Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Langit masih berwarna biru gelap saat Mika berjinjit melewati pagar bambu posko. Udara subuh Desa Asih yang menusuk tulang membuat giginya sedikit gemertak, namun rasa panas di pipinya akibat kejadian di tepi sungai semalam belum juga reda. Ia menggenggam erat jaket hoodie-nya, berusaha menutupi daster satin hitam yang kini terasa seperti barang bukti kejahatan paling besar dalam hidupnya.
Mika memegang gagang pintu kayu posko, menekannya pelan agar tidak menimbulkan decit, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan yang hanya diterangi lampu tidur remang-remang.
"Lo abis dari mana, Mik?"
Suara itu datar, namun tajam. Mika tersentak hebat hingga hampir menjatuhkan ponselnya. Ia menoleh perlahan dan mendapati Siti sudah duduk bersila di atas kasur lipatnya sambil melipat tangan di dada. Di sampingnya, Asia terbangun dengan mata menyipit, rambutnya yang berantakan menambah kesan horor bagi Mika.
"Pagi-pagi gini udah keluyuran aja lo?!" Siti melanjutkan interogasinya.
Mika menelan ludah, berusaha mengatur napasnya yang mendadak kacau. "Ehh itu... gue tadi abis... abis cari angin. Hehe. Di dalem pengap banget, sumpah."
"Cari angin? Jam segini?" Asia akhirnya bersuara, suaranya serak khas bangun tidur namun penuh selidik. "Gila ya lo. Cari angin apa cari penyakit? Mana ada orang cari angin subuh-subuh pake daster ditutup hoodie doang."
Asia bangkit, mendekati Mika dan menyipitkan matanya, mengamati wajah Mika yang tampak sedikit lebih "bersinar" dari biasanya. "Atau jangan-jangan... lo abis kencan sama Pak Kades—"
PLAK!
Mika memukul lengan Asia dengan bantal sofa yang ada di dekatnya. "Apaan sih mulut lo! Mana ada gue kencan sama robot jalan itu. Aneh-aneh aja pikiran lo! Udah ah, gue mau mandi, lengket nih!"
Mika segera kabur menuju kamar mandi belakang, mengunci pintu dengan cepat. Di dalam, ia bersandar di pintu kayu yang dingin, memegang dadanya yang berdegup kencang. Ia bercermin pada kaca kecil yang sudah pecah di sudut, melihat bibirnya yang sedikit lebih merah dari biasanya.
"Gila, Mika... lo beneran bisa mati kalau mereka tau," batinnya sambil menyiram wajahnya dengan air sumur yang sedingin es.
Pukul tujuh pagi, setelah mandi dan merasa sedikit lebih tenang, Mika duduk di teras sambil menyesap teh hangat. Ia melihat Arga sedang memanaskan motor, sementara Siti dan Asia sibuk menyiapkan berkas laporan harian.
Mika meraih ponselnya. Ia tahu, dengan cara Alvaro menatapnya semalam, pria itu tidak akan bisa bersikap "normal" di depan publik hari ini. Ia harus memberikan peringatan sebelum sandiwara mereka terbongkar.
Mika: "Pak, dengerin ya. Hari ini tolong banget, JANGAN DEKET-DEKET. Temen-temen aku udah curiga, mulut mereka lebih tajem dari silet. Kalau di depan warga atau anak-anak, panggil aku 'Neng' atau 'Mbak' aja kayak biasa. Oke?"
Layar ponselnya berkedip tak lama kemudian.
Alvaro: "Kamu menyuruh saya berbohong pada publik, Mikayla? Itu pelanggaran kode etik Kepala Desa."
Mika: "Dih! Gak usah bawa-bawa kode etik! Pokoknya jaga jarak, titik! Kalau nggak, aku nggak mau lagi diajak ke sungai malem-malem."
Alvaro: "Mengancam saya? Menarik. Baiklah, Neng Mikayla. Saya akan mainkan peran 'robot jalanan' ini dengan sangat baik hari ini. Tapi ada harganya."
Mika: "Harga apa?"
Alvaro: "Rahasia. Sekarang cepat ke Balai Desa. Agenda kita padat."
Mika mendengus kesal namun tak bisa menahan senyum tipisnya. Ia segera memasukkan ponsel ke kantong celana kargonya.
