NovelToon NovelToon
Idol Di Balik Pintu Kosan

Idol Di Balik Pintu Kosan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Amnesia / Idol / Komedi
Popularitas:431
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JATUH DENGAN GAYA, BANGUN DENGAN AMNESIA

Malam itu, semesta seolah sedang bekerja sama untuk menghancurkan kewarasan Aruna. Jam di dinding menunjukkan pukul 02.15 pagi. Di atas meja kayu yang sudah reyot, bertumpuk tiga gelas kopi instan yang sudah dingin, sisa-sisa bungkus mi instan, dan sebuah laptop yang kipasnya berbunyi seperti mesin pesawat tempur yang akan lepas landas.

Aruna, mahasiswi DKV tingkat akhir, sedang berada dalam fase zombie produktif. Matanya merah, rambutnya yang dicepol asal-asalan menggunakan pensil 2B tampak seperti sarang burung yang baru saja terkena puting beliung.

"Satu layer lagi... cuma satu layer lagi dan aku akan tidur,"

gumam Aruna dengan suara parau, lebih mirip kutukan daripada harapan. Tangannya gemetar menggerakkan mouse.

"Kalau Photoshop ini crash sekarang, aku bersumpah akan pindah jurusan jadi peternak lele."

Tepat saat jarinya hendak menekan tombol Save, sebuah suara keras menghantam balkon kamar kosnya.

BRAAAKK!

Disusul dengan suara benda plastik yang pecah yang Aruna yakini adalah pot bunga kaktus Cactus Jack kesayangannya yang baru ia beli di Shopee minggu lalu.

"Maling?" Aruna membeku.

Pikirannya langsung melayang ke laptopnya.

"Jangan laptopnya, Bang! Ambil saja skripsiku, aku ikhlas! Ambil daster-dasterku juga boleh!"

Dengan keberanian yang dipaksakan (dan karena dia terlalu lelah untuk merasa takut), Aruna menyambar penggaris besi 60 cm miliknya. Dia mendekati pintu balkon dengan langkah mengendap-endap seperti ninja yang sedang encok.

Saat dia menyibak gorden, pemandangan di depannya jauh lebih absurd daripada sekadar maling.

Di sana, di antara reruntuhan kaktus dan jemuran daster motif macan tutul yang jatuh, tergeletak seorang pria.

Pria itu memakai jaket kulit hitam yang penuh dengan payet berkilauan, celana kulit ketat yang terlihat menyiksa sirkulasi darah, dan rambut perak yang tertata rapi meski habis jatuh dari ketinggian tiga meter.

"Heh! Maling! Kamu mau maling jemuran daster ya?!" teriak Aruna sambil membuka pintu balkon dan menodongkan penggaris besinya ke leher pria itu.

Pria itu tidak bergerak, dia mengerang pelan. Wajahnya tertutup masker hitam yang kemudian terlepas, menyingkap wajah yang begitu simetris, hidung yang begitu mancung, dan kulit yang begitu mulus sampai-sampai Aruna merasa kulitnya sendiri menyerupai permukaan aspal jalanan yang sedang diperbaiki.

"Aduh..." pria itu membuka matanya.

Matanya berkedip pelan, menatap Aruna dengan tatapan kosong.

"Jangan pasang muka melas begitu ya! Kamu pikir karena kamu ganteng, aku bakal luluh? Kamu tahu harga kaktus itu berapa? Itu kaktus impor dari planet Namec!" bentak Aruna, meski sebenarnya dalam hati dia berteriak,

Gila, ini orang atau manekin hidup? Kok hidungnya bisa tajam banget kayak duri kaktus yang dia timpa?

Pria itu duduk perlahan, memegang kepalanya. Dia menatap sekeliling, ke daster yang tersampir di kepalanya, ke penggaris besi Aruna, lalu kembali ke wajah Aruna yang penuh coretan pensil.

"Saya... di mana?" tanya pria itu.

Suaranya rendah dan merdu, tipe suara yang biasanya hanya terdengar di iklan kopi mahal atau drama Korea saat adegan hujan.

"Di kosan Aruna, area terlarang untuk kaum pria dan makhluk halus!" jawab Aruna galak.

"Cepat jelaskan, kenapa kamu manjat balkonku malam-malam begini? Kamu sasaeng? Atau pengedar panci?"

Pria itu terdiam lama. Dia mengerutkan kening seolah sedang mencoba memecahkan kode rahasia negara.

"Siapa... saya?"

Aruna terbahak.

"Hahaha! Klasik! Mau pakai jurus pura-pura hilang ingatan biar nggak aku laporin ke Mbak Widya? Enggak mempan, Bambang!"

