Tentang Sasa yang jatuh cinta dengan Arif Wiguna,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Seorang pria melangkah keluar dari gedung pernikahan. Penampilannya rapi. Dia bernama Arif Wiguna, berusia 19 tahun.
Langkahnya terhenti saat akan menuju ke parkiran. Tatapannya tertuju ke mobil Ferrari warna biru. Dia berkata,
"Bjirr lah, enggak enak banget lihat papa gue nikah. Padahal baru sebulan mama pergi. Bisa cepet banget move on-nya. Gue yang satu tahun diputusin Felisa, masih aja gue enggak bisa move on," bisiknya pelan.
Di saat dia sibuk berpikir dan berbicara sendiri, kendaraan taksi terhenti di depan Arif. Tak lama seorang wanita keluar dari taksi itu.
Wanita itu berdiri menatap gedung, lalu melangkah mendekati Arif. Wanita itu bertanya,
"Bang, bener ini pernikahan Pak Wiguna dan Kak Yuli?" tanya wanita itu sambil menatap dan memperhatikan Arif.
Arif masih bengong. Dia memikirkan hidupnya yang selalu gagal dalam urusan cinta, bahkan wanita yang bertanya diabaikan begitu saja.
Wanita itu pun langsung kembali berbicara, "Bang!"
"Ehh, maaf-maaf, ada apa, Tante?" Arif sambil tersenyum tipis, dia menatap ke wanita itu,
"Abangnya kenapa, bengong?"
"Enggak, Tante. Tadi mau bertanya apa?"
"Eumm, yakin enggak ada? Jangan panggil Tante, aku masih muda, baru 25 tahun, panggil aja Sasa."
"Tapi, Tante, eh kamu lebih tua dari aku."
"Enggak apa-apa, tapi saya lebih senang kalau dipanggil Sasa."
"Eumm, yaudah deh, salam kenal ya, aku Arif."
"Arif, kamu habis datang ke pernikahan Pak Wiguna?"
"Iya, tapi bosen, gara-gara semua orang di sana pada berpasangan, jadi sekarang mau pulang."
"Emang pacarnya kemana sih, kok sendirian?"
"Enggak ada sih, soalnya sadar diri, enggak mungkin cewek suka sama orang yang jelek."
"Padahal Arif, ganteng banget mana keren lagi penampilannya."
"Mana ada." Arif terhenti berbicara karena terdengar sebuah bunyi telepon dari sakunya. "Bentar dulu, Sasa." Arif langsung bergerak mengambil telepon genggamnya yang berada di dalam saku.
Dia melihat sebuah panggilan masuk dari telepon genggamnya, dari iPhone 17 Pro Max yang di pegangnya, terlihat sebuah panggilan masuk dengan nama Abdul.
Arif langsung mengangkat panggilan telepon itu. Dia pun menggerakan telepon genggam ke telinganya.
"Halo, Dul," ucap Arif sambil bergerak dan membelakangi Sasa.
"Lo di mana, Rif? Lo bisa ke sini enggak, gue tunggu di caffe, tempat biasa," terdengar suara Abdul dari telepon genggam itu.
"Oke, gue otw ke sana." Arif langsung mematikan panggilan telepon itu, lalu memasukkan ke dalam sakunya.
Saat dia membalikan dirinya, ternyata Sasa sudah tidak berada di sana. Arif tidak berpikir apapun. Dia pun langsung melangkah pergi untuk menuju ke kendaraannya yang terparkir,
Di depan kendaraan, dia membuka dan berlalu masuk. Tak berlama-lama dia langsung menyalakan, mundur, dan melajukan kendaraannya untuk menuju ke caffe.
Di jalanan, dia melaju dengan cepat agar bisa cepat sampai ke tempat dituju. Jaraknya lumayan sangat jauh. Dengan mobil itu dia tak perlu berlama-lama.
Kendaraan itu adalah hadiah saat ulang tahun dari mamanya beberapa bulan lalu.
Di jalanan dia terus melesat maju dengan cepat, sampai dia menuju ke caffe, sampai kendaraan nya di depan kamera, dia langsung melanjutkan ke parkiran yang bersampingan dengan caffe.
Setelah kendaraan terparkir bersampingan dengan kendaraan lain, dia membuka pintu dan berlalu keluar.
Dia berdiri di parkiran itu sambil menatap ke sekitaran, lalu dia pun melangkah untuk menuju ke restoran.
Dari dalam restoran, Abdul sedang duduk sendirian sambil menikmati segelas kopi cappucino, tatapannya terus tertuju ke sekitar.
Tatapan Abdul terhenti saat melihat ke arah pintu. Arif baru saja masuk, Abdul memperhatikan pakaian yang digunakan Arif.
