NovelToon NovelToon
Batas Obsesi Sang Konglomerat

Batas Obsesi Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Percintaan Konglomerat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.

Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.

Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.

Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Mata Sang Predator dan Hukuman Kecil

Pertanyaan dari Dokter Adrian menggantung di udara, membuat suasana di dalam ruang VVIP itu mendadak terasa sangat mencekik bagi Nadin. Jantungnya berpacu liar menghantam tulang rusuknya. Nadin bisa melihat dengan jelas pantulan kebingungan dan kekhawatiran di mata dokter muda yang selama ini selalu bersikap baik kepadanya itu.

Nadin menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Dia menarik kerah kemeja sutranya sedikit ke atas dengan gerakan canggung, berusaha menyembunyikan tanda kemerahan yang tercetak jelas di lehernya.

"Saya... saya mendapat pekerjaan baru, Dok," jawab Nadin pelan. Suaranya terdengar bergetar, sebuah kebohongan yang bahkan terdengar menyedihkan di telinganya sendiri. "Sebuah perusahaan besar bersedia memberikan pinjaman untuk biaya pengobatan Arya, dengan syarat saya bekerja sebagai asisten pribadi eksekutif mereka. Tuan Mahendra adalah atasan saya."

Dokter Adrian mengernyitkan dahi. Pria itu melangkah maju satu langkah, matanya menyapu Nadin dari atas ke bawah. Sebagai seorang dokter, dia dilatih untuk membaca bahasa tubuh pasien dan keluarga pasien. Dan bahasa tubuh Nadin saat ini meneriakkan ketakutan serta rasa malu yang sangat dalam.

"Asisten pribadi?" ulang Adrian dengan nada tidak percaya. "Nadin, tidak ada perusahaan yang memberikan pinjaman sepuluh miliar rupiah di muka hanya untuk merekrut asisten pribadi. Dan tidak ada asisten pribadi yang dikawal oleh pria berbadan besar seperti seorang tahanan kota."

Adrian menatap langsung ke arah leher Nadin. "Dan atasan macam apa yang meninggalkan tanda seperti itu di tubuh asistennya?"

Wajah Nadin memerah karena rasa malu yang membakar hingga ke ubun-ubun. Pertahanan yang dia bangun susah payah sejak pagi tadi perlahan mulai retak. Nadin memundurkan langkahnya, memberi jarak antara dirinya dan Adrian. Dia tidak ingin pria baik ini terseret ke dalam lubang hitam kehidupannya. Gilang Mahendra bisa menghancurkan karir dokter muda ini hanya dengan satu panggilan telepon jika pria itu merasa terganggu.

"Ini bukan urusan Anda, Dokter Adrian," ucap Nadin. Kali ini dia memaksakan nada suaranya menjadi sangat dingin dan kaku. Dia menatap mata Adrian dengan tatapan tajam, berusaha membangun dinding es di antara mereka. "Anda adalah dokter yang bertugas merawat adik saya. Fokus saja pada tugas medis Anda. Bagaimana cara saya mendapatkan uang untuk membayar Anda dan rumah sakit ini, itu sepenuhnya masalah pribadi saya."

Kalimat itu meluncur tajam seperti pisau. Adrian tertegun. Pria itu menatap Nadin dengan raut wajah terluka, seolah dia baru saja ditampar oleh orang yang dia pedulikan.

"Baiklah kalau itu maumu, Nona Kirana," balas Adrian. Nada suaranya kini berubah menjadi profesional dan sangat berjarak. "Saya akan memastikan Arya mendapatkan perawatan terbaik. Permisi."

Adrian membalikkan badannya dan berjalan keluar dari ruangan VVIP tersebut. Saat melewati pintu ganda, Adrian sempat melirik sinis ke arah dua pengawal berjas hitam yang berdiri kaku di lorong, sebelum akhirnya sosok dokter muda itu menghilang di balik tikungan.

Nadin menghembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan di dadanya. Kakinya terasa lemas hingga dia harus berpegangan pada pinggiran ranjang Arya agar tidak jatuh. Dia membenci dirinya sendiri karena harus menyakiti perasaan orang baik seperti Adrian. Namun, itu adalah pilihan paling logis untuk bertahan hidup. Di dunianya yang sekarang, tidak ada tempat untuk teman atau orang yang peduli padanya.