"Bambang?" Pria itu memiringkan kepalanya.

"Apakah itu nama saya? Bambang? Rasanya... sedikit kurang... berkilau."

Aruna berhenti tertawa. Dia memperhatikan mata pria itu tidak ada tanda-tanda kebohongan, yang ada hanyalah tatapan polos yang biasanya hanya dimiliki oleh bayi baru lahir atau mahasiswa yang melihat soal ujian kalkulus.

"Eh, serius kamu nggak ingat?" Aruna mendekat, menurunkan penggaris besinya.

"Kamu jatuh tadi. Kepalamu kena pot kaktus. Jangan-jangan..."

Aruna menepuk pipi pria itu dengan pelan (yang sebenarnya lebih ke arah menampar karena dia gemas).

"Heh, kamu tahu siapa yang ada di TV-TV itu? Yang grup-grup nyanyi itu?"

Pria itu menoleh ke arah layar laptop Aruna yang kebetulan sedang menampilkan iklan produk skincare yang dibintangi oleh grup LUMINOUS. Dia menatap dirinya sendiri di layar ada sosok Javi yang karismatik, dingin, dan mematikan.

Lalu pria itu kembali menatap Aruna.

"Dia terlihat sangat lelah memakai jas seberat itu. Tapi tidak, saya tidak kenal dia. Kenapa wajahnya mirip saya? Apakah dia sepupu saya yang lebih sukses?"

Aruna melongo, Ini gila! Ini Javier! Javi! Si Ice Prince nasional yang wajahnya ada di setiap halte bus! Dan sekarang dia sedang duduk di lantai balkon kosannya dengan daster macan tutul di pundaknya, bertanya apakah dirinya sendiri adalah sepupunya yang sukses.

Otak Aruna yang sudah kelebihan beban kerja mulai berputar liar. Jika dia menyerahkan Javi ke agensinya sekarang, dia mungkin akan mendapat imbalan. Tapi bayangkan betapa repotnya berurusan dengan polisi, media, dan fans fanatik yang bisa membakar kosannya jika tahu idol kesayangan mereka pingsan di antara daster Aruna.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari tangga luar. Itu suara Mbak Widya, sang pemilik kos yang telinganya lebih tajam daripada radar sonar kapal selam.

"Aruna! Suara apa itu di balkon?! Kamu bawa cowok ya?!" teriak Mbak Widya dari lantai bawah.

Aruna panik, setengah mati panik. Kalau Javi ketahuan, Aruna bukan cuma diusir, tapi mungkin akan dicoret dari Kartu Keluarga oleh dunia.

"Gawat! Sembunyi!" Aruna menarik kerah jaket kulit Javi.

"Ke mana? Dan kenapa saya harus sembunyi dari wanita yang suaranya seperti toa masjid itu?" tanya Javi polos.

"Jangan banyak tanya, Ujang!"

"Ujang? Tadi Anda panggil saya Bambang."

"Nama tengahmu Ujang! Cepat masuk!"

Aruna menyeret Javi masuk ke kamarnya, lalu membanting pintu balkon. Dia mendorong Javi ke bawah tempat tidur, tapi karena Javi memiliki kaki yang sangat panjang, kakinya tetap mencuat keluar.

"Tekuk kakimu, Ujang! Kamu bukan model lagi sekarang!" bisik Aruna sambil menendang pelan kaki Javi agar masuk ke kolong.

"Aduh! Tempat ini sangat berdebu. Apakah asisten saya tidak membersihkan bawah ranjang ini selama tiga tahun?" keluh Javi dari bawah sana.

"Aku asistennya! Dan diamlah!"

Pintu kamar diketok dengan keras. Mbak Widya masuk tanpa izin adalah kebiasaan buruknya. Dia membawa sapu lidi, matanya menyisir setiap sudut kamar Aruna yang berantakan.

"Suara apa tadi, Ar? Tadi saya dengar suara 'brak'! Terus kayak ada suara cowok ganteng... eh, suara cowok!" Mbak Widya menyipitkan mata.

Aruna berkeringat dingin.

"Itu... itu tadi saya lagi latihan teater, Mbak! Buat tugas kuliah! Judulnya Jatuh dari Tangga Kehidupan. Makanya ada suara brak."

Mbak Widya mendekati tempat tidur. Aruna hampir pingsan saat melihat ujung sepatu Javi yang mengkilap sedikit menyembul dari sprei yang berantakan.

"Kok kayak ada bau parfum mahal di sini?" Mbak Widya menghirup udara.