Agenda mereka hari ini cukup berat: Sosialisasi Pemanfaatan Air Bersih sekaligus Pembersihan Jalur Irigasi Utama di bagian hulu desa yang sudah mulai tertutup endapan lumpur. Ini adalah proyek fisik terbesar kedua setelah alat filter.
Seluruh warga desa sudah berkumpul di lapangan Balai Desa, membawa cangkul dan sepatu bot. Alvaro berdiri di podium kecil, tampak sangat gagah dengan kemeja dinas cokelatnya yang disetrika rapi. Ia memberikan instruksi dengan nada yang begitu dingin dan profesional, seolah-olah ia tidak pernah mencium Mika di atas motor semalam.
"Bagus," pikir Mika. "Aman."
Namun, saat pembagian kelompok, Alvaro mulai beraksi. "Arga, kamu pimpin kelompok satu di hulu timur. Siti dan Asia ikut Bu RT di bagian administrasi bantuan air bersih. Dan..."
Alvaro berhenti sejenak, matanya menyapu kerumunan tanpa berhenti di wajah Mika. "Mikayla, kamu ikut saya ke hulu barat. Kita harus mengecek debit air yang masuk ke pipa primer. Itu teknis, biar saya yang awasi langsung."
Mika membelalakkan mata. Sialan, batinnya. Ini namanya bukan menjaga jarak, ini namanya pengisolasian!
Siti menyenggol lengan Mika sambil tersenyum penuh arti. "Tuh, koordinator dapet perlakuan khusus dari Pak Kades lagi. Semangat ya, Mik, jangan pingsan kena omelan robot."
Mika hanya bisa tersenyum kaku sambil mengacungkan jempol.
Perjalanan ke hulu barat mengharuskan mereka melewati hutan jati yang cukup rimbun. Hanya ada Mika dan Alvaro, berjalan beriringan dengan jarak yang sengaja dibuat sejauh satu meter oleh Mika.
"Tadi kamu bilang jangan dekat-dekat, kan?" tanya Alvaro memecah keheningan. "Ini sudah cukup jauh?"
"Bapak sengaja ya? Kenapa saya dipisahin sama Siti dan Asia?!"
Alvaro berhenti melangkah, ia berbalik dan menatap Mika dengan pandangan yang membuat Mika merasa telanjang. "Karena saya tidak bisa konsentrasi bekerja kalau melihat kamu digoda oleh teman-temanmu. Dan di sini, tidak ada yang akan 'bawel' seperti yang kamu takutkan."
"Ya tapi tetep aja—"
Kalimat Mika terhenti saat kaki Alvaro melangkah maju secara tiba-tiba, mendesak Mika hingga punggung gadis itu bersandar di batang pohon jati yang besar. Jarak satu meter tadi hilang seketika, berganti menjadi jarak nol sentimeter.
"Pak! Inget ya, ini masih area kerja!" bisik Mika panik, matanya melirik ke sekeliling takut ada warga yang lewat.
Alvaro meletakkan satu tangannya di samping kepala Mika, mencondongkan tubuhnya. Aroma maskulin yang bercampur dengan segar udara pagi dari tubuh Alvaro langsung membuat pertahanan Mika runtuh.
"Hanya lima detik," bisik Alvaro rendah. "Tadi malam kamu pulang terlalu cepat sebelum saya sempat mengucapkan selamat tidur."
Alvaro tidak mencium bibirnya, ia hanya mengecup kening Mika dengan sangat dalam dan lama, seolah sedang menyerap seluruh energi Mika. Hanya lima detik, seperti katanya. Setelah itu, ia menarik diri dan kembali berjalan dengan tangan masuk ke saku, wajahnya kembali datar seolah tak terjadi apa-apa.
"Ayo, Neng Mikayla. Debit airnya tidak akan mengecek dirinya sendiri," ucap Alvaro dengan nada resmi yang menyebalkan.
Mika berdiri mematung, memegang keningnya yang masih terasa hangat. Ia menghentakkan kakinya ke tanah dengan gemas. "FIR'AUNNN NYEBELIN!!" teriaknya tertahan.
Alvaro hanya menyeringai tanpa menoleh, terus berjalan memimpin jalan di depan. Mika menyadari satu hal: menjaga jarak dengan Alvaro adalah hal yang mustahil. Pria itu punya seribu cara untuk tetap berada di dekatnya, bahkan di bawah sinar matahari yang paling terang sekalipun.