Nadin menghabiskan waktu dua jam berikutnya dengan duduk diam di samping ranjang adiknya. Dia mengusap tangan Arya yang terpasang selang infus, membisikkan doa-doa pelan, dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua rasa sakit dan penghinaan ini sangat sepadan.

Tepat pukul satu siang, Dimas mengetuk pintu kaca dari luar.

"Maaf mengganggu, Nona Kirana," ucap Dimas sopan setelah masuk ke dalam ruangan. "Tuan Mahendra berpesan agar Anda segera mencari makan siang dan tidak menghabiskan seluruh hari Anda di rumah sakit. Mobil sudah siap di bawah."

Nadin mengangguk pasrah. Dia mencium kening Arya dengan lembut sebelum melangkah keluar dari ruangan.

Alih-alih langsung pulang ke penthouse, Nadin meminta supir untuk membawanya ke sebuah pusat perbelanjaan mewah di kawasan Senayan. Dia tidak ingin cepat-cepat kembali ke sangkar emas yang sunyi itu. Selain itu, Gilang telah memerintahkannya untuk menghabiskan uang, dan Nadin sadar bahwa membantah perintah sekecil apa pun hanya akan memancing kemarahan pria itu.

Setibanya di mal, Nadin berjalan menyusuri lorong-lorong yang dipenuhi butik desainer kelas dunia. Dimas dan dua pengawal berjalan sekitar dua meter di belakangnya, menjaga jarak namun tetap memastikan tidak ada seorang pun yang berani mendekati Nadin.

Orang-orang di dalam mal sesekali mencuri pandang ke arahnya. Nadin sadar dia terlihat sangat mencolok. Seorang wanita muda yang terlihat pucat, memakai pakaian sutra mewah, dan dikawal oleh tiga pria berjas hitam yang wajahnya terlihat seperti pembunuh bayaran. Beberapa pramuniaga butik menunduk hormat saat dia lewat, mengenali aura uang dan kekuasaan yang mengelilinginya, meskipun kekuasaan itu sama sekali bukan miliknya.

Nadin masuk ke dalam sebuah butik pakaian wanita ternama. Dia melihat label harga pada sebuah gaun hitam sederhana yang digantung di dekat jendela. Lima puluh juta rupiah. Dulu, uang sebanyak itu bisa dia gunakan untuk membiayai hidupnya dan Arya selama berbulan-bulan. Sekarang, uang itu hanya bernilai sepotong kain.

Dengan perasaan kebas, Nadin mengambil gaun hitam itu, beserta sebuah gaun tidur berbahan satin gelap, lalu menyerahkannya kepada kasir. Dia mengeluarkan kartu hitam legam milik Gilang dari dalam tasnya. Kasir itu memproses pembayaran dengan tangan gemetar, sadar bahwa kartu tanpa batas limit itu hanya dimiliki oleh segelintir konglomerat di negara ini.

Setelah dari butik, Nadin duduk di sebuah restoran mewah yang sepi, memesan salad yang bahkan tidak bisa dia telan lebih dari tiga suap. Matanya menatap kosong ke luar jendela restoran. Dia dikelilingi oleh kemewahan yang diimpikan oleh jutaan wanita di luar sana, namun yang Nadin rasakan hanyalah kekosongan yang membekukan jiwa. Dia adalah burung dalam sangkar emas, menunggu pemiliknya pulang untuk memberikan makan atau menyiksanya.

Pukul enam sore, Nadin memutuskan untuk kembali. Jalanan Jakarta yang padat membuat perjalanan terasa lambat, namun mobil mewah itu akhirnya memasuki area parkir bawah tanah apartemen Gilang tepat pada pukul setengah tujuh malam.

Nadin naik ke penthouse lantai teratas sendirian, sementara para pengawal tetap berjaga di lobi bawah.

Begitu pintu penthouse tertutup di belakangnya, keheningan yang absolut langsung menyergap telinganya. Nadin berjalan menuju kamar utama. Dia teringat peringatan terakhir Gilang pagi tadi. Pastikan kau sudah mandi, wangi, dan menungguku di ranjang ini saat saya kembali.

