NovelToon NovelToon
Aku Bukan Anak Tiri

Aku Bukan Anak Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rosanda_27

Sejak lahir, Kasih sudah dianggap kesalahan.
Satu kakinya tak berfungsi sempurna.
Dan bagi Rani, ibunya, itu cukup untuk meruntuhkan semua mimpi tentang anak yang sempurna.
Kasih tumbuh di rumah yang sama—namun tak pernah benar-benar tinggal di dalam hati siapa pun.
Selain ayahnya.
Di mata sang ayah, Kasih adalah anugerah.
Namun kecelakaan malam itu merenggut satu-satunya orang yang mencintainya tanpa syarat.
Sejak usia tujuh tahun, Kasih kehilangan segalanya.
Ia kehilangan pelindung.
Kehilangan suara yang membelanya.
Dan perlahan… kehilangan dirinya sendiri.
Ibunya semakin dingin.
Kasih sayang sepenuhnya jatuh pada Raisa—kakaknya yang cantik, sempurna, dan selalu menjadi kebanggaan keluarga.
Sementara Kasih hanya bayangan.
Beban.
Aib yang disembunyikan.
Bukan hanya kehilangan ayah, Kasih juga hidup dalam bayang-bayang trauma.
Suara klakson membuat jantungnya membeku.
Lampu kendaraan di malam hari membuat napasnya tersengal.
Duduk di dalam mobil terasa seperti menunggu maut datang kembali.
Setiap hari, ia mati-matian melawan ketakutan yang tak pernah benar-benar pergi.
Namun di usia tujuh belas tahun, seseorang hadir dan mengubah segalanya.
Edghan.
Ia tak melihat tongkat di tangan Kasih.
Tak melihat kekurangannya.
Tak melihatnya sebagai beban.
Ia melihatnya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Kasih merasa diterima.
Merasa cukup.
Merasa… pantas dicintai.
Tapi luka yang terlalu dalam tak pernah sembuh dengan mudah.
Akankah Kasih mampu berdiri tanpa rasa bersalah yang menghantuinya?
Akankah ia berani melawan trauma dan membuktikan bahwa dirinya bukan aib?
Dan ketika cinta datang… apakah itu cukup untuk membuatnya percaya bahwa ia layak bahagia?
Aku Bukan Anak Tiri adalah kisah tentang kehilangan, kecemburuan, trauma, dan perjuangan seorang gadis untuk mendapatkan satu hal yang paling sederhana—
dicintai tanpa syarat.
Karena terkadang, luka terbesar bukan berasal dari dunia luar…
melainkan dari rumah sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosanda_27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nusa Bangsa

Spanduk besar terbentang di gerbang SMA Nusa Bangsa. Tahun ini, sekolah Kasih ditunjuk sebagai tuan rumah ajang Festival Kompetisi Antar Sekolah Se-Kota. Lapangan dihias meriah, aula disulap menjadi ruang pamer seni, sementara gedung olahraga dipenuhi suara riuh suporter.

Ada berbagai lomba: basket, futsal, tari, debat, dan tentu saja melukis.

Sejak pagi, bus-bus sekolah dari berbagai penjuru kota berdatangan. Seragam berbeda warna memenuhi halaman.

Di antara rombongan yang turun dari sebuah bus berwarna biru tua, tampak seorang siswa bertubuh tinggi dengan tas basket tersampir di bahu. Namanya Edghan.

Ia datang bersama tim basket dari SMA Garuda Jaya.

Sorak-sorai langsung terdengar ketika panitia mengumumkan pertandingan pembuka:

SMA Nusa Bangsa vs SMA Garuda Jaya.

Di sisi lain sekolah, aula seni sudah dipenuhi kanvas dan cat. Kasih duduk di kursinya, tongkat bersandar rapi di samping meja. Tema lomba kali ini adalah “Cahaya di Tengah Badai.”

Tangannya kembali menari di atas kanvas.

Ia melukis seorang gadis berdiri di tengah hujan deras, namun di sekelilingnya tumbuh bunga-bunga bercahaya. Wajah gadis itu tenang. Kuat. Tidak tunduk pada badai.

Beberapa siswa yang lewat berhenti untuk melihat.

Termasuk Edghan.

Awalnya ia hanya berniat mencari toilet sebelum pertandingan dimulai. Namun langkahnya terhenti ketika melihat sosok gadis dengan tongkat yang berdiri tegak di depan kanvas.

