Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia
Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang
Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Bayang yang Tak Pernah Padam
Rombongan kecil itu berjalan dalam diam yang mencekam, hanya ditemani suara gerimis yang masih menetes dari daun-daun pohon durian liar. Obor-obor di tangan mereka berkedip lemah, seolah takut menerangi terlalu jauh ke dalam kegelapan. Pak Kades memimpin di depan, golok besar tergantung di pinggangnya, langkahnya mantap meski usianya sudah renta. Di belakangnya, Bu Kades memegang kain sarung cadangan erat-erat, matanya terus melirik ke arah hutan yang seolah semakin mendekat.
Dua hansip desa berjalan di sisi, tombak bambu runcing mereka siap, tapi tangan mereka gemetar. Kang Asep dan Kang Ujang mengapit Siti Aisyah—Mbak Neneng—yang berjalan di tengah, wajahnya pucat seperti kain kafan, matanya tak lepas dari kegelapan di pinggir jalan setapak.
Tak ada yang berani bicara. Hanya suara napas mereka yang terdengar, bercampur dengan derik kayu obor yang terbakar pelan. Tapi di dalam hati masing-masing, pertanyaan yang sama bergema: apa yang akan mereka temukan di rumah Sari Wangi?
Saat tiba di depan rumah kecil itu, pintu masih tertutup rapat seperti yang mereka tinggalkan tadi. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Bau kemenyan yang amis kini lebih pekat, menyengat hidung seperti darah yang mengering di bara api. Lampu minyak di dalam masih menyala redup, cahayanya menyembul melalui celah-celah dinding bambu, menciptakan bayang-bayang panjang yang bergerak-gerak sendiri di teras.
Pak Kades mengetuk pintu tiga kali, suaranya tegas tapi hati-hati. “Teh Sari? Ini Pak Kades. Buka pintunya.”
Tak ada jawaban.
Kang Asep melangkah maju, tangannya gemetar membuka pintu. Engsel kayu berderit pelan, seperti jeritan kecil. Ruangan di dalam gelap, hanya diterangi lampu minyak yang nyalanya hampir habis. Sari Wangi masih terbaring di bale tidur, posisinya tak berubah—kebaya kuningnya robek di bahu, jarik batik tersingkap hingga paha, tapi wajahnya kini lebih pucat, bibirnya membiru karena kedinginan. Napasnya pelan, hampir tak terdengar.
Bu Kades langsung mendekat, menyelimuti tubuh Sari dengan kain sarung yang dibawanya. “Ya Allah… anak ini kedinginan parah. Cepat, angkat dia ke rumah kita. Biar Bu rawat.”
Tapi sebelum siapa pun bergerak, Siti Aisyah tiba-tiba berhenti di ambang pintu. Tubuhnya membeku. Matanya melebar menatap ke sudut ruangan yang gelap, ke arah bale kecil di mana Lilis biasa tidur.
“Aku… aku dengar dia,” bisiknya, suaranya serak seperti daun kering. “Dia ada di sini. Dia… masih di sini.”
Semua orang menoleh. Ruangan terasa lebih dingin tiba-tiba. Angin dari luar menyusup masuk, membuat lampu minyak berkedip hebat—nyaris padam—lalu kembali stabil. Dan di sudut gelap itu, bayang-bayang bergerak pelan. Bukan bayang-bayang manusia biasa. Rambut panjang kelabu menjuntai hingga lantai, daster putih kotor compang-camping bergoyang seolah ada angin yang hanya terasa oleh satu orang.
Siti Aisyah mundur satu langkah, tangannya memegang lengan Kang Asep erat-erat. “Itu… itu dia. Nenek itu. Mbah Saroh. Dia… dia tahu aku di sini.”
Pak Kades maju, tangannya meraih golok. “Siapa di sana?! Keluar!”
Tapi bayang-bayang itu tak bergerak lagi. Hanya rambut panjangnya yang bergoyang pelan, seperti sedang tertawa tanpa suara. Lalu, dari arah hutan di belakang rumah, terdengar tangisan bayi—tangisan Lilis yang kecil, lemah, tapi jelas sekali. Tangisan itu datang dari kejauhan, tapi seolah-olah sangat dekat, seolah bayi itu berada tepat di belakang telinga mereka.