Nadin membuang tas belanjaannya ke atas sofa. Dia masuk ke dalam kamar mandi, menyalakan pancuran air hangat, dan berdiri di bawahnya lama sekali. Dia membersihkan tubuhnya dengan sabun cair beraroma kayu cendana, berusaha menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu liar membayangkan apa yang akan terjadi malam ini.

Pukul setengah delapan malam, Nadin keluar dari kamar mandi. Dia memakai gaun tidur satin hitam yang baru saja dia beli siang tadi. Gaun itu memiliki potongan dada yang rendah dan tali bahu yang sangat tipis, mencetak lekuk tubuhnya dengan sempurna namun terasa sangat tipis dan dingin di kulitnya. Nadin duduk di tepi ranjang berukuran raksasa tersebut. Dia menatap jarum jam dinding yang terus berdetak.

Setiap detikan jam terasa seperti hitungan mundur menuju eksekusi.

Tepat pukul delapan malam, suara pintu utama penthouse terbuka.

Tubuh Nadin seketika menegang kaku. Dia meremas kain satin di pahanya dengan kedua tangan. Terdengar suara langkah kaki yang berat dan tegas berjalan menyusuri lorong panjang penthouse. Langkah kaki itu tidak terburu-buru, melainkan sangat tenang dan penuh perhitungan.

Pintu kamar utama terbuka lebar. Gilang Mahendra berdiri di ambang pintu.

Pria itu masih mengenakan setelan jas lengkap seperti pagi tadi, namun auranya terasa jauh lebih gelap dan berbahaya. Mata hitam pekat Gilang langsung mengunci sosok Nadin yang duduk di tepi ranjang. Tatapan itu menyapu Nadin dari atas ke bawah, memperhatikan gaun tidur satin hitam yang membalut tubuh wanita itu, sebelum akhirnya berhenti tepat di mata Nadin.

Gilang melangkah masuk. Dia menutup pintu kamar di belakangnya hingga terdengar bunyi klik pelan. Pria itu melepaskan jas abunya dan melemparnya ke atas kursi santai di sudut ruangan. Dia melonggarkan dasinya sambil terus berjalan mendekati Nadin.

"Kau menuruti aturanku dengan sangat baik, Nadin," ucap Gilang memecah keheningan. Suara baritonnya terdengar rendah, menggema di dalam kamar yang luas itu. "Kau pulang sebelum jam tujuh, kau mandi, dan kau menungguku."

Nadin menelan ludah. "Saya selalu menepati janji, Tuan Mahendra."

Gilang berhenti tepat di depan Nadin yang sedang duduk. Pria itu meletakkan kedua tangannya di pinggang, menatap Nadin dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Lalu, bagaimana dengan obrolan intimmu bersama dokter muda di rumah sakit tadi pagi?" tanya Gilang tiba-tiba.

Jantung Nadin seolah berhenti berdetak selama satu detik. Darahnya terasa membeku. Bagaimana Gilang bisa tahu? Apakah Dimas melaporkan semuanya? Tentu saja. Dimas adalah mata dan telinga Gilang. Tidak ada satu hal pun yang bisa lolos dari pengawasan pria ini.

"Itu... itu bukan obrolan intim," bantah Nadin cepat, berusaha menutupi kepanikannya. "Dokter Adrian hanya menanyakan keadaan saya karena dia terkejut melihat perubahan penampilan saya. Saya sudah menjelaskannya dan meminta dia untuk tidak mencampuri urusan saya lagi."

Sudut bibir Gilang berkedut, membentuk seringai yang sangat dingin. Pria itu menundukkan badannya, menumpukan satu lututnya di atas kasur, tepat di sebelah kaki Nadin. Tangan kanan Gilang terulur, meraih dagu Nadin dengan cengkeraman yang kuat dan memaksa wanita itu untuk mendongak menatap matanya.

"Aku punya aturan yang sangat sederhana, Nadin," bisik Gilang tepat di depan wajah Nadin. Hawa panas dari napas pria itu menerpa kulit wajah Nadin, membawa aroma alkohol mahal dan parfum vetiver yang khas. "Aku tidak suka membagi apa yang sudah menjadi milikku. Dan aku sangat membenci pria lain yang berani menatap mainanku dengan tatapan mengasihani seperti itu."