Cara gadis itu menggenggam kuas.

Cara ia memiringkan kepala, fokus pada detail.

Dan ekspresinya—penuh keyakinan.

“Siapa dia?” tanya salah satu teman setimnya.

Edghan tak langsung menjawab. Ia membaca papan nama kecil di depan meja.

Kasih – SMA Nusa Bangsa.

Ia terdiam lebih lama dari yang ia sadari.

Sementara itu, di tribun lapangan basket, Raisa—kakak Kasih yang menjadi salah satu cheerleader sekolah—tengah bersiap bersama timnya. Seragamnya mencolok, rambutnya terurai rapi.

Ketika pertandingan dimulai, sorakan memenuhi gedung olahraga.

Edghan bermain sebagai shooting guard. Gerakannya lincah, tembakannya presisi. Beberapa kali ia mencetak poin, membuat suporter SMA Garuda Jaya bersorak bangga.

Raisa yang sejak awal memperhatikannya tak

bisa menyembunyikan kekagumannya.

“Siapa sih dia?” bisiknya pada temannya.

“Dia kapten tim basket Garuda Jaya.” Jawab salah satu sahabat Raisa

Sejak lemparan tiga poin pertamanya masuk bersih ke ring, hati Raisa seolah ikut bergetar.

Namun setiap kali pertandingan dihentikan sementara dan para pemain duduk di bangku cadangan…

Tatapan Edghan tidak pernah tertuju ke tribun.

Ia justru mencari ke arah aula seni di seberang lapangan.

Seolah pikirannya tertinggal di sana.

Sore hari, hasil lomba diumumkan.

Di tengah kerumunan peserta seni dan guru, nama yang sama kembali dipanggil.

“Juara satu lomba melukis tahun ini jatuh kepada… Kasih dari SMA Nusa Bangsa!”

Tepuk tangan bergemuruh.

Suasana aula mendadak hening ketika nama Kasih kembali dipanggil sebagai juara satu. Langkahnya terdengar pelan namun pasti. Tongkatnya menyentuh lantai dengan ritme teratur—tok… tok… tok…

Sorot lampu panggung jatuh tepat pada dirinya.

Bisik-bisik kecil terdengar, tapi tak satu pun mampu mengalahkan tepuk tangan yang memenuhi ruangan.

Kasih menerima piala itu dengan kedua tangan. Ia menatapnya sebentar, lalu mendekat ke mikrofon. Jemarinya sedikit gemetar, tapi suaranya tetap tenang.

“Assalamu’alaikum… dan terima kasih.”

Ia menarik napas pelan.

“Saya tidak pernah melukis untuk menjadi juara. Saya melukis karena di atas kanvas, saya merasa bebas. Tidak ada yang melihat kekurangan saya. Tidak ada yang menilai saya dari cara saya berjalan.”

Beberapa guru terlihat tersenyum haru.

Kasih melanjutkan,

“Hari ini, saya ingin mengatakan sesuatu untuk siapa pun yang mungkin merasa berbeda… merasa tertinggal… atau merasa tidak cukup.”

Aula kembali sunyi.

“Jangan biarkan orang lain menentukan seberapa jauh kamu bisa melangkah. Mungkin langkah kita tidak sama. Mungkin jalannya lebih sulit. Tapi selama kita terus bergerak, sekecil apa pun itu… kita tetap maju.”

Tepuk tangan mulai terdengar, semakin lama semakin keras.

“Saya berdiri di sini bukan karena saya paling hebat. Saya berdiri di sini karena saya tidak berhenti mencoba.”

Matanya menatap ke arah teman-temannya, lalu sekilas ke arah tribun.

“Terima kasih untuk sahabat saya, untuk guru-guru saya… dan untuk diri saya sendiri yang tidak menyerah.”

Ia tersenyum lembut.

“Karena setiap orang berhak bersinar, dengan caranya masing-masing.”

Tepuk tangan bergemuruh memenuhi aula.

Di antara kerumunan itu, Raisa berdiri dengan rahang sedikit mengeras. Tangannya yang tadi bertepuk kini perlahan berhenti.

Sorotan lampu, pujian, tepuk tangan.

Semua tertuju pada Kasih.