Kang Ujang memucat. “Itu… itu suara bayi Teh Sari.”
Sari Wangi tiba-tiba tersentak sadar. Matanya terbuka lebar, penuh ketakutan. “Lilis… Lilisku! Dia ambil Lilis! Nenek itu… dia bilang… dia bilang ini baru permulaan. Karena kalian selamatkan aku dulu… sekarang dia ambil bayi-bayi lain. Sampai dendamnya lunas!”
Siti Aisyah menangis tersedu. “Aku… aku yang seharusnya diambil 30 tahun lalu. Aku yang janji itu. Tapi kalian selamatkan aku… dan sekarang… anak-anak kita… anak-anak desa ini yang harus bayar.”
Pak Kades menoleh ke semua orang, wajahnya keras. “Kita nggak bisa diam. Besok pagi kita kumpulkan warga. Kita cari ke hutan. Kita temukan bayi itu. Dan kalau perlu… kita bakar lagi apa yang seharusnya sudah habis dibakar.”
Tapi di luar, gerimis berubah menjadi hujan deras lagi. Dan dari kegelapan hutan, tawa serak itu terdengar sekali lagi—kali ini lebih panjang, lebih puas, seperti seseorang yang sudah lama menunggu momen ini.
Siti Aisyah memeluk Kang Asep erat-erat, tubuhnya gemetar. “Asep… anak kita yang kecil… dia hampir tujuh tahun. Kalau malam ini saja sudah begini… apa yang akan terjadi saat genap tujuh tahun?”
Kang Asep tak bisa menjawab. Ia hanya memeluk istrinya lebih erat, tapi matanya menatap ke arah hutan. Di sana, di antara pohon durian berduri yang menjulang, ia bersumpah melihat sepasang mata merah menyala sebentar—seperti bara api yang tak pernah benar-benar padam.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah 30 tahun, desa Durian Berduri benar-benar merasakan bahwa dendam itu hidup. Bukan lagi cerita lama. Bukan lagi bisik-bisik. Dendam itu sudah kembali, dan ia haus akan lebih banyak lagi.
***
Hujan kembali deras setelah sempat reda, seolah langit ikut marah atas apa yang terjadi di desa kecil itu. Air mengalir deras di atap daun rumbia rumah Sari Wangi, menciptakan irama ritmis yang menutupi suara napas orang-orang di dalam. Sari sudah sadar sepenuhnya, tapi tubuhnya masih lemas. Bu Kades memegang tangannya erat, berbisik doa-doa pendek sambil mengelap keringat dingin di dahi perempuan muda itu.
“Teh Sari… ceritakan lagi pelan-pelan,” pinta Pak Kades dengan suara rendah, tapi tegas. Ia duduk di kursi kayu tua di depan bale, goloknya diletakkan di pangkuan seperti perisai.
Sari menarik napas dalam-dalam, matanya merah karena tangis yang tertahan. “Aku… aku lagi menyusui Lilis tadi malam. Hujan deras, angin kencang. Tiba-tiba ada suara tawa… tawa perempuan tua, serak, dari arah hutan. Aku takut. Mau tutup pintu, tapi… dia sudah masuk. Melayang, Pak. Rambutnya panjang banget, kelabu, wajahnya gosong seperti bekas terbakar. Matanya merah… seperti bara api. Dia langsung ambil Lilis dari pelukanku. Aku coba lawan, tapi badanku lemas. Sebelum pingsan, aku dengar dia berbisik… ‘Ini baru permulaan. Yang dulu lolos, sekarang giliran yang lain. Sampai tujuh tahun… atau lebih cepat, kalau kalian ingkar lagi.’”