"Bau-bau... Javi LUMINOUS. Kamu lagi dengerin lagunya ya?"

"Iya! Lagi dengerin lagu 'Love Me Like You Do' versi koplo, Mbak! Makanya wanginya sampai sini!" jawab Aruna asal-asalan.

Mbak Widya mengedikkan bahu.

"Ya sudah. Awas ya kalau bawa cowok. Kos-kosan ini suci dari polusi pria!"

Begitu Mbak Widya keluar dan menutup pintu, Aruna langsung merosot ke lantai. Dia menarik Javi keluar dari kolong tempat tidur. Pria itu keluar dengan wajah penuh debu dan seekor laba-laba kecil yang hinggap di telinganya.

"Ini keterlaluan," kata Javi sambil membersihkan debu di jaket mahalnya.

"Saya yakin saya bukan orang sembarangan. Aura saya tidak cocok dengan debu di bawah sana."

Aruna menatap Javi tajam.

"Dengar ya, Ujang. Kamu itu amnesia. Kamu nggak punya kartu identitas, nggak punya ingatan, dan yang paling parah, kamu sudah menghancurkan kaktusku. Jadi, selama kamu di sini, kamu harus patuh sama aku."

Javi berdiri, mencoba mendapatkan kembali martabatnya sebagai idol meski rambutnya berantakan.

"Apa tugas saya sebagai asisten?"

Aruna melirik ke arah tumpukan piring kotor di pojok kamar dan berpuluh-puluh sketsa yang belum di-scan. Sebuah senyum licik muncul di wajah Aruna yang lelah.

"Pertama, bersihkan piring-piring itu. Kedua, kalau ada yang tanya, kamu adalah sepupuku dari desa yang datang ke kota buat belajar jadi tukang cuci piring. Namamu Ujang Bambang. Mengerti?"

Javi menatap piring kotor itu dengan ngeri, seolah piring itu adalah monster dari dimensi lain.

"Mencuci piring? Dengan tangan kosong? Apakah tidak ada mesin otomatis yang bisa menyanyi sambil bekerja untuk melakukan ini?"

"Nggak ada! Di sini cuma ada sabun colek dan tenaga otot!"

Aruna mendorong Javi ke arah wastafel kecil di pojok.

Javi menghela napas panjang. Dia mulai menggulung lengan jaket kulit mahalnya yang seharga motor baru itu. Dia menatap tangannya yang mulus, lalu menatap Aruna.

"Baiklah, Majikan Aruna. Tapi saya minta satu hal."

"Apa?"

"Boleh saya ganti baju? Jaket ini membuat saya merasa ingin menari di depan ribuan orang, dan itu sangat mengganggu konsentrasi saya saat menatap piring berlemak ini."

Aruna menghela napas, lalu merogoh lemari pakaiannya. Dia mengeluarkan sebuah kaos oblong putih yang sudah agak kuning di bagian ketiak dan sebuah celana training kebesaran.

"Nih, pakai ini."

Beberapa menit kemudian, Javi keluar dari kamar mandi. Aruna hampir tersedak ludahnya sendiri. Bahkan dengan kaos oblong kuning dan celana training lusuh, pria ini masih terlihat seperti sedang melakukan pemotretan untuk majalah Vogue.

"Gimana?" tanya Javi sambil memutar badan.

"Saya merasa sangat... ringan. Apakah ini yang dirasakan rakyat jelata setiap hari? Kebebasan bergerak?"

"Sudah, jangan banyak gaya! Cepat cuci piringnya!"

Aruna kembali duduk di depan laptopnya, merasa sedikit menang.

Di tengah malam yang sunyi itu, di sebuah kamar kos sempit di pinggiran Jakarta, seorang superstar dunia sedang berjuang melawan noda lemak di piring plastik dengan perasaan bingung, sementara seorang mahasiswi hampir gila sedang mengawasi sang idol sambil mencoret-coret skripsi.

Amnesia memang masalah besar bagi dunia musik internasional, tapi bagi Aruna, itu hanyalah sebuah solusi untuk masalah piring kotornya.

"Ujang! Jangan pakai sabunnya terlalu banyak! Itu bukan busa pesta pantai!"

"Tapi busanya sangat menyenangkan, Aruna! Lihat, saya bisa membuat jenggot dari busa ini!"

Aruna memijat pelipisnya. Ini akan menjadi malam yang sangat panjang dan mungkin, ratusan malam berikutnya akan jauh lebih kacau.

1
Indhira Sinta
bagus
falea sezi
/Curse//Curse/ada aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!