"Saya bukan mainan," desis Nadin, harga dirinya menolak untuk diam. "Dan saya tidak memiliki hubungan apa pun dengan Dokter Adrian."

Cengkeraman Gilang di dagu Nadin mengerat. Mata pria itu berkilat penuh ancaman. "Kau adalah milikku. Tubuhmu, pikiranmu, dan setiap napas yang kau ambil di dalam sangkar ini adalah milikku. Kau bahkan tidak berhak tersenyum pada pria lain tanpa seizinku."

Tanpa memberikan kesempatan bagi Nadin untuk membalas, Gilang menabrakkan bibirnya ke bibir Nadin.

Ciuman itu jauh lebih brutal dan menuntut dibandingkan malam sebelumnya. Ini bukan hanya sekadar pelampiasan gairah, melainkan sebuah hukuman. Sebuah penegasan kekuasaan yang absolut. Gilang melumat bibir Nadin dengan kasar, memaksa wanita itu membuka mulutnya, dan menginvasi ruang pribadi Nadin dengan rakus.

Nadin mengerang tertahan. Dia mengangkat kedua tangannya, berniat menahan dada bidang Gilang. Namun pria itu bergerak jauh lebih cepat. Gilang menangkap kedua pergelangan tangan Nadin dengan satu tangannya yang besar, lalu mendorong tubuh Nadin hingga jatuh telentang ke atas kasur.

Gilang langsung menindih tubuh Nadin. Bobot tubuh pria yang berotot itu mengunci Nadin sepenuhnya di atas kasur. Tangan Gilang yang menahan pergelangan tangan Nadin kini mengangkat kedua tangan wanita itu dan menekannya kuat-kuat ke atas bantal, tepat di atas kepala Nadin.

"Lepaskan aku," bisik Nadin di sela-sela ciuman mereka yang memburu, napasnya terputus-putus.

"Kau tidak punya hak untuk menyuruhku melepaskan apa pun di atas ranjang ini," geram Gilang di depan bibir Nadin.

Tangan kiri Gilang yang bebas bergerak turun, menyusuri leher jenjang Nadin, turun ke arah tulang selangka, dan dengan satu gerakan kasar, pria itu menarik tali gaun satin hitam yang dipakai Nadin hingga putus. Bunyi robekan kain tipis itu terdengar nyaring di dalam kamar.

Nadin terkesiap, tubuhnya melengkung secara insting akibat sensasi dingin udara kamar yang menerpa kulitnya, dipadukan dengan sentuhan tangan Gilang yang sangat panas. Gilang menatap leher dan dada bagian atas Nadin yang terbuka, melihat jejak-jejak kemerahan yang dia tinggalkan semalam masih tercetak jelas di sana. Pria itu tersenyum puas.

"Malam ini, aku akan memastikan kau mengingat siapa pemilikmu yang sebenarnya, Nadin," ucap Gilang dengan suara parau yang dipenuhi gairah yang sangat gelap. "Sampai kau bahkan tidak punya tenaga untuk mengingat nama dokter muda itu lagi besok pagi."

Gilang menundukkan kepalanya, kembali menyerang bibir dan leher Nadin dengan ciuman-ciuman panas yang menuntut penyerahan total. Gesekan tubuh mereka di atas sprei sutra menciptakan ketegangan fisik yang tidak bisa ditolak oleh akal sehat. Meskipun hati Nadin berteriak menolak, tubuhnya merespons setiap sentuhan dominan pria itu dengan pengkhianatan yang memalukan.

Di dalam kamar yang kedap suara itu, Nadin menyadari bahwa pertarungan ini tidak akan pernah bisa dia menangkan. Gilang Mahendra adalah predator yang telah menjebaknya di dalam kegelapan, dan malam ini, pria itu berniat melahap sisa-sisa kewarasannya hingga habis tak tersisa.

1
Ida Aja
lah mana lanjutannya
juwita
serba salah di posisi nadin. tp klo di nikahi gpp. ini mah hny di jadikan budak nafsu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!