bawah pengawasan Suster Lastri terasa lebih berat dari sebelumnya. Di dalam kamar utama, lampu sudah dimatikan, menyisakan keremangan dari lampu jalan yang menembus celah gorden. Arka dan Laras berbaring kaku. Jarak di antara mereka di atas kasur king size itu cukup luas untuk meletakkan satu orang lagi, namun ketegangannya memenuhi seluruh ruangan.
Tiba-tiba, terdengar langkah kaki halus di lorong. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamar mereka. Tidak ada ketukan. Hanya bayangan kaki yang memutus aliran cahaya di bawah celah pintu. Suster Lastri sedang mendengarkan.
"Dia di sana lagi," bisik Laras, nyaris tak terdengar. Suaranya bergetar.
Arka bergeser sedikit. "Dia curiga karena kita terlalu tenang. Pengantin baru di mata ayahku dan orang-orangnya tidak mungkin sediam ini setiap malam."
"Lalu kita harus apa? Pura-pura berantem?" Laras menoleh, menatap siluet Arka di kegelapan.
"Bukan berantem, Laras. Kita harus menciptakan... 'suasana'." Arka menghela napas panjang, sebuah keputusan sulit baru saja diambilnya. "Bicara padaku. Tertawalah. Atau buat suara apa pun yang menunjukkan kita sedang berinteraksi secara intim."
Laras terpaku. "Aku nggak bisa akting seberani itu, Arka."
"Aku yang mulai," bisik Arka.
Tiba-tiba, Arka bergerak mendekat. Ia menarik selimut hingga menutupi kepala mereka berdua, menciptakan ruang sempit yang panas dan beraroma parfum maskulin Arka yang bercampur dengan deterjen seprai. Di bawah selimut itu, wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Tertawalah, Laras. Sekarang," perintah Arka dengan suara rendah yang terdengar serak.
Laras mencoba mengeluarkan tawa kecil yang dipaksakan, namun saat ia melihat mata Arka yang begitu dekat dan intens, tawa itu berubah menjadi tawa gugup yang terdengar sangat nyata. Arka kemudian mulai membisikkan kata-kata acak di telinga Laras hal-hal tentang proyek, tentang cuaca tapi dengan nada yang sangat lembut dan penuh perasaan.
Di luar, Suster Lastri mendengar suara gumaman rendah Arka dan tawa renyah Laras yang tertahan. Ia mencatat sesuatu di benaknya, namun ia masih belum beranjak.
"Dia masih di sana," bisik Arka lagi. Tangannya kini meraih pinggang Laras, menariknya lebih dekat agar bayangan mereka di balik gorden jika dilihat dari pantulan terlihat seperti satu siluet yang menyatu. Sentuhan itu membuat jantung Laras berdegup kencang, seolah-olah ia sedang mengerjakan proyek di ketinggian tanpa tali pengaman. "Arka... ini sudah cukup, kan?"
"Belum. Dia butuh bukti bahwa kita 'hidup'." Arka kemudian melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Ia mengambil tangan Laras dan meletakkannya di dadanya. Laras bisa merasakan jantung Arka yang berdetak sama kencangnya dengan jantungnya sendiri.
"Kamu juga takut, kan?" bisik Laras, menatap mata Arka. "Aku tidak takut pada Lastri. Aku takut pada diriku sendiri, Laras," jawab Arka jujur. "Aku takut jika sandiwara ini menjadi satu-satunya hal yang membuatku merasa menjadi manusia lagi."
Keheningan yang berbeda kini tercipta di bawah selimut itu. Bukan keheningan yang kaku, melainkan keheningan yang penuh dengan pengakuan yang tak terucapkan. Suster Lastri akhirnya melangkah pergi, langkah kakinya menjauh menuju kamarnya di lantai bawah. Begitu suasana dirasa aman, Arka perlahan melepaskan selimut itu. Namun, ia tidak segera menjauh. Mereka tetap berbaring berdekatan, menatap langit-langit kamar.
"Pasal 4 kita benar-benar sedang diuji, ya?" Laras memecah kesunyian dengan suara serak.
"Kontrak itu dibuat untuk melindungi kita dari paksaan orang lain, Laras," Arka menoleh ke arahnya. "Tapi kontrak itu tidak punya kuasa atas apa yang kita rasakan saat tidak ada orang yang melihat."
Laras terdiam, merenungkan kata-kata Arka. Ia menyadari bahwa tembok beton yang ia bangun bukan hanya untuk menghalangi Jenderal, tapi juga untuk membentengi hatinya yang mulai rapuh.
Keesokan paginya, Suster Lastri muncul di meja makan dengan ekspresi yang sedikit lebih lunak, namun tetap waspada. "Selamat pagi. Saya harap istirahat kalian berkualitas semalam."
Laras hanya mengangguk sambil menyesap kopinya, sementara Arka tetap fokus pada korannya. Namun, saat Lastri pergi ke dapur, sebuah pesan masuk ke ponsel Arka dari nomor yang tidak dikenal. Aku tahu soal Suster Lastri. Jenderal sedang bermain api. Hati-hati, Arka. Dia tidak hanya mengawasimu, dia sedang mencari alasan untuk membatalkan kontrak bisnismu secara sepihak jika Laras tidak segera hamil dalam tiga bulan."
Pesan itu dari Nadia.
Arka meremas ponselnya. Ternyata waktu mereka bukan enam bulan, melainkan hanya tiga bulan sebelum Jenderal melakukan langkah yang lebih ekstrem: menghancurkan karier Arka secara total. "Ada apa?" tanya Laras, melihat wajah Arka yang mendadak pucat.
"Permainannya dipercepat lagi," jawab Arka parau. "Dan kali ini, Suster Lastri bukan masalah terbesar kita. Masalahnya adalah Ayahku mulai meragukan kegunaanku sebagai ahli waris jika aku tidak bisa memberikan hasil instan."
Tensi kembali memuncak dengan adanya ancaman sabotase karier dari Jenderal. Nadia kembali memberikan peringatan, menunjukkan bahwa dia masih memantau dari jauh.