Sampai Arif ke kursi meja di depan Abdul, dia pun duduk sambil memperhatikan wajah Abdul yang tersenyum sambil memperhatikan.
"Lo kenapa, Dul, liatin gue kaya gitu?" tanya Arif dengan lekat menatap ke arahnya.
"Aneh aja, tumben banget pake jas, celana hitam kayak habis ke kondangan aja." Abdul tersenyum tipis.
"Emang iya habis dari kondangan, gue bingung Dul, nanti malam pulang apa enggak, lagian papa gue pasti berisik banget."
"Loh, kok Lo bisa tau?"
"Ya bisa lah, Dul, lagian kamar papa sama kamar aku bersampingan, jadinya males bikin tegang aja."
"Haha, parah jir, tapi Lo ngelakuin sesuatu enggak?"
"Kepo! Udah-udah jangan bahas itu, males." Arif menatap tajam, lalu mengalihkan tatapannya ke arah pelayan, Arif memanggilnya, "Mbak, sini." Arif sambil menaikan tangannya.
Pelayan pun melangkah mendekat ke arah meja Arif, sampai berada di depan meja itu, dia langsung bertanya, "Iya, Mas, mau pesan apa?" tanyanya dengan sopan.
"Kopi hitam tanpa gula?" Arif menatap ke arahnya.
"Rif, ngapain enggak pake gula, hidup Lo lagi pahit apa gimana?" Abdul bertanya sambil menatap lekat, dengan penuh penasaran.
"Yang manisnya udah pergi." Arif dengan tatapan kesal ke arah Abdul.
"Haha," Abdul tertawa karena dia tahu, Arif ditinggal pergi oleh pacarnya.
"Mbak, sama kentang goreng ya satu." Arif menatap pelayan.
"Baik, Mas." pelayan sambil menganggukkan kepalanya, lalu pergi untuk membuatkan pesanan.
Arif setelah menatap kepergian pelayan itu, dia pun mengalihkan tatapannya ke arah Abdul yang langsung bertanya,
"Udah lah, Rif, ngapain sih enggak bisa move on sama mantan pacar Lo, lagian udah lama kan, bosen gue dengernya, lo masih ngarepin dia, yang udah pergi?" Abdul sambil menaikan satu alisnya sambil tersenyum.
"Siapa juga yang mikirin dia, gue lagi kepikiran orang tua gua." Arif menatap tajam.
"Yakin? Biasanya juga tiap hari gitu, enggak ada bedanya."
"Udah-udah, jangan bahas lama-lama makin males ketemu sama lo."
"Eh, jangan gitu dong, masa iya sih sama temen sendiri males, malam ini enggak usah pulang aja lah, mending Lo ikut sama gue gimana?"
"Kemana?"
"Nanti juga lo tau."
"Kan besok sekolah, Dul."
"Tenang aja, aman kok. Lo pulang dulu, nanti gue share lokasi, buat ketemu, jangan lupa Lo bawa seragam sekolah."
"Yaudah."
Di saat mereka mengobrol, seorang pelayan menghampiri meja Arif, di depan meja itu pelayan menaru segelas kopi dan kentang goreng.
"Silahkan, Mas," ucapnya, lalu melangkah pergi meninggalkan meja itu.
***
Di sisi lain, Sasa sedang duduk di kursi sambil memperhatikan ke arah Wiguna dan Yuli, yang sedang duduk di kursi pelaminan.
Di saat dia sibuk memperhatikan, telepon genggam yang berada di dalam tas berbunyi.
Kring, kring, kring.
Sasa membuka tas dan mengambil telepon genggam yang berada di dalam tas kecilnya itu, dia pun menatap telepon genggam yang terlihat sebuah panggilan masuk dari Kania.
Sasa langsung menerima panggilan itu, lalu dia pun menggerakan ke telinga sambil berbicara,
"Hallo, Kania," ucap Sasa.
"Lo lagi di mana, Sa? Rame banget," Kania dari telepon genggamnya.
"Lagi di kondangan, Kakak gue lagi nikah."
"Gue mau ngejemput Lo, pantesan kata Bu Ani Lo enggak ada di sini."
"Emang mau apa jir, tumben-tumben."
"Temenin gue ya, Sa."
"Kemana?"
"Ke mall, mau belanja."
"Lo enggak bisa sendirian aja?"
"Enggak bisa, Sa, nanti malam ada acara ulang tahun, masa iya aku enggak beliin dia kado, sekalian beli baju."
"Yaudah jemput gue."
"Cepetan share lokasi, gue langsung ke sana."
"Oke." Sasa langsung mematikan panggilan telepon itu, lalu dia pun mengirim lokasi GPS ke Kania, setelah itu dia mematikan dan memasukan kembali telepon genggamnya ke dalam tas.