Dan yang lebih membuat hatinya tidak nyaman…

Ia melihat jelas bagaimana Edghan menatap panggung tanpa berkedip. Ada kekaguman yang nyata di matanya. Bukan sekadar sopan santun. Bukan sekadar apresiasi biasa.

Tatapan itu dalam.

Terlalu dalam.

Raisa menelan ludah. Senyumnya memudar sedikit.

Di atas panggung, Kasih turun dengan langkah perlahan namun mantap.

Tanpa ia sadari, bukan hanya piala yang ia bawa turun dari sana.

Ia juga membawa perhatian seseorang yang kini tak lagi bisa memalingkan pandangan.

Beberapa teman mencoba menghampiri untuk memberi selamat. Dira bahkan sudah melambaikan tangan dari kejauhan.

Namun setelah mengucapkan terima kasih singkat pada beberapa orang, Kasih memeluk pialanya erat.

Keramaian itu tiba-tiba terasa terlalu penuh.

Terlalu bising.

Terlalu banyak tatapan.

Dengan senyum tipis, ia berbisik pada Dira, “Aku ke belakang dulu ya.”

Dira langsung mengerti. “Ke taman?”

Kasih mengangguk kecil.

Langkahnya mengarah ke tempat favoritnya—taman belakang sekolah. Tempat itu tidak terlalu luas, tapi dipenuhi pohon ketapang yang rindang dan bangku kayu yang menghadap kolam kecil. Biasanya hanya sedikit siswa yang datang ke sana.

Suara riuh aula perlahan menghilang, digantikan oleh gemerisik daun dan kicau burung sore.

Kasih duduk pelan di bangku kayu. Pialanya ia letakkan di samping. Tongkatnya bersandar seperti biasa.

Dira menyusul kasih ke taman belakan dengan  tergesa-gesa sambil membawa dua botol minum.

“Ini, juara satu butuh minum biar nggak pingsan,” godanya.

Kasih tertawa kecil. “Lebay.”

Dira duduk di sebelahnya. “Capek ya?”

Kasih mengangguk pelan. “Sedikit. Tadi sempat takut juga.”

“Takut? Kamu?” Dira menaikkan alis dramatis. “Kasih yang kalau pegang kuas bisa bikin juri bengong?”

Kasih tersenyum tipis. “Aku takut kalau orang-orang cuma lihat tongkatku, bukan lukisanku.”

Dira terdiam sebentar, lalu menatap sahabatnya itu dengan serius.

“Kasih, dengar ya.”

“Apa?”

“Orang boleh lihat tongkatmu dulu. Tapi setelah itu, mereka nggak punya pilihan selain lihat kamu.”

Kasih menoleh.

“Lihat bakatmu. Lihat kerja kerasmu. Lihat caramu berdiri di atas panggung tanpa pernah minta dikasihani.”

Kasih menunduk, jemarinya memainkan tutup botol.

“Aku cuma… nggak mau jadi beban.”

Dira langsung mencubit pelan lengan Kasih. “Hei! Beban itu kalau kamu nyuruh aku ngerjain PR tiap hari. Kamu? Kamu kebanggaan sekolah, tahu!”

Kasih tertawa lagi, kali ini lebih lepas.

“Serius, Dir?”

“Serius banget. Kamu itu bukti kalau kekurangan bukan akhir cerita. Justru itu yang bikin kamu beda.” Dira tersenyum hangat. “Dan aku bangga punya sahabat kayak kamu.”

Mata Kasih mulai berkaca-kaca. “Makasih ya, Dir. Kalau nggak ada kamu…”

“Eh, jangan drama. Nanti aku ikut nangis,” sela Dira cepat. “Pokoknya, apa pun yang terjadi—lomba, orang baru, atau siapa pun yang bikin kamu ragu—ingat satu hal.”

“Apa?”

“Kamu itu Kasih. Dan Kasih nggak pernah setengah-setengah kalau soal mimpi.”

Kasih menghela napas panjang, lalu tersenyum mantap.

“Iya. Aku nggak akan berhenti.”

Dira mengacungkan tangan. “Itu baru sahabatku!”

Mereka berdua tertawa bersama, sementara matahari perlahan tenggelam di balik gedung sekolah, meninggalkan langit jingga yang indah—seindah semangat yang baru saja kembali menyala di hati Kasih.

1
Ssl Mda
suka bgt sm kasihhh 🤭🤭
Lysia Novianna
kasian wehh😐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!