Siti Aisyah—yang selama ini dipanggil Mbak Neneng—tiba-tiba menutup mulut dengan tangan, air matanya jatuh tanpa suara. Kang Asep memeluk pinggang istrinya dari belakang, tapi pelukannya terasa dingin. Ia tahu persis apa yang dimaksud “yang dulu lolos”. Istrinya sendiri. Gadis kecil yang diculik Mbah Saroh 30 tahun lalu, yang diselamatkan warga di malam kebakaran itu. Sejak kecil, Siti Aisyah sering bermimpi buruk: tangan kurus berkeriput menariknya ke kegelapan, suara serak berjanji akan kembali. Dan sekarang, janji itu terasa nyata.
Pak Kades menatap Siti Aisyah lama. “Nen… kau yakin itu suara yang sama seperti yang kau dengar di mimpi-mimpi?”
Siti Aisyah mengangguk pelan. “Sama persis, Pak. Dia bilang… ‘Aku belum selesai. Yang kalian selamatkan dulu, sekarang harus bayar dengan yang lebih muda.’ Lilis baru tiga bulan… tapi dia ambil juga. Mungkin karena aku… karena aku lolos.”
Kang Ujang, yang selama ini diam saja, tiba-tiba bicara dengan suara gemetar. “Pak… tadi pas kami nemuin Teh Sari, bayinya hilang. Tapi sekarang… kita dengar tangisan bayi dari hutan. Itu pasti Lilis. Kita harus cari sekarang juga!”
Pak Kades menggeleng pelan. “Malam ini terlalu gelap, hujan deras, dan hutan itu… bukan hutan biasa lagi. Kalau kita masuk sekarang, bisa-bisa kita yang nggak balik. Besok subuh, kita kumpulkan warga. Bawa obor banyak, bawa senjata, bawa doa. Kita cari ke arah suara tadi. Dan Nen… kau ikut. Mungkin hanya kau yang bisa ‘bicara’ dengan dia.”
Siti Aisyah menggeleng keras. “Nggak, Pak! Aku takut… kalau aku masuk hutan, dia pasti ambil aku lagi. Atau… ambil anak-anakku. Si kecil kita sudah hampir tujuh tahun, Pak. Umur yang dia tunggu dulu.”
Kang Asep menarik napas dalam. “Nen… kalau kita diam aja, dia bakal terus ambil bayi-bayi desa ini. Kita harus lawan. Bareng-bareng.”
Tapi sebelum siapa pun menjawab, lampu minyak di sudut ruangan tiba-tiba berkedip hebat—lalu padam total. Kegelapan menelan ruangan seketika. Hanya cahaya obor di tangan hansip yang masih menyala samar.
Dan di kegelapan itu, terdengar langkah pelan—langkah yang tak bersuara, tapi terasa berat. Seperti kain compang-camping bergesekan dengan lantai kayu. Lalu suara serak itu muncul lagi, kali ini dari dalam rumah, dari sudut yang tadi gelap.
“Tunggu saja… pembalasanku… belum selesai…”
Semua orang membeku. Sari menjerit pelan, menutup telinga. Siti Aisyah memeluk Kang Asep erat-erat, tubuhnya gemetar hebat. Pak Kades bangkit, goloknya terhunus.
“Keluarlah, setan! Ini rumah orang, bukan tempatmu!”
Tapi suara itu hanya tertawa pelan—tawa yang dingin, panjang, dan penuh kepuasan. Lalu lenyap, seolah ditelan angin.
Lampu minyak tiba-tiba menyala kembali sendiri, nyalanya stabil seperti tak pernah padam. Ruangan kosong. Tak ada siapa-siapa di sudut itu.
Tapi di lantai, tepat di tempat bayang-bayang tadi berdiri, ada sesuatu yang baru: sehelai rambut panjang kelabu, basah, berbau hangus dan kemenyan. Rambut itu melingkar membentuk lingkaran kecil—seperti tanda bahwa malam ini hanyalah awal.
Pak Kades mengambil rambut itu dengan ujung goloknya, matanya menyipit. “Besok subuh kita berangkat. Siapkan semua orang. Ini bukan lagi cerita lama. Ini perang.”
Di luar, hujan semakin deras, menyembunyikan tangisan bayi yang samar-samar terdengar lagi dari hutan. Dan di suatu tempat di antara pohon durian berduri, sepasang mata merah menyala menatap rumah kecil itu—menunggu, sabar, haus.
\*\*\*